로그인Hari-hari berlalu dengan lambat, seolah waktu sengaja berjalan hanya untuk menyiksa Luna. Sejak malam terakhir, Rion jarang muncul dan hanya memberikan sebuah pesan. Bahwa ia sedang sibuk mengurus proyek besar dan meminta Luna menunggu.Luna menjalani hari-harinya seperti biasa atau setidaknya berusaha terlihat biasa. Membantu di dapur, mengurus hal-hal kecil di mansion, kuliah sambil menyembunyikan tubuhnya yang mulai terasa berbeda.Hari ini, Bibi Elena akan pulang. Sejak pagi, Luna sudah bersiap. Ia mengenakan pakaian yang lebih longgar dan rambutnya digerai begitu saja. Ia melangkah cepat menuju halaman depan mansion. Namun langkahnya terhenti. “Luna.” Suara itu membuatnya menoleh.Serena tengah berdiri tak jauh darinya. Sepertinya hendak pergi, dan raut wajahnya berbeda hari ini. Tidak seperti biasanya.Luna langsung merasa tidak enak. “Iya, Nyonya?” jawabnya. Serena mendekat beberapa langkah. “Kamu mau ke mana?”Luna tersenyum tipis. “Saya mau ke stasiun, menjemput Bibi.”
Luna tidak leluasa menggerakan badannya, semakin dirasa ada sesuatu yang kini mendekapnya. Dengan gerakan sangat hati-hati, ia mendongakkan wajahnya setelah berusaha membuka mata, dan langsung menangkap sosok di depannya.Dada bidang yang terbungkus kemeja hitam. Napasnya teratur menandakan orang di depannya tertidur lelap. Deg.Jantung Luna berdegup keras. “Rion…”Matanya langsung melebar, ia sedikit menjauhkan wajahnya, menatap lebih jelas dalam cahaya kamar yang redup. Ia tidak salah. Ini benar-benar Rion. Wajah pria itu begitu dekat. “Ka… kapan dia–”Pikirannya langsung berputar. Setelah terus muntah sejak siang, Luna tidak keluar kamar lagi karena kepalanya sakit. Pasti ia tertidur sejak sore. Lalu… kapan Rion masuk? Bagaimana caranya? Apa mungkin ia tidak mengunci pintu karena saking lemasnya. Lengan Rion melingkar di pinggangnya dan satu menjadi bantalan untuk kepalanya. Wajah Luna memerah dalam gelap. Ia mencoba melepaskan diri tanpa membangunkan pria itu. Namun, geraka
Hari ini ada banyak bahan masakan yang baru tiba dan harus dirapikan, saat Luna tengah sibuk mengerjakan pekerjaannya, seorang pelayan datang menghampiri. “Luna, maaf, boleh minta bantuan?” Pelayan itu menyodorkan sebuah nampan. Luna mengangguk paham, pasti ini harus di antar sekarang. Pelayan itu menyerahkan nampan di tangannya.“Maaf ya… perutku tiba-tiba sakit,” ucap si pelayan sambil menahan perutnya. “Nyonya minta ini dibawa ke ruang santai.”Luna langsung mengangguk. “Iya, biar aku saja.” Ia mengambil nampan itu, lalu segera pergi. Namun langkahnya terasa lebih lambat dari biasanya. Perutnya kembali terasa tidak nyaman. Bukan sekadar mual biasa, tapi terus bergejolak saat ia mencium bau camlian yang dibawa. Luna menarik napas perlahan, mencoba menahannya. “Sebentar saja… habis ini istirahat,” gumamnya lirih.Saat hampir sampai, suara dari dalam ruangan terdengar karena pintu tidak tertutup rapat.Dan dari celah itu, suara tawa terdengar.“Jadi memang tidak mau punya anak?”
Rion mengangkat tubuh Luna dan membaringkannya di atas kasur. Tubuh bagian atasnya sudah terbuka sepenuhnya, memperlihatkan payudara bundarnya menggelembung dengan setiap napas yang tidak teratur. Matanya setengah terbuka, melihat Rion yang kini mulai melepaskan setiap bagian pakaian yang masih dikenakannya.Rion menarik kerah kemejanya, membuka setiap kancing dengan cepat hingga tubuhnya yang tegap dan berotot mulai terlihat.Luna menatapnya bercampur antara rasa malu dan hasrat, tangan kecilnya secara refleks meraih seprai di bawahnya."Tunggu sebentar," bisik Rion dengan suara yang dalam, sebelum melanjutkan melepaskan sisa pakaiannya. Saat akhirnya ia benar-benar terbuka di hadapan Luna, gadis itu melihat dengan mata membelalak, meskipun sudah pernah melihat sebelumnya.Tanpa berlama-lama, Rion merangkak mendekat ke tubuh Luna yang sedang menunggu.Ia mulai memberikan sentuhan lembut pada setiap bagian tubuhnya, dari dahi yang memerah, pipinya yang hangat, hingga ke bagian leher
Beberapa minggu setelah kembali dari villa, segalanya terasa berbeda. Mereka kembali ke aktivitas masing-masing. Luna dan Rion pun tidak banyak bertemu, karena pria itu sangat sibuk sekarang. Pagi ini, Luna keluar dari paviliun. Tas kuliahnya sudah tergantung di bahu, dan rambutnya diikat satu seperti biasa. Ia menuruni anak tangga kecil dengan bersenandung. Namun, langkahnya terhenti saat akan melewati halaman depan mansion, di sana sebuah mobil hitam sudah terparkir.Rion berdiri dengan setelan jas yang sering Luna lihat beberapa waktu terakhir. Namun yang membuat Luna diam bukan itu. Melainkan, seorang wanita yang berdiri di sampingnya.Wanita itu berpakaian formal. Kemeja putih dengan rok pensil, serta rambut yang disanggul. Terlihat seperti seseorang dari dunia kerja, profesional, dan dewasa.Wanita itu mengatakan sesuatu dan Rion sedikit menunduk untuk mendengarkan. Lalu, untuk sesaat, pria itu tampak lebih lunak, cukup untuk membuat hati Luna berdesir aneh. Ia hanya berdir
Suasana aula villa malam itu tampak mewah dan penuh cahaya. Bunga-bunga putih menghiasi setiap sudut, dan suara musik mulai mengalun mengisi acara. Namun di balik keindahan itu… Ada ketegangan yang tidak terlihat. Serena berdiri di sisi suaminya dengan wajah yang sulit disembunyikan kegelisahannya. Matanya beberapa kali melirik ke arah putranya, Rion yang tampak terlalu tenang.Pria itu berdiri tegak dengan setelan hitamnya, tidak ada protes yang diberikan Rion dari kemarin, hanya patuh pada ayahnya. Ini membuat Serena khawatir, Kira-kira apa yang direncanakan putranya. Di sisi lain, seseorang berdiri di hadapan Rion. Cantik, anggun, tapi tatapannya kosong. Berbeda jauh dari kemarin, saat ia begitu antusias memilih gaun, tertawa, dan terus berbicara tentang masa depan. Kini Clarissa seperti orang lain.Sementara itu, di antara para tamu, Leo berdiri di samping Luna. Tangannya terlipat di dada, sambil menyipitkan mata ke arah kakaknya di depan sana. “Apa yang dia rencanakan sebena
Pagi ini, Serena berniat ke rumah sakit untuk melihat ibunya. Saat ia akan pergi, ayahnya menghentikan. "Serena, tunggu sebentar," kata ayahnya, menghalangi langkah Serena yang sudah berada di ambang pintu."Ada apa, Ayah?" tanya Serena, menatap ayahnya dengan bingung."Ayah ikut denganmu ke rumah
Serena mengunci dirinya di dalam kamar sejak kembali dari pemakaman ibunya. Air matanya masih belum berhenti, bahunya masih bergetar karena isakan. Wajah Serena mulai pucat dan lesuh karena lelah secara batin, ia bahkan tidak selera untuk makan.Ayahnya, Richard, selalu berusaha membujuk Serena den
“Hoeek… hoeeekk.”Sudah berkali-kali Serena terus muntah hari ini. Ia bahkan tidak sanggup lagi untuk berjalan dari kamar mandi.“Kenapa aku muntah terus,” lirih Serena terduduk lemas di depan pintu kamar mandi.Jarak kasur dari tempatnya berada jadi sangat jauh, saat Serena mencoba untuk berdiri l
Ethan, berjalan dengan penampilan kusut dan mata memerah. Menggenggam erat tangannya hingga memperlihatkan urat nadinya yang panjang. Lalu membuka pintu apartemen dengan kasar, sontak saja tindakan Ethan mengejutkan Marissa yang tengah bersantai di ruang tamu.Wanita itu memang tinggal di sana seka







