LOGINWarning 21++ “Golongan darah anak ini tidak cocok dengan ayahnya…” Dunia Alice runtuh dalam sekejap. "Bagaimana mungkin, Dok?!" Saat putrinya kritis akibat kecelakaan helikopter, rahasia tersembunyi akhirnya terbongkar. Anak itu bukan darah daging suaminya, Zein. Di tengah rumah tangga yang hancur dan waktu yang terus menipis, Alice harus mencari darah langka demi menyelamatkan nyawa putrinya. Hingga satu nama muncul: Rangsa, Raja Mafia Selatan yang kejam dan ditakuti, dikenal dengan pembunuh berdarah dingin. Namun bantuan itu memiliki harga. “Ceraikan Zein. Menikahlah denganku atau biarkan anakmu mati.” Kini, Alice harus membuat keputusan demi menyelamatkan nyawa putrinya.
View More“CELANA DALAM SIAPA INI? JELAS INI BUKAN PUNYAKU!”
Suara Alice pecah di tengah kesunyian kamar yang biasanya menjadi tempat paling privasi baginya. Di atas seprai sutra yang masih rapi, tergeletak selembar kain tipis berwarna merah menyala. Warnanya begitu kontras, begitu vulgar, seolah sedang menertawakan martabat Alice sebagai nyonya di rumah itu. Bahannya yang murah dan mencolok terasa seperti sebuah penghinaan terang-terangan. Alice mematung. Jemarinya mengepal begitu erat hingga kuku-kukunya memutih, menusuk telapak tangan sendiri. Sebagai CEO yang memimpin ribuan karyawan, ia dilatih untuk tidak pernah menunjukkan celah. Instingnya selalu tajam; ia bisa mencium aroma pengkhianatan dalam sebuah kontrak bisnis dari jarak bermil-mil. Namun kali ini, bau busuk itu tidak berasal dari ruang rapat, melainkan dari ranjangnya sendiri. “Aku tidak pernah menyukai warna ini. Apalagi model murahan seperti ini,” batinnya dingin. Dada Alice mulai bergemuruh. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghantam, sebuah kombinasi antara amarah yang membara dan rasa sakit yang menyayat. Skenario terburuk mulai tersusun di kepalanya seperti kepingan puzzle yang mengerikan. “Zein… jangan-jangan kamu benar-benar melakukannya…” Pandangannya yang tajam beralih ke pintu kamar mandi. Suara gemercik air yang jatuh di atas lantai marmer terdengar begitu santai, begitu tanpa dosa. Di balik pintu itu, suaminya sedang membersihkan diri, mungkin berusaha membilas sisa-sisa aroma wanita lain dari kulitnya. Kemarahan Alice mencapai puncaknya. BRAKK! Alice menggedor pintu itu tanpa ampun. “Zein! Buka pintunya sekarang!” teriaknya dengan suara serak yang tertahan. Dari dalam, terdengar suara tawa kecil yang santai, suara yang biasanya membuat hati Alice luluh, namun kini terdengar seperti racun yang mematikan. “Sebentar, sayang… aku masih mandi. Kamu kangen ya? Sampai tidak sabar begitu? Tunggu sebentar, aku keluar sebentar lagi.” Jawaban itu adalah pemicu ledakan. Tanpa menunggu sedetik pun, Alice mendorong pintu yang tidak terkunci itu hingga menghantam dinding dengan dentuman keras. “Apa yang kamu lakukan, Alice?” Zein tersentak, berdiri mematung di bawah kucuran shower. Air membasahi wajahnya yang tampan, wajah yang selama ini Alice puja. Tanpa basa-basi, Alice melemparkan kain merah itu tepat ke wajah Zein yang basah. “Ini punya siapa?!” Dunia seolah berhenti berputar selama beberapa detik. Alice menangkap kilatan itu—sebuah jeda mikro, sebuah keraguan di mata Zein sebelum topeng ketenangannya terpasang kembali. Kepanikan itu sangat nyata, meski hanya sekejap. “Sial… wanita itu pasti lupa. Bagaimana mungkin dia bisa seceroboh ini?” batin Zein merutuk, jantungnya berdegup kencang melawan rasa takut yang mulai menjalar. Namun, sebagai pria yang mahir bersandiwara, Zein memaksakan sebuah tawa kecil yang hambar. Ia memungut kain itu dengan ujung jari, seolah itu hanya sampah biasa. “Oh, ini? Mungkin punyamu dan kamu lupa, sayang. Koleksimu kan banyak.” “BOHONG!” Kata itu meluncur seperti belati yang mengiris udara. Tajam, dingin, dan mematikan. “Aku tahu setiap inci barang yang masuk ke rumah ini. Aku tahu mana yang milikku dan mana yang sampah!” tegas Alice. Napasnya mulai pendek, dadanya naik turun menahan gelombang emosi yang siap tumpah. Zein terdiam. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak berdaya di bawah tatapan predator istrinya. “Aku mengenalmu lebih dari kamu mengenal dirimu sendiri, Zein,” bisik Alice. Nada suaranya yang rendah justru jauh lebih mengerikan daripada teriakan histeris. “Kamu boleh membodohi seluruh dunia dengan wajah polosmu itu. Tapi jangan pernah, sekali pun, mencoba membohongi aku di dalam rumahku sendiri.” Alice melangkah maju ke dalam area kamar mandi yang lembap. Uap air membuat suasana semakin menyesakkan. “Sekarang jawab aku dengan jujur!” tuntutnya. Matanya mulai memerah, genangan air mata mulai menumpuk di sudut mata, menghancurkan benteng ketegaran yang ia bangun susah payah. “Kamu selingkuh, kan?” “Alice, kamu salah paham—” “SALAH PAHAM APA LAGI?!” Tangisan itu akhirnya pecah dalam bentuk teriakan frustrasi. “Buktinya ada di tanganmu! Kamu tega, Zein! Kamu benar-benar tega!” Seluruh tubuh Alice gemetar hebat. “Saat aku memeras keringat di kantor, saat aku menguras otak demi masa depan kita, kamu malah bermain-main di sini? Kamu membawa wanita murahan ke kamar ini? Ke atas ranjang tempat kita tidur setiap malam?!” Air matanya luruh, membasahi pipinya yang pucat, namun tatapannya tetap menghunus. “Selama ini aku kurang apa, Zein? Apa yang dia berikan yang tidak bisa kuberikan padamu?!” Zein hanya membisu. Keheningan pria itu adalah jawaban yang paling menyakitkan bagi Alice. Ia merasa seperti seorang pecundang di tengah istana yang ia bangun sendiri. “Dasar pria bajingan!” PLAK! Tamparan keras mendarat di pipi Zein, meninggalkan bekas merah yang kontras di kulitnya yang basah. Kepala Zein terlempar ke samping, namun ia tetap bungkam. Tidak ada pembelaan. Tidak ada kata maaf. Hanya kebisuan yang pengecut. “Jangan pernah menganggapku wanita bodoh yang bisa kau tipu dengan kata-kata manis,” desis Alice. Hatinya yang hancur kini berubah menjadi serpihan tajam. Ia mundur selangkah, menatap suaminya dengan rasa jijik yang mendalam. “Katakan siapa dia… SIAPA PEREMPUAN ITU?!” Suaranya bergema di dinding kamar mandi yang sempit, menuntut sebuah nama untuk ia hancurkan. Drttt… drttt… Di tengah ketegangan yang nyaris meledak, ponsel Alice yang tergeletak di meja rias bergetar hebat. Getarannya terasa seperti gangguan yang tidak diinginkan di tengah drama hidup dan matinya. Dengan tangan gemetar, Alice menyambar ponsel itu, matanya masih terfokus pada Zein. “Halo, siapa ini?” suaranya masih bergetar karena sisa amarah. Namun, suara di seberang telepon tidak peduli dengan kemarahannya. Suara itu dingin, formal, dan membawa kabar yang lebih mengerikan daripada perselingkuhan mana pun. “Maaf, Nyonya Alice. Kami dari pihak kepolisian. Kami ingin menginformasikan bahwa helikopter dengan nomor registrasi PK-XYZ yang ditumpangi putri Anda, baru saja dilaporkan mengalami kecelakaan jatuh di kawasan hutan pegunungan.” Deg! Dunia Alice yang tadinya hanya retak karena pengkhianatan, kini benar-benar runtuh dan hancur menjadi debu. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Seluruh sendi di kakinya terasa lepas. “Apa…?” lirihnya. Suaranya nyaris tidak terdengar, hilang di tenggorokan yang tercekik. Ponsel di tangannya terasa seberat beton. Dada Alice dihantam rasa sakit yang luar biasa, seolah ribuan jarum beracun menusuk jantungnya secara bersamaan. Di depannya, ada suami yang mengkhianatinya, dan di telinganya, ada kabar tentang kematian buah hatinya. Oksigen di ruangan itu seolah habis. Alice megap-megap mencari udara, sementara kegelapan mulai merayap di sudut matanya.Alice melangkah maju, setiap langkahnya mantap tanpa sedikit pun keraguan. Tatapannya lurus dan tegas, seolah tak lagi ada ruang untuk mundur. Di balik ketenangannya, tersimpan keputusan yang sudah bulat.“Aku serius akan menceraikanmu” ucapnya tenang. “Dan setelah bercerai denganmu…”Ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Rangsa.“…aku akan menikah dengannya.”BOOM!Kalimat itu jatuh seperti bom di tengah ruangan.Darah panas eakan langsung mengalir ke otak Zein. Pria itu terpaku shock bercampur tak rela. “Kamu gila?!” bentaknya. “Kamu bahkan tidak mengenalnya!”Alice tersenyum tipis, namun sorot matanya dingin. Zein membeku. Wajahnya berubah penuh amarah, rahangnya mengeras menahan emosi yang meledak.“Aku tidak peduli, sekalipun aku tak mengenalnya." balasnya. “Setidaknya dia tidak menghina dan merendahkanku seperti kamu.”Kalimat itu menutup segalanya.Zein mengepalkan tangannya. “KAMU KETERLALUAN, ALICE!”Namun tubuhnya masih lemah, ia bahkan tidak mampu berdiri tegak untuk m
“Aku sama sekali tidak mengenalnya!” tegas Alice, meski suaranya masih bergetar. Dadanya naik turun cepat, napasnya tersengal-sengal, dan matanya menatap Zein penuh campuran takut dan marah. Hatinya hancur, namun tekad untuk membela kebenaran tetap menguat di setiap kata yang keluar dari bibirnya.“Cukup, Alice,” ucapnya dingin. “Kamu gila, seorang wanita yang bahkan tidak tahu siapa ayah dari anakmu sendiri!”Kalimat itu seperti pisau, menusuk dalam hati Alice. Di saat yang sama, Rangsa melangkah mendekat dan berdiri di sampingnya. Namun Zein tidak peduli. Baginya, semua sudah cukup jelas.“Jaga ucapanmu,” tegur Rangsa.Zein menoleh perlahan, hingga tatapannya bertemu langsung dengan Rangsa. Sekarang dipenuhi ketegangan yang tak terucap. Rangsa hanya berdiri tenang. “Oh, jadi kau pria selingkuhannya?” sindir Zein.Rangsa tetap tenang. Baginya, Zein hanya sampah. Dan, seorang Raja tidak pernah mengurus sampah.“Tidak semua hal seperti yang kau pikirkan.” Zein menyeringai sinis. “Oh
Kondisi Azka memburuk. Di rumah sakit, suasana semakin menegangkan, udara terasa berat oleh kecemasan yang tak terlihat. Bunyi monitor berdetak cepat, lalu berubah tidak stabil, seolah menandakan waktu yang semakin menipis.“Dok! Tekanan darah pasien turun drastis!” teriak suster panik.Dokter segera menghampiri ranjang pasien. Garis wajahnya menegang, sorot matanya berubah serius. Ia bekerja cepat tak ingin memberi kesempatan pada keadaan untuk memburuk.“Kondisinya drop! Kita tidak punya banyak waktu!”Ia menoleh cepat ke samping. Lalu, bertanya dengan tergesa. Ada kegelisahan yang terlihat jelas dari caranya bicara..“Orang tuanya sudah datang membawa donor?”“Belum, Dok… belum ada kabar sampai sekarang.” Deg!Dokter meremas tangannya kuat. Jemarinya menegang. Waktu tak bisa lagi menunggu. “Kalau begini terus, pasien tidak akan bertahan!”“Kita butuh darah sekarang!”Di atas ranjang, tubuh kecil Azka terbaring lemah.Wajahnya pucat. Napasnya tidak stabil. Darah masih merembes dar
Detik itu juga, Alice mengangguk tanpa ragu. Gerakannya cepat, seolah keputusan itu sudah bulat sejak awal. Tak ada keraguan di matanya, hanya tekad yang mengeras.“Yakin. Demi putriku, aku rela mengorbankan segalanya,” jawabnya penuh keseriusan.Rangsa menatapnya lekat. Tatapannya tajam dan tak bergeser. Ia sedikit membungkuk ke depan, mata tajamnya mengunci Alice tanpa celah.“Kalau begitu… dengarkan syaratku.” ucapnya. Jantung Alice berdetak semakin cepat. Namun, nalurinya mengatakan, syarat ini tidak akan sederhana. Pasti, sang Raja Mafia akan meminta sesuatu diluar batasan. "Syarat apa yang dia berikan, semoga saja dia hanya meminta uang." batin Alice berharap. Sementara itu, Raja Rangsa terdiam sejenak sebelum berbicara. Tatapannya tetap tertuju pada Alice, dalam dan sulit ditebak. Ia menghela napas pelan, seolah tengah menimbang sesuatu yang tidak ringan.“Ceraikan suamimu, Zein.”Alice membeku. Namun, belum sempat ia mencerna— Raja Rangsa kembali melanjutkan ucapannya. “Ke
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.