LOGINRaga adalah putra satu-satunya dari ketua mafia yang paling ditakuti dan sangat dihormati di kotanya. Namun, kehidupan bahagia itu runtuh seketika. Pada satu malam kelam, seluruh keluarganya tewas dibantai oleh seorang pembunuh bayaran, sebuah rencana kejam yang disewa oleh musuh bebuyutan ayahnya. Raga sendiri selamat dari peristiwa itu, namun ia harus tumbuh dalam kesederhanaan dan kemiskinan, jauh dari identitas aslinya. Akankah Raga mampu mengungkap masa lalunya, bangkit dari keterpurukan, dan membalaskan dendam kematian seluruh keluarganya? Ikuti terus perjalanan panjang dan penuh bahaya Raga di bab-bab selanjutnya.
View MoreKilatan petir menyambar tiada henti, menerangi langit kelam seolah sedang meluapkan kemarahan. Hujan rintik-rintik membasahi bumi, seakan alam pun turut mengutuk peristiwa mengerikan yang baru saja terjadi. Di dalam sebuah rumah mewah yang megah, lantai marmer yang mengilap kini berubah menjadi lautan darah.
Seorang sosok berbalut kain hitam berdiri tegak di tengah genangan darah. Di tangannya, sepasang pedang masih meneteskan cairan merah segar. Ia baru saja menyelesaikan tugas kejamnya—membunuh seluruh penghuni rumah itu tanpa ampun sedikit pun. Di luar sana, nama Dario Wicaksono sangat disegani dan ditakuti. Ia adalah ketua mafia besar, penguasa wilayah yang memegang kendali penuh atas segala urusan di dunia bawah tanah. Namun malam itu, kekuasaan dan harta bendanya sama sekali tidak mampu menyelamatkan nyawanya beserta seluruh anggota keluarganya. Di sudut ruangan yang luas itu, seorang anak laki-laki berusia dua tahun duduk tergolek di lantai dingin. Ia menangis sekeras-kerasnya, matanya yang bening menatap tak percaya pada kedua orang tuanya yang kini terkapar diam bersimbah darah. Di tengah isak tangis yang menyayat hati itu, bocah kecil itu hanya mampu berteriak memanggil nama ayah dan ibunya, panggilan yang tak akan pernah lagi terjawab. "AYAH! IBUUU!!!" Raga terbangun dengan napas yang memburu, keringat dingin membasahi seluruh tubuh dan kaos dalam putihnya yang tipis. Ia duduk bersandar di dinding gubuk, di atas alas tidur sederhana dari anyaman bambu tanpa kasur. Wajahnya basah oleh keringat, dan tangannya mencengkeram kuat bagian dada kirinya yang terasa sesak. "Lagi... lagi-lagi aku memimpikan kejadian itu," gumamnya pelan sambil mengusap wajah dengan kasar. Bayangan pembunuhan itu terasa begitu nyata, seolah kejadian itu baru saja berlangsung kemarin sore. "Raga? Nak, kamu tidak apa-apa?" Pintu gubuk terbuka perlahan, masuklah seorang wanita tua berwajah teduh namun penuh kerutan, saksi beratnya perjalanan hidup yang ia lalui. Itu adalah Bu Ratmi, ibu angkat Raga. Ia bergegas mendekat dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran. "Aku baik-baik saja, Bu. Hanya mimpi buruk biasa," jawab Raga berusaha tersenyum tenang, meski sorot matanya masih menyimpan sisa ketakutan dari mimpi tadi. Raga adalah anak yang ditemukan Bu Ratmi lima belas tahun silam di kawasan pembuangan sampah pinggiran kota. Saat itu, Bu Ratmi mengira karung berat yang ia temukan berisi barang bekas berharga, namun ternyata isinya adalah seorang bayi laki-laki yang berpakaian rapi dan bersih. Di lengan kiri anak itu terpasang sebuah gelang hitam berukir nama Raga dengan huruf emas yang berkilau. Tanpa pikir panjang, Bu Ratmi mengasuh dan membesarkannya hingga saat ini. Kini, Raga tumbuh menjadi pemuda yang tegap, berparas tampan, dan memiliki tatapan mata yang tajam—sangat kontras dengan kehidupan mereka yang serba kekurangan. Tanpa berganti pakaian, Raga beranjak keluar gubuk menuju tempat cuci di halaman depan, yang hanya tertutup terpal dan spanduk bekas. Di sana terdapat sumur tua dengan ember yang diikat tali panjang. Raga menimba air, lalu langsung membasuh wajahnya dengan air dingin itu. "Segar sekali...," bisiknya, memejamkan mata sejenak sambil mengibaskan rambut hitam ikalnya yang sedikit membasahi bahu. Tanpa ia sadari, beberapa wanita muda dan ibu-ibu tetangga di sekitar sana diam-diam memperhatikannya dari kejauhan. Pesona alami dan ketegasan raut wajah Raga membuat banyak wanita tak berkedip memandangnya. "Ganteng sekali... andai saja dia mau menjadi kekasihku, aku pasti akan sangat bahagia," gumam salah satu dari mereka sambil tersenyum malu-malu dan berkhayal. Setelah selesai membersihkan diri, Raga mengenakan topi lebar yang sudah usang, lalu menggendong keranjang besar dari anyaman bambu di punggungnya. Di tangan kanannya, ia menggenggam tongkat kayu berujung besi melengkung—alat utama untuk memilah sampah. Bersama warga lain yang memiliki nasib sama, Raga berjalan menuju tumpukan sampah besar untuk mencari barang bekas yang masih bernilai jual. "Raga!" Sebuah suara memecah kesunyian pagi. Dari kejauhan, seorang pemuda berbadan kekar melambaikan tangan riang ke arahnya. Itu Jaka, sahabat karib Raga yang juga bekerja sebagai pemulung. Mereka berdua selalu berjalan beriringan, berbagi suka dan duka dalam hidup yang keras ini. "Pagi, Ka!" balas Raga sambil tersenyum tipis. Jaka berjalan mendekat dengan santai, keranjang di punggungnya sudah mulai terisi penuh oleh botol plastik dan barang rongsokan lainnya. "Pasti bangun kesiangan lagi ya?" tebak Jaka sambil tertawa kecil. Raga berhenti sejenak dari kegiatannya, lalu menoleh sambil menyeringai. "Kamu memang tahu saja kebiasaanku. Iya, seperti biasa aku kesiangan." "Dan kurasa... kamu bermimpi buruk lagi, kan?" sambung Jaka lagi. "Haha, kamu memang jago menebak. Iya, mimpi itu datang lagi," jawab Raga sambil kembali memungut botol bekas. "Sudah kuduga. Kalau begitu, nanti siang aku yang traktir makan! Janji!" seru Jaka sambil menepuk bahu sahabatnya itu dengan penuh semangat. Raga hanya menggeleng sambil tersenyum sinis. "Dasar kamu, tiap kali bilang mau traktir, ujung-ujungnya pasti ngutang dan aku yang harus bayar. Sudah biasa aku kena tipu kamu." "Kali ini serius, sumpah! Aku yang bayar lunas," jawab Jaka dengan wajah berusaha meyakinkan, padahal sorot matanya justru mengarah ke tempat lain seolah sedang menyembunyikan sesuatu. "Iya, iya. Terserah kau saja," jawab Raga santai, tidak terlalu percaya namun tetap menuruti ajakan sahabatnya itu. Siang hari pun tiba. Matahari bersinar terik menyengat kulit. Raga dan Jaka berjalan beriringan menuju sebuah warung makan kecil yang terletak tak jauh dari lokasi pembuangan sampah, jaraknya hanya sekitar seratus meter. Warung sederhana milik Bu Mira, wanita paruh baya yang selalu ramah melayani warga sekitar. Namun, baru saja keduanya melangkah masuk... BRAKKK!!! Suara gebrakan meja yang keras menggema di seluruh ruangan. Gelas di atas meja terguling dan pecah berkeping-keping di lantai. Dua sosok pemuda berbadan besar dengan penampilan berantakan dan penuh tato sedang berdiri mengancam Bu Mira. Mereka adalah Leo dan Soni, dua preman yang sangat dikenal suka memalak warga dan membuat keonaran di wilayah itu. "Ada apa ini?" gumam Raga pelan, sorot matanya berubah menjadi tajam dan serius, senyum santai di wajahnya pun hilang seketika. "Lihat siapa yang datang... dua bocah ingusan yang bau sampah," ujar Soni dengan nada mengejek dan sinis. Tato gambar kalajengking melilit lehernya, dan kedua telinganya penuh dengan tindik besi. Ia menatap tajam ke arah Raga dan Jaka seolah memandang hama. "Ra... sepertinya selera makanku langsung hilang melihat mereka," bisik Jaka sambil mengerutkan hidung, berniat berbalik badan untuk pergi.Keesokan harinya, saat matahari baru saja terbit menyingsing dan menyinari perkampungan kumuh itu, Raga sudah berjalan menuju rumah sahabatnya, Jaka.Ia datang meminta tolong pada Jaka untuk mengantarnya ke pusat kota, tepatnya ke sebuah tempat yang jarang sekali mereka kunjungi: warung internet.Sesampainya di sana, Jaka terlihat sedang duduk di depan gubuknya, sedang mengenakan sepatu bot karet yang sudah usang. Ia bersiap-siap hendak berangkat melakukan aktivitas sehari-hari, memungut barang bekas di tempat pembuangan akhir."Wah, Raga!" seru Jaka dengan mata terbelalak kaget saat melihat sahabatnya berdiri di depan pagar rumahnya. "Aku sudah mendengar cerita heboh dari orang tuaku pagi-pagi buta ini! Katanya kamu berhasil mengusir dan mengalahkan seluruh anggota geng Kepala Ular sendirian? Bahkan ketuanya pun sampai menunduk padamu? Benar-benar luar biasa, aku sampai tidak percaya!"Raga dengan sigap langsung melangkah mendekat dan dengan cepat menutup mulut Jaka menggunakan telap
Bu Ratmi berlari menghampiri anak angkatnya dengan wajah pucat yang kini perlahan berubah menjadi lega. Sementara itu, Raga masih berdiri terpaku, kedua matanya tak lepas menatap ke arah rombongan Draxen Varga dan pasukan Kelompok Kepala Ular yang mulai menjauh dan menghilang di ujung jalan.Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang membuat Draxen gemetar ketakutan seperti itu? batin Raga bertanya-tanya dalam hati, dahinya sedikit berkerut penuh kebingungan. Aku tahu Draxen adalah petarung tangguh yang memiliki kemampuan bela diri luar biasa, tapi kenapa dia memilih untuk mundur dan kabur begitu saja saat berhadapan denganku?Pikirannya masih dipenuhi tanda tanya besar, menatap debu yang beterbangan bekas kepergian ratusan motor besar itu yang tadinya menguasai wilayah kumuh tempat ia tinggal."Raga! Anakku! Kamu tidak kenapa-napa kan?" Bu Ratmi langsung merangkul tubuh Raga, tangannya yang keriput memeriksa seluruh bagian tubuh anak angkatnya dengan cemas, takut ada luka yang terlewatkan
Semua kepala serentak menoleh ke atas, menatap sosok pemuda yang berdiri angkuh di atas atap mobil pemimpin mereka. "Ra... Raga..." gumam Bu Ratmi lirih, matanya menatap anak angkatnya dengan perasaan campur aduk antara lega dan takut. "Ooh... jadi anak muda yang dicari-cari itu bernama Raga ya?" tanya Draxen sambil menatap tajam ke atas, matanya menyala penuh amarah. WUSSHHH!!! Draxen dengan kasar mendorong dan melempar Bu Ratmi hingga jatuh terguling ke tanah. "IBUUU...!" Amarah Raga tak lagi terbendung. Aura dingin dan mengerikan seolah keluar dari seluruh pori-pori kulitnya, aura seekor binatang buas yang lama terkurung kini telah bangun. Di bawah sana, ada sekitar dua ratus lima puluh anggota kelompok Kepala Ular, semuanya menatap Raga dengan pandangan buas dan penuh ancaman. WUUGHHH!!! Raga melompat turun dari atas mobil setinggi itu, mendarat dengan sempurna tepat di tengah-tengah kepungan para preman. "Tangkap anak itu! Buat dia menyesal seumur hidupnya sudah berani m
Draxen Varga berdiri angkuh di hadapan warga yang sudah berkumpul. Matanya menatap tajam ke sekeliling, membuat siapa saja yang bertemu pandang dengannya langsung menunduk ketakutan. "Tadi siang, dua orang anak buahku terluka parah! Mereka pulang dengan kondisi hancur karena dipukuli habis-habisan!" suara Draxen menggelegar, terdengar jelas oleh semua orang. "Kalian semua pasti tahu siapa yang melakukannya! Ingatlah baik-baik, aku adalah Draxen Varga, pemimpin Kelompok Kepala Ular! Siapa saja yang berani menginjak-injak harga diri kelompokku, aku pastikan mereka akan menyesal telah dilahirkan ke dunia ini!" Suasana menjadi hening total. Warga hanya bisa menunduk gemetar, keringat dingin bercucuran dari kepala hingga kaki. Beberapa perempuan ada yang mulai menangis tertahan ketakutan. Di antara kerumunan itu, ada Bu Ratmi, ibu angkat Raga. Ia juga menunduk, namun tubuhnya tidak gemetar sedikit pun. Justru di dalam hatinya, ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Sudah kuduga...
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.