Nadine menggenggam erat sisa-sisa surat cinta yang belum habis terbakar. Panas dari bara api menyengat telapak tangannya hingga terasa perih."Bukan apa-apa, cuma bakar barang nggak berguna."Arsen mengernyit menatap sisa-sisa lembaran hangus itu. Kertas itu terasa familier baginya. Namun, belum sempat dia berpikir lebih jauh, suara Saskia terdengar dari luar pintu."Pak Arsen, Anda jadi ke pesta atau nggak? Kalau nggak berangkat sekarang, saya nggak ikut lagi!"Nadine mendongak. "Pesta apa?""Aku mau ajak dia ke acara biar dia kenal sama orang-orang di lingkaran kita." Dia terdiam sejenak. "Tapi, katanya, karena dia perawatmu, dia cuma mau pergi kalau kamu ikut.""Nadine, temenin aku pergi sekali ini aja, ya."Dada Nadine serasa dihantam palu. Dia tersenyum pahit, "Arsen, aku ini sebenernya apa sih di mata kamu?"Arsen tampak tertegun. Butuh waktu cukup lama baginya untuk bersuara, "Nadine, aku udah jelasin, 'kan? Aku belum pernah nemuin cewek yang sesusah itu ditaklukin, makanya aku
Read more