بيت / Romansa / Gairah Membara Paman Tunanganku / BAB 209 - Tangisan Rion dan Leo

مشاركة

BAB 209 - Tangisan Rion dan Leo

مؤلف: Cassian Story
last update تاريخ النشر: 2026-02-08 14:27:40

Malam telah berganti pagi, namun kamar tetap terbungkus kepedihan yang menyakitkan. Serena masih berbaring di atas kasur, matanya menatap jauh ke arah tirai yang sudah mulai menerawang cahaya pagi.

Tangisan anak-anaknya terdengar jelas, Leo yang baru saja bangun mulai menangis karena lapar, sementara Rion berteriak memanggil ibunya dengan suara yang penuh kekhawatiran.

"Bu... Ibu.. aku lapar..." panggil Rion dengan suara kecil dari luar pintu kamar, diselingi tangisan Leo yang semakin merengek
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (6)
goodnovel comment avatar
Farkhani Farkhani
apakah akan sad ending,janganlah thor paling nyesek baca novel terus akhirnya ga bahagia
goodnovel comment avatar
Subaida
Steve pun bodoh udah buat salah masih kerja bukannya jaga anaknya dan isteri kejam banget Steve meskipun cinta tapi anaknya pun dia embat lepas ibunya mati ...
goodnovel comment avatar
Mardiana Suprianingsih
kalau sdh begini siapa yg salah nich, harusnya serena gak perlu tahu masa lalu steave. ayahnya serena juga salah.
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 319

    Bandara malam itu dipenuhi lalu lalang penumpang. Namun di sudut khusus keberangkatan, suasana terasa lebih intim.Serena memeluk Luna dengan hati-hati, tangannya mengusap punggung menantunya penuh kasih. “Jaga diri baik-baik, ya. Jangan terlalu lelah,” ucapnya. Luna mengangguk patuh. “Iya, Bu.”Serena lalu menoleh ke arah Rion. Tatapannya berubah sedikit tegas, khas seorang ibu. “Kamu juga. Jangan terlalu keras kepala.”Rion mengangguk paham. “Iya, Bu.”Sementara itu, Steave berdiri di depan Leo yang sedang menggendong Azzura yang tidak bisa diam.“Awas kamu,” ujar Steve setengah mengancam, tapi dengan nada bercanda. “Kalau Azzura jatuh lagi dan terus menangis–”“Iya Ayah! Intruksi diterima!” Leo langsung panik. “Aku akan menjaga princess Whitmore dengan baik.”Steave mendengus, lalu mengusap kepala Azzura yang malah tertawa tanpa mengerti apa-apa. “Kamu bisa perintahkan apa saja pada Om-mu,” gumamnya pada sang cucu. Leo memutar mata kesal, kalau ayahnya tidak menjanjikan bahwa ia

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 318

    Beberapa hari setelah malam itu, suasana megah menyelimuti sebuah hotel bintang lima di pusat London.Resepsi pernikahan yang selama ini tertunda akhirnya digelar.Aula besar itu dipenuhi cahaya lampu kristal yang berkilauan, dihiasi bunga-bunga segar yang elegan. Tamu undangan datang dari berbagai kalangan pebisnis besar, relasi internasioal, hingga keluarga dekat. Jumlahnya bukan lagi kalanga, tapi hampir mencapai ribuan.Di atas pelaminan, Rion dan Luna berdiri berdampingan.Luna tampak begitu anggun dalam balutan gaun putih panjang yang menjuntai sempurna. Senyumnya tidak pernah lepas, dan matanya berbinar penuh kebahagiaan.Sementara di sampingnya, Rion berdiri tegap dengan setelan jas elegan. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tapi sesekali sudut bibirnya terangkat saat menatap istrinya.Tangannya tidak pernah lepas dari Luna.“Kamu capek?” tanya Rion sedikit menunduk ke arah Luna.Luna menggeleng sambil tersenyum. “Tidak. Aku sangat senang.”Rion menatapnya beberapa detik le

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 317

    Di ruang keluarga, Serena tampak duduk santai di sofa sambil memangku Azzura. Tangan wanita itu dengan sabar menggoyangkan mainan kecil, membuat balita mungil itu tertawa riang tanpa henti.“Pintarnya,” ujar Serena, matanya penuh kasih.Azzura merespons dengan suara celoteh yang belum jelas, tetapi cukup membuat Serena semakin gemas. Ia mengecup pipi kecil itu berkali-kali.Kemudian, ia mendengar langkah kaki yang mendekat, Serena menoleh, lalu mendapati Luna berdiri tidak jauh dari sana. Wajah menantunya itu tampak berbeda, dan sedikit gugup, bahkan cenderung malu.“Luna?” panggil Serena. “Ada yang kamu butuhkan?”Luna menggigit bibir bawahnya sebentar, ragu untuk berbicara. Tangannya saling menggenggam, terlihat sedang menahan rasa canggung.“Ibu…” suaranya sekecil mungkin. “Ya?” Serena tersenyum, menunggu dengan sabar.Luna menarik napas, lalu akhirnya memberanikan diri. “Malam ini… apakah Ibu bisa menjaga Azzura?”Serena terdiam sepersekian detik, lalu matanya langsung menyipit p

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 316

    Selesai makan malam, Luna mengganti lampu kamar dengan lampu tidur yang lebih gelap. Azzura akhirnya tertidur setelah cukup lama bermain lagi di atas tempat tidur. Napas kecilnya terdengar teratur, dan wajah mungilnya tampak damai. Luna mengelus kepala putrinya sebelum berdiri. Ia melangkah keluar kamar, menutup pintu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara.Tubuhnya terasa lelah. Hari ini cukup panjang, jadi ia berniat mandi sebentar untuk merilekskan diri.Namun, baru saja ia tiba di dalam kamar mereka, dua tangan tiba-tiba melingkar dari belakang melingkupi pinggangnya.Luna tersentak dan tubuhnya sempat menegang. “Rion?!” ucapnya kaget.Napas hangat menyentuh lehernya. “Hemm.”Suara rendah itu langsung membuat tubuh Luna melemas. “Kamu ini,” gumamnya, tangannya menyentuh lengan Rion yang masih memeluknya erat.Rion semakin mendekat. Wajahnya bersandar di bahu istrinya. Ia benar-benar lelah.“Kapan pulang?” tanya Luna. “Dari tadi.”Luna tersenyum kecil. “Kenapa tidak bila

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 315

    Beberapa bulan kemudian…Suasana terasa jauh lebih hidup dari biasanya. Rion membawa Luna dan anaknya untuk tinggal kembali di mansion karena Serena terus memohon, dan Rion tidak tega melihat ibunya. Tawa kecil bercampur teriakan riang memenuhi ruangan, membuat siapa pun yang ada di sana sulit untuk tidak ikut tersenyum.Di tengah ruang keluarga, seorang bocah kecil dengan langkah belum sempurna berlari ke sana kemari.“Azzura, pelan-pelan!” seru Leo yang sudah mulai kewalahan.Namun bocah perempuan itu sama sekali tidak berhenti.nKakinya yang mungil terus melangkah cepat, sesekali hampir tersandung karpet, lalu.. Bruk!Ia terjatuh.Semua orang refleks menoleh.Luna yang duduk di sofa langsung menegakkan tubuhnya, tapi belum sempat berdiri, Serena sudah lebih dulu menahan tangannya.“Biarkan saja,” ujar Serena lembut. “Tidak apa-apa.”Luna menggigit bibirnya menahan diri.Sementara itu, Azzura hanya diam satu detik lalu tertawa. Ia bangkit lagi, lalu kembali berlari.“Lihat kan?” gu

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 314

    Ruangan VIP yang ditempati Luna mulai di penuhi aroma makanan yang baru datang. Luna tengah bersandar lemah di ranjang dengan wajah pucat, tapi jauh lebih tenang dibanding beberapa jam lalu.Serena duduk di samping ranjang, memegang mangkuk sup. Dengan penuh perhatian, ia meniupnya sebelum menyuapkan ke arah Luna. “Pelan-pelan, saja,” ucapnya. Luna sempat ragu, matanya melirik ke arah Rion sekilas, seolah meminta izin. Rion yang berdiri tak jauh dari sana hanya mengangguk kecil tanpa mengalihkan pandangan dari tablet di tangannya. Bukannya apa, ia masih bingung harus bagaimana setelah status barunya di akui ibu mertuanya. “Buka mulutmu,” kata Serena.Luna akhirnya mengikuti, menerima suapan itu. “Terima kasih… Bu,” ucapnya malu-malu.“Kamu tidak perlu sungkan. Mulai sekarang, kamu bagian dari keluarga ini,” ujar Serena. Ucapan itu membuat dada Luna terasa hangat. Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, hampir membuatnya ingin menangis.Di sisi lain ruangan, Rion berdiri

  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 131 - Kenapa Tidak Pertemukan Lebih Dulu

    “Terima kasih sudah memikirkan perasaanku. Tapi aku tidak bisa berdiam diri saja. Aku tahu sudah berapa banyak waktu dan tenaga yang kamu keluarkan untuk perusahaan. Sekarang mereka ingin mengambilnya? Jangan harap.”“Baiklah Nyonya Whitmore, kita menikah sekarang.”Flashback off. “Sayang.” Seren

    last updateآخر تحديث : 2026-03-25
  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 126 - Desas-desus dari Pelayan

    Serena berjalan menuju dapur, satu tangannya memegang gelas kecil milik Rion yang sudah hampir kosong. Anak itu tadi merengek minta minum lagi setelah berlarian sebentar di ruang tengah. Namun langkahnya terhenti tepat di ambang pintu dapur.Dari dalam, terdengar suara beberapa pelayan yang sedang

    last updateآخر تحديث : 2026-03-25
  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 132 - Red Room

    Rion sudah mengantuk saat makan malam hampir usai. Serena lebih dulu mengajaknya ke atas untuk menidurkan anak itu yang sudah beberapa kali menguap. Steave mengantar mereka sampai anak tangga pertama, memastikan keduanya sampai di lantai atas. Di ruang depan, Adrian sudah berdiri. Tangannya masuk

    last updateآخر تحديث : 2026-03-25
  • Gairah Membara Paman Tunanganku   BAB 124- Lamaran Steave

    Pesta untuk Rion akhirnya berjalan sebagaimana mestinya.Setelah sambutan singkat sebelumnya, kini sebuah kastil balon besar berdiri di sisi halaman, lengkap dengan perosotan dan kolam bola. Anak-anak dari relasi bisnis Steave yang sebelumnya hanya berdiri kikuk di balik kaki orang tua mereka mulai

    last updateآخر تحديث : 2026-03-25
فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status