MasukOlivia masih terus menatap kaca ruang ICU yang tak kunjung terbuka. Setiap tenaga medis keluar masuk ke dalam ruang ICU, setiap itu juga Olivia berdiri dan berharap ada kabar bahagia tentang adiknya. "Oliv, Nick ada di sini," Valerie berucap dengan nafas terengah-engah. Ia baru saja keluar dari ruang perawatan Elara dan baru selesai berkonfrontasi dengan Nick. "Nick? Dia tahu keadaan Aurel?" Olivia seolah menyimpan asa pada Nick. Ia menganggap Nick tahu keadaan Aurel yang drop dan langsung menyusulnya ke rumah sakit. Wajah prihatin Valerie semakin jelas terlihat. Ia iba karena sepupunya itu nyatanya masih berharap Nick peduli padanya. Akan tetapi, itu semua hanya ilusi. Nyatanya Nick tak tahu apa yang telah menimpa adik iparnya. "Jangan percaya diri, Oliv! Nick ada di rumah sakit yang sama dengan kita karena selingkuhannya di rawat juga di sini," beri tahu Valerie tegas."Dia di sini bukan untuk Aureli, dia sedang menemani wanita simpanannya!" Tegas Valerie yang membuat d
Olivia menatap ruang ICU tempat di mana Aurelie mendapatkan perawatan intensif. Air mata tak kunjung kering. Olivia terus menangis. Entah mengapa firasatnya benar-benar buruk. "Tenangkan dirimu! Aurel sudah ditangani oleh orang-orang yang ahli dan berkompeten," Valerie mengelus punggung Olivia untuk menguatkan. "Aku hanya takut, takut satu-satunya keluargaku pergi," akhirnya Olivia tak mampu membendung rasa khawatirnya lagi. "Kau ini bicara apa? Bukankah aku ini juga keluargamu?" Valerie memeluk Olivia untuk memberikan dukungan. "Aurel akan baik-baik saja. Dia akan pulih. Lagi pula Aurel sudah melakukan operasi limpa," hibur Valerie, walau sebenarnya dia tidak tahu pasti bagaimana keadaan sepupunya itu. "Semoga saja, Val. Terima kasih karena ada di sini!" Olivia menangis sesenggukan. Mereka lama berpelukan, saling memberikan energi positif dan memberikan dukungan yang berarti. Perlahan keduanya mengurai pelukan itu. "Aku belikan makanan, pasti kau belum makan kan?" Tebak
Nick terus menunggu di parkiran kampus di mana istrinya menimba ilmu. Beberapa kali Nick menatap gedung tempat di mana istrinya masuk. Akan tetapi, Olivia tak kunjung keluar dari sana. Nick jadi berpikir, sebenarnya apa yang Olivia lakukan saat ini? Mengapa begitu lama? Nick sedari tadi menunggu di dalam mobilnya. Walau cuaca terik menyengat, tak membuat pria itu beranjak dari sana. Dering ponsel mengalihkan perhatian pria itu. Nomor yang tak dikenal mencoba menghubunginya. Nick mengernyitkan dahinya. Nick memutuskan untuk menolak panggilan itu. Dirinya sama sekali tak punya alasan untuk mengangkat telfon dari orang asing. Sebuah pesan masuk ke dalam aplikasi chattingnya yang berwarna hijau. Nick kemudian membukanya. Matanya terbelalak saat membaca rentetan pesan yang dikirimkan oleh nomor yang tak dikenali yang menelfonnya tadi. "Tuan, apakah anda keluarga dari Nona Elara? Dia sedang dirawat di rumah sakit dengan kasus percobaan bvn*h diri," isi pesan itu membuat Nick tersentak
Olivia memandang suaminya dari kaca spion mobil milik Edmund. Olivia terus menatap Nick hingga pria itu tak terlihat lagi. Olivia menatap nanar pemandangan di luar mobil. Entah mengapa hatinya terasa hampa. "Kalian sedang bertengkar?" Tebak Edmund. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Seperti yang kau duga," Olivia tersenyum kecil, tak menyanggah pertanyaan itu. "Apa yang membuatmu bertengkar dengannya?" Tanya Edmund dengan penasaran. Sesekali ia menoleh ke arah wanita yang duduk di sampingnya. Kemudian Edmund memusatkan kembali matanya pada jalanan yang terbentang. "Dia sudah kembali kepada mantan kekasihnya," adu Oliviia dengan wajah datar. Sebenarnya Olivia tak ingin berbagi tentang kehidupan pribadinya pada orang lain. Akan tetapi, Olivia tak kuat untuk menahannya seorang diri. Edmund juga sudah tahu latar belakang pernikahan dirinya dengan Nick. Olivia pikir tak ada lagi hal yang harus dirahasiakan dari Edmund saat ini. "Lalu, apa rencanamu?" Tanya Edmund penuh
Elara menggeram kesal tatkala Nick tak kunjung mengangkat telfon darinya. Bahkan wanita itu membanting ponselnya ke atas kasur. "S*al!" Umpat Elara sembari mengacak rambutnya dengan frustasi. "Di masa lalu, kedua orang tuamu berhasil memisahkan kita. Tapi tidak untuk kali ini," Elara mengepalkan tangannya. Kemudian ia mendapat suatu ide. Elara mengambil ponselnya. Ia mengirim pesan suara pada pria yang masih sangat ia harapkan itu. "Nick, tolong aku sesak nafas!" Elara berakting seakan ia memang memerlukan oksigen. Tak lama, ponsel berdering. Ya, Nick masuk ke dalam jebakannya. "Hallo, Nick. Aku sesak nafas. Tolong aku!" Elara mengangkat panggilan telfon itu dengan cepat. Ia berakting seapik mungkin agar Nick mempercayai ucapannya. "Arthur akan segera ke sana," jawab Nick yang membuat wajah Elara seketika berubah pucat pasi. "Aku hanya memerlukan kehadiranmu, Nick," Elara mempelankan suaranya, seakan ia benar-benar tak berdaya. "Dia akan datang bersama dokter." Tut
Olivia akhirnya menceritakan semuanya pada adiknya dan juga pada Valerie, sepupunya. Ia bercerita bagaimana awal pertemuan dirinya dengan Nick hingga bisa menikahi pria itu. Valerie menatap Olivia dengan sedih. Tak menyangka jika sepupu yang pernah ia benci itu berkorban sampai sejauh ink untuk adiknya sendiri. Sementara Aurelie, sedari tadi hanya terus menangis. Dirinya seolah memasukan kakaknya ke dalam setiap masalah. Aurelie tak menyangka jika kakaknya berkorban dalam hal apapun untuknya. "Maafkan kakak ya? Jika kakak sudah memilih jalan seperti ini," Olivia berusaha tersenyum pada adiknya sendiri, walau senyum itu penuh dengan luka. Ia merasa bersalah karena sudah membiayai hidup Aurelie dengan uang bukan dari hasil keringatnya sendiri. "Tidak, aku yang harus meminta maaf. Seharusnya kakak biarkan aku mati saja, agar kakak tidak lagi mempunyai beban berat. Seharusnya sedari dulu kakak membiarkanku menyusul mendiang ibu," Aurelie menangis tergugu, merasa sangat sakit mengetahui
Olivia masuk ke dalam kelas dengan senyuman yang tak hilang dari wajahnya. Edmund meliriknya dan menatapnya dalam waktu yang lama. Ia juga melihat kiss mark yang sangat banyak pada leher wanita itu. Membuat hatinya merasakan kesakitan yang amat perih. Hatinya terbakar cemburu, padahal tak seharusnya
Hari ini suhu mencapai di bawah 0 derajat Celcius. Untuk menghangatkan diri di dalam rumah, Olivia membakar kayu di perapian. Uap dari dalam cerobong asap menguar keluar. Olivia menyelimuti dirinya di depan perapian. Nick yang tak pergi bekerja bergabung dengan sang istri. Ia mendekatkan tangannya
Leo sedang menandatangani beberapa dokumen penting yang dibawa oleh sekretaris pribadinya. Akan tetapi, pikirannya tak terlalu fokus. Tingkah Nick tempo hari yang membawa seorang gadis mengacaukan pikirannya. Leo merasa bersalah pada Jenie dan keluarganya. Terlebih ia tak bisa nenghubungi keluarga
Olivia tinggal di wilayah timur kota Paris atau di kawasan pinggiran kota yang disebut Banlieues. Olivia dan adiknya tinggal di perumahan sosial. Perumahan sosial adalah hunian yang terjangkau yang disewakan dengan dukungan pemerintah Perancis untuk masyarakat berpenghasilan rendah dan terjerat kem







