LOGINAngin sore berembus lebih kencang, menggoyangkan dahan pohon kamboja di halaman, namun Juno dan Vivian seolah membeku di tempatnya. Suasana teras yang tadinya hangat karena sisa matahari kini berubah menjadi formal dan kaku."Silakan duduk, Pak Edward, Pak Satya," ujar Juno akhirnya, mencoba memecah keheningan meski suaranya terdengar sedikit berat. Ia menuntun Vivian untuk duduk di kursi rotan, memastikan kaki istrinya yang baru saja sembuh itu dalam posisi nyaman.Edward Harjo mengangguk, lalu memberi kode pada Satya. Pria yang menjabat sebagai notaris itu membuka sebuah map kulit tebal dan mengeluarkan selembar kertas dengan kop surat resmi yang terlihat sangat kuno namun elegan."Tuan Juno, saya tidak akan bertele-tele," buka Edward dengan nada bicara seperti orang yang sedang mengobrol biasa, namun tetap berwibawa. "Kedatangan kami adalah untuk menunaikan pesan besar. Pak Satya, silakan dibacakan bagian intinya."Satya membetulkan letak kacamatanya, lalu mulai membaca dengan
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden kamar, membawa kehangatan yang lembut ke dalam ruangan berlantai kayu itu. Vivian mengerjapkan matanya, merasakan tubuhnya jauh lebih segar setelah tidur yang sangat lelap. Secara naluriah, ia menggerakkan ujung jemari kaki kanannya."Eh?" Vivian bergumam pelan. Rasa nyut-nyutan yang kemarin sempat membuatnya hampir pingsan kini telah mereda, berganti dengan rasa hangat yang masih tersisa dari balutan ramuan Mak Salmah.Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk pelan. Bi Inah masuk membawa nampan berisi baskom air kecil, kain bersih, dan bungkusan daun pisang yang baru. "Selamat pagi, Nyonya. Bagaimana perasaannya? Masih sakit sekali?""Pagi, Bi. Ajaib, Bi! Sakitnya berkurang drastis. Hanya terasa sedikit kaku saja," jawab Vivian sambil mencoba duduk bersandar pada kepala tempat tidur.Bi Inah tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Mak Salmah memang jempolan kalau soal urusan kaki terkilir. Sekarang, ayo kita ganti ramuannya
Namun, kelegaan itu hanya bertahan sementara. Saat air hangat di dalam baskom mulai mendingin, rona merah di pergelangan kaki Vivian justru berubah menjadi biru keunguan yang tampak mengerikan. Pembengkakannya kian nyata, terlihat seperti ada sebuah benjolan kecil yang menyembul dari balik kulit putihnya."Sakitnya makin menjadi, Juno... Rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum," rintih Vivian dengan napas yang mulai tersengal. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai muncul di pelipisnya.Juno yang tadinya berusaha tenang, kini mulai diserang rasa panik. Ia bangkit dan berjalan mondar-mandir di ruang tengah. "Ini tidak beres. Kita harus ke rumah sakit sekarang juga. Bi Inah! Tolong siapkan mobil, kita ke kota!"Bi Inah yang baru saja datang membawa teh hangat tertegun. "Aduh, Den Juno. Maafkan Bibi, tapi jalanan menuju kota di jam segini pasti macet total karena ada perbaikan jembatan di desa sebelah. Belum lagi jarak rumah sakit terdekat itu hampir dua jam dari sini.""Lalu aku haru
"Jangan menunggu besok, ayo kita berkeliling desa sekarang saja," ujar Juno tiba-tiba sambil meletakkan cangkir tehnya yang sudah kosong. Antusiasme terpancar jelas dari wajahnya. "Mumpung matahari belum terlalu rendah, Vian. Cahayanya sedang bagus-bagusnya untuk melihat pemandangan."Vivian sempat terdiam sejenak, menimbang-nimbang kondisi fisiknya. Namun, melihat binar mata Juno yang begitu bersemangat, ia tidak tega untuk menolak. "Baiklah, ayo. Lagipula, duduk diam terlalu lama juga membuat ototku kaku," sahutnya dengan senyum tipis.Keduanya mulai melangkah meninggalkan area pendopo, melewati gerbang kayu belakang rumah yang langsung terhubung dengan jalan setapak menuju pemukiman warga. Udara sore itu terasa semakin sejuk, menusuk pori-pori kulit namun memberikan sensasi segar yang luar biasa.Sepanjang jalan, mata mereka dimanjakan oleh hamparan sawah yang mulai menguning dan pepohonan rimbun yang memagari jalanan tanah tersebut. Suara serangga sore mulai bersahut-sahutan, m
Udara pegunungan yang sejuk menyapa kulit, membawa aroma tanah basah dan wangi bunga kopi yang tertiup angin. Di halaman belakang rumah klasik itu, Juno dan Vivian tampak menikmati momen sederhana yang selama ini terasa mewah bagi mereka.Juno meletakkan selang air setelah memastikan seluruh tanaman hias di sudut taman telah basah. Ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu menoleh ke arah Vivian yang sedang duduk tenang di sebuah pendopo kayu jati yang terletak tepat di atas kolam ikan."Segar sekali udaranya, Vian. Jauh lebih baik daripada polusi di Jakarta," ujar Juno sambil melangkah mendekat.Vivian hanya membalas dengan senyuman lembut. Ia sedang asyik menaburkan butiran pakan ke dalam kolam. Seketika, puluhan ikan koi berukuran besar berebut makanan, menciptakan riak air yang menenangkan hati. Juno duduk di samping istrinya, menerima secangkir teh chamomile hangat yang telah disiapkan Bi Inah di atas meja kecil.Juno menyesap tehnya perlahan. Matanya tida
Fajar menyingsing di ufuk timur, membawa cahaya keemasan yang menembus celah-celah jendela kayu besar di kamar Juno dan Vivian. Namun, ratusan kilometer dari ketenangan perkebunan itu, suasana kontras yang mencekam sedang terjadi di sebuah gang sempit di pinggiran Jakarta.Tiga buah mobil SUV berwarna hitam legam berhenti tepat di depan rumah kontrakan kecil yang pernah dihuni oleh Juno dan Vivian. Suara deru mesinnya yang berat memecah keheningan pagi, membuat beberapa tetangga keluar dengan wajah penuh tanya sekaligus ketakutan.Pintu mobil terbuka serentak. Enam orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam formal turun. Wajah mereka dingin, kaku, dan tanpa ekspresi—tipikal orang-orang yang terbiasa menyelesaikan "masalah" dengan otot."Hancurkan pintunya. Aku tidak mau membuang waktu satu detik pun," suara dingin dan tajam itu muncul dari balik kaca mobil yang perlahan turun. Clarissa duduk di kursi belakang dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya, menyesap kopi ma







