Home / Mafia / Gadis Tawanan Mafia / Bab 6. Kepatuhan Yang Pahit

Share

Bab 6. Kepatuhan Yang Pahit

Author: Ray Moon
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-06 19:34:51

"Baik, Adam."

Adam tersenyum puas mendengar kepatuhan Lisa malam itu. Rasa percaya dirinya sebagai pemilik Klub Kurara semakin meningkat. 

Begitu pula dengan Lisa yang merasa posisinya lebih penting dari yang lain; ia berjalan di lorong klub sambil menatap merendahkan para penari dan pelayan lain.

Langkahnya terhenti ketika Matilda, penari senior yang sejak tadi mengamatinya, menghalanginya. 

Dengan ketus Matilda berbisik, "Kamu pikir kamu itu spesial? Buka matamu, Perempuan. Kamu tidak lebih dari sekadar barang pajangan yang dia miliki."

Namun, Lisa memilih mengabaikannya. Baginya, kata-kata itu hanyalah bentuk rasa iri. Ia mengibaskan gaun sutra biru safirnya lalu kembali memegang lengan Adam menuju ruang VIP utama.

Ruangan itu sangat mewah dan dibangun dari uang hasil kejahatan. Lampu gantung kristal yang besar memancarkan cahaya terang ke arah ratusan tamu yang memakai jas mahal dan gaun desainer. 

Ruangan itu penuh dengan aroma sampanye, cerutu dan percakapan tentang transaksi ilegal senilai jutaan dolar.

Adam berjalan melewati kerumunan orang banyak yang menghormati dan takut kepadanya. 

Tangannya memegang pinggang Lisa dengan kuat untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa wanita itu adalah miliknya. 

Lisa berjalan dengan tegak dan tersenyum puas dan merasa diakui berada di samping pemilik klub tersohor di Kota Picata.

"Minum ini," pinta Adam dengan suara rendah sambil menyodorkan gelas kristal berisi sampanye mahal.

"Terima kasih, Adam," bisik Lisa dengan rasa patuh yang penuh delusi.

Dua jam pertama acara tersebut berjalan sangat lancar bagi Lisa. Di bawah meja, tangan Adam sesekali memegang paha Lisa dengan protektif. Lisa merasa sangat bahagia.

Namun, saat tengah malam tiba, sifat asli Adam kembali terlihat.

Marcus, seorang investor asing yang sedang mabuk berat karena vodka, berjalan terhuyung-huyung mendekati meja mereka. Matanya menatap ke arah dada dan leher Lisa yang terbuka.

"Kurara, sahabat lamaku!" Marcus tertawa sambil bersandar berat pada kursi Lisa, hingga bau alkohol dari nafasnya tercium oleh Lisa. "Wanita barumu ini benar-benar menarik. Berapa harganya untuk malam ini? Sepuluh juta? Dua puluh juta dolar? Aku ingin membawanya ke kamar suite-ku."

Jantung Lisa berdebar kencang. Ia langsung menatap Adam, berharap pria itu akan marah dan membela dirinya.

Namun, Adam tetap tenang. Ia justru meminum wiskinya secara perlahan. Sepasang matanya menatap Lisa dengan dingin tanpa emosi, membuat Lisa mendadak ketakutan.

"Dua puluh juta dolar adalah uang yang banyak untuk satu malam, Marcus," ujar Adam datar.

Napas Lisa tercekat. "Adam...? Apa yang kamu katakan?" tanyanya panik.

Adam mengabaikan pertanyaan Lisa. Sebuah senyuman kejam terlihat di wajahnya. Sebagai seorang pebisnis, ia langsung melihat keuntungan finansial yang besar.

"Tapi untuk rekan lama, aku bisa memberi pengecualian. Utang mendiang ayahnya berjumlah dua puluh lima juta dolar. Lunasi seluruh tagihan itu malam ini, Marcus, dan kamu bisa membawanya selama satu minggu penuh. Lakukan apapun yang kamu mau padanya. Dia sangat penurut."

Prang!

Gelas sampanye di tangan Lisa terjatuh dan hancur berkeping-keping di atas lantai marmer. Cairan sampanye menggenangi sekitar sepatu hak tingginya.

Semua keyakinan indah yang Lisa bangun selama berminggu-minggu langsung hancur. Kalung berlian di lehernya mendadak terasa seperti beban yang mencekik. Perkataan Matilda ternyata benar. Lisa tidak spesial; ia hanyalah aset yang memiliki label harga untuk melunasi utang ayahnya yang sudah meninggal.

"Tidak... Adam, tolong... katakan kalau kamu cuma bercanda," tangis Lisa pecah. Ia memegang jas Adam dengan putus asa. "Kamu bilang kamu menginginkanku! Tolong, jangan lakukan ini!"

Dengan kasar, Adam menyentakkan lengannya hingga pegangan Lisa terlepas. Ia menatap Lisa dengan pandangan jijik.

"Bisnis tetaplah bisnis," bisik Adam dingin di telinga Lisa di tengah suara musik yang keras. "Kamu sudah memuaskanku tetapi uang dua puluh lima juta dolar itu akan melunasi seluruh utang ayahmu! Pergi bersamanya atau anak buahku akan menyeretmu ke gang belakang dan menembakmu sampai mati malam ini! Pilih salah satu!"

Marcus tertawa puas. Tangan besarnya mencengkram kasar bahu Lisa dan menariknya berdiri hingga wanita itu kesakitan.

"Ayo pergi, Sayang," kata Marcus sambil tersenyum licik dan menyeret Lisa menuju pintu keluar. Sementara itu, orang-orang kaya di sekitar mereka bersorak sambil bersulang gelas, merayakan kesepakatan bisnis tersebut.

"Lepaskan! Adam, tolong aku! Jangan biarkan dia membawaku!" jerit Lisa sambil meronta sekuat tenaga di cengkeraman Marcus. Air matanya mengalir deras, menatap Adam dengan tatapan memohon.

Adam hanya menatapnya dingin tanpa bergerak sedikitpun dari sofanya. "Bawa dia keluar, Marcus. Urusan kita selesai."

"Adam! Kamu kejam! Kamu monster!" teriak Lisa histeris saat tubuhnya diseret paksa mendekati pintu.

Marcus tertawa puas sambil menarik lengan Lisa lebih kuat. "Diamlah, Jalang Kecil. Kamu sudah dibeli."

"Tidak! Adam!"

Brak!

Pintu besi tebal ruang VIP itu dibanting hingga tertutup rapat, memutus teriakan Lisa dan membawanya masuk ke dalam situasi mengerikan yang baru.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Gadis Tawanan Mafia   Bab 48. Akhir Kisah Lisa

    “Bagus sekali,” bisik Adam sambil tersenyum lebar mendengar kesepakatan Lisa atas idenya. Tanpa membuang waktu, ia memimpin Lisa menuju ruangan VIP tertutup, diikuti oleh sekumpulan pria kaya yang rela merogoh kocek sangat dalam demi menyaksikan aksi liar sang penari.Di dalam ruangan berlampu remang itu, dentuman musik bertempo lambat mulai mengalun. Lisa melangkah ke tengah ruangan dengan tatapan mata yang begitu tajam dan menggoda. Dengan riasan serba hitam yang menyeramkan sekaligus memikat, setiap liukan tubuhnya malam itu terasa mematikan. Ia menari bagai iblis yang sedang merayakan kebebasan. Setiap gerakannya membius semua mata, namun tak seorang pun diizinkan menyentuhnya. Lisa menari bukan lagi untuk menyenangkan orang lain, melainkan untuk menegaskan kekuasaannya di atas panggung itu.Usai pertunjukan eksklusif yang membuahkan tumpukan uang bagi Kurara, Adam menghampiri Lisa di ruang belakang. Matanya berbinar melihat keuntungan besar yang baru saja diraupnya."Kamu luar

  • Gadis Tawanan Mafia   Bab 47. Memulai aksi Baru

    “Dia pikir aku pulang tanpa rencana,” kekeh Lisa lalu melangkah meninggalkan Matilda yang masih menatapnya dengan sinis.Lisa memang kembali ke Kurara, tapi tidak dengan wajahnya yang dulu. Sesampainya di ruang make-up, dia segera berhias, tapi tidak sebagai gadis penurut seperti yang sudah pernah ditunjukkannya. Di sana Lisa menggambar wajahnya sebagai iblis.Dengan makeup serba hitam, dia mulai terlihat begitu mempesona hingga Adam yang tak sengaja melintas berdecak kagum melihat penampilan Lisa yang baru.“Wah! Kamu sangat cantik,” ucap Adam sambil menepuk tangannya.“Adam, sejak kapan kamu di sana?” tanya Lisa dengan tatapan mata yang tajam tapi mempesona.“Kamu benar-benar luar biasa, Lisa,” ulang Adam sambil meraba dadanya yang berdegup kencang.“Kamu suka?”“Ya, sangat suka. Kamu harus ke kamarku malam ini dan kita harus membakar lagi cinta lama kita yang sudah padam.”Lisa tak menjawab. Dia hanya meninggikan alisnya, mengetahui pria ini mulai berbirahi melihat penampilan baru

  • Gadis Tawanan Mafia   Bab 46. Kembali Ke Kurara

    “Injak gas. Kita harus lepas dari pengawasan mereka!” perintah Adam membuat supirnya segera melaju membelah jalanan sepi itu.Lisa terus menatap ke arah Mikail yang mengejar mobil Adam dengan tatapan dingin. Dia seakan tau isi kepala pria yang merupakan ayahnya itu. “Aku rasa dia memang benar-benar gila!” ketus Lisa saat mobil yang dia kendarai hampir ditabrak MIkail.“Harusnya kamu ikut dia saja,” kekeh Adam sambil menggelengkan kepalanya.“Tidak mau! Dia memang pria jahat. Kalau dia baik, tidak mungkin kalau sia sampai meninggalkan ibuku seorang diri!”“OH! Aku tidak tahu cerita itu. Aku turut prihatin mengetahuinya,” tutur Adam sambil menghentikan tawanya.Lisa lalu mengingat lagi apa saja yang dilakukan Mikail selama ini padanya. Dia bahkan harus berkali-kali mencari pekerjaan saat masih duduk di bangku sekolah demi sesuap nasi untuknya dan sang ibu padahal di luaran sana semua orang selalu berkata kalau Mikail, ayah Lisa adalah orang yang kaya raya.Mobil Mikail dan Viktor saling

  • Gadis Tawanan Mafia   Bab 45. Mengejar Cinta Lisa

    “Aku memilih…” Lisa terdiam lalu memutar wajahnya ke arah Mikail."Lisa..." panggil Mikail lembut memohon agar Lisa memilihnya.Namun, panggilan itu seolah tak menyentuh hatinya. Lisa justru menoleh ke arah Slatan, pria berbaju dokter yang berdiri tak jauh dari mereka. Wajah Slatan begitu tampan, matanya memancarkan kecemasan yang tulus. Tetapi bagi Lisa, pria itu tetaplah orang asing. Kehadiran Slatan terlalu terlambat untuk menyembuhkan luka yang sudah terlanjur menganga.Setelah memandangi Mikail dan Slatan, kepala Lisa perlahan menoleh ke arah Adam. Pria yang selama ini menjadi sumber dari trauma terbesarnya, sekaligus pria yang menanamkan rasa cinta yang beracun di jiwanya. Perlahan namun pasti, kaki Lisa melangkah mendekati sosok tinggi besar itu.Melihat langkah Lisa, senyum licik perlahan melebar di wajah Adam."Aku memilih Adam," bisik Lisa dingin, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Adam sebelum merengkuh tubuh pria itu."Tidak!" teriak Mikail begitu lantang, suaranya pe

  • Gadis Tawanan Mafia   Bab 44. Adam Kembali

    "Tolak tawaran manis dokter itu, Lisa, sebelum kau menyesal karena telah mempercayai dongeng yang mereka ciptakan!” teriak Adam sebelum sebuah suara dentuman keras memotong keheningan saat pintu utama kediaman Mikail hancur berkeping-keping diiringi desakan tembakan senjata api.Asap mesiu membumbung tinggi di ruang tengah. Adam Kurara melangkah masuk melintasi jejak para pengawal Mikail yang bersimbah darah. Jas hitam mewahnya tampak bernoda, sementara sepasang matanya menyala penuh intimidasi dan dominasi mutlak.Mikail bergegas keluar dari ruangan bersama senjata terkokoh di tangannya sedang Slatan melangkah paling depan untuk menjadi tameng bagi Lisa."Adam Kurara!" bentak Mikail dengan nafas terengah. "Berani sekali kau menginjakkan kaki di rumahku!"Adam terkekeh pelan, sebuah senyuman kejam terukir di wajah tampannya yang dingin. "Tuan Mikail yang terhormat. Aku hanya datang untuk menagih apa yang menjadi hakku. Dua puluh lima juta dolar. Bayar seluruh utang judi bajinganmu itu

  • Gadis Tawanan Mafia   Bab 43. Dokter Slatan

    “Kenapa?” Mikail merasa heran. Alis tebalnya bertaut menatap pantulan wajah putrinya dari cermin. “Bukankah kau baru saja bilang kalau kau menyukainya? Slatan pemuda yang cerdas, sopan, dan yang terpenting, dia bisa melindungimu saat aku tidak ada.”Senyum di wajah Lisa seketika luntur. Ia menundukkan kepala, memandangi jemarinya yang masih berbalut perban tipis. Tangannya perlahan meremas ujung gaun tidurnya dengan gemetar.“Ayah sepertinya lupa dari mana Ayah memungutku,” suara Lisa penuh dengan kepahitan. “Aku ini tawanan Kurara. Berbulan-bulan aku dipaksa melayani tamu, ditonton oleh mata-mata liar lalu disentuh dengan kasar... Harga diriku sudah hancur lebur, Ayah. Aku sudah rusak,” isak Lisa mengingat masa lalunya yang kelam.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status