Share

Bab 79

Penulis: Ratu As
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-27 20:20:59

Raya berdecak. "Oiya? Apa itu semacam hadiah mahal?"

"Lebih dari itu--" jawab Ziana tenang sekali pun terus dipojokkan oleh Raya.

Raya tidak lagi menyahut, namun senyumnya jelas penuh dengan cibiran. Dia tidak percaya Ziana akan memberi kejutan yang berharga.

"Baiklah, kuharap kejutanmu juga bukan sesuatu yang murah dan akan membuat putraku malu." Dia pikir Ziana masih ingin mengejar Yudis.

"Bu Raya tenang saja," Ziana tersenyum tipis, sama sekali tidak terpengaruh dengan tekanan yang diberikan oleh orang sekitar.

"Ayo, kita nikmati malam ini dulu," Sandra mengajak Ziana menyingkir dari hadapan keluarganya. "Sebelum ke inti acara yang sangat kita nantikan," bisiknya lagi dengan kerlingan pada Ziana.

Dua gadis itu pun beralih, menikmati kue manis yang dihidangkan untuk tamu sembari menunggu tuan acaranya datang.

***

Arhan juga akan datang ke acara Yudis.Dia harus menjemput Ofi dulu, jadi tidak berangkat bersama Ziana dan putrinya.

"Pak Arhan, malam ini Anda terlihat sangat tampa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 177

    Arhan mengulum senyum, dia keluar dengan perasaan geli terbayang tingkah genit gadis itu. "Pak Arhan, mari .... " Suara Dafa kembali menyadarkan Arhan untuk kembali ke dunianya, dunia nyata yang dituntut dengan segudang kerjaan. Arhan mengangguk, dia berjalan keluar dari hotel itu dan bergegas ke tempat acara selanjutnya. Sama sekali tidak ada waktunya untuk beristirahat. Beruntung dia dalam kondisi yang fit. ***"Acaranya kurang dari satu bulan lagi. Tapi ayahmu tidak mau membahas apa pun soal pernikahan. Aku jadi ragu apa dia benar akan menikahiku? Atau hanya mempermainkan." Ofi bicara dengan Sandra di sebuah kafe. Keduanya duduk bersama. "Ibu jangan bicara begitu. Ayah hanya sedang sibuk, lagian Ibu tahu kan? Ayahku orang yang kaku, jadi wajar jika sampai saat ini dia kurang bisa mengekspresikan perasaannya." Sandra mengusap punggung tangan Ofi untuk menenangkannya. Ofi menunduk dengan wajah sedih. Sebenarnya Ofi tahu kemungkinan Arhan menikahinya sangat kecil, namun dia t

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 176

    Arhan mengambil alih ponsel itu dan menatap layarnya. Ada pesan dari Ofi, Ziana yakin sebagian isinya sudah sempat dia baca sebelumnya.Ziana memalingkan wajah. Gadis itu tidak menunjukkan kemarahannya secara terang-terangan, namun mata yang memerah dan raut murungnya sudah cukup berbicara."Tidak perlu dipikirkan. Besok mau ikut? Aku akan keluar kota. Kalau kamu mau, kita bisa liburan setelahnya.""Liburan?" Ziana mendongak. Dia menatap Arhan dengan tidak percaya. Alih-alih menanggapi pesan dari Ofi, Arhan justru mengalihkan perhatiannya pada Ziana, seolah ingin membuatnya kembali tenang."Ya," jawab Arhan serius. Dia memasukkan ponselnya ke saku lalu menyelipkan anak rambut Ziana yang berantakan ke belakang telinganya.Perlakuan lembut itu membuat dada Ziana terasa hangat. Entah kenapa, sentuhan Arhan terasa seperti bujukan agar dia berhenti memikirkan pesan dari Ofi.Senyum Ziana pun kembali terbit. Gadis itu mengangguk setuju."Apa cukup lama? Apa perlu menyiapkan banyak baju?""P

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 175

    Ziana cukup terkejut ada Aziel yang terang-terangan mencarinya. Apa pemuda itu ingin buat masalah lagi dengannya. "Aku ingin meminta maaf. Aku tulus," ucap Aziel dengan ekspresi memelas. "Bunga ini untukmu sebagai tanda ketulusanku--" Sementara Arhan memilih balik badan dan masuk dengan ekspresi yang buruk. Ziana mematung saat melihat Arhan tidak lagi menanggapi Aziel. Tidak yakin kali ini apa Arhan juga cemburu? Tapi yang jelas lelaki itu memang paling tidak suka Ziana berada dekat dengan lelaki lain. "A--pa? Kamu tidak perlu repot-repot. Aku menolong bukan karena itu kamu, tapi memang aku merasa menolong itu kewajiban sebagai sesama.... " "Tetap saja, kalau tidak ada kamu pasti aku sudah mati hangus. Pokoknya aku janji mulai sekarang akan bersikap baik padamu. Kamu adalah malaikatku, Ziana," kata Aziel berlebihan. Aziel yang biasanya jutek, galak, dan menyebalkan setiap kali bertemu dengan Ziana, kini punya kesan yang berbeda. "Bolehkah aku masuk?" Aziel bertanya, tapi ti

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 174

    "Suuut!" Ziana menekan jarinya ke bibir saat Arhan terlihat mulai geregetan dan bicara dengan tidak sabaran. "Tidak ada yang lebih baik dari Pak Arhan, tapi.... "Alis Arhan mengerut saat Ziana tersenyum nakal dan tidak melanjutkan ucapannya. Cup! Dia justru iseng mengecup bibir Arhan kemudian terkekeh keluar dari mobil. "Tapi, apa Ziana?" Arhan keluar dan mengejar gadis itu. Belakangan sikap Arhan sedikit berbeda, dia mulai menunjukan perasaannya saat senang atau pun cemburu pada Ziana. "Kamu sengaja menghindar atau sengaja mengerjaiku?" Arhan menangkap pinggang Ziana, menariknya dan memeluknya dari belakang. Semakin Ziana berontak, semakin membuat lelaki itu bersemangat untuk mengungkung tubuh rapuh itu dan menguasainya seperti boneka kecil yang menggemaskan. ***"Tidak usah siapkan makan malam, duduk saja dan suruh pelayan membuatkannya," ujar Arhan saat melihat Ziana sudah sibuk ke dapur hanya untuk membuatkan makan malam untuknya. Ziana mengulas senyum, "tidak apa, samb

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 173

    Wina mengerutkan keningnya. Dia lalu mengamati putranya yang menahan lengan Ziana. "Arhan, kebetulan sekali kamu datang. Ayo ke ruang rawat Aziel, nanti Ibu anterin pulang ya? Ziana kalo buru-buru biar sama dokter Aris," bujuk Wina lagi yang masih saja terkesan memojokkan Ziana dengan Aris. "Kebetulan ada yang mau Ibu omongin sama kamu," imbuh Wina bersikeras. "Ibu mau bilang apa? Bicara saja sekarang. Di luar, supir sudah nunggu Ibu. Jadi tidak perlu harus kuantar," tolak Arhan tanpa basa-basi. Wina berdecak, wanita tua itu kesal dengan tingkah putranya yang dingin. Padahal dia hanya ingin punya waktu bersama Arhan saja, lalu mengobrol beberapa hal. Wina menatap Arhan penuh harap, seakan sedang merayu agar Arhan mau mengantarnya. Namun Arhan memalingkan wajah dan fokus melihat jam tangannya. "Dokter Aris, silahkan pulang dulu. Ziana dan ibuku, biar nanti aku yang antar pulang," kata Arhan kemudian. Dia tidak mengalah, tapi juga tidak egois. Agar ibunya tidak lagi memaksa lebih

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 172

    Sandra melebarkan matanya saat mendengar penuturan Aziel yang terasa aneh di telinganya. Kok, tumben enggak nyolot? Kok, tumben Aziel peduli? Biasanya pemuda itu akan masa bodoh tentang kebaikan Ziana, malahan akan mencibir habis-habisan. "Gara-gara kecelakaan apa otakmu geser? Kak Aziel, kamu aneh!" "Aku serius! Aku ingin minta maaf pada Ziana," ucap Aziel tulus. Sandra memerhatikan Aziel yang begitu serius, tawa Sandra pecah. Dia merasa Aziel sangat konyol. "Lebih baik simpan saja niatmu itu Kak Aziel, tingkahmu selama ini sangat jahat dan menyebalkan. Mana mungkin Ziana mau memaafkanmu. Kecuali... kalau kamu benar-benar berubah dan mendekati dengan pelan-pelan." Aziel mengangguk, dia tidak marah dengan saran Sandra. "Baiklah, kalau nanti aku sudah membaik aku akan mendatanginya saja dan mengucapkan permintaan maaf dengan tulus!" Sandra kembali terkekeh, percaya tidak percaya, tapi mungkin saja Aziel memang ingin berubah. Melihat apa yang terjadi, akan sangat tida

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status