LOGINLeonardo tidak langsung menjawab. Ia menatap ke depan dengan rahang mengeras, lalu berkata pelan, "Kau mungkin bukan siapa-siapa bagiku. Tapi seseorang di masa laluku... mati karena aku tidak peduli." Kata Leo terdengar dingin.
Clarissa langsung menoleh, ia menatap Leo, lalu bertanya penasaran. "Siapa?" Leonardo menghela napas kasar, lalu menjawab pelan namun berat. "Namanya Alessia. Tunanganku. Dia juga terseret dalam dunia ini karena kebodohanku. Aku berpikir dengan menjauhinya, aku bisa melindunginya. Tapi justru karena itu… dia dibunuh." Terlihat ada rasa penyesalan dalam sorot mata pria tampan itu. Clarissa terdiam. Luka itu terlihat nyata. Ia bisa melihatnya di kedua bola mata Leonardo. Luka yang belum sembuh. Luka yang masih berdarah di balik semua kekuasaan dan topeng dinginnya. "Lalu kenapa kau menyelamatkanku?" tanya Clarissa lagi, kali ini lebih pelan. Leonardo menatapnya sesaat, lalu menghela nafasnya lagi. "Karena saat melihatmu… aku takut akan kehilangan lagi. Dan itu membuatku benci sekaligus ingin melindungi dan memilikimu dalam waktu yang sama." Jawabnya masih terdengar berat. "Kita hanya orang asing, tuan! Kamu seharusnya... " "Orang asing yang di takdirnya untuk bersama," poton Leo cepat, membuat Clarissa langsung terdiam dengan kepala tertunduk. Entah apa yang ada dalam pikiran gadis itu saat ini, hanya dia sendiri yang mengetahuinya. Mobil hitam itu sudah tiba di tempat yang disebut Leonardo sebagai 'Rumah Senyap' Sebuah rumah kayu tersembunyi di kaki gunung, dikelilingi pepohonan tinggi dan danau tenang. Jauh dari hiruk pikuk dunia bawah tanah. Clarissa berdiri di teras kayu sambil memeluk tubuhnya. Leonardo datang dan menyodorkan jaket miliknya. "Ini," katanya singkat. Clarissa menerimanya dengan diam, lalu mengenakannya. Wangi khas pria itu langsung menyeruak, maskulin, hangat, dan memabukkan. "Aku masih belum percaya ini semua nyata," ujar Clarissa pelan. Leonardo menatapnya dalam, lalu berkata. "Sayangnya, ini lebih nyata dari apa pun dalam hidupmu." Kemudian, Leo melangkah lebih dekat pada gadis itu. "Kau harus tetap di sini sampai aku menyelesaikan urusan dengan Lin Ji. Dan kau akan tetap di bawah pengawasanku. Di tempat ini… tak ada penjaga. Tak ada kamera. Hanya aku dan kau." Ucapnya dengan tegas. Clarissa menatapnya, lalu berkata. "Jadi... aku benar-benar tahanan pribadi Tuan Mafia?" Leonardo tersenyum tipis. Tapi matanya… menyala pelan. "Tidak. Kau bukan tahanan. Kau... wanita yang belum kuketahui sepenuhnya. Dan aku selalu ingin tahu apa yang kusentuh." Clarissa langsung membeku, wajahnya memerah, matanya menyala. Terlihat ada kemarahan dan penuh pertanyaan dari tatapan gadis itu. "Aku tidak sedang bermain-main, Leonardo!" "Begitu pun juga dengan aku." "Tuan Mafia! Selain menakutkan, ternyata kau juga sangat menyebalkan!" cetus Clarissa kesal. Namun, Leonardo justru malah terkekeh. "Benarkah? Apakah aku semenakutkan itu?" kata Leo seraya menangkup wajah Clarissa, menatapnya dari jarak yang sangat dekat. Saking dekatnya, hembusan Leo dapat Clarissa rasakan di permukaan wajahnya. "Ya,,,, tentu saja." Jawab Clarissa sembari melepaskan tangan Leo, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Leonardo terkekeh, tangannya kembali menangkup wajah Clarissa yang terlihat sedikit memerah. "Tapi sepertinya kamu mulai tertarik pada laki-laki yang menakutkan ini," bisiknya dengan kedua bola mata yang tidak lepas dari wajah cantik Clarissa. Clarissa terdiam, rona merah di wajahnya terlihat semakin jelas, membuat Leo mengukir senyuman di wajahnya. "Kau sangat cantik," bisiknya, lalu tanpa basa basi, Leo mendaratkan kecupannya di bibir Clarissa, membuat kedua bola mata Clarissa langsung membulat dengan sempurna. "Apa yang kamu lakukan!" pekik Clarissa, sambil mendorong tubuh Leonardo. Terkejut? Tentu saja ia sangat terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Leonardo barusan. Sementara Leonardo, dia justru malah tersenyum kecil sambil mengusap bibirnya. "Lembut, aku suka." Kata Leonardo membuat rona merah di wajah Clarissa kembali tergambar. "Kau sudah gila!" seru gadis itu sangat amat kesal. Namun percayalah, hatinya merasakan sesuatu yang aneh, sesuatu yang sangat sulit di jelaskan. "Aku bisa lebih gila lagi. Apa kamu mau...." "Stop! Aku tidak mau!" potong Clarissa tanpa sadar ia menempelkan jari telunjuknya di bibir Leonardo. Leo terdiam sejenak, lalu sesaat kemudian, ia pun menggigit jari telunjuk Clarissa pelan. Dan hal itu tentu saja membuat Clarissa kembali terkejut.Pagi itu terasa terlalu tenang.Clarissa masih berada dalam dekapan Leo, napas mereka perlahan mulai selaras. Namun ketenangan itu tidak benar-benar masuk ke dalam diri Leo. Matanya sudah terbuka sejak beberapa menit lalu. Tatapannya kosong, tapi pikirannya bekerja cepat.Ia mendengar suara langkah di luar kamar.Pelan. Teratur. Terlalu terkontrol.Leo langsung tahu itu bukan penjaga biasa.Tangannya mengencang sedikit di pinggang Clarissa. Bukan untuk membangunkannya, tapi memastikan ia masih di sana.Clarissa bergerak kecil, mengerang pelan. "Kamu kenapa?" gumamnya setengah sadar.Leo menunduk, mengecup keningnya. "Tidur lagi, baby.""Tapi kamu terasa tegang…""Aku cuma nggak suka pagi terlalu sunyi," jawab Leo ringan, meski rahangnya mengeras.Clarissa membuka mata sepenuhnya, menatap Leo dengan alis berkerut. "Ada yang salah?"Leo menatapnya lama. Terlalu lama. Seolah ia sedang menimbang sesuatu."Ada dunia di luar sana," katanya pada akhirnya. "Dan aku nggak suka dunia terlalu de
"Seseorang ingin bertemu denganmu," kata Bastian membuat kening Arsen langsung berkerut. "Siapa?" tanya Arsen penasaran. "Arnold." Jawab Bastian cepat. "Arnold?" ulang Arsen yang mendapat angguk kan kepala dari Bastian. "Untuk apa dia ingin menemui ku? Apakah aku mengenalnya?"Bastian menggeleng pelan. "Dia tidak mengenalmu, tapi dia tahu kamu menginginkan Assa," ucap Bastian membuat rahang Arsen langsung mengeras. "Biarkan dia masuk!" titah Arsen terdengar mulai dingin, pertanda jika laki-laki itu sedang menahan amarahnya. Bastian mengangguk patuh, kemudian ia melangkah pergi meninggalkan Arsen yang terlihat mulai mengepalkan satu tangannya kuat. Beberapa menit kemudian, Bastian pun masuk dengan Arnold di belakangnya. Mata Arsen menatap tajam Arnold yang kini berdiri di hadapannya dengan wajah santai, dan tenang. "Ada urusan apa kau ingin menemuiku?" tanya Arsen tanpa basa basi. "Apa aku tidak di persilahkan untuk duduk dulu tuan Arsen?" tanya Arnold, tidak berniat untuk men
Malam turun perlahan. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu, menciptakan bayangan lembut di dinding.Clarissa duduk di lantai kamar, bersandar di sisi ranjang, selimut melingkari bahunya. Rambutnya masih setengah basah. Ia belum benar-benar tenang sejak sore tadi.Leo berdiri di ambang pintu, mengamati tanpa suara.Ada sesuatu yang aneh pada Clarissa malam ini.Lebih banyak diam, dan juga terlihat rapuh."Sayang, kamu kenapa?" tanya Leo pada akhirnya. Clarissa mengangkat wajahnya. Menatap Leo, dengan helaan nafas yang terdengar kasar. "Aku lagi memikirkan sesuatu.""Memikirkan sesuatu? Ulang Leo. " itu berbahaya," lanjut Leo setengah bercanda, lalu melangkah masuk.Clarissa tersenyum tipis. "Kamu takut aku memikirkan hal lain selain kamu?"Leo berlutut di depan Clarissa. Tatapan keduanya langsung bertemu. "Aku takut kamu memikirkan dunia ini bisa lebih baik tanpaku," jawabnya jujur.Clarissa terdiam beberapa saat, kemudian ia berkata pelan. "Aku takut… aku mulai butuh kamu."Leo m
Clarissa baru benar-benar merasa sendirian setelah pintu itu tertutup cukup lama.Rumah ini besar. Terlalu besar untuk cuma satu orang.Dan anehnya… baru sekarang ia sadar, selama ini Leo selalu jadi pengisi ruang kosong itu. Suara langkahnya, tatapan matanya, bahkan caranya berdiri diam pun terasa seperti kehadiran yang nyata.Clarissa berjalan ke arah jendela. Tirai sedikit terbuka. Langit siang kelabu.Ia memeluk lengannya sendiri. "Kamu keterlaluan," gumamnya lirih, entah pada Leo… atau justru pada dirinya sendiri.Clarissa kembali melangkahkan kedua kakinya menuju kursi sofa. Ia duduk di sofa itu, menatap ponselnya. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Leo benar-benar pergi tanpa meninggalkan jejak selain kalimat terakhirnya.'Kamu selalu menuruti permintaanku.'Clarissa mendesah kesal.Namun detik berikutnya, dadanya justru terasa… kosong.Ia menutup matanya, dan bersandar pada kepala kursi sofa itu.Dan tanpa sadar, pikirannya dipenuhi oleh Leo.Caranya menatap.Caranya memega
Leo menggeram pelan, menarik Clarissa ke tubuhnya. Pelukan itu erat. Terlalu erat untuk sekadar nyaman."Aku bisa hancur kalau kehilanganmu," bisiknya di telinga Clarissa. "Maka dari itu aku tidak akan mengambil risiko." Clarissa berbisik balik, suaranya terdengar sedikit gemetar. "Kamu membuatku takut… tapi aku juga tenang."Leo tersenyum tipis. "Cinta memang harusnya begitu."Ia menggendong Clarissa, membawanya menuju kursi sofa. Bukan tergesa. Tapi penuh kendali. Ia duduk, Clarissa di pangkuannya, dipeluk dari belakang."Dunia di luar sana tidak tahu caranya memelukmu," katanya pelan. "Aku tahu."Clarissa menyandarkan kepalanya pada bahu Leo. Jantungnya berdetak keras.Dan di dalam dadanya, ia sadar, Ia mulai berhenti bertanya, apakah ini benar atau salah.Yang ia tahu…ia tidak ingin dilepaskan.***"Sepertinya ada yang menginginkan gadis itu, selain kita. Hanya saja keinginan orang itu berbeda dengan keinginan kita," Amelia menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya, matanya
"Bagaimana? Apa kau berhasil?" tanya Bastian sambil menatap Arsen yang saat ini sedang berdiri di dekat jendela apartemennya. "Apa kau melihat keberadaan Assaku disini?" Arsen berbalik nanya, tanpa menoleh. Bastian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia melangkah mendekati Arsen. "Tidak, dan itu artinya kau gagal?" katanya membuat Arsen kesal mendengarnya. "Bukan gagal, belum waktunya saja," ralat Arsen seraya berbalik dan melangkah melewati Bastian. "Tapi, aku akan berusaha untuk membawanya pergi. Aku yakin, aku pasti bisa membawanya pergi dari rumah itu." Lanjut Arsen lagi seraya menjatuhkan tubuhnya di atas kursi sofa. Bastian menghela nafasnya kasar, dia pun ikut melangkah, membawa kakinya menuju kursi sofa. Duduk, lalu berkata dengan pelan. "Seandainya kau membawanya ketika Assa masih berada di rumah sakit, mungkin saat ini Assa sudah benar-benar mengingatmu dan berada di sini, bersamamu." "Kau pikir itu mudah?" Arsen menatap Bastian kesal. "Leo... Dia memberik







