Beranda / Romansa / Gadis Persinggahan / Bab 69: Simfoni Pemutus Nadi

Share

Bab 69: Simfoni Pemutus Nadi

Penulis: Alyantha_Z
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-12 10:03:35

Uap panas menyembur dari pipa-pipa pendingin di sektor terlarang The Cradle, menciptakan kabut putih yang menyesakkan napas. Adrian bergerak di antara bayang-bayang mesin raksasa, tubuhnya penuh memar dan seragamnya koyak, namun matanya memancarkan tekad yang dingin. Di tangannya, ia menggenggam sebuah tabung kecil berbahan titanium yang diambilnya dari brankas rahasia ayahnya sebelum kapal induk karam, sebuah benda yang selama ini dianggap sebagai mitos di kalangan petinggi yayasan: Antidote-X.

"Berhenti di sana, Adrian!" Suara Raihan menggema melalui pengeras suara di ruang reaktor, namun kali ini ada nada ketakutan yang terselip di dalamnya. "Jika kau membuka tabung itu di zona pendingin, kau tidak hanya akan membunuhku. Kau akan memicu reaksi berantai yang akan melenyapkan Tri dan bibimu!"

Adrian tidak berhenti. Ia memanjat tangga baja menuju pusat injeksi cairan reaktor. "Kau salah, Raihan. Ayahku menciptakan Antidote-X bukan sebagai obat, tapi seb
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gadis Persinggahan   Bab 70: Abu di Atas Gelombang

    Cahaya fajar yang merayap di cakrawala Laut Sulawesi terasa begitu dingin, seolah matahari kehilangan dayanya untuk menghangatkan dunia yang baru saja kehilangan salah satu jantungnya. Kapsul penyelamat itu terombang-ambing lemah, sebuah titik logam kecil di tengah samudra yang kini menjadi makam raksasa. Tri duduk bersimpuh di atas atap kapsul yang masih basah, matanya yang sembab menatap nanar ke arah titik di mana The Cradle meledak beberapa jam lalu.Tidak ada puing yang naik ke permukaan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya hamparan air biru gelap yang menelan semua jeritan, semua pengorbanan, dan pria yang terakhir kali tersenyum padanya sambil memutar katup tekanan maut itu. Adrian telah hilang. Nama itu kini hanya menjadi gema yang menyakitkan di dalam rongga dada Tri."Kenapa kau selalu menjadi pahlawan, Adrian?" bisik Tri, suaranya pecah disapu angin laut. Ia mendekap drive data di dadanya, satu-satunya benda yang tersisa dari sebuah perjuangan yang te

  • Gadis Persinggahan   Bab 69: Simfoni Pemutus Nadi

    Uap panas menyembur dari pipa-pipa pendingin di sektor terlarang The Cradle, menciptakan kabut putih yang menyesakkan napas. Adrian bergerak di antara bayang-bayang mesin raksasa, tubuhnya penuh memar dan seragamnya koyak, namun matanya memancarkan tekad yang dingin. Di tangannya, ia menggenggam sebuah tabung kecil berbahan titanium yang diambilnya dari brankas rahasia ayahnya sebelum kapal induk karam, sebuah benda yang selama ini dianggap sebagai mitos di kalangan petinggi yayasan: Antidote-X. "Berhenti di sana, Adrian!" Suara Raihan menggema melalui pengeras suara di ruang reaktor, namun kali ini ada nada ketakutan yang terselip di dalamnya. "Jika kau membuka tabung itu di zona pendingin, kau tidak hanya akan membunuhku. Kau akan memicu reaksi berantai yang akan melenyapkan Tri dan bibimu!" Adrian tidak berhenti. Ia memanjat tangga baja menuju pusat injeksi cairan reaktor. "Kau salah, Raihan. Ayahku menciptakan Antidote-X bukan sebagai obat, tapi seb

  • Gadis Persinggahan   Bab 68: Jantung Lotus Mekanis

    Dunia Tri berubah menjadi pusaran air dingin dan suara dentuman logam yang meredam sebelum akhirnya sebuah tarikan magnetis yang kuat menyedot tubuhnya masuk ke dalam lubang palka bawah The Cradle. Saat ia berhasil menghirup udara kembali, ia tidak menemukan dirinya di dalam kapal selam biasa. Ia berada di sebuah aula raksasa berbentuk sirkular yang dindingnya dilapisi oleh membran semi-organik yang berdenyut lembut, seolah-olah kapal ini memiliki sistem pernapasan sendiri. Tri terbatuk, memuntahkan air asin, sementara drive data di pelukannya terasa berat. Ia berdiri dengan kaki gemetar, menatap arsitektur ruangan yang menyerupai bagian dalam bunga lotus raksasa. Cahaya di sini bukan berasal dari lampu pijar, melainkan dari cairan bioluminesensi ungu yang mengalir di dalam pipa-pipa transparan yang melilit dinding seperti pembuluh darah. "Selamat datang di pusat peraduan, Kunci Akhir," sebuah suara yang sudah sangat ia kenal, suara Raihan Azizi, bergem

  • Gadis Persinggahan   Bab 67: di Ambang Karam

    Suara alarm evakuasi melolong panjang, bersahutan dengan deru air laut yang mulai masuk ke ruang pemberat kapal induk Harapan Kita. Kemiringan dek kini mencapai lima belas derajat, membuat setiap langkah di atas lantai baja yang licin menjadi perjuangan hidup dan mati. Di tengah kepulan asap merah dari suar darurat, ratusan kru berkumpul di area sekoci dengan wajah yang tidak lagi hanya memancarkan ketakutan akan tenggelam, melainkan ketakutan pada orang yang berdiri di samping mereka.Adrian berdiri di depan barisan sekoci nomor empat, senjatanya masih terhunus, sementara Tri berada di sampingnya dengan botol reagen fenolftalein yang tersisa di tangannya. Prosedur evakuasi kali ini sangat lambat dan menyakitkan, tidak ada seorang pun yang diizinkan masuk ke dalam sekoci tanpa melewati "Uji Filter"."Satu per satu! Ulurkan telapak tangan kalian!" teriak Adrian, suaranya parau melawan kebisingan mesin yang sekarat dan deburan ombak yang menghantam lambung

  • Gadis Persinggahan   Bab 66: Fragmen Jiwa yang Tersalin

    Lampu-lampu koridor kapal induk Harapan Kita berkedip dengan irama yang tidak wajar, menciptakan ilusi visual bahwa dinding-dinding baja itu sedang bernapas. Bau ozon bercampur aroma belerang yang tajam merayap keluar dari lubang ventilasi, membawa kabar buruk bagi siapa pun yang masih memiliki indra penciuman manusiawi. Kabar tentang "Dua Belas Saudara" telah berubah menjadi wabah paranoid yang lebih mematikan daripada virus mana pun. Di setiap persimpangan dek, para kru kini berdiri dengan jarak yang lebar, saling menatap dengan mata yang penuh kecurigaan, mencari tanda-tanda mekanis di balik senyuman rekan kerja mereka. Adrian berdiri di pusat kendali, tangannya masih mencengkeram erat bahu Tri, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, wanita itu akan memudar menjadi asap ungu. Ia menatap dua petugas keamanan yang baru saja masuk untuk melapor. Mereka tampak sempurna, namun Adrian merasa bulu kuduknya berdiri saat melihat salah sa

  • Gadis Persinggahan   Bab 65: Bayangan Kaca yang Pecah

    Udara di dalam ruang analisis yang terkunci mendadak terasa sedingin es. Tri berdiri terpaku di depan monitor, matanya tak berkedip menatap layar yang menampilkan sosok di koridor luar. Sosok itu, seorang wanita yang secara anatomi identik dengan dirinya berdiri dengan keanggunan yang mengerikan. Setiap inci wajahnya, dari lekuk rahang hingga garis mata, adalah cerminan sempurna dari Tri, namun ada sesuatu yang sangat salah pada tatapannya. Matanya yang sepenuhnya hitam pekat, tanpa selaput putih, seolah-olah merupakan lubang tanpa dasar yang menyedot cahaya di sekitarnya."Dina! Adrian! Apakah kalian mendengarku?" Tri berteriak ke arah interkom, namun hanya suara dengung statis yang kembali padanya."Mereka tidak bisa mendengarmu, Kakak," suara dari pengeras suara itu kembali terdengar, kali ini lebih jernih, membawa nada ejekan yang dingin. "Mereka sedang sibuk menjinakkan resonansi di dek bawah, sebuah distraksi kecil yang kuberikan agar kita bisa bicara... dari

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status