LOGINBagi Ghaidan Ravindra, perempuan adalah sumber kegelapan. Sebuah sumpah telah terucap di tengah reruntuhan masa kecilnya: tak akan pernah ada ruang untuk cinta di hatinya yang beku. Namun, takdir menuntut sebuah pernikahan. Seorang ahli waris. Hyra Danurdara tidak punya pilihan. Di antara tumpukan utang dan tanggung jawab untuk satu-satunya keluarga yang ia miliki, tawaran pernikahan dari Ghaidan adalah jalan keluar—sekaligus jalan buntu. Ia setuju menjadi istri di atas kertas, menukar kebebasannya demi sebuah janji pelunasan. Pernikahan mereka seharusnya hanya transaksi dingin, sebuah perjanjian yang terikat waktu dan syarat. Namun, di balik dinding es yang dibangun Ghaidan, sebuah percikan mulai menyala. Di dalam keputusasaan Hyra, secercah harapan mulai tumbuh. Ketika masa lalu yang kelam kembali datang mengetuk pintu, membawa rahasia yang mampu menghancurkan segalanya, ikatan rapuh mereka diuji hingga ke titik terlemahnya. Di persimpangan antara dendam masa kecil dan masa depan yang tak pernah ia bayangkan, Ghaidan harus memilih. Akankah ia membiarkan trauma menenggelamkannya selamanya, atau berani meraih tangan wanita yang tanpa sadar telah menyembuhkan lukanya?
View MoreSetibanya di kediaman utama keluarga Sumitra di kawasan Menteng yang terlihat megah dengan arsitektur kolonial yang terawat sempurna. Pohon-pohon beringin besar tampak berdiri kokoh dan memberikan kesan teduh sekaligus misterius pada mansion tersebut. Ghaidan bergegas turun dari mobil, lallu memutari kendaraan untuk membukakan pintu untuk Hyra. Pria itu bahkan mengulurkan tangannya, membantu sang istri untuk berdiri dengan penuh kehati-hatian. Hyra merasa apa yang dilakukan oleh suaminya ini terlalu berlebihan, karena dia merasa kalau dirinya baik-baik saja, semuanya masih bisa dia lakukan sendiri. Bapak dan Ibu Sumitra sudah menunggu di teras luas yang pilar-pilarnya menjulang megah. Ekspresi mereka adalah campuran antara senang dan bingung. "Kalian pulang secepat ini?" tanya Bu Sumitra setelah memeluk Hyra erat. "Baru dua bulan di Singapura…. Ibu pikir urusan bisnis di sana akan memakan waktu yang cukup lama, yaa… setahun." Pak Sumitra yang saat itu sedang menyesap kopi, ma
Malam itu, angin laut berembus cukup kencang menyapu area promenade Marina Bay. Lampu-lampu dari Marina Bay Sands memantulkan cahaya indah di permukaan air. Ghaidan sengaja menyewa kapal pesiar yacht mini secara privat untuk makan malam mereka, sekadar merayakan keberhasilan kontrak bisnisnya hari ini sekaligus menebus rasa bersalahnya karena sempat membentak Hyra pagi tadi. Namun, sejak mereka menikmati hidangan salmon en papillote, Hyra hanya terdiam. Perempuan itu lebih banyak mengaduk makanannya dengan garpu, tatapannya kosong menembus lautan gelap di luar sana. Ghaidan meletakkan gelas anggurnya. Insting tajamnya langsung menangkap ada sesuatu yang tidak beres. "Ada apa, Hyra?" tanya Ghaidan lembut, lalu mendekat ke kursi Hyra dan menggeser tempat duduknya agar lebih dekat dengan sang istri. "Kamu diam saja sejak sore tadi. Kenapa? Apa mualmu belum hilang? Kalau gitu … kita batalkan saja pelayaran ini dan kembali ke darat sekarang." Ghaidan baru saja hendak memanggil kapten
Tiga minggu telah berlalu sejak malam panjang di Marina Bay dan pembatalan sepihak prosedur IVF tersebut. Kehidupan mereka di apartemen mewah kawasan elit Singapura terasa seperti bulan madu yang tertunda. Ghaidan sering pulang lebih awal, membawa makanan kesukaan Hyra, dan menghabiskan malam-malam panas yang menguras tenaga mereka berdua di ranjang. Namun, pagi ini terasa berbeda. Pagi itu, Hyra sedang berdiri di dapur apartemen yang megah, berniat membuatkan espresso untuk Ghaidan yang sedang bersiap di kamar mandi. Saat aroma kopi yang pekat dan pahit itu menguar di udara, perut Hyra tiba-tiba bergejolak hebat. Gelombang mual yang luar biasa kuat menghantamnya. Dibekap mulutnya dengan kedua tangan, lalu berlari tergopoh-gopoh menuju wastafel kamar mandi tamu, dan memuntahkan cairan pahit dari perutnya yang belum terisi makanan. "Hyra?" Suara berat Ghaidan terdengar mendekat. Pria itu berdiri di ambang pintu kamar mandi, jas mahalnya belum terpasang sempurna, wajahnya
Alunan musik jazz dari denting piano di sudut restoran Art di Estro masih mengalun lembut, mengisi celah-celah keheningan di antara napas Ghaidan dan Hyra. Di tengah lantai dansa dengan latar belakang gemerlap cahaya malam Marina Bay yang menembus dinding kaca raksasa, dunia seakan hanya milik mereka berdua. Ghaidan menarik pinggang Hyra lebih merapat, menghapus jarak fisik yang selama ini selalu menjadi dinding yang tidak kasat mata di antara mereka. Aroma maskulin dari parfum cedarwood dan vetiver yang menguar dari tubuh Ghaidan memenuhi indra penciuman Hyra, membuatnya sedikit mabuk kepayang tanpa perlu menyentuh anggur Barolo di meja mereka. "Kamu yakin ingin dilihat banyak orang seperti ini, Mas?" bisik Hyra, mendongak menatap rahang tegas suaminya. "Biarkan saja," jawab Ghaidan dengan suara baritonnya yang serak dan dalam, "biar mereka melihat seorang pria yang akhirnya bisa bernapas setelah tenggelam sekian lama." Hyra tersenyum tipis, matanya yang masih sedikit sembab
Pukul setengah sebelas malam, ponsel Hyra bergetar. Lukman hanya mengirimkan foto Ghaidan sedang berada di dalam bar bareng koleganya. Tidak ada kata-kata. Hyra bergegas meninggalkan apartemennya, memanggil taksi, dan tiba di Four Seasons Hotel beberapa menit kemudian, lalu mulai check in di hotel
“Kamu datang dan membuatku terlihat lemah di hadapan wanita yang sudah menghancurkan aku! Kamu memperlihatkan diriku yang paling rusak. Siapa yang memberimu hak itu, hah?” Hyra menarik napas dalam-dalam. “Hak itu? Itu datang bersama dengan janji yang kamu minta dariku, mas. Aku janji menjadi istr
Dengan tangan gemetar, Hyra menarik dokumen itu keluar. Itu adalah laporan investigasi. Di halaman pertama, tertera sebuah foto berwarna, foto seorang wanita paruh baya yang tampak elegan. Namun, tatapan matanya kosong. Di bawah foto itu, tertera sebuah nama Adriana Wibisana dan alamat di luar kot
Dengan langkah gontai, ia mendekati Oma Dayana yang saat itu berdiri membisu di ambang pintu, matanya menatap tajam ke arah Ghaidan yang berdiri jauh di sana, seolah menyalahkan pria itu atas semua kekacauan ini. "Oma, Hyra pamit dulu," bisik Hyra, memeluk neneknya erat. "Oma jaga kesehatan ya. N






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.