LOGINSeumur hidupnya, Alana Nareswari mengira ayahnya hanyalah seorang pensiunan diplomat pencinta seni. Dia salah besar. Satu panggilan telepon di tengah malam mengubah hidup Alana dari kurator galeri yang tenang menjadi buronan nomor satu dunia bawah tanah. Saat peluru mulai berterbangan, hanya satu pria yang berdiri di antara Alana dan kematian: Atlas. Atlas itu dingin, penuh perhitungan, mematikan, dan sangat menggoda. Dia menawarkan Alana perlindungan dan sebuah kesepakatan gila: menikah dengannya untuk bersembunyi di depan mata musuh, sambil merencanakan balas dendam atas kematian sang ayah. Semuanya terasa sempurna. Namun, Alana membuat kesalahan fatal.
View More"Lukisan ini palsu."
Suara bariton yang berat itu memecah keheningan Galeri Artéfact yang seharusnya sudah sejak tadi sunyi. Alana tidak menoleh. Matanya yang tajam, masih terpaku pada kaca pembesar yang ia pegang erat. Meneliti retakan halus pada kanvas di hadapannya. Jam dinding di sudut ruangan menunjukkan pukul sepuluh malam lewat tujuh belas menit. Galeri seharusnya sudah tutup dan terkunci. Tamu yang datang selarut ini, apalagi berani mendikte keaslian karya, jelas bukan tamu yang diundang. "Maaf, Tuan. Galeri sudah tutup," jawab Alana dingin, nada suaranya penuh otoritas. Ia terus memegang kaca pembesar, fokusnya hanya pada objek lukisan yang tergeletak di atas meja periksa. "Dan Anda salah. Ini asli. Surya Kelana, ‘Senja yang Memudar’, tahun 1952. Konservasi terakhir dilakukan tahun 2018. Semua detail teknis sudah tervalidasi." "Kau yakin, Nona Nareswari?" Nada suaranya yang tiba-tiba berubah, membuat Alana menegakkan punggungnya. Seketika udara di dalam ruangan terasa menipis. Di ambang pintu ruangan kerja pribadinya—ruangan yang seharusnya terkunci rapat dari dalam—berdiri seorang pria. Dia tinggi, menjulang. Setelan jas hitam yang memeluk tubuh tegapnya seakan perisai dengan kekuatan tersembunyi. Wajahnya? Tampan, dengan garis rahang yang tegas dan mata yang… mata yang terlalu tajam, seperti elang yang mengintai mangsanya. Aura berbahaya yang pekat, membuat bulu kuduk Alana meremang. "Siapa Anda?" tanya Alana tajam, tangannya perlahan bergerak ke bawah meja."Bagaimana bisa Anda masuk ke sini? Semua pintu masuk sudah terkunci dari dalam." Pria itu tidak menjawab. Dia melangkah santai, langkahnya nyaris tanpa suara di atas lantai marmer. Gerakannya anggun namun penuh ancaman. Dia mendekati meja, jari telunjuknya yang panjang dan bersih mengetuk pelan bingkai lukisan ‘Senja yang Memudar’ karya legendaris Surya Kelana itu. "Bau minyak terpentin," gumam pria itu, tatapannya kini beralih ke wajah Alana, menatapnya lekat. "Untuk lukisan tahun 1950-an, baunya terlalu... segar. Terlalu kuat. Seperti baru dicat semalam." Alana mendengus, dia jelas tersinggung. "Anda meragukan kompetensi saya? Nomor registrasi kolektor lama sudah terukir halus di sudut kiri bawah. Wax seal dari Balai Lelang Wina utuh, bukti integritasnya. Stretcher bar menggunakan pin kayu jati asli, metode yang lazim digunakan pada era itu." Ia menegakkan dagunya, menantang. "Semua bukti otentisitas ada di sana. Anda hanya kurang teliti." "Detail teknis bisa dipalsukan, Nona Nareswari," potong pria itu cepat, suaranya datar namun menusuk. "Semuanya, dari nomor registrasi hingga serat kayu jati. Tapi jiwa... jiwa lukisan, emosi yang terpancar dari setiap sapuan kuas, itu tidak bisa dibohongi. Dan lukisan ini, meski indah, terasa hampa. Sesuatu telah diambil darinya." "Keluar!" perintah Alana, suaranya kini sangat dingin. Jemarinya menekan tombol panik yang tersembunyi. Jantungnya berdetak kencang, tapi dia berusaha keras untuk tenang. "Atau saya panggil keamanan." Pria itu tersenyum miring. Entah kenapa senyumnya membuat jantung Alana berdetak lebih cepat. "Keamanan di bawah sedang tidur nyenyak, Nona Manis. Kopi mereka sepertinya... terlalu kuat malam ini. Atau mungkin ada bahan tambahan yang lebih kuat daripada kopi." Mata Alana membelalak mendengar ucapannya. Sistem keamanan di galerinya mestinya rahasia. "Apa maumu?" suara tercekat, lebih seperti bisikan memohon daripada pertanyaan. Sebelum pria itu sempat menjawab, dering ponsel Alana memecah situasi yang mencekam. Alana melirik layar. Ayah! "Angkatlah," kata pria asing itu, mundur selangkah, kedua tangannya kini dimasukkan ke dalam saku jasnya. Ia terus mengamati Alana dengan ekspresi yang tak terbaca. "Sepertinya penting. Sesuatu tengah terjadi di luar sana." Dengan tangan gemetar, Alana menggeser tombol hijau. "Halo? Ayah, ada orang gila masuk ke—" "Dengarkan aku. Jangan bicara." Suara Tuan Danu di seberang sana terdengar tajam, dingin, dan asing. Bukan nada suara ayahnya yang biasa ia kenal–penuh kehangatan dan tawa. "Jangan sebut namaku. Jangan sebut lokasimu." Alana terdiam, napasnya tertahan. Matanya terkunci pada pria asing di depannya, yang kini sedang mengamati kukunya dengan santai seolah percakapan rahasia itu sama sekali tidak mengganggunya. "Ayah... ada apa?" bisik Alana, suaranya nyaris tak terdengar. "Kau harus pergi. Sekarang!" perintah Tuan Danu. Suaranya pecah oleh urgensi yang mendesak. "Tinggalkan galeri. Jangan pulang ke apartemenmu. Apa pun yang terjadi, jangan kembali ke sana." "Kenapa, Ayah?" Alana kebingungan dan ketakutan. "Rumah lama. Di Menteng," desis ayahnya, nada suaranya semakin rendah dan tertekan. "Ingat daybed antik di kamarmu? Ada kotak besi di dalamnya. Ambil, dan menghilang. Lakukan apa pun yang kau bisa untuk menghilang." "Menghilang? Ayah, aku besok ada event penting dengan klien dari Singapura—" "Lupakan event! Lupakan hidupmu!" bentak Tuan Danu. Malam ini sangat berbeda. Ayahnya yang biasanya selalu tenang. "Jangan pakai kartu kredit. Jangan hubungi siapa pun. Buang ponselmu setelah ini. Semuanya." "Ayah?" Alana berbisik, rasa dingin merayap di tulang punggungnya. Alana merasa seakan ini semua sudah direncanakan. "Mereka sudah bergerak, Alana. Mereka mengincar 'Buku Besar' itu. Dan sekarang," suara ayahnya meredup, terdengar seperti sedang berbisik dari lubang neraka, "mereka mengincarmu. Tetaplah hidup, Alana. Ayah sayang kamu!" Sambungan terputus. Alana menurunkan ponselnya perlahan, telapak tangannya terasa dingin dan basah. Wajahnya pucat pasi. Ia menatap pria asing itu lagi, sosok tinggi yang kini berdiri diam di ambang pintu, seolah menunggu. Apakah pria ini yang dimaksud ayahnya? Apakah dia salah satu dari mereka? Dan siapakah mereka? "Kabar buruk dari Papa?" tanya pria itu. Nada suaranya berubah. Tidak lagi mengejek, tapi ada sentuhan waspada, seolah ia baru saja mendeteksi ancaman yang sama. Alana menyambar kunci mobil di atas meja, lalu beranjak cepat. "Minggir." Pria itu justru melangkah menghalangi jalan Alana. Tubuhnya yang besar dan kokoh memblokir pintu keluar, seolah tak tergoyahkan. "Kalau ayahmu barusan menyuruhmu lari, dia terlambat, Nona Manis. Mereka sudah menemukanmu." "Apa maksudmu?" Suara Alana bergetar, ia mencoba menahan rasa paniknya. Pria itu menunjuk ke arah jendela kaca besar yang menghadap jalan raya utama. Di bawah sana, dua buah SUV hitam baru saja berhenti di depan lobi galeri. Pintu-pintunya terbuka dengan kasar, memuntahkan beberapa pria berbadan tegap yang bergerak dengan efisiensi pemburu. "Mereka sudah di sini," kata pria asing itu pelan, suaranya terdengar lebih serius dari sebelumnya. Ia menatap Alana kembali, seakan tidak memberi kesempatan wanita di hadapannya pergi. "Kau sekarang mempunyai dua pilihan, Alana. Keluar lewat pintu depan, menghadapi mereka, dan mati konyol. Atau..." "Atau apa?" Suara Alana tercekat di tenggorokannya. Pria itu mengulurkan tangannya, telapaknya terbuka, sebuah tawaran yang tidak bisa ia tolak, namun juga terasa seperti jebakan. "Atau ikut aku lewat pintu belakang. Sekarang.”Suara wanita di telepon itu seperti embusan angin dari kubur—dingin, berwibawa, dan memiliki aksen aristokrat yang ganjil. Alana membeku di tengah ruko Petojo yang remang-remang. Di hadapannya, monitor besar menunjukkan hitungan mundur yang kini menyisakan delapan menit tiga puluh detik."Siapa kau?" bisik Alana. Tangannya yang bersimbah keringat mencengkeram ponsel itu hingga buku jarinya memutih."Aku adalah alasan kenapa ayahmu membangun labirin ini, Alana," suara itu menjawab datar. "Aku adalah subjek dari potret yang kau kupas di usia delapan tahun. Berhenti menatap layar. Layar adalah distraksi. Layar adalah estetika palsu yang ingin membelokkan tujuanmu."Alana berpaling dari monitor. Dia memaksakan otaknya untuk kembali ke mode kurator. Dia harus melihat lapisan di balik situasi ini. "Kau bilang ada lapisan kesembilan. Ayah hanya mengajariku sampai delapan. 3-5-8.""Karena angka delapan adalah penyelesaian bagi orang luar, tapi bagi seorang Kurator, delapan adalah awal dari de
Malam di pinggiran Jakarta tidak pernah benar-benar gelap, kecuali di kawasan industri tua yang terlupakan oleh pembangunan. Alana mencengkeram kemudi sebuah sedan tua yang dia curi dari area konstruksi, mobil yang tidak mencolok untuk menjadi hantu. Di sampingnya, tas pemberian ayahnya terasa seperti bom waktu yang siap meledak.Pesan di ponsel itu terus berkedip di kepalanya. Lima jam.Dia sedang menuju ruko di Petojo, namun spion tengahnya menangkap dua pasang lampu xenon yang bergerak dengan kecepatan tidak wajar di belakangnya. Mereka menemukannya. Musuh ayahnya tidak menggunakan pelacak GPS konvensional; mereka menggunakan jaringan pengawas kota yang sudah mereka retas."Pelajaran keenam, Alana," suara ayahnya bergema dalam ingatan, sejelas bisikan di telinganya. "Jika mereka bisa melihatmu, mereka bisa membunuhmu. Seni menghilang bukan tentang menjadi transparan, tapi tentang menyatu dengan kegelapan hingga kau menjadi kegelapan itu sendiri."Alana membelokkan mobil ke arah jal
Telinga Alana berdenging. Suara Mercedes yang menghantam pintu depan paviliun terdengar seperti ledakan artileri di ruang tertutup. Bubuk putih dari sistem pemadam api menari-nari di udara, menciptakan selimut kabut yang menyesakkan. Pria di atasnya tersentak, perhatiannya teralih selama satu detik oleh hanturan logam di depan sana—dan Alana hanya memerlukan satu detik.Alana menghantamkan tumit sepatunya ke tulang kering pria itu, lalu menyikut ulu hatinya dengan kekuatan penuh. Cengkeraman di pergelangan kakinya mengendur. Alana merangkak dengan kalap, jemarinya menyambar lembaran kertas transparan yang tergeletak di lantai marmer yang licin, lalu dia menghilang ke dalam kegelapan di balik rak buku antik."Alana! Masuk!"Itu suara ayahnya. Tuan Danu tidak keluar dari mobil. Mercedes perak itu menderu di ambang pintu yang hancur, lampu depannya yang retak menembus kabut kimia seperti mata monster yang marah.Alana melompat ke kursi penumpang tepat saat pria bersenjata itu melepaskan
Bau lem kanvas yang menyengat dan aroma kayu mahoni baru memenuhi galeri pribadi yang baru saja selesai dibangun di paviliun belakang rumah mereka. Alana, yang kini menginjak usia empat belas tahun, berdiri di tengah ruangan yang diterangi lampu sorot presisi. Ini adalah "Galeri Alana"—setidaknya itu yang tertulis di plakat perunggu di depan pintu. Namun, bagi Alana, tempat ini terasa lebih seperti ruang interogasi estetika daripada ruang pameran.Tuan Danu berdiri di depan sebuah lukisan lanskap klasik karya pelukis lokal yang namanya tidak pernah terdengar di balai lelang besar. Lukisan itu membosankan; hanya pemandangan sawah dan gunung dengan teknik pewarnaan yang medioker."Kenapa kita memajang ini, Pa?" Alana bertanya, tangannya menyilang di dada. "Ini tidak memiliki nilai kurasi. Teknik sapuannya kasar, perspektifnya meleset di bagian cakrawala. Ini sampah yang dibingkai mahal."Danu menoleh, memberikan senyuman tipis yang kini sering Alana artikan sebagai tanda bahwa dia baru






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore