Home / Urban / Godaan Ibu Kos Cantik / 1. Gara-gara video dewasa

Share

Godaan Ibu Kos Cantik
Godaan Ibu Kos Cantik
Author: Harucchi

1. Gara-gara video dewasa

Author: Harucchi
last update Last Updated: 2025-09-19 10:12:22

Satu ketukan lagi, dan Dimas mulai ragu apakah dia salah alamat.

Papan kecil bertuliskan “KOS KOSONG” jelas terpampang di pagar depan sebuah rumah dua lantai, karena itu dia datang ke sini—malam-malam, dengan koper dan ransel, berharap menemukan tempat tinggal baru secepatnya.

Kamar kos yang dia tempati sebelumnya cukup memberatkan kantong. Sedangkan pesangon PHK dari perusahaan teknologi yang memberhentikannya setahun lalu sudah mulai menipis. Dimas sadar dia harus pindah ke kosan yang lebih sederhana.

Tok! Tok! Tok! Tok! Tok!

Sejenak, Dimas menunduk, memastikan ia tidak salah rumah. Tetapi tidak. Ini benar—nomornya sesuai.

Namun baru saja dia hendak mengetuk sekali lagi, suara samar dari balik jendela membuat tubuhnya menegang.

Suara decakkan bersahutan dengan deru napas yang terengah.

“Aahh!” lenguhan itu terdengar mengacaukan pikiran.

Suara-suara sensual itu tak ayal membuat jantung dan tubuh Dimas bergetar. Dimas meneguk saliva. Kakinya yang kini berdiri di luar jendela ruang tamu rumah pemilik kos kini terasa sedikit limbung.

Di balik jendela yang tak tertutup sempurna itu—di dalam ruang tamu, tampak seorang wanita yang sedang memunggungi Dimas, duduk nyaman di sofa yang menempel dengan jendela.

Layar ponselnya terpampang jelas tengah memperlihatkan adegan demi adegan dewasa hingga Dimas yang berdiri di luar dapat melihatnya.

Mengenyahkan gugup, Dimas mengerjap sekilas. Kepalan tangannya kembali menjangkau daun pintu.

Tok. Tok. Tok.

"Permisi?"

Namun suara Dimas tampaknya masih belum cukup kuat untuk mengalahkan desahan-desahan sensual dari ponsel di tangan wanita itu.

Lalu, sepasang mata Dimas melebar ketika menemukan tangan wanita itu mulai menjamah dirinya sendiri, memeluk lengan, lalu mulai meraba, menyusup ke area di antara kedua pahanya.

Pikiran Dimas seketika berkabut. Bukan mustahil dirinya akan ikut tenggelam dalam dorongan yang sama bila dia berlama-lama di sini.

“Permisi?” Dimas mengeraskan suara. Barulah wanita itu tersentak dan mematikan ponsel.

“Sebentar…”

Suara perempuan itu terdengar lebih dekat, dan Dimas segera menegakkan tubuh. Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok yang membuatnya hampir kehilangan kata.

Dimas terpaku.

Ini… tidak mungkin.

Darahnya seakan surut ke bawah. Pikirannya mendadak kosong selama beberapa detik.

“Kak Karina?” mulut Dimas bergumam pelan. Tak berniat memanggil, namun nama itu meluncur secara refleks.

Mana mungkin dia melupakan wajah yang dulu tak pernah gagal membuat dadanya berdebar? Membuat matanya kerap mencari, dan membuat telinganya menyimak penuh setiap kalimat yang keluar dari mulut wanita ini?

Kak Karina.

Guru privatnya saat SMA.

Wanita yang dulu dia kagumi diam-diam.

Wanita berwajah cantik, dengan kemolekan tubuhnya yang membuat Dimas kerap meneguk ludah.

Sampai akhirnya … dulu, muncul satu hari berbahaya ketika tak ada orang di rumah, Dimas yang saat itu masih SMA, tak mampu melawan desakan dalam dirinya. Hingga, sebuah kecupan singkat mendarat mulus di bibir wanita itu.

Wanita yang seharusnya dia hormati.

Dan setelah itu, semuanya berantakan.

Tak ada lagi hari-hari belajar bersama Karina. Tak ada lagi sesi belajar mendebarkan di sebelah wanita anggun yang membuatnya berdebar.

Karina berhenti mengajar, tak lagi menerima murid mana pun, tepat setelah kejadian itu.

“Kamu ….” Suara Karina yang terperangah dengan tangan menutup mulut seketika menyadarkan Dimas, membawa pikirannya kembali ke momen saat ini.

Namun detik berikutnya, Dimas tersadar dan membelalak. Darahnya berdesir seiring jantungnya menghentak keras. Matanya memindai penampilan Karina yang kini terlihat terlalu …

Terbuka.

Gaun malam tipis itu hanya menutup tubuhnya sebatas paha, memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus bak porselen. Bahan gaun yang tampak licin itu jatuh dan membentuk lekuk tubuhnya yang meliuk sempurna. Seakan tak cukup, gundukan bulat yang berhimpitan di area dada wanita itu membuat Dimas hampir lupa caranya bernapas.

Tanpa sadar, tangan Dimas mengeratkan genggamannya pada gagang koper kabin yang diseretnya.

Lama tak bertemu wanita yang pernah membuatnya berdebar, sekarang jantungnya harus menghadapi godaan sebegini dahsyat?

“Ada perlu apa?” suara Karina sedikit bergetar. Wajahnya yang sedikit memerah berpaling gelisah ke arah lain. Tangannya mengusap lengan dengan gerakan kaku.

Dimas berdehem kecil. Dia memperbaiki posisi tali ransel besar yang dia pakai. “Saya baca tulisan di depan, ada kamar kos kosong di sini. Kalau boleh, saya berniat untuk pindah malam ini.”

Karina mengerjap setelah terdiam beberapa saat. “Tunggu sebentar. Saya ambil kunci.”

Setelah kalimat itu, Karina berbalik, masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Dimas yang kini sibuk menenangkan jantungnya sendiri.

Tangannya menarik rambut ke belakang. Napasnya dihembuskan panjang.

Apa dia akan benar-benar tinggal di kosan dengan Karina sebagai pemilik kosnya? Karina, wanita yang dulu—bahkan hingga kini, pesonanya membuat irama jantungnya berderap kencang. Dan Karina, yang baru saja dia lihat sedang menjamah dirinya sendiri … sambil menonton video dewasa?

Dimas tak tahu ini keberuntungan atau justru … petaka.

Setelah Karina keluar dengan membawa kunci, wanita itu memimpin Dimas melewati sebuah tangga besi melingkar yang berada di depan teras. Tangga itu langsung menuju teras balkon lantai dua. Ada tiga kamar yang disewakan, semuanya berada di lantai dua dengan posisi berderetan.

Karina membuka kunci, lalu melangkah masuk ke dalam kamar dan menyalakan saklar lampu. Wanita lalu berjalan di sekitar kamar,

“Kami sudah sediakan kasur single, satu lemari pakaian, satu meja kerja, satu bantal, satu kipas angin. Nggak ada AC. Kamar mandi, dapur, kulkas, jemuran dan ruang cuci jemur, dipakai bersama-sama. Kebersihan tanggung jawab bersama. Jika membawa alat elektronik tambahan, tolong infokan ke saya.” Karina memutar bahu, menatap Dimas dengan alis terangkat.

“Kalau mau merokok silakan di balkon, sudah disediakan asbak di sana. Untuk peraturan, yang paling utama selain dilarang membuat kebisingan ….” Karina terdiam, mengambil jeda sesaat.

“Adalah nggak boleh membawa masuk perempuan.” ucap Karina tegas.

Sebuah pikiran gila melintas dalam benak Dimas.

Bagaimana jika perempuan yang dia inginkan justru sudah berada di dalam?

Detik itu, hampir Dimas menampar wajahnya sendiri. Betapa godaaan Karina sanggup mengacaukan akal sehatnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Kak Gojo
ok nitip jejak
goodnovel comment avatar
Nanik Kristiana
belajar menjadi lonte
goodnovel comment avatar
daru priyantono
awal yang memikat
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Godaan Ibu Kos Cantik   343. Aku mau kamu. Di sini. Malam ini.

    “Jadi, setelah hampir satu bulan di sini, kalian nemuin sesuatu yang mencurigakan nggak dari penghuni kos-kosan di sini?” Dimas membuka suara. Di lantai kamar Agus dan Jimmy, mereka duduk bertiga membentuk lingkaran.“Hm … “ Agus melirik ke arah Jimmy sekilas. “Saya sih, nggak curiga ke siapa-siapa ya Mas.” gumamnya, lalu mengembalikan pandangan ke arah Dimas.“Gue ya, gue sih curiga sama si Zaki. Itu orang kasarnya kebangetan. Inget nggak kemarin waktu gue nggak sengaja numpahin air panas ke baju dia?”“Yaa itu sih kamunya juga yang kebangetan, Koh.” Agus melirik sinis ke arah Jimmy, yang langsung dibalas tatapan tajam Jimmy.“Gue nggak sengaja anjir!” “Selain itu?” Dimas buru-buru memotong. “Kalian curiga sama Irwan nggak? Atau Zee? Amel? Nita?” Agus dan Jimmy mengernyit. Tiba-tiba, Jimmy menepuk keras tangannya.“Dim! Gue juga baru inget nih. Kemarin waktu gue lagi ngetik di pinggir pintu, itu dia jalan mondar mandir di depan kamar lo!”Dimas menyipitkan mata. “Serius?” “Serius!

  • Godaan Ibu Kos Cantik   342. Makanan beracun?

    Malam berikutnya, Dimas sedang berada di kamar, sibuk membuat website resmi untuk lembaga kursus yang akan didirikan Karina. Tiba-tiba suara ketukan pintu memecah fokusnya.Tok! Tok! Tok!Dengan kening berkerut, pria itu menoleh ke arah pintu, menyahut lantang. “Siapa?”Hening.“Gue!”Itu suara berat perempuan yang khas. Zee.Dimas menarik mundur punggungnya, bersandar ke dinding.Untuk apa Zee menemuinya ke kamar?Pertanyaan itu akhirnya berakhir dengan bangkitnya Dimas menghampiri pintu. Ketika dia membukanya, tampak seorang wanita berambut potongan laki-laki sedang menyodorkan satu kotak makanan dengan aroma roti bakar menguar harum ke mana-mana. Kemeja kotak-kotak yang dia pakai benar-benar membuatnya semakin terlihat maskulin.Wanita itu sama sekali tak menatap Dimas. Wajahnya dipalingkan ke arah lain.“Makasih.” Zee berbisik rendah. Suaranya nyaris tak terdengar. “Lo … Udah bantuin gue tadi.”Dimas menaikkan sebelah alis. Sedikit ragu untuk menerimanya. Bagaimana kalau makanan

  • Godaan Ibu Kos Cantik   341. Bukti CCTV

    [ Mari kita lihat, siapa yang runtuh lebih dulu. ]Tulisan itu diketik, tidak ditulis dengan tangan. Seolah pelaku tahu bahwa tulisan tangan bisa dilacak dengan mudah. Pandangan Dimas bergetar. Tangannya meremat kertas itu kuat-kuat. Rahangnya mengeras, gelegak amarah membuncah di dadanya.Kalau dia beritahukan ancaman ini pada Karina, wanita itu bisa ikut panik. Apalagi, dia tinggal sendiri di sana. Hal yang paling Dimas khawatirkan sebenarnya, pelaku nekat menyerang Karina secara langsung. Ah, CCTV.Bagaimana mungkin dia bisa lupa?Dimas menatap langit-langit kamar. Tidak ada.Dia kembali beranjak ke luar pintu. Kepalanya masih menenggak untuk menelisik setiap sisi. Tidak ada juga.Napasnya dihembuskan berat. Kos-kosan ini belum dipasang CCTV. Seandainya sudah, seharusnya dia bisa melacak siapa yang meletakkan kotak ini ke depan kamarnya.Dimas kembali ke dalam kamar. Kemudian meraih ponsel untuk mengetik pesan ke nomor Rudi.[ Tolong pasang CCTV di lorong kosan atas dan bawah,

  • Godaan Ibu Kos Cantik   340. Kotak misterius di depan pintu

    Begitu pandangan Nita bertemu dengan Dimas, wanita itu membuka mulut, terperangah total. Dimas mengernyit dalam. Kenapa Nita harus seterkejut itu? Karena tertangkap basah menghabiskan malam dengan kliennya di kamar kosan? Atau … Karena mengenali Dimas—yang tiba-tiba berada di kosan ini? Dimas menyipikan mata. Fitur wajah Nita terlihat sangat tidak alami. Tak hanya wajah, tubuhnya pun terlihat berlebihan di mata Dimas. Cukup kentara bahwa wanita itu telah melalui serangkaian sentuhan dokter kecantikan. Tak menemukan alasan untuk berinteraksi lebih jauh, Dimas melewati wanita itu, melanjutkan langkah menuju kamar. Setelah menutup pintu, pria itu menghela napas sambil mendudukkan diri di sisi kasur. Tangannya menjangkau rambut, menyisirnya pelan ke belakang. Sekarang, dia sudah bertemu dengan seluruh penghuni kos. Irwan, masih menyimpan misteri. Caranya menatap Dimas cukup berbeda. Alih-alih tatapan seorang rekan kos, matanya seperti sedang menargetkan mangsa. Zaki, fisikny

  • Godaan Ibu Kos Cantik   339. Laki-laki di kosan perempuan

    “Kak, malam minggu ini … ada waktu nggak?”Dimas yang tak siap dengan reaksi di luar prediksi itu tentu terheran-heran. Namun saat dia tanpa sengaja menoleh ke samping ….Ternyata Karina sedang berjalan ke arahnya, dan kini berdiri mematung menatap mereka. Dengan gerakan cepat, Dimas melepas tangan wanita muda itu dan berjalan mundur.“Maaf. Saya ada janji.”Wanita itu tersenyum sekilas. Mengingatkan Dimas pada salah satu foto penghuni kos yang pernah disebutkan Rudi.“Amelia. Usia 22. Mahasiswa tingkat akhir fakultas ekonomi di kampus swasta terdekat. Jarang terlihat keluar dari kamar. Tapi kabarnya sering terdengar suara video call mesra dari kamar itu sepanjang malam.”Dimas memalingkan wajah pada Karina yang kini membuang tatapan ke arah lain.“Kak, boleh minta nomornya? Kakak … tipe aku banget.” wanita bernama Amelia itu menarik tangan Dimas, menggenggamnya erat tanpa melepas tatapan lekat dari wajah pria itu. “Nama kakak siapa?”Lagi, Dimas menepis tangannya dengan tegas. Wajah

  • Godaan Ibu Kos Cantik   338. Bukan dia orangnya

    Caca tertawa kecil. “Masa sih Pak Dimas kayak gitu orangnya? Saya lihat sih, kayaknya setia deh. Walau yah … ada beberapa momen yang bikin saya emosi juga sih sama beliau.”Dimas tertegun. Rahangnya menegang.“Gus … tanya lebih detail.”Di dapur, Agus berdehem kecil. “Momen apa tuh Mbak? Soalnya, saya sendiri … punya banyak momen yang bikin saya emosi ke Dimas juga Mbak. Banyak banget malah.”“Oh ya?” Caca menatap Agus dengan senyum miring. “Hm … apa ya, saya nggak suka beliau suka ikut campur urusan pribadi saya sih. Adalah ceritanya. Intinya pada saat itu, saya sempat merasa lost respect sama beliau. Tapi … sekarang udah nggak sih.”Dimas mengerutkan dahi.“Gus, tanya. Seberapa jauh dia kesal? Apa dia pernah sampai di batas … berniat celakai gue?”Agus meneguk ludah. Ini pertanyaan yang sangat blak-blakan untuk diajukan pada orang yang baru kenal.“Mas Agus, saya duluan ya.” Caca mengangkat mangkuk berisi mie gorengnya, lalu memutar bahu dan berjalan menjauhi Agus. Kontan saja Agus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status