Share

Bab 6. ???

last update Huling Na-update: 2025-02-16 02:59:32

Nara duduk di dalam mobil, jari-jarinya menggenggam setir dengan erat. Ia menatap ke luar jendela, memperhatikan bayangan gedung tua tempat ia berjanji bertemu dengan seseorang. Hatinya berdebar kencang. Apakah ini keputusan yang tepat?

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk: "Aku sudah di dalam. Masuklah. Jangan coba-coba membawa orang lain."

Menelan ludah, Nara menarik napas dalam sebelum keluar dari mobil dan melangkah ke dalam gedung. Cahaya lampu redup membuat suasana terasa lebih menekan. Setiap langkahnya bergema di lorong sempit itu.

Di sebuah ruangan kecil, seseorang duduk dengan tenang, menunggunya. Wajah itu tersamar oleh bayangan, Ada sedikit rasa was-was dalam hati Nara. Tetapi ketika ia melangkah lebih dekat, ia merasa lega setelah melihat orang itu dengan jelas.

"Kamu sudah datang," ujar orang itu dengan nada tenang.

Nara mengangguk, menatapnya tanpa keraguan. "Aku ingin tahu semuanya. Jangan ada yang disembunyikan dariku."

Orang itu menyeringai, matanya menelusuri wajah Nara dengan intensitas yang membuatnya merasa terperangkap. "Sejak kapan kamu begitu berani kepadaku, Nara?"

Langkahnya semakin mendekat, hanya menyisakan jarak yang begitu tipis di antara mereka. Udara di ruangan itu tiba-tiba terasa lebih panas. Napas Nara sedikit tertahan saat jemari orang itu menyentuh dagunya, mengangkat wajahnya sedikit.

"Apa kamu benar-benar ingin tahu, duhai Manisku, hmm?" bisiknya, nyaris seperti godaan.

Nara hanya menelan ludah, tetapi ia tidak mundur. Ada sesuatu dalam tatapan orang itu yang menariknya ke dalam pusaran gelap yang mengancam kewarasannya. Sensasi dingin dan panas bercampur menjadi satu saat jemari itu beralih menyentuh pergelangan tangannya, menggenggamnya erat.

"Aku tidak punya banyak waktu untuk permainan ini," ujar Nara, mencoba mengendalikan nada suaranya yang sedikit bergetar. "Katakan sekarang apa yang harus kuketahui."

Senyum tipis itu semakin melebar. "Oh, Sabar dulu Manis. Semua akan terungkap... dengan caraku tentunya, hahaha."

Nara merasakan tubuhnya menegang ketika orang itu semakin mendekat. Ada ancaman tersembunyi di balik keintiman ini, sesuatu yang membuatnya harus waspada... sesuatu yang membuat darahnya berdesir.

Tangan orang itu bergerak lebih jauh, ujung jarinya melintasi garis rahang Nara dengan perlahan. "Kenapa kamu tegang sekali? Apa yang kamu takutkan, hmm? Aku?" bisiknya, bibirnya hampir menyentuh telinga Nara.

Nara menarik napas tajam, tetapi tetap diam. Ia tahu ini permainan dominasi, dan ia tak ingin kalah begitu saja.

"Kau lebih menikmati yang seperti ini, bukan?" Orang itu mendekatkan tubuhnya, nyaris menempel pada Nara.

"Kau tetap saja seorang bajingan, Reno. Jangan bermain-main denganku," desis Nara, matanya menyala dengan ketegangan. "Katakan saja apa yang kau tahu."

“Ha-ha-ha-ha,” Reno tertawa  penuh kemenangan. "Baiklah. Tapi kau harus siap. Kebenaran ini... mungkin akan mengubah segalanya."

Tatapan mereka bertaut, menciptakan ketegangan yang tak terelakkan. Nara bisa merasakan detak jantungnya menggila saat orang itu akhirnya membuka mulutnya, suaranya berbisik di udara yang terasa semakin berat.

"Arka dan Dita... mereka bukan sekadar sekutu. Mereka punya tujuan yang lebih besar, dan kau adalah bagian dari semua permainan mereka."

Nara menyipitkan mata, mencoba mencerna kata-kata itu, "Kau sudah mengatakan itu kepadaku kemarin. Yang aku ingin tahu, sebenarnya apa yang mereka inginkan dariku?"

Reno tersenyum tipis, kali ini dengan sorot mata yang sulit ditebak. "Mereka ingin menghancurkanmu, Nara. Dengan cara yang paling menyakitkan. Dan sayangnya... mereka sudah hampir berhasil."

Jantung Nara serasa berhenti. Ada sesuatu dalam cara orang itu mengatakannya yang membuat bulu kuduknya meremang. "Lalu... kenapa kau memberitahuku hal ini?"

Reno seketika mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi, hampir menyentuh bibir Nara. "Karena aku punya rencana lain. Dan kau?... Kau adalah bagian dari rencana itu."

Nara menghela napas, mencoba mengendalikan gejolak dalam dirinya. "Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku, Tuan Reno?"

Senyuman itu semakin melebar. "Kesetiaanmu. Kepercayaanmu. Dan mungkin... sesuatu yang lebih dari itu."

Nara menyipitkan mata, menahan amarah yang mulai mendidih di dalam dirinya. "Aku bukan bidak yang bisa kau gerakkan semaumu. Apkah kau pikir aku akan pecaya perkataan dari seorang pembohong macam kau hah?…  Jika kau ingin aku percaya, beri aku satu alasan untuk mempercayai apa yang kau omongkan itu."

Reno mengangkat alisnya, seolah terhibur oleh keberanian Nara. "Baiklah," katanya perlahan. "Aku akan memberimu bukti. Tapi kau harus melakukan sesuatu untukku terlebih dahulu."

"Apa?" tanya Nara tajam.

"Temui Arka besok malam. Aku ingin kau memancingnya... buat dia berbicara. Dan aku ingin mendengar setiap detailnya."

Nara terkejut. " Apa?! kau ingin aku memata-matainya?"

"Anggap saja kau mencari kebenaran, Sayang," jawabnya sambil tersenyum licik. "Lakukan ini, dan aku akan memastikan kau tahu segalanya sebelum semuanya terlambat."

Nara menatap dalam ke matanya. Firasatnya mengatakan ini adalah perangkap, tetapi ia juga tahu bahwa ia tak punya banyak pilihan.

"Baik," ucapnya akhirnya. "Aku akan melakukannya."

Orang itu tersenyum puas, tangannya meluncur ke pinggang Nara, menariknya lebih dekat. "Bagus. Dan sebagai imbalan... aku akan memastikan kau mendapatkan lebih dari sekadar kebenaran."

Nara tak menepisnya, membiarkan sensasi berbahaya itu mengalir di tubuhnya. Ia tahu dirinya sedang bermain api. Tapi mungkin, justru api inilah yang akan menuntunnya menuju jawaban yang selama ini ia cari.

Sampai beberapa saat, Nara hanya mandah saja, membiarkan godaan itu merayapi dirinya. Ia hanya bisa menahan nafas, dan memejamkan matanya Ketika Reno memainkan lidah kasar menyapu di area belakang telinga Nara. Membuat Nara terpaksa menikmati sensasi permainan Reno. Dan....

"Kita lihat saja besok malam," bisik Reno tepat di telinganya, mendadak berlalu begitu saja. Meninggalkan aroma misteri yang tak bisa dihindari.

Nara hanya berdiri mematung.  saat sosok itu mendadak  meninggalkannya. menyisakan sebuah janji yang menggantung.

Saat akhirnya ia pulang ke rumah, pikirannya masih dipenuhi dengan pertemuan dengan mantan keasihnya itu. Mobilnya melaju pelan di sepanjang jalan, dan ketika sampai di depan rumah, ia mendadak menginjak rem.

Seseorang berdiri di sana, menunggunya. Sosok yang samar dalam cahaya lampu taman, tetapi cukup untuk membuat jantungnya berdebar kencang.

"Kita perlu bicara, Nara," suara itu menusuk ke dalam kesadarannya, terdengar penuh harap meskipun terkesan dingin.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Gairah Liar Istriku   Bab 135. Bayangan Terakhir

    Udara malam di pelabuhan itu berat dan lembab, beraroma asin laut bercampur dengan sisa-sisa bau logam serta debu jelaga dari kapal yang baru saja berangkat. Lampu-lampu dermaga yang bergetar tertangkap kabut tipis, tampak seperti bintang yang kelelahan dan hampir tenggelam.Di atas dek kapal yang kini tinggal puing-puing, Reno mendekap tubuh Nara. Kehangatan tubuh perempuan itu terasa meresap di balik kain yang robek, namun napasnya yang berat dan tersendat membuat Reno panik. Kulit pucat Nara berkilat lembab oleh keringat dingin.“Bertahanlah, Nara…” bisiknya, suaranya sarat dengan kelelahan dan kekhawatiran yang mendalam. Ia tak lagi merasakan pedih di luka-luka tangannya, atau darah hangat yang masih menetes dari pelipisnya. Yang ada hanya Nara—perempuan yang sudah terlalu lama dihancurkan, bukan oleh musuh, melainkan oleh obsesi kejam orang-orang yang mengklaim diri mereka berkuasa.Reno menuruni tangga darurat kapal dengan kehati-hatian yang menyakitkan, menjejakkan kaki ke derma

  • Gairah Liar Istriku   Bab 134. Siapa

    Tubuh Reno menegang, reflek seketika. Ia memutar kepala perlahan, sorot matanya yang lelah langsung mengeras.Sosok itu—hanya beberapa meter jauhnya—berdiri diam. Siluet yang terserap pekat oleh kabut panas, sesekali tertelan oleh kilatan jingga dari sisa api yang masih merayap. Sebagian wajahnya tersorot, dan itu cukup.Wajah yang dikenalnya.Terlalu dikenal.Air asin bercampur jelaga menetes dari rambut sosok itu, menodai jaket kulit yang kini compang-camping, seolah baru saja diseret keluar dari perut reruntuhan. Namun yang membuat napas Reno tersangkut adalah tatapan mata itu—sepasang iris yang kosong, tak lagi membawa gejolak kebencian maupun harapan, hanya kehampaan yang dingin, sepi, seperti laut dalam di tengah malam.“…Kau…” Reno mencoba berbicara, tapi tenggorokannya tercekat, serak karena asap. “Mustahil… kau seharusnya…”“—mati?” Sosok itu memotong, suaranya pelan, senyumnya tipis, lebih menyerupai ejekan lembut daripada sapaan. “Sayangnya, dunia tak semurah itu, Reno.”Ia

  • Gairah Liar Istriku   Bab 133. Neraka Dalam Gudang

    “Nara!” teriak Reno, suaranya bukan lagi teriakan pertempuran, melainkan jeritan putus asa seorang pelindung.Tak ada jawaban—hanya gemuruh api yang memakan kayu, desis nyala yang seolah mengejek, dan napas Reno sendiri yang terasa tajam dan menyesakkan di tenggorokan.Ia menerjang ke dalam kepulan asap, bau hangus memedihkan mata dan bensin menusuk hidungnya. Panas itu terasa menghanguskan harapan, bukan sekadar membakar kulit. Setiap langkahnya adalah pertaruhan, sepatu berdecit di lantai yang retak, yang sudah mulai menyerah pada amukan api.Di dekat tumpukan peti, ia melihat Nara. Kursi rodanya terguling, lambang ketidakberdayaan yang menyayat, tubuhnya setengah jatuh. Selimut yang menutupi adalah satu-satunya pelindung yang kini tinggal abu di sisi tubuhnya. Reno tanpa berpikir meraih tubuh itu, mengangkatnya dalam pelukan protektif, merasakan bobot ringan dan rapuh yang harus ia selamatkan.“Tahan, Nar—tahanlah sebentar,” bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri, mencari kekuatan

  • Gairah Liar Istriku   Bab 132. Api

    Suara ombak menghantam batu karang di kejauhan, kini terdengar lebih dekat, seperti detak jam yang memperingatkan waktu yang hampir habis. Angin laut yang dingin membawa aroma asin, bercampur anyir karat dan samar bau darah. Dita baru saja mengunci rapat pintu besi gudang tua itu, dan bunyi klik yang mematikan itu terasa seperti pukulan ke dada Reno. Di luar, hujan rintik telah berubah menjadi gerimis yang menusuk, memantulkan cahaya kuning pucat dari lampu mobil yang menyala redup, menciptakan ilusi suram.Reno terhuyung dan berlutut di tanah lumpur. Bukan hanya karena kelelahan fisik, tetapi karena beban kegagalan yang menindihnya. Napasnya tersengal, seperti paru-parunya penuh air dingin. Jari-jarinya yang gemetar memegang pistol, benda dingin yang kini terasa tidak berguna.Di belakangnya, Rayan merintih, suaranya tercekat oleh rasa sakit yang dalam. Ia bersandar di pohon pinus yang basah, darahnya menetes, menciptakan noda gelap yang dengan cepat diserap oleh tanah liat. Udara di

  • Gairah Liar Istriku   Bab 131. Gema yang Menghina

    Tok… tok… tok.Suara ketukan itu datang begitu pelan, tapi energinya cukup untuk membekukan darah di pembuluh nadi Reno. Dunia terasa terdistorsi. Angin malam seolah menahan napasnya, dan derik jangkrik menghilang total. Yang tersisa hanyalah denting halus dari kuku Dita yang menyentuh permukaan logam mobil, sebuah ritme yang dingin yang mengumumkan kedatangan kematian.Reno memejamkan mata, hanya sepersekian detik, memaksa paru-parunya untuk mengingat cara bernapas yang benar. Di sebelahnya, Rayan menatap dengan mata kosong, kulit wajahnya pucat pasi. Ia tak hanya takut; ia merasa bodoh. Mereka berdua baru saja menyadari bahwa bersembunyi di bagasi mobil hanyalah pindah dari satu kandang ke perut binatang buas yang sudah kenyang—dan binatang itu tahu persis di mana mereka berada.Langkah kaki Dita terdengar semakin dekat. Setiap injakan tumitnya yang rapi beradu dengan tanah lembap, menciptakan gema yang menghina di keheningan malam. Ia tidak terburu-buru, dan justru ketenangan yang

  • Gairah Liar Istriku   Bab 130. Udara Malam Seketika Mambeku

    Mobil melaju membelah malam, menembus jalan pesisir yang sepi dan lembap. Hujan baru saja usai, menyisakan embun tebal di kaca jendela dan aroma asin laut yang terasa menusuk. Di dalam bagasi yang gelap, Reno dan Rayan nyaris tak berani bernapas, menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun. Suara mesin mobil, derit roda yang melewati genangan air, dan detak jantung mereka sendiri berpadu menjadi satu kesunyian yang mencekam.Reno berusaha keras menatap melalui celah sempit di penutup bagasi. Ia hanya bisa melihat pantulan samar cahaya lampu jalan yang sesekali menyinari kursi belakang—siluet tempat Dita dan Nara duduk. Setiap detik terasa seperti jam. Pikirannya berlari kencang, menyadari bahwa salah perhitungan sekecil apa pun bisa menjadi akhir hidupnya.Dari earset kecil yang terpasang di telinganya, suara Phantom terdengar lirih, hampir seperti bisikan dari dimensi lain.“Kau masih hidup, Reno?”Reno menjawab dengan suara tercekat, “Masih. Kami di bagasi. Mobil ber

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status