Langit Macau telah menelan sisa-sisa rona senja, berganti menjadi permadani hitam yang dihiasi gemerlap lampu kasino yang tak pernah tidur. Namun di dalam penthouse Mr. Wei, udaranya justru terasa dingin, sarat akan strategi dan kekuasaan. Valdi berdiri di depan jendela kaca raksasa, punggung tegapnya membelakangi Celine dan Lana. Gelas wiski di tangannya bergoyang pelan, memantulkan cahaya kota yang berkelip seperti kunang-kunang. Pertemuannya dengan Mr. Wei berjalan lebih lancar dari yang ia duga; aliansi mereka kini sekeras baja. Namun, Valdi tidak beristirahat. Otaknya, yang setajam pisau bedah, sudah membedah langkah berikutnya.
“Kita kembali ke Jakarta,” ujar Valdi tiba-tiba, suaranya memecah keheningan yang nyaman. Ia berbalik, matanya yang tajam mengunci tatapan Celine dan Lana secara bergantian, tidak menyisakan ruang untuk pertanyaan atau penolakan. “Malam ini juga.”
Sebulan telah berlalu sejak gemerlap pesta pernikahan itu usai. Sebulan sejak Gilang, dengan seragam gagah dan mata berbinar penuh kebanggaan, mencium keningnya sebelum melangkah gagah menuju gerbang keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta. Sebulan sejak ia resmi menyandang status Nyonya Celine Pratama, istri seorang perwira terhormat yang kini tengah mengabdi di belahan bumi lain, meninggalkan dirinya sendirian di dalam sangkar emas yang mereka sebut rumah.Rumah itu adalah mahakarya arsitektur modern di salah satu kawasan paling elit di Jakarta Selatan. Dindingnya yang tinggi menjulang, kolam renang pribadinya yang membiru tenang, dan interiornya yang didesain dengan selera sempurna seharusnya menjadi simbol kebahagiaan. Namun bagi Celine, setiap sudutnya terasa dingin dan hampa. Rumah ini adalah monumen kebohongannya, sebuah penjara mewah tempat ia menjalani hukumannya.
Kilauan lampu kristal yang memantul dari gaun pengantinnya terasa seperti seribu mata yang mengawasi, namun bukan itu yang membuat Celine membeku. Di tengah pesta yang gemerlap, di mana setiap senyum adalah janji, setiap tawa adalah harapan, senyum Celine adalah topeng yang hampir sempurna, menyembunyikan badai di dalam dirinya. Prosesi potong kue baru saja usai, sepotong kue pengantin raksasa telah berpindah tangan, dari tangannya ke bibir Gilang, lalu dari bibir Gilang ke bibirnya, disaksikan sorakan riuh para tamu yang merayakan. Di bawah cahaya yang berpendar, kebahagiaan mereka tampak begitu nyata, begitu membahagiakan. Seandainya saja semua ini takdir yang sesungguhnya.Valdi, berdiri beberapa meter dari mereka, memberi isyarat pelan pada Gilang untuk mendekat. Sebuah gerakan kecil, namun bagi Celine, itu adalah dentuman palu godam yang memecahkan keheningan hatinya. Jantung Celine serasa berhenti be
Musik pernikahan yang agung mengalun merdu, menggetarkan udara dan sanubari. Para tamu, berbalut busana terbaik mereka, tersenyum haru, sebagian menyeka air mata kebahagiaan yang tulus. Di ujung sana, Gilang menunggunya, berdiri tegak dalam balutan seragam militer kebanggaannya, dengan tatapan penuh cinta yang tulus dan binar harapan di matanya. Bibirnya melengkung membentuk senyum lebar yang memancarkan kebahagiaan murni. Semuanya sempurna. Terlalu sempurna, hingga terasa memuakkan.Namun, di dalam diri Celine, badai mengamuk dengan dahsyatnya. Gaun pengantinnya yang indah, dibuat dari sutra terbaik dan dihiasi detail renda nan rumit, terasa seperti baju zirah yang berat, menjerat tubuhnya, menyembunyikan kulit yang masih berdenyut perih dan basah oleh “restu” dari tuannya yang tak kasat mata. Setiap serat kain terasa menjepit, mengingatkannya pada malam-malam panjang di mana kehormatannya dir
“Valdi, sedang apa kamu di sini?!” desis Celine, suaranya bergetar. Ia segera bangkit, gaunnya yang berat terasa seperti belenggu.Valdi melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. “Aku hanya ingin memastikan pengantinku terlihat sempurna,” katanya, suaranya rendah dan serak. Matanya menyapu penampilan Celine dari ujung rambut hingga ujung gaun. “Dan untuk memberikan restu terakhirku.”Makna ganda dalam kalimat itu membuat perut Celine melilit. Ia mundur selangkah, namun punggungnya sudah menabrak meja rias. Ia terpojok.“Pergi, Val. Gilang dan Ayah bisa datang kapan saja,” pinta Celine, mencoba terdengar kuat, namun suaranya lebih mirip permohonan.Valdi tidak mendengarkan. Ia terus melangkah mendekat hingga tubuh merek
Celine merasakan gelombang keempat datang, sebuah kejutan yang tak terduga, melanda dirinya saat ia masih mencoba menormalkan napas dari yang sebelumnya. Tubuhnya kembali kejang, sebuah lengkungan kuat di punggungnya, dan ia menjeritkan nama Valdi lagi, sebuah bisikan putus asa yang menghilang di antara desahan Valdi sendiri.Valdi menunduk, mencium kening Celine, menempatkan tangan di pinggul wanita itu. Ia terus bergerak, menikmati setiap rintihan yang keluar dari bibir Celine. Ia memastikan bahwa pengalaman ini tercetak dalam jiwa Celine, bahwa tidak ada pria lain yang bisa membangkitkan gairah seperti ini dari dirinya. Ia ingin Celine selamanya terikat padanya, bahkan saat ia berada di pelukan pria lain. Ia mengambil alih kendali sepenuhnya, memaksa Celine untuk mencapai puncak berulang kali, hingga wanita itu terkulai lemas di bawahnya, basah kuyup oleh keringat dan air mata kenikmatan, tak mampu lagi
Celine hanya bisa mengangguk, air mata mulai mengalir deras, membasahi tangan Valdi. Ia terlalu lelah untuk melawan, terlalu putus asa untuk menyangkal.Valdi tersenyum puas, senyum yang menjanjikan kehancuran dan kenikmatan tiada tara. “Itu karena kau dan aku ditakdirkan bersama, Cel. Kau adalah milikku. Selalu.” Manipulasi emosional dan takhayul takdir itu adalah senjata barunya yang paling kejam, mengikat Celine lebih dalam ke dalam jeratnya.“Aku mohon, Val,” isak Celine, kini sepenuhnya menyerah, seluruh tubuhnya terkulai di hadapannya. “Satu kali lagi. Sebagai perpisahan.”Permohonan itu adalah musik termanis bagi Valdi. Ia menunduk dan menciumnya. Ciuman itu dalam, penuh dengan semua gairah terlarang dan kepemilikan yang telah mereka bangun. Lidahnya menari dengan berkuasa