Share

248. Cinta Dan Obsesi

Auteur: Lil Seven
last update Dernière mise à jour: 2025-08-27 21:56:18

“Aku dengar suara mobilmu.”

Ariella bersuara pelan dari sofa ruang tengah ketika pintu terbuka.

Rigen baru saja pulang. Jas hitamnya sedikit kusut, dan jika diperhatikan dekat, ada noda samar di lengan kemejanya—bekas darah yang sempat ia hapus terburu-buru. Matanya tajam, dingin, masih menyisakan aura predator yang baru saja menyelesaikan perburuan.

Namun begitu tatapannya jatuh pada Ariella, ekspresinya langsung berubah. Bibirnya terangkat miring.

“Kamu menungguku, hm?” tanya Rigen, suaranya rendah, mengalir seperti bisikan berbahaya.

Ariella mengangguk, lalu matanya menyipit. “Kamu dari mana? Aku mencium bau… besi.”

Rigen tertawa pendek, lalu berjalan mendekat. Ia melepas jas, melemparkannya sembarangan di kursi, lalu menunduk, menempelkan bibirnya ke leher Ariella.

“Bau besi? Kamu terlalu peka, sayang," jawab Rigen, Giginya menggigit kecil kulit halus itu. “Atau kamu hanya mencari alasan untuk memprovokasiku lagi?”

Ariella mendesah, tangannya otomatis menahan da
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Gairah Berbahaya sang CEO: Ciumanku Membuatnya Bangun dari Koma   252. Peringatan.

    “Apa kau pikir aku buta?” Suara Rigen pecah di ruang kerjanya yang sunyi. Jason yang baru saja duduk di sofa tegak seketika, matanya sempat melirik sekilas pada Jovian yang berdiri kaku di sisi meja. “Apa maksud Paman?” Jason berusaha tenang, meski jemarinya yang mengepal di lutut menunjukkan kegelisahan. Rigen berdiri, setelan jas hitamnya kontras dengan tatapan mata tajam penuh ancaman. Tangannya menekan meja, kemudian ia melangkah pelan ke arah Jason. “Kamu datang kemari bukan sekadar menjenguk keluarga,” ucap Rigen, mendesis rendah. “Kamu menatap istriku terlalu lama, Jason. Dan aku benci tatapan itu.” Jason menelan ludah. “Aku… aku hanya—” “Jangan berani berdusta.” Rigen langsung menyela, suaranya dingin dan menusuk. “Kamu pikir aku tidak tahu cara seorang lelaki memandang perempuan yang ia inginkan? Aku bisa membedakan tatapan hormat, tatapan penasaran, dan tatapan kotor.” Ariella, yang sejak tadi duduk di sudut ruangan, spontan menegang. Ia mencoba menundu

  • Gairah Berbahaya sang CEO: Ciumanku Membuatnya Bangun dari Koma   251. Si Licik Datang

    Suasana rumah besar keluarga Ataraka pagi itu tampak tenang. Tenang dari luar—tapi di dalam, riak-riak licik mulai terbentuk. Jovian berdiri di depan kaca ruang tamu sambil merapikan kemeja hitamnya. Matanya sesekali melirik ke arah koridor menuju kamar utama, tempat Ariella baru saja lewat dengan gaun rumah sederhana berwarna pastel. Bukan sesuatu yang vulgar, tapi justru kesederhanaannya membuat dada Jovian terasa mengencang. Ia meneguk ludah, buru-buru mengalihkan pandangan saat suara langkah lain terdengar. Seorang pria dengan jas rapi, senyum tipis, dan sorot mata penuh perhitungan masuk ke ruangan. “Jason Ataraka,” gumam Jovian pelan, sedikit menunduk. Jason—keponakan jauh Rigen—mengangkat dagunya. “bertemu lagi denganmu, sekretaris pribadi Paman Rigen.” Suaranya tenang, tapi setiap kata seperti ada racun yang disembunyikan. Jovian menegakkan tubuh. “Benar. Aku Jovian.” Jason tersenyum, seolah sudah menilai pria di depannya hanya dari sekali tatap. “Yah. A

  • Gairah Berbahaya sang CEO: Ciumanku Membuatnya Bangun dari Koma   250. Obsesi

    Suasana sore di rumah besar Ataraka terasa tenang. Cahaya matahari menyusup melalui kaca jendela tinggi, menimpa ruang keluarga yang lapang. Ariella duduk di sofa sambil membaca majalah tipis, sementara Jovian berdiri tidak jauh, pura-pura memeriksa beberapa berkas di tangannya. Namun dari sudut matanya, ia terus saja mencuri pandang. Tatapannya menelusuri wajah lembut Ariella, rambut panjangnya yang jatuh natural, hingga senyum samar yang muncul setiap kali ia menemukan sesuatu menarik dalam bacaan. 'Aku tahu ini salah…,' batin Jovian, tapi ia tak bisa berhenti. Ada daya tarik yang membakar sabarnya setiap kali berada di dekat perempuan itu. “Jovian.” Ariella menoleh, tersenyum kecil. “Kamu sudah lama di situ? Dari tadi tidak pergi-pergi. Ada yang ingin kamu sampaikan?” Jovian kaget, buru-buru menunduk. “Ah, tidak, Nyonya. Saya hanya… memastikan semua dokumen beres sebelum saya serahkan ke Tuan Rigen.” Ariella mengangguk pelan. “Kamu rajin sekali. Tidak semua orang bisa sepr

  • Gairah Berbahaya sang CEO: Ciumanku Membuatnya Bangun dari Koma   249. Bayangan Cemburu

    “Masih tidur?” Suara berat Rigen terdengar pelan di telinga Ariella. Ariella mengerang kecil, tubuhnya meringkuk di balik selimut. “Hmm… masih ngantuk. Kamu baru pulang, kan?” Rigen tersenyum tipis. Tangannya terulur, menyingkap selimut yang membungkus tubuh istrinya. “Baru saja. Tapi sepertinya aku belum puas, Riel.” Bibirnya mendarat di leher Ariella, mencumbu dengan nakal. “Rigen…” Ariella membuka mata separuh, menatap wajah suaminya yang masih berlumur aura dingin sisa malam berdarah di pelabuhan. “Kamu capek. Tidur saja.” “Capek?” Rigen terkekeh rendah. “Capekku hilang kalau lihat kamu menggeliat begini di ranjang.” Jemarinya menelusuri pinggang Ariella, membuat perempuan itu tersentak kecil. “Rigen, jangan pagi-pagi begini…” Ariella berusaha mendorong dada suaminya, namun Rigen menindihnya, menatap dengan senyum bengis sekaligus menggoda. “Kenapa? Takut tidak kuat lagi? Atau takut ada yang masuk tiba-tiba?” bisik Rigen di telinganya. Pipi Ariella merona. “K

  • Gairah Berbahaya sang CEO: Ciumanku Membuatnya Bangun dari Koma   248. Cinta Dan Obsesi

    “Aku dengar suara mobilmu.” Ariella bersuara pelan dari sofa ruang tengah ketika pintu terbuka. Rigen baru saja pulang. Jas hitamnya sedikit kusut, dan jika diperhatikan dekat, ada noda samar di lengan kemejanya—bekas darah yang sempat ia hapus terburu-buru. Matanya tajam, dingin, masih menyisakan aura predator yang baru saja menyelesaikan perburuan. Namun begitu tatapannya jatuh pada Ariella, ekspresinya langsung berubah. Bibirnya terangkat miring. “Kamu menungguku, hm?” tanya Rigen, suaranya rendah, mengalir seperti bisikan berbahaya. Ariella mengangguk, lalu matanya menyipit. “Kamu dari mana? Aku mencium bau… besi.” Rigen tertawa pendek, lalu berjalan mendekat. Ia melepas jas, melemparkannya sembarangan di kursi, lalu menunduk, menempelkan bibirnya ke leher Ariella. “Bau besi? Kamu terlalu peka, sayang," jawab Rigen, Giginya menggigit kecil kulit halus itu. “Atau kamu hanya mencari alasan untuk memprovokasiku lagi?” Ariella mendesah, tangannya otomatis menahan da

  • Gairah Berbahaya sang CEO: Ciumanku Membuatnya Bangun dari Koma   247. Eksekusi

    “Pastikan semua orang sudah menunggu di dalam gudang.” Suara Rigen terdengar datar, dingin, ketika ia melangkah turun dari mobil hitamnya. Sepatu kulitnya memantul suara berisik di atas lantai baja pelabuhan yang basah. Angin asin laut menusuk tajam, namun tak ada satu pun yang berani menggigil di hadapannya. “Semua sesuai perintah, Tuan,” lapor salah satu anak buah dengan kepala tertunduk. Rigen hanya mengangguk singkat. Mata hitamnya yang tajam menyapu sekitar. Gudang nomor 17, bangunan tua dengan lampu remang-remang, sudah dikepung puluhan anak buahnya. Tak ada celah keluar, tak ada harapan kabur bagi para pengkhianat yang menunggu di dalam. “Buka.” Satu kata itu keluar pelan, tapi cukup membuat dua orang segera mendorong pintu besi berkarat yang berderit berat. Di dalam, bau amis bercampur karat menusuk hidung. Enam orang terikat di kursi, mulut mereka disumpal, wajah pucat penuh keringat. Mata mereka membelalak begitu melihat Rigen melangkah masuk, jas hitamnya kontras den

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status