Share

Bab 8

Author: Abu
Nadine mendongak menatapnya, sekujur tubuhnya terasa dingin luar biasa.

Dia sudah pasrah menerima kenyataan bahwa kini di hati Arsen, dirinya tak sebanding dengan Saskia.

Akan tetapi, sekarang, masa iya dia bahkan harus kalah dari neneknya Saskia?

"Aku nggak mau!" Dia menepis kasar tangan mereka. "Aku bukan bank organ hidup!"

Selesai berkata begitu, dia langsung berbalik dan melangkah pergi.

Akan tetapi, sedetik kemudian, rasa sakit yang luar biasa menyengat tengkuknya.

Pukulan telapak tangan Arsen begitu cepat dan kejam. Nadine bahkan tak sempat bereaksi sebelum tubuhnya ambruk lemas.

Dalam sisa kesadarannya, dia merasakan Arsen menggendongnya, lalu mendengar pria itu berteriak pada dokter, "Siapkan ruang operasi!"

Saat kembali sadar, rasa sakit yang luar biasa menyayat perutnya.

Nadine dengan tangan gemetar menyingsingkan baju pasiennya, melihat noda-noda darah merembes dari balutan kasa di perutnya.

"Anda baru saja menjalani operasi transplantasi hati, tolong jangan banyak gerak dulu." Cegah seorang perawat, menahan tubuh Nadine yang mencoba bangkit.

Nadine menggigit erat bibir bawahnya, hingga mengecap rasa anyir darah.

Arsen benar-benar ....

Demi Nenek Saskia, dia dipaksa transplantasi hati!

Luka di balik baju pasien masih berdenyut perih, bagaikan ada yang mengaduk-aduk isi perutnya dengan pisau tumpul.

Akan tetapi, sakit fisik ini tak ada apa-apanya dibandingkan perih di hatinya.

Dengan jari gemetar, dia meraba bekas luka mengerikan di perutnya.

Sungguh ironis. Luka terdalam di tubuhnya, ternyata diukir langsung oleh pria yang paling dia cintai.

Selama beberapa hari berikutnya, dia terbaring kaku bagai boneka, mendengarkan gelak tawa dan canda riang dari ruang rawat sebelah.

"Nenek beruntung banget ya, punya cucu dan menantu yang berbakti!"

"Pak Arsen memang setia dan baik hati, sampai-sampai rela repot ngurusin nenek istrinya."

'Istri?'

Nadine ingin tertawa, tetapi bahkan tak punya tenaga untuk sekadar menggerakkan sudut bibirnya.

Nadine terbaring di rumah sakit selama setengah bulan penuh.

Setiap hari di lorong, dia bisa mendengar suara Arsen yang penuh perhatian menanyakan kabar Saskia dan neneknya, tetapi pria itu tak sekali pun menjenguknya di kamar rawat.

Hari kepulangannya, Nadine sedang membereskan barang dan bersiap pergi, tetapi tanpa sengaja dia memergoki Saskia di sudut lorong, sedang bertanya pada Arsen dengan suara bergetar menahan tangis.

"Arsen, kenapa kamu terus-terusan baik sama aku padahal aku udah nolak berkali-kali? Bahkan ... bahkan demi nyelamatin nenekku, kamu rela mentransplantasikan hati istrimu sendiri?"

Nadine berdiri terpaku, mendengar suara berat Arsen. "Udah dibilang berkali-kali, karena aku cinta kamu dan mau sama kamu. Dasar cewek keras kepala, apa aku harus belah dada dan kasih jantungku baru kamu percaya?"

Entah berapa lama berlalu, Saskia seolah akhirnya memantapkan hatinya.

"Aku mau sama kamu, tapi ... aku punya satu syarat."

Arsen sontak girang, buru-buru menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

"Katakan." Suaranya terdengar parau. "Apa pun syaratnya, pasti akan aku penuhi."

"Aku nggak mau jadi simpanan." Saskia mengucapkan kata demi kata dengan tegas. "Aku mau sama kamu secara sah dan terhormat ... dengan syarat kamu harus ceraikan istrimu."

Keheningan yang mencekam mendadak menyelimuti sekitar.

Nadine menghitung detak jantungnya. Satu, dua ....

Tepat di hitungan ketujuh belas, akhirnya terdengar suara Arsen.

"Baiklah."

Hanya satu kata. Satu kata yang begitu ringan.

Nadine merosot menyusuri dinding, lalu jatuh terduduk di lantai.

Luka di perutnya terasa panas menyengat, tetapi dibandingkan perihnya sepotong hatinya yang dicungkil paksa, ini sama sekali bukan apa-apa.

Setibanya di rumah, Nadine membakar surat cinta yang terakhir.

Saat lidah api melahap lembaran kertas itu, terlintas kembali bayangan Arsen saat memberikan surat ini.

Pemuda yang penuh semangat dan pesona itu berdiri di depan rumahnya, dengan sisa rintik hujan yang membasahi ujung rambut dan wajahnya, berkata, "Nadine, ini surat cinta ke-99. Mau nggak jadi pacarku? Aku akan mencintaimu seumur hidup."

Kini, ke-99 surat cinta itu telah menjadi abu.

Janji seumur hidup pria itu ternyata hanya bertahan selama sepuluh tahun saja.

Surat-surat itu habis terbakar, jadi tibalah waktunya bagi Nadine untuk melangkah pergi.

Nadine membuka kopernya, melipat pakaiannya satu per satu ke dalamnya.

Saat membereskan ruang kerja, laptop Arsen masih menyala. Akun WhatsApp-nya belum dikeluarkan dan pesan-pesan baru terus bermunculan.

[Kak Arsen, denger-denger Saskia udah nerima kamu, tapi syaratnya kamu harus cerai? Kamu benaran mau cerai sama Nadine?]

[Kak Arsen, mending pikirin baik-baik dulu deh. Saskia itu cuma simpanan, sedangkan Nadine 'kan sahabat masa kecilmu yang udah bareng kamu bertahun-tahun.]

[Lagian kalau beneran cerai, Nadine bakal hancur. Bakal susah ngebujuk dia balik nanti!]

[@Arsen, Kak Arsen, kamu sebenarnya mikir apa sih? Ngomong dong.]

Nadine berdiri terpaku, menatap layar dalam diam saat pesan-pesan itu terus bergulir. Hingga akhirnya, dia melihat balasan dari Arsen.

[Mau dua-duanya.]

[Tapi, sekarang, lagi lebih pengen Saskia.]

Grup itu hening sejenak, lalu langsung heboh.

[Astaga, aku nggak salah baca 'kan? Saskia ini sebenernya punya pesona apa sih sampai bikin kamu bener-bener mikir buat cerai?]

[Kamu pikir baik-baik deh. Nadine itu keras kepala, kalau kamu udah ngomong cerai, hubungan kalian udah pasti tamat.]

[Nggak usah, aku punya ide. Kak Arsen, kamu bikin aja surat cerai, terus tipu Nadine bilang itu surat balik nama properti. Dia 'kan percaya banget sama kamu, pasti langsung tanda tangan tanpa baca.]

[Asal kamu tutupi baik-baik, dia nggak bakal ngamuk atau pergi. Nanti kalau kamu udah bosen sama Saskia, kamu tinggal batalin aja surat cerainya.]

Seluruh anggota grup langsung setuju dengan "rencana brilian" tersebut.

[Wah, gila sih. kalau kayak gini, Kak Arsen bisa nikmatin enaknya punya dua cewek.]

Dan Arsen pun membalas dengan dua kata.

[Ide bagus.]

Nadine perlahan menutup laptopnya, ujung-ujung jarinya terasa dingin membeku.

Ternyata di mata pria itu, dia bahkan tak berhak untuk tahu.

Keesokan paginya, Nadine baru saja selesai sarapan ketika Arsen pulang.

Pria itu tampil rapi dengan setelan jas dan di tangannya memang ada sebuah dokumen.

"Nadine, tanda tangan ini, ya." Nadanya terdengar sangat santai, seolah sedang membicarakan cuaca. "Aku mau balik nama vila di timur kota buat kamu."

Nadine menatap pria itu dalam diam. Pria yang dulu pernah menggantikannya minum alkohol, berkelahi demi dirinya, dan berlutut di tengah hujan untuk melamarnya.

Inilah pria yang telah dia cintai selama lebih dari satu dekade.

"Boleh." Nadine pura-pura tidak curiga dan menerima bolpoin itu. Tanpa membaca sepatah kata pun, dia membubuhkan tanda tangannya di atas "perjanjian properti" tersebut.

Arsen tampak jelas menghela napas lega. "Beberapa waktu ke depan, aku mau ajak Saskia liburan, jadi aku nggak bakal pulang dulu."

Tepat saat pria itu berbalik hendak pergi, Nadine memanggilnya dengan suara lirih, "Arsen."

"Hm?" Arsen menoleh.

"Nggak ada apa-apa, selamat jalan."

Setelah Arsen pergi, Nadine membawa dokumen itu dan langsung meluncur ke Kantor Catatan Sipil.

Petugas mengonfirmasi berkali-kali. "Nona Nadine, Anda yakin ingin memproses perceraian? Setelah resmi, ini nggak bisa dibatalkan lagi."

"Aku sangat yakin."

Tepat saat stempel resmi dicapkan, hatinya justru diliputi ketenangan yang aneh.

Ternyata begini rasanya ketika hati benar-benar mati rasa. Tidak sakit, tidak perih, bagaikan mencabut gigi yang sudah membusuk.

Di tengah ramainya terminal bandara, Nadine menggenggam tiket pesawat sekali jalan, lalu melirik ponselnya untuk terakhir kali.

Di beranda media sosialnya, teman Arsen mengunggah foto kebersamaan Arsen dengan Saskia di bandara.

Dengan keterangan: [Selamat buat Kak Arsen yang akhirnya berhasil ngedapetin pujaan hatinya!]

Nadine mematikan ponselnya, membuang kartu SIM-nya, lalu melangkah mantap menuju gerbang keberangkatan.

Selamat juga untuk dirinya sendiri.

Kini dia telah memiliki kebebasan dan terlahir kembali.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 25

    Hari itu, Saskia yang tampak linglung, salah menusukkan jarum. Setelah berkali-kali mencoba, punggung tangan Arsen sampai membiru, bengkak, dan memerah.Dulu, bagaimana Arsen bersikap?Dia malah merasa kebingungan gadis itu terlihat lucu. Saat Saskia menangis memohon maaf, dia justru tersenyum santai dan berkata tak apa-apa, pelan-pelan saja.Sejak saat itu, dia terjebak dalam pusaran pesona wanita itu, terus melangkah ke jalan yang salah dan tak pernah bisa kembali.Namun, kali ini, dia menatap dingin pada Saskia yang sedang memohon maaf, lalu membentak, "Panggil atasanmu ke sini!"Selanjutnya, pihak rumah sakit memberikan ganti rugi berupa sejumlah uang dan langsung memecat Saskia. Sejak hari itu, Saskia benar-benar lenyap dari dunia Arsen.Setelah cairan infusnya habis, sebuah bayangan yang begitu familier melangkah ke arahnya seraya mengulurkan tangan."Arsen, ayo kita pulang."Arsen mendongak, menatap Nadine yang menatapnya dengan mata penuh cinta dan senyuman merekah. Bibirnya pu

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 24

    Napas di seberang sana perlahan memburu, terdengar parau dan bercampur rasa sakit.Namun, Nadine seolah menutup telinga, pura-pura tak mendengarnya sama sekali."Dalam hubungan ini, kamu selalu minta alasan. Bahkan kalau jawabannya udah aku taruh di depan mata, kamu tetap nggak mau lihat. Jadi, akar dari semua masalah ini cuma satu. Kamu nggak peduli."Karena ketidakpedulian itulah, Arsen bisa berselingkuh dengan begitu bebas tanpa memikirkan perasaannya, membiarkan Saskia menginjak-injak harga dirinya, dan membiarkan Nadine berulang kali menerima rasa sakit yang seharusnya tidak perlu dia rasakan."Jadi, alasan kita cerai, kamu pasti udah tahu jawabannya, 'kan?""Arsen, karena kita udah cerai, seharusnya kita nggak perlu berhubungan lagi."Selesai bicara seperti itu, Nadine hendak menutup telepon, tetapi Arsen di seberang sana buru-buru memohon dengan panik."Nggak, nggak, Nadine, kamu nggak bisa kayak gini. Kita ketemu sekali aja, ya? Tolong ...."Dalam ingatan Nadine, Arsen sangat j

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 23

    Meski begitu, Dito tetap sangat tersentuh. Dibandingkan dengan sikap Nadine yang dulu begitu menjauh dan dingin, ini sudah merupakan kemajuan yang sangat besar.Di luar negeri, setelah Nadine membaca pesan dari Dito yang berisi ucapan terima kasih dan betapa dia menyukai hadiah tersebut, gadis itu terpaku cukup lama. Dia membiarkan perasaan rumit itu perlahan-lahan menelannya utuh.Sebenarnya, sudah sejak lama Nadine memaafkan ayahnya.Lagi pula, dalam tragedi waktu itu, Dito sejatinya adalah korban. Hanya saja, dulu dia terlalu membela posisi ibunya dan merasa pria itu telah mengkhianati sang ibu, sehingga dia begitu tegas memutuskan hubungan dengan ayahnya.Setelah itu, dia sendiri mengalami kegagalan rumah tangga. Setelah berurusan dengan berbagai macam orang dan melihat berbagai peristiwa, dia perlahan mulai memahami posisi dan kesulitan ayahnya.Namun, luka itu sudah terlanjur tertoreh. Meski Nadine punya niat untuk menebusnya, dia tak tahu harus memulai dari mana.Oleh karena itu

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 22

    Di kediaman Keluarga Mahardika, Arsen sama sekali tidak tahu rencana Dito untuknya. Pikirannya hanya dipenuhi satu tujuan yaitu, menemukan Nadine.Dia terus menyuruh orang mengirimkan berbagai hadiah permintaan maaf kepada Dito. Bahkan, dia sampai berniat merenovasi makam mendiang Ratih.Namun, semuanya dikembalikan dalam keadaan utuh dan dilempar keluar, tanpa ada satu pun yang dibuka.Arsen tak gentar. Dia hanya memerintahkan bawahannya untuk terus mengirimkan hadiah-hadiah itu lagi dan lagi.Di saat yang sama, anak buahnya yang ditugaskan ke luar negeri untuk melacak Keluarga Atmadja juga dipaksa pulang. Mereka bahkan dicegat sebelum bisa melewati imigrasi."Kamu bilang apa?"Ketika Arsen kembali mendengar kabar bahwa anak buahnya dicekal bepergian ke luar negeri, dia tak bisa lagi duduk diam.Teringat saat dia diusir oleh Dito waktu itu, dia tiba-tiba menyadari satu hal.Meski dia tak tahu apakah Nadine sudah memaafkannya atau belum, kepulangan Dito ke tanah air pasti atas restu wa

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 21

    Dito sampai tertawa sinis mendengar omong kosong Arsen."Yang kamu sebut putus hubungan dengan Saskia itu cuma karena kamu udah bosen. Kalau kamu nggak pernah bosen, apa kamu mau bikin anakku kesepian seumur hidupnya padahal punya suami?""Lagi pula, kamu udah nikah sama anakku, harusnya kamu tahu wataknya yang nggak bisa mentolerir pengkhianatan sedikit pun. Dulu karena kesepian, aku asal nikah sama orang biasa. Harta benda juga udah aku kasih semua ke Nadine. Tapi, coba lihat, bertahun-tahun ini dia nggak pernah mau ngomong sepatah kata pun sama aku. Padahal posisiku waktu itu duda karena ditinggal mati istri. Nah, coba bandingin sama kamu. Kok kamu bisa mikir dia masih cinta sama kamu? Kalau dia benaran cinta, dia nggak bakal ninggalin kamu.""Arsen, berhenti menipu dirimu sendiri. Galeri ini juga nggak usah kamu harapkan. Pulang sana. Mulai sekarang, berhenti bermimpi bisa nemuin dia. Dia nggak akan mau ketemu sama kamu."Selesai bicara, Dito mengangkat cangkir tehnya, memberi isya

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 20

    Pada hari akuisisi galeri mendiang Ratih, Arsen sudah tiba di galeri sejak pagi.Meski staf galeri sudah memberitahunya bahwa Nadine tidak akan datang hari ini, Arsen masih menyimpan secercah harapan. Siapa tahu Nadine benar-benar muncul?Lagi pula, ini adalah hasil jerih payah ibunya semasa hidup. Nadine sangat mencintai ibunya, mana mungkin dia tidak datang.Dengan harapan itu, Arsen terus menunggu Nadine.Akhirnya, terdengar suara langkah kaki yang makin mendekat. Arsen buru-buru duduk tegak, menatap pintu utama yang terbuka lebar dengan penuh harap.Dan tepat di tengah penantiannya yang mendebarkan, sosok berpakaian putih perlahan melangkah masuk.Dia buru-buru bangkit berdiri menatap sosok itu. Nama Nadine belum sempat terucap, tetapi sudah kembali tertahan di tenggorokan."Paman, kenapa Paman yang datang? Di mana Nadine?"Sosok yang datang tak lain adalah Ayah Nadine, Dito.Dito menatap Arsen dengan tatapan dingin. "Di mana dia, aku nggak akan kasih tahu. Tapi, kamu mau beli gale

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status