Beranda / Romansa / Gadis Persinggahan / Bab 37: Bayangan di Pintu Rumah

Share

Bab 37: Bayangan di Pintu Rumah

Penulis: Alyantha_Z
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-31 16:35:39

Malam itu, kediaman Tri dan Adrian yang biasanya menjadi perlindungan paling aman terasa seperti sangkar kaca yang rapuh. Setelah kekacauan di Basemen 3 Rumah Sakit Graha Medika, Adrian memperketat keamanan di seluruh area rumah, namun Tri tahu bahwa bagi pria seperti Raihan Azizi, tembok tinggi dan kamera pengawas hanyalah tantangan kecil yang menyenangkan.

Tri berdiri di dapur, menuangkan air panas ke dalam cangkir tehnya dengan tangan yang masih dibalut perban tipis. Pikirannya terus berputar pada fakta bahwa Raihan telah bebas. Om Robert benar-benar telah melampaui batas, dia tidak hanya mendanai riset ilegal, tapi juga membebaskan pemangsa paling berbahaya langsung ke arah keponakannya sendiri.

"Kamu harus istirahat, Tri. Polisi sedang melacak keberadaan Om Robert dan dr. Pandu. Mereka tidak akan bisa keluar dari Jakarta," ujar Adrian, memeluk Tri dari belakang. Suaranya terdengar lelah, penuh beban kekecewaan terhadap keluarganya sendiri.

"Mas... Rai
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gadis Persinggahan   Bab 38: Umpan Sang Nahkoda

    Pagi di kediaman mereka tidak lagi terasa seperti rumah. Sinar matahari yang masuk melalui celah gorden terasa seperti interogasi yang menyakitkan. Adrian telah terjaga sepanjang malam, berkoordinasi dengan tim keamanan privat untuk mengubah rumah mereka menjadi benteng yang tak tertembus. Namun, bagi Tri, tembok beton dan sensor gerak hanyalah penghalang sementara bagi seseorang seperti Raihan Azizi yang mampu meretas jiwa manusia. Tri duduk di meja makan, menatap jam saku perak yang diletakkan Raihan di depan pintu semalam. Jam itu tidak berdetak, namun di telinga Tri, suaranya terasa memekakkan. Itu adalah undangan. Sebuah panggilan pulang ke tempat di mana identitasnya pernah dihapus. "Aku sudah memesan tiket untukmu ke Singapura pagi ini, Tri. Kamu akan tinggal di apartemen rahasia milik yayasan di sana sampai situasi ini terkendali," ujar Adrian, suaranya parau. Ia meletakkan secangkir kopi di depan Tri, namun tangannya bergetar. Tr

  • Gadis Persinggahan   Bab 46: Isolasi Sang Nakhoda

    Paru-paru Tri terasa terbakar saat ia tersungkur keluar dari pintu tangga darurat lantai dasar. Asap hitam masih mengepul dari balik pintu baja yang baru saja ia tutup rapat. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mendekap map merah berisi sejarah ayahnya, satu-satunya bukti yang berhasil ia selamatkan dari amukan api di lantai B4. Wajahnya coreng-moreng oleh jelaga, dan jas putih kebanggaannya kini robek serta berbau sangit.Namun, alih-alih petugas keamanan yang datang menolong, pemandangan di lobi belakang rumah sakit itu justru membuatnya membeku.Di sana, di bawah sorot lampu lobi yang dingin, Adrian berdiri berdampingan dengan Sarena. Adrian tampak sangat cemas, namun ekspresinya berubah menjadi campuran antara ngeri dan kecewa saat melihat kondisi Tri. Sarena, di sisi lain, berdiri dengan tenang, memegang sebuah botol air mineral seolah-olah ia baru saja memberikan dukungan moral kepada Adrian."Tri! Apa yang kamu lakukan di bawah sana?" suara Adrian mengg

  • Gadis Persinggahan   Bab 45: Topeng yang Retak

    Asap tipis mulai mengepul dari sudut ruangan, namun oksigen di lantai B4 terasa hilang bukan karena api, melainkan karena pengakuan dingin yang baru saja keluar dari bibir Sarena. Tri berdiri mematung, folder merah yang berisi sejarah kelam ayahnya masih mendekap erat di dadanya, sementara Sarena menatapnya dengan tatapan seekor pemangsa yang baru saja menyelesaikan jebakannya."Kau pikir kau sudah menang, Putri?" Sarena berbisik, suaranya kini benar-benar berubah. Nada bicara kaku ala ekspatriat Swiss itu luruh, digantikan oleh suara yang selama bertahun-tahun menghantui Tri di laboratorium gelap Raihan. "Kau pikir Sarah Azizi yang kau cebloskan ke Rumah Sakit Jiwa bulan lalu adalah akhir dari segalanya? Kau pikir nakhoda sepertimu bisa menjatuhkan ratu hanya dengan sekali pukul?"Tri menegang, tenggorokannya terasa kering. "Apa maksudmu? Aku sendiri yang melihatnya menyerangku. Aku melihat kegilaan di matanya, dendamnya... wanita di RSJ itu identik deng

  • Gadis Persinggahan   Bab 43: Jamuan Sang Laba-Laba

    Kantor pusat Yayasan Harapan Kita yang terletak di lantai eksekutif tampak begitu steril pagi ini. Bau pembersih lantai yang tajam dan pencahayaan LED yang terlalu putih membuat suasana terasa seperti laboratorium yang pernah ingin Tri lupakan. Di ujung lorong, di ruangan yang dulu milik Om Robert, kini Sarena duduk dengan tenang. Ia tampak begitu menyatu dengan kursi kulit besar itu, seolah-olah kursi kekuasaan tersebut memang ditakdirkan untuknya sejak lama. Tri melangkah masuk tanpa mengetuk pintu. Ia meletakkan selembar kertas foto masa SMAnya yang dicetak misterius semalam ke atas meja kaca milik Sarena. "Permainan yang bagus, Sarah," desis Tri, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Tapi kamu lupa satu hal, nakhoda tidak pernah takut pada ombak yang dia kenal. Dan aku mengenalmu lebih baik daripada siapa pun di gedung ini." Sarena tidak terkejut. Ia tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Perl

  • Gadis Persinggahan   Bab 44: Arsip yang Terlupakan

    Malam di Jakarta selalu menyimpan rahasia di balik gemerlap lampunya, namun di lantai B4 Rumah Sakit Graha Medika, kegelapan terasa lebih nyata dan purba. Tri Ananda Putri menyelinap masuk ke lift servis dengan jantung yang berdegup kencang, seirama dengan detak jarum jam yang seolah mengejar langkahnya. Ia tidak menggunakan kartu akses Direktur Medis miliknya,via tahu Sarena atau siapa pun wanita itu sebenarnya telah memasang log digital pada setiap pintu utama. Kartu yang ia pegang adalah hasil modifikasi manual Dina, kunci menuju gudang arsip fisik yang seharusnya sudah tidak disentuh selama puluhan tahun."Dina, kau masih bersamaku? Suaranya sangat buruk di sini," bisik Tri melalui mikrofon kecil yang tersembunyi di balik kerah jas putihnya."Beton di lantai B4 mengandung timbal, Tri. Sinyal radio hampir tidak bisa menembusnya. Aku hanya bisa mempertahankan akses kamera pengawas selama sepuluh menit melalui loop sistem. Setelah itu, sistem akan melaku

  • Gadis Persinggahan   Bab 42: Racun dalam Keanggunan

    Ruang makan di rumah kediaman Harahap biasanya menjadi tempat paling hangat bagi Tri dan Adrian. Namun, kehadiran Sarena yang diundang Adrian untuk makan malam bisnis mendadak mengubah atmosfer menjadi medan perang yang sunyi. Sarena duduk dengan punggung tegak, memotong steak-nya dengan gerakan yang begitu presisi, nyaris menyerupai gerakan seorang ahli bedah. "Saya harus mengakui, Dokter Tri memiliki selera dekorasi yang sangat... fungsional," ujar Sarena sambil menatap sekeliling ruangan dengan senyum tipis yang sulit diartikan. "Sangat kontras dengan mendiang Tuan Harapan yang menyukai kemewahan klasik. Tapi mungkin itulah yang dibutuhkan Adrian sekarang, sesuatu yang membumi setelah semua guncangan itu." Adrian tertawa kecil, tampak sangat nyaman dengan kehadiran konsultan barunya itu. "Tri selalu tahu apa yang terbaik untuk stabilitas, Sarena. Tapi kamu benar, visi barumu tentang restrukturisasi yayasan benar-benar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status