Share

Kehangatan

Author: de Banyantree
last update Last Updated: 2025-12-27 22:44:48

Langkah kaki Clarissa yang menjauh terdengar seperti ketukan palu yang menandakan kemenangan kecil bagi Vivian. Suasana yang sempat menegang perlahan mencair, digantikan oleh aroma lavender dari lilin-lilin yang masih setia berpijar. Namun, Vivian tahu bahwa mengusir Clarissa secara fisik jauh lebih mudah daripada menghapus bayang-bayang pekerjaan yang selalu membuntuti Juno.

​"Dia tidak akan menyerah semudah itu, Juno," bisik Vivian, jemarinya memainkan ujung kemeja linen suaminya.

​Juno menghela napas panjang, menarik kursi untuk Vivian agar istrinya itu bisa duduk. "Aku tahu. Clarissa adalah aset perusahaan yang ambisius, tapi terkadang dia lupa di mana garis batas antara dedikasi dan obsesi. Besok, aku akan bicara secara formal dengannya. Tidak ada lagi kunjungan ke rumah setelah jam kerja, kecuali dalam keadaan hidup dan mati."

​Juno kemudian duduk di hadapan Vivian, menuangkan air putih ke gelas kristal mereka. Ia menatap Vivian dalam-dalam, mencoba mencari sisa-sisa kegelisahan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Tameng

    Lantai kayu vila tua itu berderit nyaring di bawah langkah kaki Clarisa yang terburu-buru. Suasana yang tadinya tenang seketika berubah menjadi kekacauan. Para anak buah Clarisa bergerak sigap, menyambar senjata dan tas perlengkapan mereka, sementara Clarisa sendiri terus mengumpat karena rencananya yang sempurna kini berantakan.​"Seret wanita tua itu keluar! Cepat!" perintah Clarisa dengan suara melengking.​Dua pria bertubuh kekar segera mendobrak pintu sebuah kamar pengap di sudut belakang vila. Di sana, di atas lantai semen yang dingin dan berdebu, Vivian meringkuk. Kondisinya sangat memprihatinkan. Pakaian sutra yang ia kenakan saat diculik kini tampak kusam, penuh noda tanah dan debu. Kedua tangannya terikat erat di belakang punggung dengan tali tambang plastik yang kasar, meninggalkan bekas merah yang menyakitkan di pergelangan tangannya.​Mata dan mulut Vivian ditutup rapat dengan potongan kain abu-abu yang kotor dan berbau apek. Ia tidak bisa melihat, tidak bisa bicara, hany

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Tim bayangan

    Tim bayangan bergerak layaknya hantu di tengah kegelapan pelabuhan. Mereka bukan polisi yang terikat protokol, melainkan ahli pelacak digital dan mantan intelijen yang bekerja di bawah radar. Dalam hitungan menit, mereka mulai menyusup ke sistem enkripsi menara pemancar di sekitar dermaga, menarik data sinyal seluler yang sempat aktif dalam radius satu kilometer.​Juno berdiri mematung di pinggir dermaga, kedua tangannya terkepal di saku jaket. Matanya yang memerah karena kurang tidur terus menatap layar tablet yang dipegang salah satu anggota tim bayangan. Garis-garis digital dan titik koordinat berkedip cepat, namun belum ada satu pun yang menunjukkan keberadaan Clarisa.​Waktu merambat dengan kejam. Satu jam berlalu, lalu dua jam. Keheningan malam mulai pecah oleh suara sayup ayam jantan yang berkokok dari pemukiman nelayan di seberang pelabuhan. Langit yang tadinya hitam pekat perlahan berubah menjadi abu-abu kebiruan.​"Tuan Juno," Bayu mendekat dengan langkah ragu. Ia menyodorka

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Gudang kosong

    Langkah kaki Juno menghantam aspal pelabuhan dengan ritme yang memburu. Paru-parunya terasa terbakar, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan debaran jantungnya yang dipenuhi ketakutan. Di belakangnya, Bayu dan beberapa petugas polisi berusaha mengejar, namun amarah telah memberikan Juno kecepatan yang luar biasa.​Gudang nomor 14 berdiri kokoh di ujung dermaga, tampak seperti raksasa tidur yang mengancam. Pintunya yang terbuat dari seng tebal terlihat tertutup rapat. Tanpa memedulikan prosedur keselamatan, Juno menerjang pintu kecil di samping gerbang utama.​BRAKK!​Pintu itu terbuka dengan sekali dobrak. Juno merangsek masuk ke dalam kegelapan. "Vivian! Vivian, aku di sini!" teriaknya, suaranya menggema hebat menabrak langit-langit gudang yang tinggi.​Ia meraba dinding, mencari saklar lampu dengan tangan gemetar. Saat cahaya lampu neon yang berkedip-kedip mulai menyala, jantung Juno seolah berhenti berdetak.​​Gudang itu kosong. Tidak ada van putih, tidak ada tumpukan barang,

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Tentang nyawa

    Ban mobil Juno menjerit saat ia membanting setir keluar dari area gedung. Di sampingnya, Bayu mencengkeram pegangan pintu dengan wajah pucat, berusaha menyeimbangkan tubuhnya di tengah laju mobil yang ugal-ugalan. Jalanan Jakarta malam itu adalah musuh terbesar mereka; lautan lampu merah dan deretan kendaraan yang mengular seolah sengaja menghalangi jalan Juno.​"Sial! Minggir!" Juno memukul klakson berkali-kali, suaranya parau karena amarah. Ia tidak peduli lagi pada rambu-rambu. Trotoar dan celah sempit di antara bus ia libas tanpa ragu. Pikirannya hanya terisi oleh wajah ketakutan Vivian.​"Tuan, tenanglah sedikit. Kita tidak akan sampai kalau kita kecelakaan di sini," ujar Bayu mencoba menenangkan, meski suaranya sendiri bergetar.​"Bagaimana aku bisa tenang, Bayu?! Istriku ada di tangan bajingan-bajingan itu!" Juno melirik tajam, matanya menyiratkan kilatan emosi yang belum pernah Bayu lihat sebelumnya. "Telepon pihak kepolisian sekarang! Hubungi siapa pun yang bisa membantu kita

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Tak menyangka

    Vivian duduk di balik meja kerja barunya yang megah, namun matanya tidak sedikit pun melirik pada kemewahan di sekelilingnya. Jemarinya menari lincah di atas keyboard laptop, membuka satu per satu folder tersembunyi yang berhasil dipulihkan oleh tim IT Juno.​Semakin dalam ia menggali, semakin sesak dadanya. Folder bertajuk "Operasional Vendor" ternyata berisi tumpukan kuitansi fiktif dan penggelembungan dana yang tidak masuk akal. Clarisa tidak hanya memimpin dengan tangan besi, ia menggerogoti perusahaan ini dari dalam seperti rayap.​"Juno, lihat ini," ujar Vivian saat suaminya melangkah mendekat dengan segelas teh hangat. "Dia mengalihkan hampir tiga puluh persen laba bersih tahun lalu ke perusahaan cangkang bernama 'Garda Utara'. Ini bukan sekadar kesalahan administrasi, ini pencurian berencana."​Juno membungkuk, memperhatikan grafik yang memerah di layar. "Aku sudah menduganya, tapi aku tidak menyangka jumlahnya sebesar ini. Kau hebat bisa menemukannya secepat ini, Vivian."​"I

  • Gairah Nakal Brondong Pemikat Hati   Hancurkan

    "Ini belum selesai, Juno. Kau pikir kau bisa menghapus namaku begitu saja? Kau salah besar," umpat Clarisa dengan suara yang lebih mirip desisan ular. Ia mencengkeram pinggiran kardus hingga kukunya yang dicat merah marun hampir patah.​Dina, yang sejak tadi berdiri kaku di sampingnya, merasa iba sekaligus takut. Meskipun Clarisa sering memperlakukannya seperti pelayan, loyalitas Dina sudah teruji bertahun-tahun. Dengan cekatan, Dina membantu memunguti beberapa botol parfum mahal dan berkas yang berserakan, lalu memasukkannya ke dalam kardus yang sudah agak penyok.​"Ayo, Bu. Kita tidak bisa terus di sini. Orang-orang mulai mengambil foto," bisik Dina sambil melirik beberapa pejalan kaki yang mulai mengeluarkan ponsel mereka.​Clarisa berdiri dengan sisa keangkuhannya, menahan sebuah taksi biru yang kebetulan lewat. Ia tidak menunggu supirnya membukakan pintu; ia masuk begitu saja, disusul Dina yang kerepotan membawa barang-barang mereka.​"Jalan, Pak!" perintah Clarisa tajam.​"Ke ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status