Share

Bab 7

Penulis: Abu
"Nadine!"

Suara Arsen tiba-tiba terdengar dari belakang.

Dia menoleh, melihat Arsen turun dari mobil dan langsung menariknya ke dalam pelukan. Suaranya terdengar panik, sebuah emosi yang jarang dia tunjukkan. "Kenapa nggak bilang-bilang kalau kamu udah kabur dari Bima? Terus kenapa nggak langsung pulang? Kamu tahu nggak sih aku udah nyari kamu berapa lama?"

Nadine bersandar di dadanya. Mencium aroma parfum Saskia yang masih tertinggal di tubuhnya, Nadine berbisik pelan, "Kamu masih peduli sama hidup matiku?"

"Mana mungkin aku nggak peduli?" Arsen mempererat pelukannya. "Habis nganter Saskia pulang, aku langsung nyari kamu."

Nadine ingin tertawa, tetapi tak kuasa.

Dia mengangkat surat yang basah kuyup itu. "Kamu masih ingat ini nggak? Kapsul waktu yang kita kubur waktu umur 18 tahun."

Arsen mengernyit. "Kapsul waktu apa? Kita pernah kubur barang begituan?"

Arsen melirik langit. "Udah, ayo pulang. Anginnya kenceng, nanti kalau kamu sakit, Saskia malah repot harus ngerawat kamu."

Detik itu juga, Nadine tertawa.

Dia tertawa, hingga air mata akhirnya tumpah.

Ternyata, yang selama ini dia rindukan setengah mati ….

Sudah lama pria itu lupakan.

'Nadine, kamu denger itu nggak? Dia udah lupa dari dulu!'

Beberapa hari berikutnya, Nadine tinggal di rumah untuk memulihkan diri, sambil menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana sikap Saskia pada Arsen perlahan melunak.

Perhiasan dan tas branded yang Arsen berikan mulai diterima dengan senang hati.

Saat Arsen pulang larut, Saskia akan menunggunya di ruang tengah.

Bahkan terkadang, Nadine bisa melihat Saskia diam-diam menggenggam tangan Arsen.

Seminggu kemudian, mereka bertiga menghadiri sebuah pesta bisnis.

Arsen harus pergi beramah-tamah dengan para relasi bisnisnya. Sebelum beranjak, dia berpesan pada Nadine, "Jagain Saskia baik-baik, ya."

Para sosialita di sekitar mereka mulai berbisik-bisik.

"Lihat tuh, istri sah disuruh jagain selingkuhannya. Arsen bener-bener manjain cewek itu."

"Bukan cuma itu, selingkuhannya pakai baju yang jauh lebih mewah daripada istri sah. Kelihatan banget kalau dia disayang setengah mati."

"Tapi, dengar-dengar dulu Arsen cinta mati ya sama istrinya? Kok sekarang malah ...."

"Dulu memang cinta, tapi sekarang dia ketemu yang lebih dia cintai. Katanya cinta sejati, nyatanya sekejap mata aja bisa berubah."

Nadine mendengarkan semua bisikan itu dalam diam, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Sampai akhirnya Saskia tampak mulai bosan, lalu berkata pada Nadine dengan nada tidak sabar, "Aku mau keliling sendiri. Bu Nadine, kamu nggak usah ngikutin aku terus. Aku nggak bakal bikin masalah kok."

Tanpa menunggu jawaban Nadine, Saskia langsung melenggang pergi membawa segelas sampanye hingga punggungnya tak lagi terlihat.

Akan tetapi, belum ada sepuluh menit, Nadine mendengar pekikan familier dari arah yang tidak jauh.

Begitu dia bergegas menghampiri sumber suara, dia melihat seorang pria berandalan kelas atas sedang mencengkeram pergelangan tangan Saskia dengan erat. "Cewek sialan, sok suci banget sih! Di kota ini, nggak ada satu pun perempuan yang nggak bisa kusentuh!"

"Berengsek, lepasin aku!" Saskia meronta dengan mata merah. "Asal kamu tahu ya, aku memang miskin, tapi aku punya harga diri! Aku nggak bakal biarin kamu merendahkanku kayak gini!"

Baru saja Nadine hendak maju untuk menolong, dia melihat Saskia merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil yang indah.

Kilatan tajam berkelebat dan seketika itu juga darah segar mengucur di wajah si berandalan.

Pria berandalan itu naik pitam. Dia langsung melayangkan tangan hendak menampar Saskia.

Akan tetapi, di detik yang sama, sebuah bayangan hitam melesat maju.

Baku hantam tak terhindarkan saat kepalan tangan Arsen menghantam telak wajah pria itu.

Nadine terpaku di tempatnya berdiri, menyaksikan Arsen yang tampak seperti singa kelaparan yang mengamuk, melayangkan pukulan demi pukulan tanpa ampun hingga wajah lawannya bersimbah darah.

"Pak ... Pak Arsen." Pria berandalan itu memelas minta ampun dengan wajah hancur penuh darah. "Perusahaan keluarga kita masih ada kerja sama!"

"Sekarang sudah nggak ada," sahut Arsen dingin, lalu mengedarkan pandangan tajamnya ke arah semua orang. "Ingat ini baik-baik. Mulai hari ini dan seterusnya, siapa pun yang berani menyentuh Saskia, berarti menyatakan perang dengan seluruh Grup Mahardika!"

"Dan orang ini, adalah contohnya!"

Di tengah keheningan yang mencekam, Arsen memerintahkan orang-orangnya untuk menyeret pria berandalan yang sudah sekarat dan babak belur itu keluar.

Saat Arsen balik badan, Nadine secara refleks mundur setengah langkah.

"Nadine!" Amarah di dasar matanya belum juga surut. "Kamu jagain Saskia kayak gini?"

Nadine membuka bibir, tetapi tak ada satu kata pun yang mampu terucap.

Cahaya lampu gantung kristal terlalu silau, hingga membuat matanya perih.

Dia menatap Arsen yang dengan hati-hati merangkul Saskia dalam pelukannya dan pergi. Tiba-tiba, dia teringat pada tahun pertama pernikahan mereka. Dulu, saat ada yang tak sengaja menumpahkan anggur merah ke gaunnya, Arsen juga langsung murka di tempat.

Waktu itu dia berkata, "Nggak ada yang boleh nindas istriku."

Sekarang dia berkata, "Nggak ada yang boleh nindas Saskia."

Ternyata benar, cinta yang tulus memang bisa berubah dalam sekejap.

Setelah pesta usai, mereka bertiga pulang bersama.

Hingga sebuah dering ponsel yang nyaring tiba-tiba memecah keheningan.

"Apa? Oke, aku langsung ke sana!"

Saskia menutup telepon, air matanya seketika tumpah. "Pak Arsen, tolong antar aku ke rumah sakit. Nenekku ... nenekku sedang kritis."

Tanpa banyak bicara, Arsen membanting setir dan memutar balik arah mobil.

Di tengah decit ban yang memekakkan telinga, dahi Nadine terbentur keras ke kaca jendela. Namun, pria itu bahkan tidak melirik, sibuk menenangkan Saskia yang menangis tersedu-sedu di kursi penumpang.

"Jangan takut," ucapnya sambil menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam erat jari-jari Saskia yang gemetar. "Ada aku di sini."

Sesampainya di koridor, seorang dokter baru saja keluar dari ruang operasi.

"Pasien mengalami gagal hati. Kalau dilakukan transplantasi, mungkin bisa bertahan lebih lama. Tapi, saran pribadi saya, sebaiknya nggak perlu. Usianya sudah sepuh dan lagi pula, donor hati saat ini sangat sulit didapat."

"Lakukan! Operasi harus tetap dilakukan!" Saskia tiba-tiba mencengkeram jas dokter itu, kukunya nyaris merobek kainnya. "Berapa pun biayanya akan kubayar!"

Arsen sudah mengeluarkan ponselnya. "Aku akan suruh orang cari donor hati sekarang juga."

Sosok punggungnya yang tegap saat menelepon terlihat begitu tegas, persis seperti saat ayah Nadine serangan jantung dulu. Waktu itu, Arsen juga dengan sigap mendatangkan dokter terbaik di seluruh kota.

Hanya saja kini, ketegasan itu dia berikan untuk orang lain.

Tak lama, panggilan dari asistennya masuk kembali.

Nadine berdiri di samping, melihat jelas alis Arsen berkerut. "Siapa?"

Orang di seberang sana terdengar ragu-ragu, tetapi akhirnya suara asisten itu terdengar jelas. "Itu ... Bu Nadine. Hasil pencocokannya sangat sempurna."

Saskia seketika menoleh menatap Nadine. Air mata masih membasahi pipinya, tetapi dia sudah menerjang maju dan mencengkeram tangan Nadine. "Bu Nadine, tolong ...."

Jari-jarinya sedingin es dan basah oleh keringat dingin yang lengket.

Nadine refleks hendak menarik tangannya, tetapi pergelangan tangannya langsung dicekal oleh Arsen.

"Nadine, cuma butuh sebagian doang," ucap Arsen dengan sangat pelan, membujuknya dengan nada lembut. "Kamu nggak bakal mati kok."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 25

    Hari itu, Saskia yang tampak linglung, salah menusukkan jarum. Setelah berkali-kali mencoba, punggung tangan Arsen sampai membiru, bengkak, dan memerah.Dulu, bagaimana Arsen bersikap?Dia malah merasa kebingungan gadis itu terlihat lucu. Saat Saskia menangis memohon maaf, dia justru tersenyum santai dan berkata tak apa-apa, pelan-pelan saja.Sejak saat itu, dia terjebak dalam pusaran pesona wanita itu, terus melangkah ke jalan yang salah dan tak pernah bisa kembali.Namun, kali ini, dia menatap dingin pada Saskia yang sedang memohon maaf, lalu membentak, "Panggil atasanmu ke sini!"Selanjutnya, pihak rumah sakit memberikan ganti rugi berupa sejumlah uang dan langsung memecat Saskia. Sejak hari itu, Saskia benar-benar lenyap dari dunia Arsen.Setelah cairan infusnya habis, sebuah bayangan yang begitu familier melangkah ke arahnya seraya mengulurkan tangan."Arsen, ayo kita pulang."Arsen mendongak, menatap Nadine yang menatapnya dengan mata penuh cinta dan senyuman merekah. Bibirnya pu

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 24

    Napas di seberang sana perlahan memburu, terdengar parau dan bercampur rasa sakit.Namun, Nadine seolah menutup telinga, pura-pura tak mendengarnya sama sekali."Dalam hubungan ini, kamu selalu minta alasan. Bahkan kalau jawabannya udah aku taruh di depan mata, kamu tetap nggak mau lihat. Jadi, akar dari semua masalah ini cuma satu. Kamu nggak peduli."Karena ketidakpedulian itulah, Arsen bisa berselingkuh dengan begitu bebas tanpa memikirkan perasaannya, membiarkan Saskia menginjak-injak harga dirinya, dan membiarkan Nadine berulang kali menerima rasa sakit yang seharusnya tidak perlu dia rasakan."Jadi, alasan kita cerai, kamu pasti udah tahu jawabannya, 'kan?""Arsen, karena kita udah cerai, seharusnya kita nggak perlu berhubungan lagi."Selesai bicara seperti itu, Nadine hendak menutup telepon, tetapi Arsen di seberang sana buru-buru memohon dengan panik."Nggak, nggak, Nadine, kamu nggak bisa kayak gini. Kita ketemu sekali aja, ya? Tolong ...."Dalam ingatan Nadine, Arsen sangat j

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 23

    Meski begitu, Dito tetap sangat tersentuh. Dibandingkan dengan sikap Nadine yang dulu begitu menjauh dan dingin, ini sudah merupakan kemajuan yang sangat besar.Di luar negeri, setelah Nadine membaca pesan dari Dito yang berisi ucapan terima kasih dan betapa dia menyukai hadiah tersebut, gadis itu terpaku cukup lama. Dia membiarkan perasaan rumit itu perlahan-lahan menelannya utuh.Sebenarnya, sudah sejak lama Nadine memaafkan ayahnya.Lagi pula, dalam tragedi waktu itu, Dito sejatinya adalah korban. Hanya saja, dulu dia terlalu membela posisi ibunya dan merasa pria itu telah mengkhianati sang ibu, sehingga dia begitu tegas memutuskan hubungan dengan ayahnya.Setelah itu, dia sendiri mengalami kegagalan rumah tangga. Setelah berurusan dengan berbagai macam orang dan melihat berbagai peristiwa, dia perlahan mulai memahami posisi dan kesulitan ayahnya.Namun, luka itu sudah terlanjur tertoreh. Meski Nadine punya niat untuk menebusnya, dia tak tahu harus memulai dari mana.Oleh karena itu

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 22

    Di kediaman Keluarga Mahardika, Arsen sama sekali tidak tahu rencana Dito untuknya. Pikirannya hanya dipenuhi satu tujuan yaitu, menemukan Nadine.Dia terus menyuruh orang mengirimkan berbagai hadiah permintaan maaf kepada Dito. Bahkan, dia sampai berniat merenovasi makam mendiang Ratih.Namun, semuanya dikembalikan dalam keadaan utuh dan dilempar keluar, tanpa ada satu pun yang dibuka.Arsen tak gentar. Dia hanya memerintahkan bawahannya untuk terus mengirimkan hadiah-hadiah itu lagi dan lagi.Di saat yang sama, anak buahnya yang ditugaskan ke luar negeri untuk melacak Keluarga Atmadja juga dipaksa pulang. Mereka bahkan dicegat sebelum bisa melewati imigrasi."Kamu bilang apa?"Ketika Arsen kembali mendengar kabar bahwa anak buahnya dicekal bepergian ke luar negeri, dia tak bisa lagi duduk diam.Teringat saat dia diusir oleh Dito waktu itu, dia tiba-tiba menyadari satu hal.Meski dia tak tahu apakah Nadine sudah memaafkannya atau belum, kepulangan Dito ke tanah air pasti atas restu wa

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 21

    Dito sampai tertawa sinis mendengar omong kosong Arsen."Yang kamu sebut putus hubungan dengan Saskia itu cuma karena kamu udah bosen. Kalau kamu nggak pernah bosen, apa kamu mau bikin anakku kesepian seumur hidupnya padahal punya suami?""Lagi pula, kamu udah nikah sama anakku, harusnya kamu tahu wataknya yang nggak bisa mentolerir pengkhianatan sedikit pun. Dulu karena kesepian, aku asal nikah sama orang biasa. Harta benda juga udah aku kasih semua ke Nadine. Tapi, coba lihat, bertahun-tahun ini dia nggak pernah mau ngomong sepatah kata pun sama aku. Padahal posisiku waktu itu duda karena ditinggal mati istri. Nah, coba bandingin sama kamu. Kok kamu bisa mikir dia masih cinta sama kamu? Kalau dia benaran cinta, dia nggak bakal ninggalin kamu.""Arsen, berhenti menipu dirimu sendiri. Galeri ini juga nggak usah kamu harapkan. Pulang sana. Mulai sekarang, berhenti bermimpi bisa nemuin dia. Dia nggak akan mau ketemu sama kamu."Selesai bicara, Dito mengangkat cangkir tehnya, memberi isya

  • Gagal Menjadi Bulanmu   Bab 20

    Pada hari akuisisi galeri mendiang Ratih, Arsen sudah tiba di galeri sejak pagi.Meski staf galeri sudah memberitahunya bahwa Nadine tidak akan datang hari ini, Arsen masih menyimpan secercah harapan. Siapa tahu Nadine benar-benar muncul?Lagi pula, ini adalah hasil jerih payah ibunya semasa hidup. Nadine sangat mencintai ibunya, mana mungkin dia tidak datang.Dengan harapan itu, Arsen terus menunggu Nadine.Akhirnya, terdengar suara langkah kaki yang makin mendekat. Arsen buru-buru duduk tegak, menatap pintu utama yang terbuka lebar dengan penuh harap.Dan tepat di tengah penantiannya yang mendebarkan, sosok berpakaian putih perlahan melangkah masuk.Dia buru-buru bangkit berdiri menatap sosok itu. Nama Nadine belum sempat terucap, tetapi sudah kembali tertahan di tenggorokan."Paman, kenapa Paman yang datang? Di mana Nadine?"Sosok yang datang tak lain adalah Ayah Nadine, Dito.Dito menatap Arsen dengan tatapan dingin. "Di mana dia, aku nggak akan kasih tahu. Tapi, kamu mau beli gale

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status