Beranda / Urban / Godaan Penghuni Kos Puteri / Keputusan Tante Maya

Share

Keputusan Tante Maya

Penulis: NomNom69
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-11 19:05:31

Sejak kedatangan Rani dan Gita, hari-hari di kos terasa lebih hidup.

Dalam seminggu terakhir, Raga hampir tak pernah menikmati pagi yang tenang.

Kadang baru keluar kamar bawa sapu, sudah disambut tawa Wulan yang duduk di tangga lantai dua.

“Mas Raga, jangan nyapu deket aku, nanti aku jatuh cinta,” seru Wulan sambil menahan tawa.

“Coba aja jatuh beneran, biar aku gak perlu nyapu,” balas Raga santai.

Tawa mereka bergema sampai dapur, di mana Imas sibuk menjemur handuk sambil geleng-geleng kepala.

Hari berganti, dan kebiasaan itu berulang.

Setiap pagi Rahma selalu lebih dulu bangun, seringkali membawakan kopi buat Raga.

“Mas, jangan kerja terus. Nanti cepat tua,” katanya suatu pagi.

“Emang udah tua,” jawab Raga, tertawa kecil.

Rahma membalas dengan senyum yang tulus, senyum yang perlahan menghapus sisa trauma di matanya.

Sore hari, kalau Raga duduk di saung, biasanya Maudy ikut duduk di sebelah.

Kadang cuma ngobrol ringan, kadang diam cukup lama tanpa kata.

“Mas, kamu tuh te
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Kehangatan Pagi With Wulan x Kepulangan Vanya

    Cahaya matahari pagi menyelinap lewat celah gorden kamar Raga, Raga mengerjapkan mata, merasakan beban hangat di dadanya yang ternyata adalah kepala Wulan yang bersandar nyaman. Saat Raga mencoba menggeser tubuhnya pelan untuk beranjak dari ranjang, pelukan Wulan justru semakin mengencang secara tiba-tiba. Wulan menggeliat kecil, kelopak matanya terbuka perlahan. Ia mengerucutkan bibirnya, menatap Raga dengan pandangan yang seolah melarang pria itu pergi selangkah pun dari jangkauan tangannya. "Mas... mau ke mana sih? Jangan bangun dulu kenapa, di sini aja temenin aku," rengek Wulan dengan suara serak-serak basah yang menggoda. "Udah siang, Lan. Nanti Laura nyariin kalau aku nggak ke Kosan," jawab Raga sambil mengelus pipi Wulan lembut. "Biarin aja, sebentar doang kok, gak sampe sejam." sahut Wulan sambil menarik leher Raga agar kembali berbaring di sampingnya. Raga akhirnya menyerah, ia kembali merebahkan tubuhnya dan membiarkan Wulan menindih sebagian tubuhnya dengan posis

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Kecurigaan Wulan x Kondisi Lucy

    Malam semakin larut ketika Marni memutuskan kembali ke kosan. Ia keluar dari rumah Tante Maya, menyusuri gang sempit dengan langkah santai. Raga sempat menawarkan untuk mengantar, tapi Marni menolak dengan alasan jaraknya dekat. Setibanya di gerbang kosan, Marni membuka lalu menguncinya kembali. Ia berjalan ke arah kiri, melewati deretan kamar lantai bawah, rambutnya masih sedikit lembap, tubuhnya terasa lebih ringan dari sebelumnya. Saat Marni tepat di depan kamar Elistia, pintu kamar itu tiba-tiba terbuka. Elistia berdiri bersandar di kusen pintu, segelas bir di tangan kiri dan sebatang rokok di tangan kanan. “Eh, Mar,” sapa Elistia sambil menyipitkan mata. “Kamu habis dari mana? Seger banget kayak abis berenang.” Marni terkejut sesaat, lalu tertawa kecil. “Eh, kamu Lis. Aku kira kamu udah tidur.” “Aku tadi numpang mandi di rumah Tante Maya.” Mendengar itu, ekspresi Elistia berubah sedikit serius. Ia menurunkan gelasnya. “Serius? Emang kamar mandi kamu kenapa?”

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Numpang Mandi x Numpang Berkeringat

    Marni akhirnya tiba di rumah Tante Maya bersama Raga. Rumah itu sudah sunyi, lampu ruang tengah masih menyala. Raga membuka pintu, lalu melangkah ke samping memberi jalan. “Masuk,” katanya singkat. Marni melangkah masuk sambil menenteng perlengkapan mandinya. Matanya sempat menyapu seisi rumah, lalu berhenti ketika Raga menutup pintu dan mengunci perlahan. “Sepi ya,” gumam Marni ringan. Raga hanya mengangguk. Ia berjalan lebih dulu, lalu berhenti di depan sebuah pintu yang letaknya tepat di samping kamarnya. “Kamar mandinya di sini,” ucap Raga sambil menunjuk. “Airnya aman.” Marni mendekat, jaraknya cukup dekat hingga aroma sabun dari tubuhnya masih samar terasa. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu, tapi gerakannya terhenti. Ia menoleh, menatap Raga dengan senyum kecil yang sengaja ditahan. “Mas Raga gak mau nemenin aku mandi?” katanya pelan, nadanya setengah bercanda, setengah menggoda. Raga terkekeh pendek. Ia menggaruk tengkuknya sebentar, lalu menggeleng.

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Paula x Carmella, Kecerobohan Lucy

    Siang harinya di kediaman Nyonya Besar. Ruang makan itu dipenuhi cahaya siang dan suara alat makan yang beradu pelan. Carmella duduk anggun di ujung meja panjang, tersenyum profesional pada para klien yang tengah berbincang soal bisnis. Tangannya baru saja meraih sendok ketika ponsel di samping piringnya bergetar. Nomor tak dikenal. Carmella melirik layar ponsel sekilas, alisnya bergerak tipis. Ia mengangkat telepon itu tanpa banyak pikir, masih mempertahankan senyum sopan. “Siang,” jawabnya singkat. “Siang, Carmella.” Suara itu membuat jemari Carmella langsung menegang. Senyumnya menghilang seketika, Ia mengenali suara itu bahkan tanpa perlu memperkenalkan diri. Carmella berdiri perlahan, menggeser kursinya tanpa suara, lalu memberi isyarat halus pada para klien sambil melangkah menjauh ke sudut ruangan yang lebih sepi. “Paula?” ucapnya pelan tapi dingin. “Dari mana kau dapat nomor saya?” Tatapan Carmella kosong menatap jendela besar di depannya. “Kamu tidak pe

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Godaan Marni x Info Vanya

    Keesokan paginya, Raga sedang menyapu halaman rumah kos. Matahari belum tinggi, udara masih lembap, dan suara sapu lidi bergesekan dengan tanah terdengar pelan. Dari arah tangga bangunan baru, Marni muncul. Ia mengenakan daster tipis bermotif bunga, rambutnya masih terurai acak, seolah baru bangun tidur. “Pagi, Mas Raga,” sapa Marni sambil meregangkan badan sedikit lebih lama. Raga menoleh sekilas. “Pagi, Mbak.” Marni melangkah lebih dekat, berdiri tak sampai satu meter dari Raga. Tatapannya turun naik, memperhatikan lengan Raga yang tegang saat menyapu. “Rajin banget ya pagi-pagi udah bersih-bersih,” ucap Marni sambil tersenyum miring. “Biasa, Mbakk. Namanya juga kerja.” jawab Raga singkat, kembali fokus ke halaman. Marni terkekeh kecil. “Mas Raga tuh dingin banget. Bikin aku makin penasaran.” Raga berhenti menyapu sebentar, menoleh, menatap Marni datar. “Enggak lah, Mbak. Mbak belum sarapan?” Marni terdiam sepersekian detik, lalu tertawa kecil lagi. “Belu

  • Godaan Penghuni Kos Puteri   Menyelidiki Paula x Lucy

    Malam itu, jarum jam menunjukkan pukul sembilan tepat. Ia berdiri di dekat jendela, tirai setengah terbuka, rokok mati terjepit di antara jari tanpa sempat dinyalakan. Vanya menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar, lalu suara yang ia kenal menjawab dari seberang. “Ya, Van.” Vanya menarik napas pendek. “Nyonya,” katanya hati-hati. “Aku mau lapor soal file itu.” Di seberang sana, suara Nyonya terdengar tenang. “Lanjutkan.” Vanya melangkah mendekati kursi, lalu duduk. Punggungnya menegak, Matanya menatap ke arah jendela. “File itu sepertinya bukan di Julian,” ucapnya. “Saya dapat satu nama soal file itu dari Julian, yaitu Paula." Hening sejenak. Hanya terdengar bunyi sendok kecil menyentuh cangkir di seberang telepon. “Kamu yakin?” tanya Nyonya pelan. “Kamu gak lagi di bohongi sama Julian lagi kan, Van?" Vanya menutup mata sesaat, lalu membukanya kembali. Jarinya mengetuk ringanbatang rokok yang berada

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status