LOGIN"Leo!!!" teriak Clarissa sembari menarik tangannya, lalu mundur beberapa langkah. Wajah Clarissa terlihat memerah, nafasnya berhembus tak beraturan, sementara detak jantungnya berdegup sangat cepat.
"Ada apa, baby? Kenapa wajahmu merah sekali?" tanya Leo seolah-olah ia tidak melakukan sesuatu yang membuat wajah gadis itu memerah. "Sial! Bisa-bisanya dia bertanya seperti itu? Padahal jelas-jelas wajahku seperti ini gara-gara ulah dia. Dasar mafia nyebelin!" Clarissa menggerutu dalam hati. Melihat keterdiaman Clarissa, Leo pun langsung melangkah mendekat, lalu menarik pinggang ramping gadis itu, membuat gadis itu tersentak kaget. "Apa yang kamu lakukan! Lepaskan aku...." "Tidak mau!" tolak Leo cepat. Ia sangat senang sekali membuat Clarissa marah dengan wajah yang memerah. Ini seperti sebuah hiburan bagi Leo. Sungguh menyenangkan. "Leo! Kamu benar-benar menyebalkan," seru Clarissa sangat amat kesal. Ia berusaha untuk melepaskan diri, namun tangan Leo begitu kuat memeluk pinggang rampingnya. "Leo!!!" "Ssstttt.... Jangan bergerak, atau kau akan tahu akibatnya," potong Leo setengah berbibisk. Jari telunjuknya ia tempelkan di bibir Clarissa, membuat gadis itu langsung terdiam. Kini keduanya tidak lagi mengeluarkan suaranya, namun tatapan mereka terus saling beradu di tengah-tengah suara daun-daun bergesekan dan burung liar yang terdengar di tengah belantara. *** Braaaakkkk.... "Bodoh! Kenapa aku bisa memiliki anak buah yang sangat bodoh seperti kalian!" geram seorang pria sambil melempar barang yang ada di dekatnya. Ruangan yang awalnya rapi, kini terlihat seperti kapal pecah. Sangat berantakan. "Kami mohon maaf, tuan. Dia sudah membawa perempuan itu pindah dan bersembunyi. Kami sulit untuk melacaknya," kata salah satu anak buahnya dengan takut. Takut, jika dirinya akan menjadi pelampiasan dari kemarahan bosnya tersebut. "Pergi! Cari perempuan itu. Jangan kembali sampai kalian bisa membawanya ke hadapanku! Mengerti." Titah pria itu dengan tegas. "Mengerti, tuan." Jawab para anak buahnya serentak. Mereka langsung bangkit, kemudian pergi meninggalkan ruangan bosnya tersebut. Setelah kepergian para anak buahnya, seorang wanita berpakaian seksi muncul dan melangkah mendekati pria itu. Wanita itu sedikit terkejut melihat ruangan laki-laki itu yang sangat berantakan. "Ada apa ini? Kenapa ruanganmu sangat berantakan sekali?" tanya wanita itu, berdiri di hadapan sang pria. "Kau tidak perlu tahu, yang hanya kau tahu adalah, bagaimana cara untuk menyenangkan aku, Sonia!" jawab pria itu sambil memeluk pinggang ramping Sonia, lalu menciumnya beberapa kali. Sonia tersenyum, ia memukul dada laki-laki itu dengan manja. "Ah tuan Lin sangat nakal sekali. Tapi tenang saja, aku selalu tahu cara untuk menyenangkanmu," bisik Sonia seraya menghembuskan nafas hangatnya tepat di dekat telinga Lin ji. Dan hal itu tentu saja memancing gairah Lin ji. Tanpa menunggu lama, mereka pun langsung melakukan aktivitas liar seperti biasanya. *** Pagi itu, Leonardo pergi sebentar untuk mengurus seseorang, yang entah artinya menginterogasi, menyuap, atau membunuh. Clarissa ditinggalkan dengan pesan pendek, "Jangan pergi ke mana pun. Aku akan tahu." Itu bukan hanya sekedar pesan biasa, melainkan sebuah ancaman. Tapi itu semua demi kebaikan dan keselamatan gadis itu. Di ruang tamu kecil yang hangat, Clarissa duduk sendiri dengan secangkir teh dan rasa gelisah yang tak kunjung reda. Matanya tertuju pada tas kecil miliknya yang sempat ia bawa dari kantor saat kejadian penembakan. Ia baru ingat satu hal, ia masih menyimpan ponsel milik korban, ponsel yang Leonardo pikir sudah hilang. Dengan tangan gemetar, Clarissa mengeluarkan ponsel itu dari saku rahasia tasnya. Layarnya sudah retak, tapi masih menyala. Ia menahan napas, lalu membuka galeri dan file yang ada di dalamnya. Satu folder tersembunyi ditemukan. "DL - INTERNAL BLACKMAIL" Clarissa membeku. Dalam folder itu terdapat lusinan video pendek, rekaman suara, dan foto. Ia mengetuk salah satu video. Isinya, rapat rahasia para bos mafia dari berbagai negara. Salah satunya adalah Leonardo De Luca, sedang berbicara tentang pengiriman senjata ilegal dari Italia ke Asia Tenggara. Wajah Clarissa langsung pucat, ia membekap mulutnya dengan kedua mata membulat."Bagaimana keadaan Assa, pah? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Merry pada suaminya. Kekhawatiran jelas terpancar dari raut wajahnya perempuan paruh bayah itu. "Mama tenang saja. Assa baik-baik saja. Leo menjaganya dengan ketat. Dia tidak membiarkan siapapun mendekati Assa. Termasuk Arsen. Leo benar-benar sangat posesif, tapi papa yakin, Assa akan aman bersamanya," jawab Ronald membuat Merry bernafas lega. "Syukurlah. Keamanan Assa emang paling penting sekarang," lirih Merry sambil menjatuhkan bokongnya di atas kursi sofa. "Lalu, bagaimana dengan Raya, pah? Apakah sudah ada kabar?" tanyanya sambil menatap suaminya. Sudah berapa hari ini, Raya tidak ada kabar sama sekali, bahkan ponselnya pun tidak aktif. Membuat Merry khawatir. Ronald menghela nafasnya kasar, ia melangkah dan duduk di kursi sofa yang berada di samping istrinya. "Belum, mah. Orang suruhan papa juga belum ada kabar. Berdoa saja, semoga Raya baik-baik saja.""Ya, semoga saja, pah. Bagaimana pun juga, Raya itu penyel
Hujan turun menjelang senja, menepuk kaca jendela dengan irama pelan. Clarissa terbangun di tengah kesunyian kamar besar itu. Selimut masih menyelimuti tubuhnya, hangat dan jemarinya masih terikat pada sesuatu yang nyata.Leo.Laki-laki itu masih duduk di sisi ranjang. Jasnya sudah dilepas, kemeja hitamnya digulung sampai siku. Satu tangannya menggenggam jemari Clarissa, seolah takut kehilangan bahkan dalam tidur.Clarissa menatap wajah itu lama. Garis rahang yang tegas, alis yang selalu tampak dingin, mata yang… kini tertutup, namun tetap waspada. Ia baru menyadari satu hal yang membuat dadanya sesak. Leo menjaga bukan karena kewajiban.Ia menjaga karena takut kehilangan.Clarissa bergerak sedikit. Leo langsung membuka mata.Tatapan mereka bertemu. Seketika dunia menyempit."Kau sudah bangun," kata Leo pelan."Sejak kapan kau tidak tidur?" Clarissa bertanya lirih.Leo mengangkat bahu tipis. "Tidak penting sejak kapan aku tidak tidur. Yang terpenting, kamu bangun, aku ada di sisimu."
Mobil hitam itu melaju membelah pagi dengan kecepatan stabil, terlalu tenang untuk situasi yang sebenarnya genting. Kaca gelap menutup dunia luar, seakan Clarissa benar-benar terpisah dari realitas. Di kursi belakang, ia duduk diam, punggungnya menempel pada jok kulit dingin.Leo duduk di sampingnya.Dekat. Terlalu dekat.Satu lengannya terentang di sandaran kursi belakang Clarissa, membentuk pagar tak kasat mata. Tidak menyentuh, tapi jelas membatasi. Posesif dalam diam. Tatapannya fokus ke depan, namun Clarissa tahu setiap detak napasnya diperhitungkan oleh laki-laki itu."Kau tidak nyaman?" tanya Leo tanpa menoleh.Clarissa menggeleng pelan, lalu menjawab pelan. "Aku hanya… merasa seperti sedang diculik."Sudut bibir Leo terangkat tipis. "Kalau aku ingin menculikmu, caranya akan jauh lebih kejam." Kalimat itu seharusnya membuat takut. Tapi entah mengapa, Clarissa justru merasa… aman."Kau ingat saat aku menculikmu dulu?" lanjut pria itu lagi. "Aku tidak ingin mengingatnya lagi. K
Pagi datang tanpa benar-benar membawa terang.Clarissa terbangun perlahan, dadanya naik turun teratur. Untuk sesaat, ia lupa di mana dirinya berada, hingga matanya menangkap sosok itu.Leo.Masih di kursi yang sama. Punggung tegak, rahang mengeras, satu tangan bertumpu di paha, satu lagi dekat senjata yang tersembunyi di balik jasnya.Matanya setengah terpejam, tapi Clarissa tahu… laki-laki itu tidak benar-benar tidur.Ia selalu sadar.Clarissa bergeser sedikit di atas ranjang. Gerakan sekecil itu cukup membuat Leo membuka mata.Tatapan mereka kembali bertaut, seolah benang tak kasatmata menarik keduanya ke titik yang sama."Kau sudah bangun, sayang?" ucap Leo pelan.Clarissa mengangguk pelan. "Sejak kapan kau… terjaga?" tanya Clarissa lirih.Leo bangkit berdiri, langkahnya senyap namun mantap. "Aku tidak tidur."Clarissa terdiam. Ada rasa bersalah yang menusuk, bercampur dengan perasaan hangat yang sulit dijelaskan. Tidak ada seorang pun yang pernah menjaganya seperti ini dengan kewa
Clarissa terpaku. Bibirnya masih terasa hangat ketika Leo akhirnya menarik diri, napas mereka beradu di jarak yang nyaris tidak ada. Jantungnya berdentum keras, bukan hanya karena kecupan itu, melainkan karena cara Leo menatapnya, seolah ia adalah satu-satunya hal yang nyata di dunia yang penuh ancaman."Leo…" suaranya lirih, nyaris tenggelam oleh degup jantungnya sendiri.Leo tidak menjawab. Ia menurunkan tangannya dari dinding, lalu mengusap tengkuk Clarissa secara perlahan, menenangkan, namun tetap mengikat. Bukan sentuhan yang menuntut, namun sentuhan yang mengklaim. Ia menempelkan dahinya ke dahi Clarissa, mata mereka saling mengunci."Aku tidak akan melangkah lebih jauh malam ini," ucapnya rendah, terkendali. "Bukan karena aku tidak mau. Tapi karena aku ingin kau tetap memilihku… dengan kesadaranmu."Kata-kata itu menghantam Clarissa lebih keras daripada kecupan barusan. Ia menelan ludah, mencoba menata napasnya. Ada bagian dalam dirinya yang lega, namun ada juga yang kecewa, p
Malam merayap pelan, menekan rumah itu dengan sunyi yang berat. Clarissa tak segera terlelap. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan tatapan Leo kembali hadir, gelap, posesif, dan terlalu jujur untuk diabaikan. Napasnya naik turun tak teratur, seolah ada tangan tak terlihat yang menggenggam dadanya dari dalam.Di luar kamar, Leo membuka mata. Ia berdiri tegak, seperti penjaga yang tak pernah tidur. Ponselnya bergetar singkat. Satu pesan masuk.Gio: Perimeter aman. Tidak ada pergerakan mencurigakan. Tapi ada jejak baru, orang luar sempat mengintai sebelum fajar.Leo membalas cepat. Perketat. Satu langkah lagi, aku habisi.Ia menyimpan ponsel, rahangnya mengeras. Nama Clarissa kembali berputar di kepalanya, bukan sebagai doa, melainkan sumpah. Ia menoleh ke pintu kamar itu, seolah bisa menembus kayu dan kunci, memastikan napas gadis itu masih ada, masih di bawah jangkauannya.Clarissa bangkit perlahan, berjalan mendekat ke pintu. Tangannya berhenti tepat sebelum gagang. Ia ragu, anta







