Beranda / Romansa / Gairah Membara Paman Tunanganku / BAB 156 - Aku Ingin Seperti Ayah

Share

BAB 156 - Aku Ingin Seperti Ayah

Penulis: Cassian Story
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-13 23:34:57

Paul masuk ke salah satu kamar rumah sakit dengan wajah tegang, sirat matanya penuh campuran kecewa dan amarah. Adrian yang terbaring dengan infus dan perban di tubuhnya hanya bisa menoleh.

Paul berhenti di sisi ranjang. Tangannya terkepal menatap putranya yang begitu keras kepala.

“Aku sudah bilang berkali-kali.” Suaranya dingin. “Jangan libatkan dirimu dengan Nyonya Serena. Jangan ikut masuk ke dalam dunia mereka. Tapi kau tetap keras kepala, Adrian.”

Adrian memejamkan mata sebentar. “Aku hanya… ingin melindunginya,” jawabnya lirih.

“Melindungi?” Paul mendengkus marah. “Apa kau pikir kau pahlawan? Lihat kondisimu sekarang! Nyawamu hampir melayang! Jika Tuan Steave tidak datang tepat waktu, kau bahkan mungkin tak akan bernapas di sini!”

Paul menatap anaknya lama, di balik kemarahan itu, jelas terpancar rasa takut kehilangan. “Aku tidak pernah melarangmu karena benci,” ucapnya lebih lembut. “Aku takut, Adrian. Takut kau hancur karena masalah yang dilakukan orang lain.”

Adrian
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 157 - Hukuman Berlanjut

    Di sudut kota yang paling gelap, terdapat sebuah klub VVIP yang hanya bisa diakses oleh kalangan tertentu. Di salah satu ruangan paling dalam, yang kedap suara dan didominasi warna hitam serta emas, suasana terasa sangat pekat dengan aroma tembakau mahal dan keringat. Di sana, hukuman untuk Vivian dan Clarine, berlanjut dengan cara yang paling menghinakan.Vivian dan Clarine dipaksa berada di tengah ruangan, dikelilingi oleh lima pria berotot yang disewa khusus untuk menghancurkan harga diri mereka. Ruangan itu dilengkapi dengan kamera di setiap sudut, merekam setiap detik kehancuran mereka untuk dikirimkan sebagai laporan kepada Steave.“Giliranmu, jalang,” geram salah satu pria berotot yang memiliki tato penuh di lengannya. Ia menjambak rambut Clarine, memaksanya berlutut di lantai yang dingin.Clarine mencoba meronta, namun pria itu tidak memberi ampun. Ia menekan kepala Clarine dengan kasar, memaksanya melayani kejantannya yang besar dan tegang secara oral. Clarine terbatuk, a

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 156 - Aku Ingin Seperti Ayah

    Paul masuk ke salah satu kamar rumah sakit dengan wajah tegang, sirat matanya penuh campuran kecewa dan amarah. Adrian yang terbaring dengan infus dan perban di tubuhnya hanya bisa menoleh. Paul berhenti di sisi ranjang. Tangannya terkepal menatap putranya yang begitu keras kepala. “Aku sudah bilang berkali-kali.” Suaranya dingin. “Jangan libatkan dirimu dengan Nyonya Serena. Jangan ikut masuk ke dalam dunia mereka. Tapi kau tetap keras kepala, Adrian.” Adrian memejamkan mata sebentar. “Aku hanya… ingin melindunginya,” jawabnya lirih. “Melindungi?” Paul mendengkus marah. “Apa kau pikir kau pahlawan? Lihat kondisimu sekarang! Nyawamu hampir melayang! Jika Tuan Steave tidak datang tepat waktu, kau bahkan mungkin tak akan bernapas di sini!” Paul menatap anaknya lama, di balik kemarahan itu, jelas terpancar rasa takut kehilangan. “Aku tidak pernah melarangmu karena benci,” ucapnya lebih lembut. “Aku takut, Adrian. Takut kau hancur karena masalah yang dilakukan orang lain.” Adrian

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 155 - Hukuman Untuk Vivian

    Setelah memastikan Serena tertidur pulas dalam balutan selimut yang nyaman, Steave membersihkan diri sejenak. Manik matanya yang semula penuh kelembutan kini berubah menjadi sedingin es. Ia mengenakan pakaian santai dan melangkah keluar, menyusuri lorong kapal pesiar pribadinya menuju bagian dek bawah yang terisolasi.Ia berhenti di depan sebuah pintu besi. Suara desahan kasar, tawa para pria, dan rintihan frustrasi terdengar dari dalam. Dengan satu gerakan, Steave mendorong pintu itu hingga terbuka.Pemandangan di dalam ruangan itu sangat berbeda dengan kedamaian di kamar tadi. Vivian yang berada di tengah kepungan tiga anak buah Steave. Wanita itu tampak berantakan, tubuhnya dipaksa melayani nafsu liar mereka di atas meja panjang. Salah satu anak buahnya yang bertubuh kekar tengah menghantam Vivian dari belakang dengan kasar, tangannya mencengkeram rambut wanita itu hingga kepalanya mendongak. Di saat yang sama, anak buah lainnya memaksa Vivian melayani kejantannya secara oral, s

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 154- AAAH, Steave.

    Di dalam kamar pada kapal pesiar yang mulai menjauh dari pulau itu, gemuruh ombak menjadi satu–satunya saksi atas kelegaan yang baru saja mereka rasakan.Steave duduk bersandar di kepala ranjang, ia memejamkan mata sejenak lalu membukanya lagi. Di pelukannya, Serena berada dalam dekapan hangatnya, seolah jika ia melepaskan sedikit saja, dunia akan kembali merebut wanita itu darinya.Ia memeluk Serena erat, sangat erat. Memastikan bahwa wanita itu bukan bayangan atau ilusi setelah berhari-hari penuh neraka yang ia lewati.Sementara Serena menyandarkan kepalanya di dada Steave. Tangannya yang gemetar perlahan meraih punggung suaminya, membalas pelukan itu tak kalah erat, seolah mencari kehangatan dan rasa aman yang sempat direnggut.Tak ada kata-kata untuk beberapa saat.Yang terdengar detak jantung mereka yang saling bersahutan. “Aku sangat merindukanmu.” Serena mengusapkan wajahnya pada dada sang suami. “Aku bahkan tidak bisa mencari kata yang tepat untuk mengungkapkan rasa rinduku

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 153 - Terima Kasih

    Catherine segera menindih tubuh Serena yang sudah terbaring pasrah di lantai dengan kedua tangan terikat kuat. Ia memandangi sepasang payudara indah yang membusung kencang dari tubuh Serena. Matanya berkilat penuh dominasi saat menatap wajah wanita itu yang memucat.“Jangan melawan. Ini akan terasa sangat menyenangkan jika kau menikmatinya,” bisik Catherine sembari mulai meraba lekuk tubuh Serena. Jemarinya yang dingin bergerak dengan lancang di atas kulit Serena yang halus, merambat dari pinggang hingga ke atas dada.“Kau gila! Lepaskan aku!” Pekik Serena memberontak. Ia mencoba menggeser tubuhnya untuk melepaskan diri dari himpitan Catherine, namun tenaga wanita itu jauh lebih kuat. Catherine justru semakin menekan tubuh mereka agar saling menempel rapat, membiarkan kulitnya bergesekan dengan dada Serena yang terengah-engah. Setiap gerakan penolakan Serena justru membuat Catherine semakin bersemangat untuk menaklukkannya lebih dalam lagi.Catherine mendadak tersentak ketika sebua

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 152- Aku Suka Sesama Jen*s

    Serena tersentak keras ketika tangan Vivian menancap pada rambutnya dan menariknya dengan kasar. Kepalanya terentak ke belakang, dan tubuhnya terhuyung sebelum terseret paksa.“A–AHH!! Vivian! Lepaskan!!” Serena meronta, kedua tangannya mencoba menahan cengkeraman itu, tapi Vivian menariknya semakin kuat.Setiap langkah seretan membuat punggung dan lengannya tergores tanah keras, batu-batu kecil menusuk kulitnya hingga ranting tajam mengiris betis dan lengannya. Daun-daun kering ikut menempel di tubuhnya, lutut Serena sempat terpelanting dan menyeret banyak lumpur serta pasir.Namun Vivian tidak menunjukkan sedikit pun belas kasihan. Tarikannya penuh dendam, tangan yang menggenggam rambut Serena tidak goyah sama sekali. “Kenapa? Sakit?” Vivian menunduk sedikit, suaranya penuh kepuasan gelap. “Bagus. Rasakan, bahkan belum seberapa dibanding apa yang aku rasakan selama ini.”Serena menggertakkan giginya, matanya berkaca-kaca.“Aku, aku tidak pernah merebut Steave darimu! Aku bahkan tid

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status