Ahhh... Tuan Mafia

Ahhh... Tuan Mafia

last updateZuletzt aktualisiert : 22.05.2026
Von:  Nona CantikGerade aktualisiert
Sprache: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Nicht genügend Bewertungen
9Kapitel
3Aufrufe
Lesen
Zur Bibliothek hinzufügen

Teilen:  

Melden
Übersicht
Katalog
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN

Zusammenfassung

Mafia

Miliarder

Dark Romance

Cinta Terlarang

​"Lepaskan aku, Tuan... Ini salah," ​bisik Aline dengan napas memburu, tubuhnya gemetar hebat saat punggungnya terdesak rapat pada kap mobil mewah milik sang mafia. ​Xavier tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mengikis jarak, memenjarakan tubuh mungil Aline di antara lengannya yang kokoh. Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan aroma bahaya menguar tajam, mengunci seluruh kesadaran wanita itu. ​Dengan perlahan, jemari kokoh Xavier naik, menyelipkan anak rambut Aline ke belakang telinga, sebelum turun membelai rahangnya dengan sentuhan yang membakar skin. ​"Salah?" ​Suara berat Xavier berbisik rendah tepat di ceruk leher Aline, membuat bulu kuduk wanita itu meremang seketika. Napas hangat pria itu terasa begitu intim, membakar permukaan kulitnya yang sensitif. ​"Di duniaku, tidak ada yang salah jika aku sudah menginginkannya. Dan malam ini, jalang kecil... kau adalah milikku."

Mehr anzeigen

Kapitel 1

Chapter 1

Malam telah larut ketika Aline melangkah keluar dari pintu belakang restoran tempatnya bekerja paruh waktu. Udara dingin pelabuhan langsung menusuk kulitnya yang hanya dibalut kardigan tipis. Sebagai seorang mahasiswi yang harus membiayai hidupnya sendiri, pulang jam dua pagi sudah menjadi makanan sehari-hari.

​Biasanya, Aline akan mengambil jalan pintas melewati area pergudangan dekat dermaga untuk menuju halte bus terakhir. Jalanan itu sepi dan minim penerangan, tetapi malam ini, keheningan yang menyelimuti tempat itu terasa berbeda. Terasa mencekam.

​Langkah kaki berat.

​Aline menghentikan langkahnya tiba-tiba. Sayup-sayup, ia mendengar suara gaduh dari balik kontainer besi besar di ujung dermaga. Rasa penasaran yang bodoh menuntun langkahnya untuk mendekat, bersembunyi di balik bayangan tangki minyak tua.

​Begitu ia mengintip, napas Aline tercekat di tenggorokan. Jantungnya berdentum begitu keras hingga rasanya mau melompat keluar.

​Di bawah temaram lampu merkuri yang berkedip-kedip, beberapa pria berbadan kekar berpakaian serba hitam sedang berdiri mengelilingi seorang pria lain yang sudah berlutut bersimpah darah. Namun, bukan pria-pria kekar itu yang menarik perhatian Aline.

​Melainkan pria yang berdiri di tengah-tengah mereka.

​Pria itu mengenakan setelan jas hitam mahal yang tampak kontras dengan kekumuhan dermaga. Postur tubuhnya tinggi tegap, memancarkan aura dominasi yang begitu pekat dan mematikan. Dari balik bayangan, Aline bisa melihat rahang tegas pria itu yang mengeras tanpa emosi. Di tangan kanannya yang dibalut sarung tangan kulit, sebuah pistol dengan peredam suara teracung dingin.

​"T-tolong, Tuan Xavier... Saya mengaku salah. Tolong ampuni nyawa saya..." Pria yang berlutut itu memohon dengan suara serak, menyembah di atas hamparan semen yang basah oleh darah.

​Pria yang dipanggil Xavier itu tidak bergeming. Wajahnya bak pahatan es—tampan luar biasa, namun sangat mengerikan.

​"Kau tahu aturan main di duniaku, Antonio," suara Xavier terdengar rendah, berat, dan begitu tenang. Namun, ketenangan itu justru seribu kali lebih menakutkan daripada bentakan. "Pengkhianat tidak punya hak untuk bernapas."

​Pft!

​Satu kecaman suara diredam terdengar. Aline spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan jeritan yang hampir lolos dari bibirnya.

​Tepat di depan matanya, pria yang memohon tadi ambruk ke depan, tak lagi bernyawa dengan lubang peluru di dahinya. Xavier bahkan tidak mengedipkan mata. Ia mengibaskan jasnya yang sedikit terkena cipratan darah, lalu berbalik dengan santai, menyerahkan pistolnya pada salah satu anak buahnya.

​"Bersihkan. Jangan tinggalkan jejak setetes pun," perintah Xavier dingin.

​Aline gemetar hebat. Lututnya lemas bak jeli. Ia tahu ia harus segera lari dari sana sebelum nasibnya berakhir sama seperti pria malang itu. Namun, rasa takut yang teramat sangat membuat tubuhnya tidak bisa berkompromi. Saat ia mencoba melangkah mundur, sepatunya tidak sengaja menyenggol sebuah kaleng kosong di lantai.

​Klentang!

​Suara itu menggema tajam membelah keheningan malam dermaga.

​"Siapa di sana?!" bentak salah satu anak buah Xavier, langsung menodongkan senjata ke arah persembunyian Aline.

​Aline panik setengah mati. Tanpa berpikir panjang, ia membalikkan badan dan berlari sekencang-kencangnya, mengabaikan rasa sakit di kakinya. Air mata ketakutan mulai mengalir di pipinya.

Jantung Aline serasa berhenti berdetak saat ujung sepatunya tersangkut rantai besi berkarat di atas beton dermaga. Tubuhnya terjerembap keras ke depan, membuat kedua lutut dan telapak tangannya tergores kasar permukaan semen yang dingin. Kardigan tipisnya robek, mengekspos kulit bahunya yang kini memerah dan kotor oleh debu pelabuhan.

​"Argh...!" Aline meringis kesakitan, mencoba bangkit dengan sisa tenaga yang ia miliki.

​Namun, sebelum ia sempat berdiri, dua pasang tangan kekar berpakaian serba hitam mencengkeram kedua lengannya dengan kasar. Mereka menarik tubuh Aline, menyeretnya tanpa ampun kembali ke arah pusat kegelapan tempat pembunuhan tadi terjadi. Sepatunya bergesekan pasrah dengan tanah, menyisakan jejak ketakutan yang mendalam.

​Bruk!

​Anak buah pria itu menghempaskan tubuh Aline begitu saja di atas lantai beton, tepat beberapa jengkal di hadapan sepasang sepatu pantofel hitam yang berkilau sempurna—kontras dengan genangan darah segar yang mulai menjalar di sekitarnya.

​Aline gemetar hebat, menekuk lututnya erat-erat untuk menutupi tubuhnya yang terekspos. Perlahan, dengan keberanian yang tersisa, ia mendongak.

​Pria itu—Xavier—berdiri menjulang di hadapannya seperti malaikat pencabut nyawa yang dingin. Tatapan matanya yang sewarna elang menatap ke bawah, menguliti sosok Aline dengan pandangan tajam, menilai, dan penuh kuasa. Keheningan malam dermaga terasa semakin mencekam, hanya diiringi suara deburan ombak laut yang menghantam dinding pembatas.

​"Lihat apa yang kita temukan di sini, Tuan," suara berat salah satu anak buahnya memecah kesunyian. "Gadis ini melihat semuanya."

​Xavier tidak langsung merespons. Ia memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana bahan mahalnya, sementara tangan yang lain bergerak pelan melonggarkan sedikit dasi hitam yang mengikat lehernya. Setiap gerakannya begitu tenang, namun memancarkan aura intimidasi yang membuat Aline bahkan takut untuk sekadar bernapas.

​Xavier perlahan melangkah maju, lalu merendahkan tubuhnya, berlutut dengan satu kaki di depan Aline. Jarak mereka kini begitu dekat, hingga Aline bisa mencium aroma parfum maskulin premium yang bercampur dengan bau anyir darah dan tembakau mahal.

​Dengan gerakan lambat yang menyiksa, jemari kokoh Xavier yang dibalut sarung tangan kulit hitam terangkat. Ia mencengkeram dagu Aline dengan kuat, memaksa wanita itu untuk menatap langsung ke dalam manik matanya yang kelam tak berdasar.

​"Sebutkan namamu, Tikus Kecil," bisik Xavier. Suaranya rendah, serak, dan begitu intim di dekat wajah Aline, namun sarat akan ancaman yang mematikan.

​"A-Aline..." jawab Aline dengan bibir bergetar dan air mata yang mulai menetes bebas di pipinya. "S-saya mohon... saya tidak melihat apa-apa... saya tidak akan bicara pada siapa pun..."

​Satu sudut bibir Xavier terangkat, membentuk seringai tipis yang dingin sekaligus sangat menawan. Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap air mata di pipi Aline dengan sentuhan yang terasa membakar kulit sensitif wanita itu.

​"Kau sudah melihat terlalu banyak, Aline," bisik Xavier lagi, napas hangatnya berembus di permukaan bibir Aline yang memucat. "Dan di duniaku, rahasia terbaik adalah rahasia yang dibawa mati. Menurutmu, apa yang harus kulakukan padamu sekarang?"

Erweitern
Nächstes Kapitel
Herunterladen

Aktuellstes Kapitel

Weitere Kapitel

An die Leser

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Keine Kommentare
9 Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status