Home / Romansa / Gairah Membara Paman Tunanganku / BAB 155 - Hukuman Untuk Vivian

Share

BAB 155 - Hukuman Untuk Vivian

last update Last Updated: 2026-01-12 23:43:56

Setelah memastikan Serena tertidur pulas dalam balutan selimut yang nyaman, Steave membersihkan diri sejenak.

Manik matanya yang semula penuh kelembutan kini berubah menjadi sedingin es. Ia mengenakan pakaian santai dan melangkah keluar, menyusuri lorong kapal pesiar pribadinya menuju bagian dek bawah yang terisolasi.

Ia berhenti di depan sebuah pintu besi. Suara desahan kasar, tawa para pria, dan rintihan frustrasi terdengar dari dalam. Dengan satu gerakan, Steave mendorong pintu itu hingga terbuka.

Pemandangan di dalam ruangan itu sangat berbeda dengan kedamaian di kamar tadi. Vivian yang berada di tengah kepungan tiga anak buah Steave. Wanita itu tampak berantakan, tubuhnya dipaksa melayani nafsu liar mereka di atas meja panjang.

Salah satu anak buahnya yang bertubuh kekar tengah menghantam Vivian dari belakang dengan kasar, tangannya mencengkeram rambut wanita itu hingga kepalanya mendongak.

Di saat yang sama, anak buah lainnya memaksa Vivian melayani kejantannya secara oral, s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 155 - Hukuman Untuk Vivian

    Setelah memastikan Serena tertidur pulas dalam balutan selimut yang nyaman, Steave membersihkan diri sejenak. Manik matanya yang semula penuh kelembutan kini berubah menjadi sedingin es. Ia mengenakan pakaian santai dan melangkah keluar, menyusuri lorong kapal pesiar pribadinya menuju bagian dek bawah yang terisolasi.Ia berhenti di depan sebuah pintu besi. Suara desahan kasar, tawa para pria, dan rintihan frustrasi terdengar dari dalam. Dengan satu gerakan, Steave mendorong pintu itu hingga terbuka.Pemandangan di dalam ruangan itu sangat berbeda dengan kedamaian di kamar tadi. Vivian yang berada di tengah kepungan tiga anak buah Steave. Wanita itu tampak berantakan, tubuhnya dipaksa melayani nafsu liar mereka di atas meja panjang. Salah satu anak buahnya yang bertubuh kekar tengah menghantam Vivian dari belakang dengan kasar, tangannya mencengkeram rambut wanita itu hingga kepalanya mendongak. Di saat yang sama, anak buah lainnya memaksa Vivian melayani kejantannya secara oral, s

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 154- AAAH, Steave.

    Di dalam kamar pada kapal pesiar yang mulai menjauh dari pulau itu, gemuruh ombak menjadi satu–satunya saksi atas kelegaan yang baru saja mereka rasakan.Steave duduk bersandar di kepala ranjang, ia memejamkan mata sejenak lalu membukanya lagi. Di pelukannya, Serena berada dalam dekapan hangatnya, seolah jika ia melepaskan sedikit saja, dunia akan kembali merebut wanita itu darinya.Ia memeluk Serena erat, sangat erat. Memastikan bahwa wanita itu bukan bayangan atau ilusi setelah berhari-hari penuh neraka yang ia lewati.Sementara Serena menyandarkan kepalanya di dada Steave. Tangannya yang gemetar perlahan meraih punggung suaminya, membalas pelukan itu tak kalah erat, seolah mencari kehangatan dan rasa aman yang sempat direnggut.Tak ada kata-kata untuk beberapa saat.Yang terdengar detak jantung mereka yang saling bersahutan. “Aku sangat merindukanmu.” Serena mengusapkan wajahnya pada dada sang suami. “Aku bahkan tidak bisa mencari kata yang tepat untuk mengungkapkan rasa rinduku

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 153 - Terima Kasih

    Catherine segera menindih tubuh Serena yang sudah terbaring pasrah di lantai dengan kedua tangan terikat kuat. Ia memandangi sepasang payudara indah yang membusung kencang dari tubuh Serena. Matanya berkilat penuh dominasi saat menatap wajah wanita itu yang memucat.“Jangan melawan. Ini akan terasa sangat menyenangkan jika kau menikmatinya,” bisik Catherine sembari mulai meraba lekuk tubuh Serena. Jemarinya yang dingin bergerak dengan lancang di atas kulit Serena yang halus, merambat dari pinggang hingga ke atas dada.“Kau gila! Lepaskan aku!” Pekik Serena memberontak. Ia mencoba menggeser tubuhnya untuk melepaskan diri dari himpitan Catherine, namun tenaga wanita itu jauh lebih kuat. Catherine justru semakin menekan tubuh mereka agar saling menempel rapat, membiarkan kulitnya bergesekan dengan dada Serena yang terengah-engah. Setiap gerakan penolakan Serena justru membuat Catherine semakin bersemangat untuk menaklukkannya lebih dalam lagi.Catherine mendadak tersentak ketika sebua

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 152- Aku Suka Sesama Jen*s

    Serena tersentak keras ketika tangan Vivian menancap pada rambutnya dan menariknya dengan kasar. Kepalanya terentak ke belakang, dan tubuhnya terhuyung sebelum terseret paksa.“A–AHH!! Vivian! Lepaskan!!” Serena meronta, kedua tangannya mencoba menahan cengkeraman itu, tapi Vivian menariknya semakin kuat.Setiap langkah seretan membuat punggung dan lengannya tergores tanah keras, batu-batu kecil menusuk kulitnya hingga ranting tajam mengiris betis dan lengannya. Daun-daun kering ikut menempel di tubuhnya, lutut Serena sempat terpelanting dan menyeret banyak lumpur serta pasir.Namun Vivian tidak menunjukkan sedikit pun belas kasihan. Tarikannya penuh dendam, tangan yang menggenggam rambut Serena tidak goyah sama sekali. “Kenapa? Sakit?” Vivian menunduk sedikit, suaranya penuh kepuasan gelap. “Bagus. Rasakan, bahkan belum seberapa dibanding apa yang aku rasakan selama ini.”Serena menggertakkan giginya, matanya berkaca-kaca.“Aku, aku tidak pernah merebut Steave darimu! Aku bahkan tid

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 151 - Ketemu Kau!

    Vivian menggertakkan giginya. Rahangnya menegang, dan matanya berkilat menujukan amarah yang benar-benar tersulut sampai ke inti hatinya.Ucapan Serena tadi terlalu tepat sasaran, dan menyakitkan. Terlalu mirip dengan kenyataan yang selalu ia hindari.Tanpa peringatan, tangannya bergerak cepat ke balik gaun mahalnya.Serena sempat membelalak kecil.Adrian menyadarinya sepersekian detik lebih cepat.Klik!Sebuah pistol hitam mengilap terarah tepat ke wajah Serena.Atmosfer ruangan langsung berubah dingin membeku.“Jangan bergerak!” Suara Vivian terdengar rendah, bergetar oleh amarah tapi tetap stabil. “Sedikit saja kau mendekat ke arahnya, Adrian… peluruku menembus kepalanya tanpa ragu.”Adrian langsung berdiri di depan Serena, menjadikan tubuhnya tameng hidup. “Vivian,” desisnya. “Turunkan itu.”Serena membeku di belakangnya. Jantungnya memukul dada dengan keras, namun ia berusaha tetap bernapas stabil. Adrian berdiri begitu dekat hingga ia bisa merasakan hangat tubuh pria itu melind

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 150 - Siapa Aku Serena?

    Adrian menatap Vivian dengan pandangan penuh selidik, seolah mencoba membaca isi kepalanya. Sampai detik ini ia hanya tahu satu kalau Vivian adalah orang yang menghubunginya dan mengatakan Serena dalam bahaya, harus dibawa sejauh mungkin dari Steave. Itu saja. Namun melihat tatapan Serena yang mulai pucat, dan senyum sinis Vivian yang terasa penuh kemenangan, Adrian sadar, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.“Apa sebenarnya yang kau inginkan?” tanya Adrian dingin.Vivian melenggang masuk ke dalam kamar. Ia berhenti tidak jauh dari mereka, matanya bergantian menatap Serena dan Adrian dengan tatapan seperti singa yang berhasil menjebak mangsanya ke sudut paling sempit.“Tenang saja,” ujarnya sambil tertawa kecil. “Aku tidak datang untuk menyakitinya. Justru aku ingin, membuka sedikit kebenaran.”Serena meremas ujung selimut, jantungnya berdegup kencang. Ada firasat buruk bahwa wanita ini akan melakukan sesuatu yang lebih jahat. Vivian menoleh pada Serena, lalu t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status