LOGINBayi mungil itu terbaring dalam pelukan Adam, tubuhnya yang lemah menggeliat perlahan, matanya tertutup rapat.
Dengan wajah yang penuh haru, Aurora menatap bayi itu dengan rasa cinta yang campur aduk, seolah kehilangan anaknya yang sendiri membuat hatinya hancur. Baby Alan Sky Walker— mengingatkannya pada sosok anak yang telah ia lahirkan dan tak bisa dia jaha dan untuk sejenak, rasa itu terasa begitu nyata. "Di- dia ...." Aurora bergumam, suaranya bergetar. Ia tak tahu bagaimana harus memulai, dan kalimat itu menggantung di udara, penuh dengan berbagai perasaan yang tak terucapkan. "Perkenalkan, dia adalah Alan Sky Walker, putraku, Aurora," ujarnya. Adam berkata dengan penuh ketulusan. Tatapannya lembut saat memperkenalkan bayinya kepada Aurora, dan meskipun penuh dengan rasa kehilangan, ada kebanggaan di matanya. Lantas, dia memutar pandangan. Aurora menatap Alan, merasakan hatinya tergerak oleh perasaan yang sulit dijelaskan. Matanya mulai berkaca-kaca, namun ia berusaha menahan tangis. "Kau ingin aku menyusuinya?" Suaranya hampir tak terdengar, terkejut dan bingung. Ia tahu betapa dalam kebutuhannya, namun tetap merasa ada jarak antara dirinya dan bayi ini—sebuah rasa yang begitu asing dan membingungkan. "Ya. Putraku baru lahir 17 hari yang lalu. Dia tak cocok susu formula jenis apa pun. Beberapa hari ini, aku selalu mencari stok ASI dalam jumlah yang besar. Tapi, putraku kadang tak suka dan justru muntah. Jadi, aku memintamu untuk menyusuinya." Adam berbicara dengan tenang, seolah ini adalah permintaan yang sangat wajar baginya. Namun, ada kesan keteguhan dalam suaranya, seperti tidak ada pilihan lain selain meminta bantuan Aurora. Mendengar hal itu, lantas Aurora terdiam, hatinya bergejolak dan ingin tahu lebih dalam. Ia mengangguk perlahan, meski ada kekhawatiran di wajahnya. "Ya, ya. Aku setuju. Dia tampan sekali. Andai anakku hidup, aku pasti akan senang menyusuinya." Kalimat itu keluar dengan gemetar, tetapi ada senyum kecil yang merekah di bibirnya, meskipun hati ini penuh dengan duka. Mendengar persetujuan wanita yang akan menjadi obsesinya, maka Adam mengangguk. Dia seakan mengerti perasaan yang sedang menguasai Aurora. "Hm. Aku tahu, kau sangat kehilangan. Jadi, kau bisa menganggapnya sebagai putramu sendiri. Kemarin, kau sudah memompa ASI mu selama 4 hari saat kau dirawat di rumah sakit. Jadi, aku kira ASI mu akan cocok." Adam mencoba memberikan kenyamanan, meskipun dalam hatinya, ia sendiri merasakan beratnya kehilangan yang dialami Aurora. Lantas, Aurora kembali menatap bayi itu, ada perasaan hangat yang mulai tumbuh. Namun, rasa penasaran masih ada, mendorongnya untuk bertanya lebih jauh. "Maaf jika lancang ingin tahu. Dia anakmu, tapi di mana ibunya? Apa ... ibunya tiada? Maaf juga. Karena ku tahu, kamu belum menikah dan ku dengar dari beberapa pemberitaan, kau enggan terjebak dalam hubungan rumah tangga yang rumit. Apa itu benar?" Pertanyaan itu keluar perlahan, tanpa berniat menyelidik, namun lebih pada pencarian pemahaman tentang kehidupan Adam dan bayi ini. "Benar." Adam menghela napas panjang, matanya mengarah ke bayi kecil itu sejenak sebelum menjawab dengan nada yang datar. "Tapi, pemberitaan di luaran sana terlalu didramatisir. Sejujurnya, aku mau menikah." "Oh, begitu ya. Apa Alan juga anak lahir di salam pernikahan?" "Tentu. Tapi, Ibunya mengejar karir ke Paris menjadi model dan dia tak mau menyusui. Dia juga tak mau pernikahan kami terekspose. Karena kau jelas tahu, bagaimana kehidupan artis. Kami menikah karena adanya Alan. Jika tidak, kami juga tak bersama. Jadi, dia mau aku menutupi semuanya. Jika ku bongkar semuanya, maka itu akan beresiko untuk karirnya." Ada keheningan setelah kalimat itu, seolah tidak ingin membahas lebih lanjut tentang ibunya, dan Aurora bisa merasakan ada sesuatu yang tak terungkap sepenuhnya di balik kata-kata itu. "Oh, begitu ya?" Aurora berkata, meskipun perasaan dalam dirinya masih tersisa. Ada kebingungan, ada kesan yang belum sepenuhnya ia pahami tentang hubungan mereka, namun ia memilih untuk tidak mendesak lebih jauh. "Hm." Adam hanya mengangguk, seperti ingin mengakhiri topik itu. Sedangkan Aurora pun tak bertanya lagi, sebaliknya, ia lebih memilih untuk fokus pada bayinya. Aurora segera membawa Alan menuju jendela yang terang, sinar matahari pagi masuk melalui tirai yang sedikit terbuka. Keheningan sesaat meliputi mereka, dan tanpa sadar, Aurora mencium bayi itu dengan penuh kasih sayang. "Ya Tuhan. Jadi begini rasanya menyusui bayi secara langsung," gumamnya, seolah tidak percaya dengan apa yang tengah ia alami. Bayi Alan mulai menyusu dengan lahap, dan Aurora merasakan kehangatan yang mengalir dalam dirinya. Ada ketenangan yang perlahan meresap, meski air mata kembali jatuh tanpa bisa dihentikan. Lantas, dia menoleh pada Adam dengan tatapan penuh harap, sembari menutupi dadanya dengan kain khusus. "Ehm, ... Bolehkah aku menganggapnya anak sendiri? Maksudku, bolehkan dia memanggilku Mama meski kita tak ada hubungan?" Suaranya lembut, penuh keraguan, tetapi juga harapan. Matanya bersinar dengan rasa ingin memberi dan menerima kasih sayang yang tulus. "Ha ha." Adam menatap Aurora, sebuah senyum tipis terukir di wajahnya. Ia mengangguk dengan penuh keyakinan. "Why not?" jawabnya singkat, tetapi penuh arti, seperti memberikan restu atas ikatan yang terbentuk di antara mereka. Mendengar persetujuan itu, kini Aurora mengangguk pelan, matanya berbinar. Bayi itu kini tampak begitu tenang dalam pelukannya. Meski ini bukanlah perjalanan yang mudah, Aurora tahu bahwa di sini, di saat yang penuh rasa kehilangan ini, ia telah menemukan sesuatu yang baru— sebuah kesempatan untuk menjadi ibu lagi, meskipun dalam cara yang berbeda. "Susuilah dia, karena setelah anakku lahap, aku yang akan berganti menyusu padamu. Oh, damn! Dadamu besar sekali dan aku suka itu. Kau akan menjadi wanita cantik setelah ini. Lihatlah, akan ku angkat derajatmu, dan akan ku buat kau menjadi obsesiku, Aurora. Kau hanya butuh gym beberapa kali agar berat badanmu ideal. Juga, ... Kamu butuh tratment yang mahal supaya wajahmu tak kusam," gumamnya seraya berlalu. Dia bersiul, dan entah apa yang sedang direncanakan sang duda mesum itu. **** Sedangkan di lain tempat, Samuel menghela napas lega saat tak ada pihak kepolisian yang datang ke rumahnya. Sudah dua minggu sejak kejadian itu, dia memang tak bisa bernapas lega. Dan akhirnya hari ini, dia pun bisa tenang. "Yang ...," sapa Raline. Dia duduk di samping Samuel yang saat itu menikmati kopi di ruang tamu. "Udah bangun? Tumben," sahut Samuel. Dia hafal betul jika Raline memang tak serajin istrinya dulu. "Hm. Ada urusan nanti, mau nail art. Kamu tahu kan, besok itu kita harus menghadiri pernikahan rekan kamu si Tommy? Ya aku harus cantik paripurna lah. Transfer 20 juta ya nanti. Cukup kok, sekalian buat shopping." "Kamu ini uang mulu kerjaannya. Kemarin udah aku transfer 10 juta. Ya kali nail att semahal itu sih, Lin? Kamu itu hemat dikit, lah! Jangan dikit dikit uang. Pusing aku itu. Tabungan kita bisa habis kalau kamu gak hemat!" "Bilang aja kamu pelit, Yang!" "Bukan pelit. Tapi, masalah Aurora aja belum kelar. Ini aku masih nyewa detektif buat lacak di mana dia sekarang. Eh, kamu malah minta duit lagi." "Tuh, kan? Aurora mulu yang kamu pikirin. Udah lah, Mas. Dia itu udah mati." "Mati gimana? Kalau dia tetiba datang, membawa polisi dan meringkus kita, kamu mau apa? Mau mendekam di penjara?" "Ya itu urusan kamu, Yang. Kan kamu yang buang Aurora!" "Tapi, kamu kan yang dorong dia sampai jatuh dsri lantai dua?" "Kamu nyalahin aku, Yang?" "Salah semua! Aku cek memang dia gak napas dari hidung. Tapi, siapa tahu kalau nadinya masih berdenyut dan dia masih hidup?" Saat mereka sedang beradu argumen, tetiba seuara bel berndeting dari depan sana. Ya, rumah Samuel memang belum ada gerbangnya. Jadi, tamu bisa langsung masuk ke rumah dan memencet bel di dekat pintu. Mereka sontak mengalihkan perhatian ke sana. Sedangkan Samuel pun menyuruh, "Bukain gih!" "Ih, kamu aja kan bisa, Yang? Aku mau sarapan ah!" "Sarapan apa? Kamu aja jarang masak! Kalau makan mie terus, yang ada kamu bentar lagi pasti ada masalah kesehatan. Udah, sana buka. Aku TF Copipay 100, beli makanan di depan sana." Mendengar nominal uang, Raline lekas beranjak. Dia segera menuju pintu. Saat dia membukanya, entah mengapa dia tak mendapati siapa pun. Namun, di hadapannya ada sebuah kotak kado besar dan membuatnya senang. "Pasti Samuel yang memberiku ini!" Gegas wanita muda itu membuka kotak kado besar seukuran 1x1 meter. Dengan penuh antusias, dia membukanya. Namun saat penutup itu dibuka, matanya membulat sempurna lantaran mendapati boneka ungu berlumuran darah dengan kepala terpenggal. Di dadanya tertancap sebuah pisau belati berkarat, dan Raline syok berat. "Aaaaaaa!" Dalam hati, dia berpikir. Siapa yang berani menerorku?“Aku ingin bulan madu ini benar-benar menjadi waktu pemulihan untukmu. Kalau perlu, kita menginap di sini malam ini dan … bercinta di sini, mau?” goda Adam dengan suara rendah yang serak, tepat di samping telinga Aurora.“Apa? Bercinta di… sini? Di kapal ini? Di lautan lepas? Kamu bercanda?” Aurora terbelalak. Wajahnya seketika merah padam, terasa panas hingga ke telinga. Ia refleks memandang ke kiri dan kanannya dengan gelisah. Meski para pengawal dan awak kapal tampak sibuk dengan tugas masing-masing dan tidak menatap ke arahnya, ia sadar betul bahwa mereka memiliki pendengaran yang tajam. Ia merasa sangat tidak nyaman dan malu jika percakapan pribadi ini terdengar.Tapi meski begitu, Adam selalu bisa mencairkan suasana dengan kepercayaan dirinya yang meluap. Ia terkekeh melihat reaksi istrinya yang salah tingkah. “Apa salahnya melakukan itu? Toh, di kapal ini ada kamar suite yang mewah di bagian bawah. Kita bisa bebas menikmati kebersamaan kita tanpa ada gangguan sedikit pun.”
“Semakin sedikit orang yang tahu detail hidup kita, semakin aman posisi kita.”Aurora mengangguk perlahan, kini ia paham sepenuhnya mengapa keluarga sang suami jarang meng-upload kebersamaan keluarga besar itu di media sosial.Posesifnya Adam bukan sekadar masalah ego, melainkan sebuah bentuk perlindungan yang jauh lebih besar untuk keselamatan keluarga kecil mereka.“Aku mengerti sekarang, Yang. Maaf ya, aku tidak berpikir sejauh itu tadi,” ucap Aurora tulus.Adam tersenyum, mengecup kening Aurora dengan penuh kasih. “Tidak apa-apa. Wajar kalau kamu gak tahu karena ya memang sebagian dari kami anti sosial media. Tapi, sebagian juga tidak. Hanya beberapa yang aktif di sosial media karena mereka memiliki usaha terkait itu. Contohnya Bibi Delanie, dia memiliki WO dan beberapa butik. Jadi, mau tidak mau harus aktif di media sosial.”“Setelah ini, kita mau ke mana, Yang?” tanya Aurora begitu langkah mereka mendekati bibir pantai. Ia memandang sekeliling, melihat kerumunan turis yang mula
Adam kemudian menunduk, berbisik tepat di telinga Aurora dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk istrinya meremang. "Atau kamu mau kita balik ke vila sekarang juga supaya aku bisa 'menutup' punggung ini dengan cara lain?”“Apaan sih, Yang.” Aurora tersipu malu. Ia memilih membuang muka mendengar celotehan suaminya yang tidak masuk akal—ya setelah semalam mereka juga habis bertempur semalaman suntuk.“Mau gak?” goda Adam penuh nafsu, mengabaikan tatapan lapar dari berbagai pria di sekitarnya pada sang istri.Sebenarnya, sejak Aurora melangkah keluar dari kamar tadi, napas Adam seakan tertahan di tenggorokan. Ia sendiri sangat mengagumi betapa menawannya sang istri hari ini. Aurora mengenakan gaun berbahan chiffon premium berwarna putih bersih yang tampak sangat ringan dan melayang indah.Bahan chiffon yang halus dan semi-transparan itu melekat dengan anggun, mengikuti setiap lekuk tubuh Aurora dengan sangat pas namun tetap memberikan kesan lembut. Saat tertiup angin laut Santorin
Setelah beberapa hari di Paris, jet pribadi keluarga Walker mendarat di Yunani. Adam memboyong Aurora dan Alan Sky ke sebuah vila eksklusif di Oia, Santorini, yang dibangun tepat di tebing menghadap kaldera.Setelah semalaman beristirahat, pagi itu, Aurora berdiri di balkon vila, menghirup aroma laut yang segar. Ia mengenakan dress putih berbahan sifon yang melambai tertiup angin. Di belakangnya, Adam muncul dan langsung melingkarkan lengan di pinggang istrinya, menumpukan dagu di bahu Aurora."Bagaimana? Sesuai keinginanmu? Kamu tidak perlu jalan jauh, cukup rebahan di sini dan seluruh laut Aegea ada di depan matamu," bisik Adam.“Aku tidak pernah menduga aku akan menginjakkan kaki di tempat indah seperti ini, Yang.” Aurora tersenyum lebar, menyentuh lengan kokoh Adam. "Ini luar biasa. Terima kasih. Aku merasa seperti sedang di surga.""Uah! Papapa! Mamam mamam!" Alan yang berada di dalam stroller di dekat mereka ikut mengoceh, seolah setuju dengan keindahan tempat itu."Lihat, Alan
Setelah rangkaian pesta pernikahan tiga sesi yang melelahkan dari pagi hingga sore, Adam dan Aurora memilih untuk melarikan diri sejenak dari hiruk-pikuk ucapan selamat. Mereka kini berada di sebuah penthouse hotel megah di jantung kota Paris, tempat di mana cahaya lampu kota mulai menyala, menciptakan suasana yang luar biasa romantis.Adam berdiri di dekat jendela besar yang langsung menghadap ke arah ikon kota, Menara Eiffel yang bersinar keemasan. Di lengannya, ia menggendong Alan Sky yang tampak takjub melihat kerlap-kerlip cahaya di luar sana."Lihat itu, jagoan Daddy. Indah, bukan?" bisik Adam lembut.“Ata ya ta tah!”Adam terkekeh. Ia kemudian menoleh ke arah Aurora yang berdiri di sampingnya, lalu kembali menatap putranya. "Nah, sekarang Mommy dan Daddy sudah bisa tidur bersama kamu, Baby Alan. Doakan agar Mommy segera hamil, oke? Biar kamu punya teman main di rumah.""Uah! Pa pa pa pa pa!" Alan Sky bersorak riang sambil menggerak-gerakkan tangan mungilnya ke arah jendela.M
"Apa? Adam mau membunuhku? Dia sudah gila?! Aku ini adiknya sendiri—""Tuan Muda menganggap perbuatan Anda sudah sangat berbahaya," potong salah satu anak buah itu dengan suara datar, menghentikan histeria Elina. "Beliau tidak punya pilihan lain. Jangan anggap remeh peringatan ini, Nona. Kalau sampai Anda melakukan hal fatal seperti kemarin lagi, maka... jangan salahkan kakak Anda kalau beliau bertindak jauh lebih tegas dari sekadar mengikat Anda di sini."Elina terpaku, napasnya tertahan mendengar ancaman yang begitu nyata dari orang-orang kepercayaan kakaknya. Ia bisa merasakan bahwa kali ini, Adam benar-benar tidak main-main dengan ucapannya.Tanpa memedulikan tatapan penuh dendam dari Elina, ketiga orang itu berbalik dan melangkah keluar. Suara pintu yang dikunci dari luar terdengar begitu mengerikan, meninggalkan Elina sendirian dalam kesunyian kamarnya yang kini terasa seperti sel penjara.Sementara itu, di tengah kemeriahan pesta, sosok Evelyn tiba-tiba muncul di hadapan penga







