Share

8. Gadis yang terpilih

Author: Yeny Yuliana
last update Last Updated: 2026-01-16 05:34:42

Dunia seakan berhenti sejenak bagi Elara. Jantungnya berdebar tak karuan setelah mendengar apa yang baru saja diucpkan Kaelan. "Aku ... Pasti salah mendengar kan?" batin Elara sembari mengangkat wajahnya yang semula menunduk dengan perlahan. Ia tak tahu apa yang harus dia lakukan, sehingga ia meremas apronnya dengan kuat.

Dia lupa kapan terakhir kali ia menjadi pusat perhatian seperti sekarang. Kedua tangan Elara dingin karena terlalu gugup. Berada di atas mimbar istana saat ini yang tak ubahn
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   23. Tandu menuju kehancuran

    Tubuh yang ternoda itu merasa tak layak lagi berada di istana. Dia memilih untuk tunduk terhadap perintah sang Putra Mahkota untuk turut ke medan perang. Berharap dia akan hancur di sana sebagai penebus dosa yang bahkan bukan miliknya.Aroma ramuan pahit menguar memenuhi kamar yang temaram. Di tepi ranjang, Maera masih setia menemani Elara sedari siang. Gadis pelayan itu menatap penuh iba wajah calon permaisuri yang tampak pucat. Keringat membasahi keningnya. Maera menggenggam tangan Elara yang sedingin salju, sangat kontras dengan kepala dan bagian tubuh lain yang terasa sangat panas. Maera tidak menyangka Pangeran Kaelan akan tetap membawa Elara pergi ke medan perang, meski tahu kondisi kesehatan Elara yang memburuk. Maera meletakkan baju perjalanan yang sudah ia siapkan untuk Elara di atas nakas. Berbanding dengan Kaelan yang tidak menaruh iba sedikitpun kepada calon permaisuri, Maera adalah salah satu dari manusia normal yang tidak bisa membenarkan keputusan Kaelan. Sehingga samp

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   22. Titah untuk calon permaisuri yang rapuh

    Sontak semua mata menatap pada pelaku kekerasan yang melemparkan tubuh pria berwajah tak berdosa itu. Mereka melihat dada kekar putra permata Asterion naik turun begitu cepat. Amarah terukir jelas di wajah Kaelan sehingga Ratu Aurelia segera berlari menghampiri putranya."Kaelan, apa yang kau lakukan!" Raja Arcturus berteriak. Apa yang dilakukan Kaelan benar-benar tidak sopan. "Putraku, apa yang sedang terjadi?" Aurelia bertanya dengan hati-hati sembari mengelus lengan putra pertamanya. Namun bukan jawaban yang keluar dari bibir Kaelan. Kaelan justru bergerak cepat dan menghujani Darian dengan pukulan. "Hentikan! Apa yang sudah kau lakukan terhadap putraku?" Seraphine menjerit histeris. Raja Arcturus segera memerintahkan pelayan yang semula melayani mereka di meja makan untuk memanggil para jendral istana untuk melerai Kaelan. Bukan tak mungkin Darian akan kehilangan nyawa jika mereka tidak segera bertindak memisahkan Kaelan dari pria yang sudah tak berdaya itu. "Astaga, apa yang

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   21. Kecemburuan yang beracun

    Kedua tangan Kaelan mengepal kuat saat tiba di depan pintu kamar calon permaisuri. Wajah pria itu mengetat, kedua manik abu-abu gelapnya menatap tajam pada pintu kayu berukiran bunga yang ada di hadapannya, seakan ia sudah siap untuk menghabisi orang di belakang pintu tersebut.Kaelan menekan knop pintu, namun pintu tak terbuka. "Terkunci," gumamnya dengan gigi yang rapat. Kaelan menarik napas dalam, lalu menendang pintu kamar calon permaisuri dengan kemarahan yang meluap. Pintu terlepas dari engselnya. Dapat terlihat jelas di netra abu-abu kelamnya--seorang gadis yang tadi ia tinggalkan dengan wajah ketakutan berada dalam kungkungan saudara laki-lakinya. Darian yang menyadari pintu di belakangnya terbuka segera memakai celana miliknya yang sempat ia tanggalkan. Sementara itu, Elara menoleh ke arah Kaelan dengan rasa yang sedikit lega. Dengan kehadiran Kaelan, setidaknya dapat menghentikan kekejaman Darian terhadapnya. Tapi melihat situasi dirinya saat ini, mungkinkah Kaelan dapat

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   20. Tubuhmu adalah milikku!

    Peringatan : Bab ini mengandung unsur kekerasan dan penindasan seksual. Pastikan Anda sudah berusia 18 tahun atau lebih. Setiap sentuhan kasar itu tak pernah benar-benar berlalu. Tubuh mungil gadis itu menyimpan setiap sentuhan yang mengoyak harga dirinya dengan baik. Menjadi memori yang membuatnya trauma, dan semua luka yang ia rasakan sudah mendarah daging. Pintu kamar calon permaisuri tertutup. Meredam isak tangis Elara yang tak akan terdengar oleh siapapun yang melintas. Darian mengangkat tubuh rapuh Elara dan melemparkannya dengan kasar di atas ranjang. Netra birunya berkilat penuh gairah menatap Elara yang mulai menangis gelisah di atas ranjang berkanopi itu. Darian bergerak dramatis saat melepaskan kemeja yang melekat pada tubuhnya. Senyum mengerikan dari wajahnya tak sedikitpun berkurang. Ia langsung melompat ke atas ranjang begitu tubuh bagian atasnya tak lagi tertutup sehelai benangpun. "Calon Permaisuri ... kau terlihat menawan setelah sekian lama kita tidak berjumpa,"

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   19. Tidakkah kau rindu padaku, Calon Permaisuri?

    Kaelan berpikir apa yang sedang ia lakukan adalah memperbaiki sesuatu. Ia tak sadar sedang merobek luka yang belum sempat sembuh. Pintu ruang kamar calon permaisuri terbuka perlahan, namun suara itu terdengar seperti suara denting lonceng kematian. Pagi itu, Elara berpikir bahwa Kaelan menemuinya untuk memberinya jawaban atas permintaanya kembali ke Eldoria. Elara yang sedang berbincang dengan Maera seketika berhenti berbicara. Elara yang sedang duduk di tepi ranjang menggenggam kain gaun yang menutupi lututnya saat kedua matanya menatap Kaelan yang baru saja melintas di ambang pintu. Namun, suara derap kaki yang mengikuti Kaelan membuat gadis itu menyipitkan mata. Netra hazel keemasan gadis itu terbuka lebar saat melihat dua orang yang berada di belakang Kaelan. Tanpa sepengetahuan Kaelan, Seraphine menatap Elara tajam, sarat akan kebencian. Sedangkan Darian menyeringai dan membasahi bibirnya dengan lidah. Elara reflek mundur hingga punggungnya menabrak kepala ranjang. Seketika Ka

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   18. Sekutu dalam kebencian

    Utusan Kerajaan Asterion tiba di Eldoria dengan iring-iringan pasukan berkuda yang membawa panji berwarna merah marun pekat bergambar kepala elang emas--simbol Kerajaan Asterion. Stempel kerajaan tertera jelas, tak ada ruang untuk penolakan. Rombongan itu seakan menegaskan bahwa keluarga Elara harus memenuhi undangan dari Asterion dengan penuh kepatuhan yang dibungkus dengan kehormatan. Calestra membaca undangan dari Asterion dengan senyum getir. Jemarinya meremas ujung surat undangan saat satu kalimat terasa seperti duri yang menancap di dadanya--Elara Wynslade, calon permaisuri Asterion. "Seharusnya namaku yang tercantum sebagai calon permaisuri Asterion," desisnya dengan rahang mengeras. Seraphine meletakkan cangkir tehnya dengan tak acuh. Bukan hal baru melihat sikap iri putri kandungnya yang tak terima dengan nasib beruntung yang diperoleh Elara. Seraphine mendidik Calestra menjadi gadis yang manja, apapun yang dia inginkan harus dia dapatkan. Tapi nahas, kali ini dia tidak bi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status