Beranda / Romansa / Gadis Persinggahan / Bab 11: Langkah Pemutus

Share

Bab 11: Langkah Pemutus

Penulis: Alyantha_Z
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-21 11:30:23

Klinik dr. Gunawan terasa jauh lebih tenang dibandingkan kamar Tri yang menyesakkan. Aroma antiseptik yang biasanya membuat Tri teringat pada Raihan, kini perlahan mulai terasa netral, hanya sebuah aroma rumah sakit, bukan lagi aroma penderitaan. Di pergelangan tangannya, masih ada bekas kemerahan tempat cincin perak tebal itu sempat melingkar, sebuah pengingat fisik dari jeratan yang baru saja diputus oleh ayahnya.

Tri duduk di tepi tempat tidur klinik, menatap jendela yang menampilkan langit senja Jakarta yang berwarna jingga keunguan. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia tidak merasa perlu memeriksa ponselnya setiap menit. Ia tidak lagi menunggu instruksi, tidak lagi takut akan amarah yang dibungkus dengan kata 'perhatian'.

Pak Darma masuk ke ruangan membawa tas kecil berisi pakaian ganti Tri. Wajahnya masih keras, namun tatapannya melembut saat melihat putrinya sudah bisa duduk tegak.

"Ayah sudah mengurus semuanya," ujar Pak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gadis Persinggahan   Bab 60: Hangatnya Selimut di Tengah Badai

    Lampu-lampu dek luar kapal induk Harapan Kita berpendar kuning temaram, membiaskan cahaya di atas permukaan laut yang kini tampak lebih tenang setelah menelan Arka-V. Di sudut area observasi medis yang terbuka, Tri duduk di sebuah kursi lipat baja, tubuhnya terbungkus selimut termal perak yang berisik setiap kali ia bergerak. Rambutnya masih lembap oleh air garam, dan wajahnya yang pucat tampak semakin kontras di bawah siraman cahaya bulan. Ia menatap kosong ke arah cakrawala, membiarkan angin malam menyapu sisa-sisa trauma dari paru-parunya.Suara langkah kaki yang teratur mendekat dari arah koridor dalam. Tri tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa itu. Adrian berjalan mendekat, membawa nampan kecil berisi dua cangkir logam yang mengepulkan uap panas. Ia sudah mengganti pakaian taktisnya yang basah dengan kemeja flanel gelap yang tampak terlalu santai untuk situasi genting ini, namun matanya masih menyimpan sisa-sisa kecemasan yang mendalam."Minumla

  • Gadis Persinggahan   Bab 59: Pusaran Maut Arka-V

    Suara derit logam yang terpuntir di bawah tekanan air laut terdengar seperti rintihan raksasa yang sedang sekarat di tengah samudera. Kapal Arka-V kini miring hampir empat puluh lima derajat, membuat lantai dek yang licin oleh tumpahan oli, darah, dan cairan ungu menjadi medan pertempuran yang sangat sulit untuk bertahan hidup. Tri mencengkeram erat pagar besi yang mulai terasa panas karena gesekan struktur baja yang saling beradu, sementara di bawah kakinya, air laut yang hitam dan dingin mulai meluap masuk dari palka bawah yang meledak hebat."Tri! Pegang tanganku! Jangan melihat ke bawah!" teriak Adrian, suaranya nyaris tenggelam oleh deru ombak yang menghantam lambung kapal dan suara ledakan pipa uap yang pecah di bagian mesin.Adrian berdiri di bagian dek yang lebih tinggi, kakinya mengunci kuat pada sebuah katup pipa besar yang masih kokoh tertanam di lantai. Ia menjulurkan tangannya dengan penuh keputusasaan, wajahnya yang biasanya tenang kini penu

  • Gadis Persinggahan   Bab 58: Bayangan di Lambung Kapal

    Lampu darurat berwarna merah berputar di sepanjang koridor sempit dek bawah kapal Arka-V, menciptakan bayangan panjang yang tampak menari-nari di dinding logam yang lembap. Tri melangkah dengan hati-hati, memegang senter taktis di tangan kiri dan sebuah alat pendeteksi biometrik di tangan kanan. Di belakangnya, Adrian dan dua personel tim keamanan Yayasan Harapan Kita mengikuti dengan senjata siaga, moncong senapan mereka menyapu setiap sudut gelap yang mencurigakan. Suara tetesan air yang menghantam lantai besi bergema seperti detak jam yang sedang menghitung mundur menuju ledakan, menciptakan irama mencekam yang menekan dada. "Udara di sini mengandung konsentrasi sulfur yang sangat tinggi," bisik Tri, suaranya teredam oleh masker respirator yang melekat erat di wajahnya. "Bau ini... ini bukan sekadar limbah kimia. Mereka tidak hanya menyimpan bahan sisa, mereka melakukan proses inkubasi aktif di bawah sini. Sesuatu sedang ditumbuhkan."

  • Gadis Persinggahan   Bab 57: Kendali Penuh

    Ruang kendali utama di kapal induk Harapan Kita adalah sebuah jantung teknologi yang berdenyut dalam ritme cahaya biru dan desis pendingin mesin yang konstan. Di tengah ruangan yang luas itu, Tri Ananda Putri berdiri tegak, jauh berbeda dengan sosok rapuh yang setahun lalu meringkuk di sudut bangsal rumah sakit. Ia mengenakan headset taktis yang melingkar di telinganya, sementara matanya yang tajam tidak lepas dari layar monitor sentral yang menampilkan koordinat radar kapal Arka-V. Kapal misterius itu kini terlihat melaju kencang di peta digital, membelah ombak dengan kecepatan tinggi, mencoba mencapai zona bebas di perbatasan perairan internasional agar bisa lolos dari yurisdiksi hukum. Di sampingnya, Adrian berdiri dalam diam yang penuh rasa hormat. Ia tidak mencoba mengambil alih, tidak pula memberikan instruksi yang tak perlu. Sebagai pemilik Yayasan Harapan Kita, Adrian telah menyerahkan seluruh otoritas operasional malam ini kepad

  • Gadis Persinggahan   Bab 56: Pecahnya Keheningan di Ruang Steril

    Laboratorium di dalam kapal induk Harapan kita adalah sebuah keajaiban teknologi yang sangat kontras dengan klinik kayu milik Tri di daratan. Dindingnya terbuat dari baja tahan karat yang memantulkan cahaya lampu neon putih yang tajam, memberikan kesan dingin dan tanpa kompromi. Di tengah ruangan, mesin sekuensing DNA bekerja dengan dengungan halus yang konstan, sementara layar-layar besar di dinding menampilkan grafik pergerakan sel-sel ungu yang sedang dianalisis. Tri berdiri di depan meja laboratorium, masih mengenakan pakaian taktis hitamnya yang kini telah kering namun menyisakan noda garam dan lumpur. Ia sedang memindahkan sampel dari tabung reaksi ke dalam wadah inkubator ketika pintu geser otomatis di belakangnya terbuka. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang masuk. Aroma campuran antara sabun ringan, kopi hitam, dan sedikit sisa mesiu dari peluncur granat tadi segera memenuhi ruangan. Adrian melangkah masuk, namun ia berhenti sekitar dua

  • Gadis Persinggahan   Bab 55: Perburuan di Ujung Karang

    Suara baling-baling helikopter itu tidak lagi terdengar seperti dengungan jauh, kini ia adalah raungan raksasa yang mengguncang udara dan menggetarkan kaca-kaca jendela klinik yang tersisa. Tri berlari keluar melalui pintu belakang, menerjang semak belukar yang basah menuju jalur setapak di lereng tebing. Di pundaknya, tas taktis berisi sampel berharga itu terasa berat, namun tidak seberat firasat buruk yang menghimpit dadanya. Ia tidak menoleh ke belakang saat lampu sorot dari helikopter mulai menyapu atap kliniknya, mengubah kegelapan menjadi siang hari yang mencekam dalam sekejap. "Target terdeteksi di sektor belakang. Gerak ke arah utara menuju tebing karang," sebuah suara berat bergema dari pengeras suara helikopter, bercampur dengan deru angin. Tri memacu kakinya lebih cepat. Adrenalin Batch 04 memaksa paru-parunya bekerja di luar batas normal, menghirup udara malam yang tajam tanpa rasa sesak. Ia memilih jalur yang paling berbahay

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status