Mag-log inLisa mundur ketakutan, air matanya mengalir merusak riasan wajahnya. "Tolong... Marcus, jangan. Aku mohon..." ratapnya dengan suara serak.
"Kemari kau, Jalang!" bentak Marcus kasar. Ia merenggut kalung berlian di leher Lisa hingga putus dan melukai kulitnya.
Bruk!
Marcus menghempaskan tubuh Lisa ke atas ranjang dengan kasar lalu menindihnya.
"Lepaskan aku, Marcus! Jangan sentuh aku!" jerit Lisa histeris. Kedua tangan kecilnya memukul dada Marcus sekuat tenaga untuk mendorong pria itu menjauh.
Marcus sama sekali tidak bergeming. Ia justru mencengkeram tangan Lisa dan menahannya di atas kasur. "Percuma kamu memukulku, Jalang! Tenagamu tidak ada apa-apanya!"
“Hentikan!”
"Diam! Dua puluh lima juta dolar bukan uang kecil!" bentak Marcus lagi dengan mata merah tanpa rasa kasihan.
"Ah!" Lisa terus menangis. Ia tidak menyangka harus melayani nafsu pria ini demi membayar utang mendiang ayahnya.
Melihat air mata Lisa, Marcus justru semakin bergairah. Ia menarik pakaian Lisa kuat-kuat hingga robek. "Aku suka permainan ini!"
Marcus melepas kancing bajunya sendiri, lalu memaksa Lisa membuka lebar kakinya.
"Hhhaaaa!"
Lisa berteriak saat batang besar Markus merobek rasa cintanya pada Adam. Ia merasa sangat kecewa karena pengkhianatan ini.
Malam itu menjadi momen paling mengerikan bagi Lisa.
Setiap perlawanan dan jerit tangisnya justru dibalas dengan perlakuan yang semakin brutal dari Marcus.
Tak cuma mencekik, Marcus mencakar bahkan memukul Lisa berkali-kali dengan tangannya.
Gilanya lagi Marcus tidak cuma memukul gadis malang itu dengan tangannya, dia juga menggunakan ikat pinggangnya untuk membuat pukulannya semakin berbekas di tubuh Lisa yang sudah membiru.
Di tengah rasa sakit yang luar biasa, Lisa akhirnya sadar bahwa Adam telah mengorbankan dirinya hanya demi uang.
Menjelang fajar, Marcus yang sudah puas akhirnya tertidur lelap di atas kasur. Ia sama sekali tidak memedulikan Lisa yang terbaring meringkuk di lantai marmer yang dingin dengan tubuh gemetar dan gaun biru safir yang sudah robek hancur.
Klik.
Suara pintu kamar yang terbuka perlahan membuat Lisa tersentak takut.
Ia mengira Adam datang untuk menolongnya, namun ternyata Matilda yang melangkah masuk. Penari senior itu menatap kondisi tragis Lisa tanpa ekspresi, lalu melemparkan sebuah jubah sutra hitam ke arahnya.
"Pakai itu," bisik Matilda dingin sambil melirik Marcus yang tertidur. "Aku tahu jalan keluar lewat pintu belakang. Pergilah sebelum pria ini bangun dan menyiksamu lagi."
Lisa menatap jubah itu, lalu beralih menatap Matilda. Alih-alih merasa bersyukur, rasa gengsi dan harga dirinya yang terluka membuat Lisa menepis jubah tersebut hingga jatuh ke lantai. Ia memaksakan diri untuk berdiri.
"Aku tidak butuh belas kasihanmu, Matilda!" ketus Lisa sambil menahan rasa pening di kepalanya.
Matilda mengernyit heran. "Kamu sudah dihancurkan seperti ini dan masih mau sombong? Buka matamu, Lisa! Kamu baru saja dijual oleh Adam!"
Lisa tertawa kecil. Air matanya mengalir, tetapi senyuman delusi terlihat di bibirnya yang berdarah. "Kamu tidak paham apa-apa. Apa yang terjadi malam ini... ini adalah wujud cintaku pada Adam. Aku rela berkorban untuknya. Ini bukan bukti kalau aku lemah!"
Matilda terpaku sejenak mendengar ucapan itu, lalu ia langsung tertawa keras penuh ejekan. Ia terpaksa menutup mulutnya dengan tangan agar tawanya tidak membangunkan Marcus. Ia merasa keyakinan buta Lisa sangat bodoh dan menjijikkan.
"Cinta? Kamu menyebut perdagangan manusia ini sebagai cinta?” tanya Matilda di sela tawanya dengan pandangan merendahkan. “Kamu benar-benar sudah gila, Lisa!"
"Habis? Apa maksudmu?" Eleanor mengernyitkan dahi."Aduh, ayolah, Eleanor. Yang penting kita telah melakukan pekerjaan kita dengan baik dan itu cukup untuk membuat posisi kita tetap aman.”“Kamu yakin?”“Tentu saja. Aku akan duduk manis disini dan membiarkan pelacur kecil itu melayani para tamu klub yang beringas. Lagipula, tugasmu hanya memasak dan menyiapkan kebutuhan untuknya, bukan menjadi malaikat pelindungnya!" bentak Matilda dengan nada yang berubah menjadi tajam.Eleanor menghela napas panjang sambil mengingat kondisi Lisa saat ia mengantarkan air hangat pagi ini. "Tetap saja bagiku Tuan Adam sangat kejam padanya. Dia bahkan tidak menganggapnya sebagai manusia.""Hentikan pembicaraan ini, Elean
“Pasti para pelanggan akan senang dengan mainan baru anda, Tuan.”"Tepat sekali.” jawab Adam sambil mengetuk abu cerutunya ke asbak.Adam akhirnya selesai menghitung tumpukan uang tunai terakhir lalu mengikatnya dengan rapi sebelum melemparkannya ke dalam brankas besi.Sambil bangkit berdiri dari kursinya, ia merapikan rompi jasnya lalu berkata pada pelayannya. "Cari kepala pelayan. Katakan padanya untuk segera mengirim Matilda ke kamarku sekarang juga.""Baik, Tuan."Begitu mendapatkan perintah dari pelayan, Matilda bergegas menuju kamar Adam. Ia mengetuk pintu dengan lembut sebelum melangkah masuk ke dalam kamar pribadi Adam.Tanpa menunggu undangan, ia langsung duduk di atas pangkuan Adam lalu melingkarkan lengan kurusnya di leher pria tinggi besar itu.Sementara Adam hanya menikmati cerutunya dengan santai tanpa menggeser posisi tubuhnya."Ada apa, Sayang?" tanyanya manja sambil menatap mata Adam yang dingin."Besok malam, aku ingin kamu memastikan riasan Lisa. Aku tidak ingin pa
Hahahahahaha!Tawa Matilda terdengar sangat keras di dalam kamarnya. Suara kepuasan itu menggema hingga ke langit-langit kamarnya.Rasa senang yang sangat luar biasa langsung melingkupi dirinya begitu mendengar kabar kalau Lisa kembali dijual Adam pada tamu Klub Kurara yang terkenal bengis.“Rasain kau Lisa. Makanya jangan sombong sekarang kau sudah benar-benar hancur. Tau rasa kamu dijual oleh Adam harga tertinggi di klub! Aku tidak pernah tahu kalau dia bisa menjadi begitu kejam dan luar biasa!" ucap Matilda pada diri sendiri.Senyuman yang aneh menghiasi wajahnya saat ia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya sampai seorang pelayan memanggilnya sambil membuka pintu."Matilda!" bentak Eleanor, kepala pel
“Aku suka perlawananmu, Sayang!” kekeh pria asing itu lalu menekan bibirnya keras-keras ke bibir Lisa.Ciuman itu pemaksaan dan kasar.Yang Lisa rasakan hanya kenyataan pahit kalau anggannya tak benar-benar terjadi di kamar ini.Ini bukan Adam!Ini bukanlah malam istimewa yang ia impikan."Kamu terasa sangat lembut dan manis," bisik pria itu di bibir Lisa yang sedetik kemudian merobek baju Lisa."Aah!""Ya! Berteriaklah sesukamu, Sayang," pria itu tertawa dengan suaranya yang berat dan mengejek. "Aku ingin mendengar setiap suara kecil yang kamu buat. Itu membuat malam ini jauh lebih menyenangkan."
Bravo!Tepuk tangan menggema di seluruh aula bagaikan guruh, keras dan membahana.Setiap pasang mata tertuju pada Lisa dan suara tepukan serta sorakan seolah menggetarkan dinding-dinding ruangan. Namun di tengah semua pujian itu, Lisa hanya memikirkan satu hal yaitu Adam pasti sedang menonton.Adam akan senang dan tak akan lama lagi pria tampan itu pasti akan memanggilnya untuk melayani gairahnya di ranjangnya.Lisa lalu melangkah turun dari panggung dengan penuh percaya diri sambil menunggu panggilan dari Adam."Mau ke mana, Nona Lisa?" tanya seorang pelayan yang mendekati gadis cantik itu."Ah, aku sedang menunggumu. Bukankah aku diminta menemui Adam malam ini?”
“Tidak!” tegas Matilda sambil menghela napas panjang lalu menundukkan kepalanya.“Bagus!” Adam tersenyum sinis lalu memutar wajahnya ke arah pelayannya. “Sekarang pindahkan semua barang-barang Lisa ke kamar barunya. Sekarang!”Lisa berjalan melenggang dengan senyum penuh kemenangan, sementara Matilda hanya bisa menelan rasa pahit di dalam hatinya.Hari itu, Lisa merasa bagaikan seorang ratu. Barang-barangnya dipindahkan oleh para pelayan menuju lantai yang sama dengan kamar Adam, sementara Matilda hanya bisa menatapnya dari kejauhan dengan rasa cemburu yang membara.Matahari semakin tinggi saat seorang pelayan melangkah masuk ke kamar baru Lisa.







