Home / Urban / Godaan Ibu Kos Cantik / 268. Reno dikira maling

Share

268. Reno dikira maling

Author: Harucchi
last update Last Updated: 2026-01-12 22:29:24

“Ngarang kamu! Suaminya lagi pergi kerja! Kuteriakin maling kamu ya? MALIIING!”

Karina memperhatikan Reno yang kini bergerak panik dengan mata membelalak. Jakunnya tampak naik turun saat dia melihat ke arah pintu-pintu tetangga Karina. Ekspresi takutnya cukup menunjukkan bahwa keributan itu membuat para tetangga keluar.

“MAALING! MALING MALING!”

“STOP! SAYA BUKAN MALING!” Reno mengarahkan telunjuknya ke arah wanita berdaster itu. Wajahnya yang dihantam serbuan hujan menatap bengis dengan cara y
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Godaan Ibu Kos Cantik   339. Laki-laki di kosan perempuan

    “Kak, malam minggu ini … ada waktu nggak?”Dimas yang tak siap dengan reaksi di luar prediksi itu tentu terheran-heran. Namun saat dia tanpa sengaja menoleh ke samping ….Ternyata Karina sedang berjalan ke arahnya, dan kini berdiri mematung menatap mereka. Dengan gerakan cepat, Dimas melepas tangan wanita muda itu dan berjalan mundur.“Maaf. Saya ada janji.”Wanita itu tersenyum sekilas. Mengingatkan Dimas pada salah satu foto penghuni kos yang pernah disebutkan Rudi.“Amelia. Usia 22. Mahasiswa tingkat akhir fakultas ekonomi di kampus swasta terdekat. Jarang terlihat keluar dari kamar. Tapi kabarnya sering terdengar suara video call mesra dari kamar itu sepanjang malam.”Dimas memalingkan wajah pada Karina yang kini membuang tatapan ke arah lain.“Kak, boleh minta nomornya? Kakak … tipe aku banget.” wanita bernama Amelia itu menarik tangan Dimas, menggenggamnya erat tanpa melepas tatapan lekat dari wajah pria itu. “Nama kakak siapa?”Lagi, Dimas menepis tangannya dengan tegas. Wajah

  • Godaan Ibu Kos Cantik   338. Bukan dia orangnya

    Caca tertawa kecil. “Masa sih Pak Dimas kayak gitu orangnya? Saya lihat sih, kayaknya setia deh. Walau yah … ada beberapa momen yang bikin saya emosi juga sih sama beliau.”Dimas tertegun. Rahangnya menegang.“Gus … tanya lebih detail.”Di dapur, Agus berdehem kecil. “Momen apa tuh Mbak? Soalnya, saya sendiri … punya banyak momen yang bikin saya emosi ke Dimas juga Mbak. Banyak banget malah.”“Oh ya?” Caca menatap Agus dengan senyum miring. “Hm … apa ya, saya nggak suka beliau suka ikut campur urusan pribadi saya sih. Adalah ceritanya. Intinya pada saat itu, saya sempat merasa lost respect sama beliau. Tapi … sekarang udah nggak sih.”Dimas mengerutkan dahi.“Gus, tanya. Seberapa jauh dia kesal? Apa dia pernah sampai di batas … berniat celakai gue?”Agus meneguk ludah. Ini pertanyaan yang sangat blak-blakan untuk diajukan pada orang yang baru kenal.“Mas Agus, saya duluan ya.” Caca mengangkat mangkuk berisi mie gorengnya, lalu memutar bahu dan berjalan menjauhi Agus. Kontan saja Agus

  • Godaan Ibu Kos Cantik   337. Gombalan maut

    “Duh, jantungku kayak sound horeg.” Agus mengusap dadanya pelan. Senyumnya ditahan kuat-kuat saat dia lihat Caca sedang menuang bumbu mie instan ke dalam mangkuk.Di kamar, Jimmy berseru pada layar ponsel yang melakukan panggilan telepon dengan Agus dalam mode loudspeaker.“Lo pasti bisa Gus. Tenang, jangan panik. Jangan ketauan kalo lo gue bisikin. BHAHAHA!”Dimas di sebelah Jimmy mengernyit, semakin merasa ini bukan ide yang bagus.“Udah sana lo masuk!” perintah Jimmy.Di depan dapur yang terbuka itu, Agus merapikan rambut dan kaosnya sebentar. Lalu melangkah ragu-ragu mendekati Caca.“H-hai.” bisiknya malu-malu.Caca menoleh sekilas. Hanya sekilas. Kuncir kudanya bergoyang kecil saat dia bergerak. “Hai, Mas.” sahutnya, sedikit tak acuh. Mungkin karena lagi sibuk masak, pikir Agus.“Mau pakai kompor ya? Ini tungku sebelahnya kosong, Mas.” ucap Caca lagi, tanpa menatap Agus.“Bukan. A-anu.” Agus meneguk ludah. Jarinya saling bertaut. Baru saja Jimmy bersuara di headset—mendiktenya se

  • Godaan Ibu Kos Cantik   336. Pantau Agus ngegombal

    Jimmy menunduk melihat tumpahan air panas di baju pria berbadan besar itu. Jakunnya naik turun. Zaki, si mantan narapidana kasus pembunuhan itu menarik bagian leher kaos Jimmy, tinggi-tinggi. Air panas yang dipegangnya seketika tumpah dan jatuh berkelontang ke lantai. “A-ampun bang! Maaf nggak sengaja! Beneran nggak sengaja!” Jimmy memelas. Wajahnya memucat. Telapak tangannya menyatu dengan gemetar. Dimas tersentak dan bergegas mendekat. “Mas, tenang Mas. Dia nggak sengaja.” Zaki menoleh cepat ke arah Dimas dan seketika matanya memicing sengit. Tepat detik berikutnya, tubuh Jimmy didorong keras hingga pria kurus itu terduduk menghantam lantai. Tak ada suara apa pun dari mulut lelaki bernama Zaki itu. Kecuali hanya geraman rendah dan tatapan penuh kebencian. Itu bukan tatapan normal seseorang pada orang yang baru dikenal. Terlepas dari betapa kacaunya pertemuan pertama ini. Seolah … Ada kebencian mendalam yang tertanam di sana. Apa maksud tatapan pria ini? Dimas tak ge

  • Godaan Ibu Kos Cantik   335. Dapur gelap dini hari

    “Gue mau minta tolong, Gus. Coba, lo deketin Caca. Bikin dia nyaman dan gali informasi pelan-pelan.”Agus dan Jimmy saling menatap heran satu sama lain. “Ini … soal permintaan tolong lo kemaren?” Jimmy bertanya sambil meletakkan mangkuk ke lantai.Dimas mengangguk. “Bener.”Sementara itu, Agus terdiam sejenak, lalu membuka suara, “Gali informasi apa ya Mas?” “Kemarin gue minta tolong sama kalian, buat selidiki seluruh penghuni kos ini. Salah satu di antara mereka, ada pelaku yang bikin gue dan Karina kemarin kecelakaan.” Dimas memejamkan mata kuat-kuat sejenak, “Dan selama pelakunya masih berkeliaran, bukan mustahil dia akan menyerang lagi. Karina dan gue sangat mungkin akan kembali dia serang.”Dimas memindahkan pandangan pada Agus. “Jadi, Gus. Gue minta, lo deketin Caca. Pancing dia untuk cerita soal gue.”Agus tampak meneguk ludah. “Sa-saya Mas?”“Dim, kalo Agus nggak mau, gue juga mau kok Dim!” Jimmy menunjuk dadanya sendiri. Matanya membeliak penuh semangat bagai ditawari segepo

  • Godaan Ibu Kos Cantik   334. Misi pedekate

    “Sampe lo nipu, gue hancurin hidup lo!” jerit Zee, kemudian kembali menyeret motor.Dimas mendenguskan tawa miris, campuran kesal yang dia tahan dan rasa tak percaya. Bisa-bisanya ada perempuan setidak tahu terima kasih ini? Hampir Dimas mengabaikan teriakan itu ketika dia melihat sesuatu yang membuatnya tercengang.Tato di bagian tengkuk Zee.“Waduh, galak e pol.” Agus bersungut.“WOY! SANTAI KALI!” teriak Jimmy. “Ditolongin malah gak tau diri lo.” Sementara itu, Dimas terpaku. Matanya menyipit, menelisik lekat bentuk tato yang tercetak di tengkuk Zee. Tidak terlalu jelas bentuk apa coretan hitam itu. Namun karena sosoknya telah menjauh, ditelan gelapnya cahaya remang di pekarangan kosan, Dimas tak bisa menebak secara persis.Ini semakin menjadi pertanyaan. Kalau memang benar Zee adalah orang di balik kecelakaan itu, apa motifnya?Dimas mengangkat ponsel yang masih dia genggam, mengetik pesan ke nomor Rudi.[ Rudi, cek ulang semua riwayat penghuni kos bernama Zee. Saya lihat, dia pu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status