Home / Romansa / Gadis Persinggahan / Bab 67: di Ambang Karam

Share

Bab 67: di Ambang Karam

Author: Alyantha_Z
last update Last Updated: 2026-01-11 16:14:22

Suara alarm evakuasi melolong panjang, bersahutan dengan deru air laut yang mulai masuk ke ruang pemberat kapal induk Harapan Kita. Kemiringan dek kini mencapai lima belas derajat, membuat setiap langkah di atas lantai baja yang licin menjadi perjuangan hidup dan mati.

Di tengah kepulan asap merah dari suar darurat, ratusan kru berkumpul di area sekoci dengan wajah yang tidak lagi hanya memancarkan ketakutan akan tenggelam, melainkan ketakutan pada orang yang berdiri di samping mereka.

Adrian berdiri di depan barisan sekoci nomor empat, senjatanya masih terhunus, sementara Tri berada di sampingnya dengan botol reagen fenolftalein yang tersisa di tangannya. Prosedur evakuasi kali ini sangat lambat dan menyakitkan, tidak ada seorang pun yang diizinkan masuk ke dalam sekoci tanpa melewati "Uji Filter".

"Satu per satu! Ulurkan telapak tangan kalian!" teriak Adrian, suaranya parau melawan kebisingan mesin yang sekarat dan deburan ombak yang menghantam lambung
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis Persinggahan   Bab 69: Simfoni Pemutus Nadi

    Uap panas menyembur dari pipa-pipa pendingin di sektor terlarang The Cradle, menciptakan kabut putih yang menyesakkan napas. Adrian bergerak di antara bayang-bayang mesin raksasa, tubuhnya penuh memar dan seragamnya koyak, namun matanya memancarkan tekad yang dingin. Di tangannya, ia menggenggam sebuah tabung kecil berbahan titanium yang diambilnya dari brankas rahasia ayahnya sebelum kapal induk karam, sebuah benda yang selama ini dianggap sebagai mitos di kalangan petinggi yayasan: Antidote-X. "Berhenti di sana, Adrian!" Suara Raihan menggema melalui pengeras suara di ruang reaktor, namun kali ini ada nada ketakutan yang terselip di dalamnya. "Jika kau membuka tabung itu di zona pendingin, kau tidak hanya akan membunuhku. Kau akan memicu reaksi berantai yang akan melenyapkan Tri dan bibimu!" Adrian tidak berhenti. Ia memanjat tangga baja menuju pusat injeksi cairan reaktor. "Kau salah, Raihan. Ayahku menciptakan Antidote-X bukan sebagai obat, tapi seb

  • Gadis Persinggahan   Bab 68: Jantung Lotus Mekanis

    Dunia Tri berubah menjadi pusaran air dingin dan suara dentuman logam yang meredam sebelum akhirnya sebuah tarikan magnetis yang kuat menyedot tubuhnya masuk ke dalam lubang palka bawah The Cradle. Saat ia berhasil menghirup udara kembali, ia tidak menemukan dirinya di dalam kapal selam biasa. Ia berada di sebuah aula raksasa berbentuk sirkular yang dindingnya dilapisi oleh membran semi-organik yang berdenyut lembut, seolah-olah kapal ini memiliki sistem pernapasan sendiri. Tri terbatuk, memuntahkan air asin, sementara drive data di pelukannya terasa berat. Ia berdiri dengan kaki gemetar, menatap arsitektur ruangan yang menyerupai bagian dalam bunga lotus raksasa. Cahaya di sini bukan berasal dari lampu pijar, melainkan dari cairan bioluminesensi ungu yang mengalir di dalam pipa-pipa transparan yang melilit dinding seperti pembuluh darah. "Selamat datang di pusat peraduan, Kunci Akhir," sebuah suara yang sudah sangat ia kenal, suara Raihan Azizi, bergem

  • Gadis Persinggahan   Bab 67: di Ambang Karam

    Suara alarm evakuasi melolong panjang, bersahutan dengan deru air laut yang mulai masuk ke ruang pemberat kapal induk Harapan Kita. Kemiringan dek kini mencapai lima belas derajat, membuat setiap langkah di atas lantai baja yang licin menjadi perjuangan hidup dan mati. Di tengah kepulan asap merah dari suar darurat, ratusan kru berkumpul di area sekoci dengan wajah yang tidak lagi hanya memancarkan ketakutan akan tenggelam, melainkan ketakutan pada orang yang berdiri di samping mereka.Adrian berdiri di depan barisan sekoci nomor empat, senjatanya masih terhunus, sementara Tri berada di sampingnya dengan botol reagen fenolftalein yang tersisa di tangannya. Prosedur evakuasi kali ini sangat lambat dan menyakitkan, tidak ada seorang pun yang diizinkan masuk ke dalam sekoci tanpa melewati "Uji Filter"."Satu per satu! Ulurkan telapak tangan kalian!" teriak Adrian, suaranya parau melawan kebisingan mesin yang sekarat dan deburan ombak yang menghantam lambung

  • Gadis Persinggahan   Bab 66: Fragmen Jiwa yang Tersalin

    Lampu-lampu koridor kapal induk Harapan Kita berkedip dengan irama yang tidak wajar, menciptakan ilusi visual bahwa dinding-dinding baja itu sedang bernapas. Bau ozon bercampur aroma belerang yang tajam merayap keluar dari lubang ventilasi, membawa kabar buruk bagi siapa pun yang masih memiliki indra penciuman manusiawi. Kabar tentang "Dua Belas Saudara" telah berubah menjadi wabah paranoid yang lebih mematikan daripada virus mana pun. Di setiap persimpangan dek, para kru kini berdiri dengan jarak yang lebar, saling menatap dengan mata yang penuh kecurigaan, mencari tanda-tanda mekanis di balik senyuman rekan kerja mereka. Adrian berdiri di pusat kendali, tangannya masih mencengkeram erat bahu Tri, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, wanita itu akan memudar menjadi asap ungu. Ia menatap dua petugas keamanan yang baru saja masuk untuk melapor. Mereka tampak sempurna, namun Adrian merasa bulu kuduknya berdiri saat melihat salah sa

  • Gadis Persinggahan   Bab 65: Bayangan Kaca yang Pecah

    Udara di dalam ruang analisis yang terkunci mendadak terasa sedingin es. Tri berdiri terpaku di depan monitor, matanya tak berkedip menatap layar yang menampilkan sosok di koridor luar. Sosok itu, seorang wanita yang secara anatomi identik dengan dirinya berdiri dengan keanggunan yang mengerikan. Setiap inci wajahnya, dari lekuk rahang hingga garis mata, adalah cerminan sempurna dari Tri, namun ada sesuatu yang sangat salah pada tatapannya. Matanya yang sepenuhnya hitam pekat, tanpa selaput putih, seolah-olah merupakan lubang tanpa dasar yang menyedot cahaya di sekitarnya."Dina! Adrian! Apakah kalian mendengarku?" Tri berteriak ke arah interkom, namun hanya suara dengung statis yang kembali padanya."Mereka tidak bisa mendengarmu, Kakak," suara dari pengeras suara itu kembali terdengar, kali ini lebih jernih, membawa nada ejekan yang dingin. "Mereka sedang sibuk menjinakkan resonansi di dek bawah, sebuah distraksi kecil yang kuberikan agar kita bisa bicara... dari

  • Gadis Persinggahan   Bab 64: Resonansi yang Terkunci

    Suara dengung rendah yang keluar dari lantai kapal induk Harapan Kita bukan lagi sekadar getaran mesin, itu adalah sebuah frekuensi yang merayap masuk ke dalam sumsum tulang. Di dalam ruang analisis yang kini hanya diterangi oleh lampu darurat merah yang berkedip, Tri merasakan sensasi seolah-olah seluruh sel di tubuhnya sedang dipaksa untuk bergetar pada ritme yang sama. Sistem komputer di hadapan mereka membeku, menampilkan serangkaian simbol Sanskerta yang terus berputar-putar seperti pusaran air yang tak berujung."Sistem kendali utama terkunci total," teriak Dina sambil memukul meja kontrol yang tak lagi merespons. "Ini bukan serangan siber biasa. Mereka mengirimkan pulsa elektromagnetik melalui air yang disinkronkan dengan struktur baja kapal ini. Lambung kapal kita sekarang berfungsi sebagai antena raksasa untuk Raihan!"Adrian mencoba menghubungi anjungan melalui radio taktis di bahunya, namun yang terdengar hanyalah suara statis yang sesekali berubah menja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status