LOGINSuara desis gas kimia yang keluar dari pipa-pipa ventilasi di langit-langit Basemen 3 terdengar seperti ribuan ular yang sedang mengancam. Asap putih pekat, yang membawa aroma tajam antara amonia dan belerang, mulai turun menyelimuti lantai laboratorium yang dingin. Lampu darurat berwarna merah di sudut ruangan berputar-putar, memberikan efek dramatis yang mengerikan pada dinding-dinding kaca bilik isolasi yang berderet di jantung kegelapan Rumah Sakit Graha Medika.
Tri Ananda Putri berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh hiruk-pikuk kepanikan. Di sebelah kanannya, layar monitor server utama berkedip-kedip liar. Bilah progres penyalinan data menunjukkan angka 58%. Di sana terdapat seluruh bukti komunikasi Om Robert, daftar investor gelap, dan yang paling penting, bukti otentik bahwa pembebasan Raihan Azizi dari penjara adalah hasil manipulasi hukum yang didanai oleh Yayasan Medis Harapan Kita.Data itu adalah satu-satunya cara untuk menyeret Raihan kembali keLangit Labuan Bajo masih menyisakan rona jingga pucat ketika Tri melangkah keluar ke teras kliniknya. Udara pagi terasa asin, segar, dan membawa aroma kayu basah dari dermaga yang baru saja diguyur hujan semalam. Di sini, di ujung teluk yang jauh dari kebisingan Jakarta, Tri telah menemukan ritme hidupnya sendiri. Tidak ada lagi panggilan darurat dari dewan direksi, tidak ada lagi perjamuan formal yang menyesakkan. Hanya ada suara ombak dan kicauan burung camar. Namun, ketenangan itu terusik saat sebuah perahu motor kecil mendekat dengan kecepatan tinggi ke dermaga pribadinya. Suara mesinnya meraung kasar, memecah kesunyian fajar. "Dokter Tri! Dokter!" teriak seorang pria paruh baya, Pak Yusuf, salah satu nelayan dari Pulau Komodo. Tri segera menyampirkan stetoskopnya dan bergegas turun ke dermaga. Di dalam perahu, seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun terbaring lemas
Setahun telah berlalu sejak badai di Rumah Sakit Jiwa itu mereda, meninggalkan puing-puing sejarah yang kini mulai ditumbuhi lumut waktu. Di sebuah pesisir terpencil di bagian timur nusantara, di mana riak ombak berkejaran mencium pasir putih, Tri Ananda Putri akhirnya menemukan apa yang selama ini ia cari, keheningan yang jujur. Tri berdiri di teras kliniknya yang sederhana, menatap cakrawala yang tak berujung. Ia tidak lagi mengenakan jas putih dengan bordir emas "Yayasan Harapan Kita". Kini, ia hanya mengenakan kemeja katun tipis berwarna gading yang lengannya digulung hingga siku. Di papan kayu yang tergantung di depan pintu klinik, hanya tertulis satu baris nama yang bersahaja. Dokter Tri. Penduduk desa nelayan itu mengenalnya sebagai perempuan yang tangguh, yang bisa menjahit luka secepat ia menarik jaring ikan, namun memiliki mata yang selalu menatap jauh ke arah samudera, seolah sedang menunggu atau justru sedang melepaskan sesuatu.
Suara tembakan itu memecah kesunyian malam, bergema di antara pilar-pilar beton RSJ yang dingin dan lembap. Peluru yang diletuskan Sarah melesat, menyerempet bahu Adrian yang baru saja didorong oleh Tri ke balik pilar, lalu menghantam kaca tebal di belakang mereka hingga hancur berkeping-keping. Pecahan kaca itu berjatuhan seperti hujan kristal di bawah sorot lampu darurat yang berkedip. Tri segera berguling di lantai yang basah, menempatkan Maria, wanita malang yang masih gemetar di balik meja resepsionis yang kokoh. Napas Tri memburu, namun matanya tetap fokus pada setiap pergerakan Sarah. Efek Batch 04 di dalam dirinya kini berada pada tingkat tertinggi; ia bisa melihat tetesan air hujan yang masuk dari jendela pecah bergerak seolah melambat di udara. "Berhenti, Sarah! Semuanya sudah berakhir!" teriak Adrian sambil berusaha bangkit, memegangi bahunya yang berdarah ringan. Suaranya serak, penuh dengan penyesalan yang mendalam. "Polisi suda
Udara di sel isolasi 404 terasa membeku saat Sarena menyerahkan suntikan berisi cairan bening mematikan itu kepada salah satu algojonya. Matanya yang dingin menatap Tri seolah-olah Tri hanyalah sebuah spesimen yang sudah rusak dan harus segera dimusnahkan. Di luar, suara guntur mulai menggelegar, seirama dengan detak jantung Tri yang mulai berdegup dalam frekuensi yang berbeda, frekuensi Batch 04."Lakukan sekarang," perintah Sarena tenang. "Pastikan sidik jari Dokter Tri ada pada suntikan itu setelah Maria berhenti bernapas."Algojo berbadan kekar itu melangkah maju. Namun, ia tidak menyadari bahwa penglihatan Tri mulai menajam. Warna-warna di ruangan itu seolah melambat, dan suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman drum besar. Tri merasakan aliran adrenalin yang murni menyapu seluruh sarafnya. Batch 04 di dalam darahnya bereaksi terhadap ancaman kematian, membangkitkan insting purba yang selama ini ia tekan.Saat algojo itu
Dinding ruang isolasi di Unit Psikiatri Graha Medika berwarna putih gading, sebuah warna yang secara psikologis dirancang untuk menenangkan saraf, namun bagi Tri, itu adalah warna kematian yang hampa. Ia duduk di tepi tempat tidur tanpa seprai, mengenakan pakaian pasien berbahan katun tipis yang membuatnya merasa telanjang dan tidak berdaya. Tidak ada jendela di sini, hanya sebuah kamera CCTV di sudut langit-langit yang terus mengawasinya seperti mata dingin Sarena yang tak pernah berkedip."Sembilan puluh menit," gumam Tri pada dirinya sendiri.Ia menghitung interval rotasi penjaga berdasarkan bunyi langkah kaki dan denting kunci di koridor luar. Sejak Adrian menempatkannya di sini, Tri menyadari bahwa kemampuannya sebagai Subjek 04 adalah satu-satunya senjata yang tersisa. Batch 04 di dalam darahnya memberikan ketajaman pendengaran dan persepsi ruang yang jauh melampaui manusia normal. Ia bisa mendengar bisikan para perawat di ujung lorong yan
Paru-paru Tri terasa terbakar saat ia tersungkur keluar dari pintu tangga darurat lantai dasar. Asap hitam masih mengepul dari balik pintu baja yang baru saja ia tutup rapat. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mendekap map merah berisi sejarah ayahnya, satu-satunya bukti yang berhasil ia selamatkan dari amukan api di lantai B4. Wajahnya coreng-moreng oleh jelaga, dan jas putih kebanggaannya kini robek serta berbau sangit.Namun, alih-alih petugas keamanan yang datang menolong, pemandangan di lobi belakang rumah sakit itu justru membuatnya membeku.Di sana, di bawah sorot lampu lobi yang dingin, Adrian berdiri berdampingan dengan Sarena. Adrian tampak sangat cemas, namun ekspresinya berubah menjadi campuran antara ngeri dan kecewa saat melihat kondisi Tri. Sarena, di sisi lain, berdiri dengan tenang, memegang sebuah botol air mineral seolah-olah ia baru saja memberikan dukungan moral kepada Adrian."Tri! Apa yang kamu lakukan di bawah sana?" suara Adrian mengg







