LOGIN“Untuk biaya sewa, satu juta sebulan. Masih wajar kalau kamu bandingkan dengan harga kos lain di sekitar sini.” Karina kembali melanjutkan. Tangannya terlipat di depan dada.
Dimas tak langsung menanggapi. Tatapannya justru menancap ke arah yang membuat Karina ikut menunduk, menyusuri arah pandangan itu. Detik berikutnya, napas Karina tercekat. Panas menjalari wajahnya.. Rupanya, gaun yang dia pakai membuat garis dadanya menyembul naik. Buru-buru Karina membalikkan badan. Jantungnya berdegup gila-gilaan. “Saya tempati kamar ini mulai malam ini. Ke mana saya bisa transfer pembayaran sewanya?” ujar Dimas tenang. . “Ke nomor rekening saya.” ucapnya lalu melirik Dimas sekilas. “Simpan aja nomor saya. Kamu kirim pesan WA ke saya, nanti saya kirim nomor rekeningnya.” Dimas mengangguk. “Oke.” Usai memutar bahu sedikit menghadap Dimas, Karina mendiktekan nomor ponselnya. “Ini sudah benar?” Dimas memiringkan layar ponsel, meminta Karina untuk mengoreksi. Tak mampu melihat angka di layar dengan jelas, Karina melangkah mendekat. Kini, jarak mereka nyaris tak bercela. Sebuah aroma samar, entah parfum atau aftershave dari kulit Dimas membuat otak Karina semakin sulit berpikir jernih. Saat Karina mencondongkan tubuh untuk memeriksa layar, pundaknya tak sengaja bersenggolan dengan lengan kekar Dimas. Sederhana, namun dampaknya … tubuh Karina bagai tersengat listrik yang membuatnya kelu. Darahnya mengalir cepat. Seakan tak cukup, fatalnya lagi … bagian dadanya tak sengaja menyentuh lengan Dimas saat Karina beranjak mundur untuk menjauh. Kontan Karina tersentak. Jantungnya menghentak cepat. Diliriknya Dimas hati-hati. Pria itu kini mengerutkan kening, jakunnya naik-turun, seolah tengah menahan sesuatu. Dan fakta itu … sukses membuat kedua mata Karina membelalak. Ini sudah kelewatan. “N-nomornya sudah benar.” ujar Karina tergesa. Dia mengambil langkah mundur. “Sudah malam. Saya ke bawah dulu.” Tanpa menunggu jawaban Dimas, Karina melangkah cepat ke luar. Rasa gugup, malu dan panik berpadu di dada, melengkapi satu rasa yang tak ingin dia akui kehadirannya. Dalam pikirannya hanya satu, dia harus segera pergi sebelum semuanya menjadi semakin di luar kendali. Sesampainya di ruang tamu lantai satu, Karina menutup pintu depan. Badannya disandarkan di pintu yang dingin. Tangannya menjangkau dadanya yang naik turun, megusapnya pelan. Berharap gerakan itu mampu menenangkan debar jantungnya. Wanita itu menghela napas panjang. Pandangannya turun pada pakaian minimnya. Ini semua karena dress sensual ini. Juga, tontonan dewasa yang dia nikmati akhir-akhir ini. Efeknya, ternyata membuat Karina mudah berfantasi. Padahal, tontonan itu dia harap bisa membantunya mencaritahu hal-hal apa yang memantik hasrat kaum adam. Dia berharap, dengan cara itu dia bisa menarik hati suaminya, membuat pria angkuh itu menyentuhnya, menghamilinya, sehingga dengan begitu … Dia bisa bebas dari pernikahan yang bagai penjara, yang menukar keturunan darinya kelak, dengan pelunasan utang. Seandainya Reno tertarik padanya, tentu Karina tak perlu repot-repot menonton video dewasa atau berpakaian minim di rumah. Apalagi tempat tinggalnya menyatu dengan kosan pria. Hal-hal buruk yang mengancam harga dirinya bisa saja terjadi. Mirisnya, Reno tak pernah peduli. Mana pernah dia cemburu? Bagi pria itu, Karina hanyalah penghalang yang diutus keluarga Reno agar memisahkannya dengan Rachel—pacar Reno yang beda keyakinan. Dianggap bagai angin terasa lebih familiar bagi Karina daripada diperlakukan selayaknya istri. Reno akan pulang malam ini, setelah dinas selama satu minggu di Kalimantan—katanya. Entah benar atau tidak. Jika dugaan Karina tepat, pria itu pasti sedang menemui Rachel. Berperan bagai suami tanpa ikatan nikah. Karina menghampiri dapur, hendak membuat kopi untuk Reno. Walau tidak ada kepastian jam berapa tepatnya pria itu pulang, Karina akan tetap menunggu. Semoga saja cangkir kopi itu nantinya tidak melayang lagi. * Pukul dua dini hari ketika Dimas baru menyelesaikan meeting lintas zona waktu dengan kliennya di New York. Dimas menutup laptop dengan sebuah helaan berat. Sudah hampir setahun terakhir dia tidak bekerja di perusahaan mana pun. Tepatnya, setelah kantornya itu melakukan PHK massal. Uang pensiunnya yang besar pun dia pertahankan untuk biaya hidup selama setahun. Walau demikian, bukannya Dimas tak melakukan apa-apa. Setahun tak terikat kontrak kerja, Dimas fokus mengembangkan sebuah perangkat lunak pengelolaan karyawan berbasis AI. Siang-malam dia mengerjakannya selama nyaris 12 bulan hingga akhirnya dia jual dan ditawar oleh perusahaan asing asal Amerika. Mereka sepakat membeli dengan angka yang fantastis—sepuluh miliar rupiah. Uang itu akan segera cair setelah Dimas menyelesaikan beberapa kustomisasi yang akan selesai dalam dua minggu. Tidak berhenti sampai di sana, keberuntungan Dimas juga datang dalam bentuk pekerjaan baru. Seminggu yang lalu, Dimas mengikuti sebuah rekrutmen kerja untuk posisi software engineer di perusahaan teknologi yang berbasis di Kanada. Syukurnya dia lolos dan bisa mulai bekerja minggu depan—full remote dari rumah. Namun, hal baik yang paling tidak diduga-duga justru datang dari lingkungan baru di kosan tempat tinggalnya: kehadiran wanita yang dulu hanya mampu dia kagumi—tanpa mungkin dia miliki. Walau sekarang, situasinya tak berubah—tetap mustahil memiliki, setidaknya dia cukup senang bisa kembali bertemu dan melihat wanita itu baik-baik saja. Dimas melangkah ke luar, hendak merokok di area balkon depan. Ini masih dini hari, tetapi ada sebuah mobil memasuki pelataran. Matanya menyipit menemukan Karina, yang masih dengan gaun malam minimnya, melangkah keluar untuk menyambut mobil itu, lalu menutup pagar. Seorang pria bertubuh tinggi, besar dan tegap turun dari kursi kemudi. Karina mendekat, tampaknya mengulurkan tangan untuk mencium hormat. Ah, jadi itu suaminya. Namun, alih-alih menyambut tangan Karina, pria itu malah menepisnya kasar. Kemudian melangkah masuk dengan ekspresi garang yang tak disembunyikan. Ada rasa iba yang menggelayuti batinnya kala melihat Karina tertunduk di tempat. Dimas mendengus sinis. Pemandangan macam apa ini? Dilihatnya, Karina melangkah masuk ke dalam rumah. Namun tak berselang lama … PRAANG!!! Dimas terkesiap. Suara pecahan kaca itu menyentak jantungnya. Sumber suara itu dari lantai satu. Tempat tinggal Karina. Suara isak tangis perempuan menyusul. “Kamu punya hati nggak sih?” Jantung Dimas bagai remuk redam. Itu jeritan Karina. Sebenarnya, apa yang terjadi? “Pulangin aja aku, Mas!” “DIAM!” gertakan kencang itu menggelegar bagai aba-aba tentara militer. Lalu suara teriakan, hantaman dan tangisan bersusulan. Pikiran Dimas melayang liar. Sepuntung rokok yang masih panjang di tangannya dia lesakkan begitu saja ke asbak. Gegas dia menghampiri anak tangga. Namun, anak tangga yang menghubungkan teras lantai satu dengan balkon depan tempatnya berdiri sudah ditutup rapat. Dan pagarnya dikunci. Sialnya, Dimas tak punya kuncinya. Karina dalam bahaya. Dia tidak bisa diam saja."Kalau aku yang pijat, aku nggak jamin kamu bisa tidur nyenyak setelah ini, Kar.” Dimas membalikkan badan menghadap Karina. Wanita itu tertawa kecil, lalu melatakkan kedua tangannya di atas pundak Dimas.“Sejak awal aku memang nggak berniat tidur siang, Dim.” Karina berbisik dengan senyum lembut yang samar, menyiratkan godaan. Suaranya jernih namun sarat akan undangan.Dimas menelan ludah. Rasa pening akibat mendengar kabar dari Jimmy tadi seolah menguap, digantikan oleh debar yang jauh lebih kencang di dadanya. Perlahan, Dimas menggerakkan tangannya ke bahu Karina. Jemarinya meraba tekstur kain piyama wanita itu sebelum akhirnya menyentuh kulit lehernya yang hangat.“Oke. kamu yang minta ya.” gumam Dimas. Matanya kini terpaut pada kulit mulus Karina yang bagian dadanya hampir separuh terbuka. Napasnya mulai memburu. Agar lebih nyaman, Dimas pindah ke belakang tubuh Karina. Pria itu mulai memijat perlahan pundak sang wanita. Dia berusaha fokus pada otot-otot yang tegang. Namun setap
Dimas menatap layar ponselnya yang menunjukkan panggilan ke nomor Agus tak terjawab.Pesannya sejak tadi juga belum dibalas.Setelah sebuah hembusan napas berat, Dimas menekan tombol untuk melakukan panggilan ke nomor Jimmy.Hanya dalam hitungan detik, nada sambung di seberang bersambut suara bernada tinggi khas Jimmy.“Halo.” “Halo, Jim? Gimana di sana?” Dimas merasakan Karina yang sejak tadi memijat pundaknya dari belakang tiba-tiba bersandar total. Kedua tangan wanita itu kini melingkari lehernya dari belakang sambil wajahnya merapat ke satu sisi wajah Dimas.“Agus kayaknya marah, Dim. Soalnya … Caca jadi salah paham sama dia.”Dimas mengerutkan kening. “Caca salah paham gimana?” “Tadi itu, Agus kepergok waktu ngambil foto cowok yang lagi sama Nita. Blitz-nya nyala, anjir.”Dimas memejamkan mata erat, tangannya menepuk dahi hingga terdengar suara ‘plak’ nyaring.“Terus Agus di mana sekarang? Masih sama lo di situ?”“Nggak. Tadi dia ngejar Caca. Caca juga kayaknya balik duluan. Gu
[ Dimas : Agus lo keluar dari kamar itu sekarang! ]Agus mendongak, menatap Nita yang kini menatapnya tajam.“Siapa?” Nita melipat lengan di depan dada. “Dari Dimas?”Buru-buru Agus menggelengkan kepala. “Bu-bukan Mbak! Ini … iklan dari operator!” bantahnya. Namun wajah panik Agus sama sekali tidak bisa berbohong.“Bilang apa dia?” Nita bertanya dengan nada dingin. Wanita itu bangkit dan berjalan mendekat. Sontak Agus beringsut mundur. “Mbak Nita.” Agus menggeser badannya, jaraknya semakin menjauhi Nita. “Saya tadi ambil foto benar-benar untuk memastikan kalau orang tadi teman saya atau bukan Mbak. Saya bukannya mau berniat mengambil foto Mbak Nita. Saya minta maaf kalau Mbak Nita jadi salah paham.”“Kenapa kamu sebegitu ingin tahunya? Kalau memang dia temanmu lalu kamu mau apa?” Nita berhenti mendekati Agus yang semakin menjauh. Bruk!Punggung Agus menabrak jendela kaca yang dilapisi gorden. Bibirnya mencebik dengan suara rintihan tangis yang dibuat-buat. ‘Harus gimana aku ini?’“
Di dalam lift yang hening, hanya ada Agus dan Nita yang berdiri bersisian. Aroma parfum Nita yang menyengat sekaligus memabukan membuat Agus merinding seketika.Melalui sudut matanya, Agus melirik kaku ke arah Nita. Tak dapat disangkal—terlepas alami atau bukan, kemolekan tubuh Nita yang ‘berisi’ di tempat-tempat yang seharusnya, sangat menggoda fantasi liarnya.Mata Agus tak dapat berkedip memandangi tubuh Nita yang baginya sampai ke level ‘gila’.Agus masih berdiri kaku bagai patung selamat datang. Matanya lurus menatap angka lantai yang terus bergerak naik.“Kok diem?” Nita bersuara, memecah sunyi. Wanita itu bersandar di dinding lift, menatap pantulan Agus di panel pintu. “Tadi di bawah kayaknya semangat banget mau antri.”Agus terbatuk keras, tersedak napasnya sendiri.“A-anu … ini saya lagi fokus Mbak. Fokus menghitung … budget.”Nita tertawa kecil. Tawa yang kali ini terdengar dingin. Ting! Pintu lift terbuka di lantai dua belas.Nita melangkah keluar, menarik tangan Agus meny
Lampu flash kamera yang berkedip bagai pemicu bagi tatapan seluruh orang-orang untuk tertuju pada Agus—pria berkulit gelap yang kini memperbaiki posisi kacamatanya dengan tangan gemetar. Nita, dan juga pria beraura mewah yang berada beberapa meter di depan Agus kini menatap Agus dengan alis bertaut penuh tanya. “Kamu duluan.” ucap Nita pada pria itu sebelum kakinya melangkah cepat menghampiri Agus. Sang pria pun pergi, setelah sempat melayangkan tatapan sinis pada Agus. Melihat Nita berjalan ke arahnya, Agus meneguk ludah. Pandangannya bergeser turun. ‘Mati aku.’ “Ngapain kamu di sini? Foto-foto saya sembarangan kayak gitu. Dikirim Dimas, kamu?” Agus yang panik menggoyangkan telapak tangannya. “Ng-nggak begitu, Mbak. Saya ini … terpesona sama Mbak Nita yang … anu … itu Mbak … ‘berisi’.” Jauh di sudut ruangan, terdengar suara Jimmy yang hampir menyemburkan tawa. “Ja-jadi … saya ke sini ngikutin Mbak Nita ini … memang karena mau … anu Mbak. Mau … antri.” Nita mengernyit
Setelah melalui pemeriksaan di pintu masuk hotel, Agus melangkah tenang masuk ke area lobby. Tampak di depan meja front office, Nita dan pasangannya sedang melakukan cek in.Agus meneguk ludah keras-keras sebelum kemudian berjalan tenang ke dinding di samping meja resepsionis. Pria berkacamata itu berusaha menghampiri sudut yang mudah terlihat seperti sedang mengawasi area meja secara alami.Begitu Agus bersandar ke dinding, sayangnya, Nita dan pasangannya berbalik karena sudah selesai cek in. “Waduh! Malah pergi.” Agus menutup mulutnya panik. Gegas dia mengeluarkan ponsel dan menekan tombol untuk melakukan panggilan ke nomor Jimmy.“Koh, dia masuk ke dalam lift!” Agus memanjangkan leher, melihat Nita baru saja menghilang ke dalam ruang lift.“Yah, nggak gercep sih lo. Ya udah gue ke situ.” Jimmy menutup panggilan. Agus menatap ponselnya sebentar, lalu memeluk benda itu erat-erat. Mulutnya mengerucut, mengekspresikan rasa kecewa atas kegagalannya.Begitu Jimmy masuk ke lobby hotel,
“Saya nggak marah.” Dimas memejamkan mata, lalu mengusap rambutnya ke belakang diiringi hembusan napas yang terdengar berat. “Saya cuma baru sadar. Harusnya … saya nggak melampaui batas. Memang sepatutnya, kita seperti ini. Mbak, pemilik kosan dan saya—” “—Dimas kamu kenapa?” Karina memekik. Tata
Dimas hilang kendali. Sebelah tangannya mencengkeram sisi wajah Karina, sementara satu tangannya yang lain menahan pinggul Karina, menariknya merapat. Bibirnya menjelajah bibir Karina bagai kelaparan. Napas keduanya saling beradu, tersengal, tak beraturan, persis jantungnya yang memburu cepat. Uda
“Kamu nggak perlu bertanggung jawab menikahiku kalau kamu nggak mau.” Gemuruh di dada Dimas terasa memuncak. Dia bergerak maju mendaratkan bibirnya di bibir Karina. Ciuman itu dalam, lembut, tenang, namun di sana, Dimas ingin menunjukkan. Perasaannya pada Karina bukan hal yang bisa diremehkan.
Setelah satu minggu berlalu, Dimas akhirnya mulai menyesuaikan diri dengan ritme kerja di malam hari, dan tidur di siang hari. Sambil menatap bayangan diri pada cermin besar yang menyatu dengan lemari pakaian, Dimas memasukkan lengan ke dalam jaket berkerah andalannya. Malam ini, sesuai janji, Di







