Share

Menghancurkan

Author: Purplexyiii
last update publish date: 2026-09-24 16:24:15

"Nyonya Sterling," ucap Alex mencoba menutupi layar laptop di mejanya yang masih menyala. "Kami sedang mengadakan rapat internal dewan komisaris. Anda tidak punya akses—"

Ivy melangkah masuk tanpa menunggu pria itu selesai bicara. Tumit sepatu hak tingginya menghantam ubin marmer dengan irama yang tenang dan tajam, memecah ketegangan di dalam ruangan yang diisi oleh delapan pria tua berjas mahal. Di belakangnya, dua pria berseragam hitam dari Vanguard Black menyusul, berdiri menempel di sudut p
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Menyesali

    Chloe mendadak berdiri, seketika mencoba meraih tangan Ivy, tapi Arthur langsung melangkah maju sedikit, membuat Chloe ketakutan dan mundur beberapa langkah hingga hampir tersandung kursinya sendiri."Ivy, tolong keluarkan aku dari sini!" jerit Chloe histeris, air mata mulai membasahi wajahnya yang kotor. "Ini semua ide Liam! Dia yang menyuruhku mendekatimu! Dia yang memberiku obat-obat ini! Aku tidak bersalah, Ivy!"Ivy mengamati kekacauan wanita itu dengan dingin. "Kau menikmati uang hasil curian itu bersamanya selama dua tahun, Chloe. Kau memakai perhiasan ibuku di acara amal tahun lalu. Kau pikir aku lupa?""Aku terpaksa!" tangis Chloe pecah, ia berlutut di atas rumput dingin, sambil memegangi kakinya sendiri. "Dia mengancamku! Ivy, kita teman sejak kecil, tolong aku."Ivy berlutut sedikit, menyamakan tingginya dengan Chloe yang menangis tersedu-sedu. Ia meraih dagu Chloe untuk memaksa wanita itu menatap wajahnya."Teman tidak tidur dengan tunangan temannya sendiri, Chloe," bisik

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Kunjungan

    Ivy membalasnya dengan gairah yang sama, jemarinya menyusup ke dalam rambut tebal Arthur, lalu menarik pria itu agar makin merapat.Gaun merah marun milik Ivy dirobek tanpa ampun di bagian bahu, memperlihatkan tali dalaman hitamnya. Ivy tidak peduli pada gaun mahalnya yang rusak, ia justru membantu Arthur melepas kemeja putih pria itu, sehingga membiarkan dadanya yang tegap dan berotot terpampang bebas."Kau semakin berani," gumam Arthur di antara napas mereka yang makin memburu. Tangannya merayap turun, mengangkat pinggul Ivy dan mendudukkannya di atas meja konsol besi berdesain modern yang ada di lorong."Kau yang mengajariku untuk mengambil apa yang kuinginkan," balas Ivy, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Arthur yang pekat. Ia melingkarkan kakinya di pinggang Arthur, menarik pria itu mendekat hingga tidak ada jarak tersisa di antara mereka.Gesekan kulit yang panas dan erangan rendah memenuhi ruangan itu. Di bawah terik matahari siang yang menembus kaca raksasa, mereka men

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Menghancurkan

    "Nyonya Sterling," ucap Alex mencoba menutupi layar laptop di mejanya yang masih menyala. "Kami sedang mengadakan rapat internal dewan komisaris. Anda tidak punya akses—"Ivy melangkah masuk tanpa menunggu pria itu selesai bicara. Tumit sepatu hak tingginya menghantam ubin marmer dengan irama yang tenang dan tajam, memecah ketegangan di dalam ruangan yang diisi oleh delapan pria tua berjas mahal. Di belakangnya, dua pria berseragam hitam dari Vanguard Black menyusul, berdiri menempel di sudut pintu seperti patung algojo."Rapat internal?" Ivy terkekeh pelan. Ia menarik salah satu kursi kulit di ujung meja panjang, menggesernya sedikit, lalu duduk dengan santai. Ia menyilangkan kakinya, membiarkan gaun merah marun berpotongan tegas itu tersingkap sedikit, memperlihatkan paha mulusnya yang cemerlang. "Rapat memindahkan sisa aset perusahaan ke rekening bodong di Panama sebelum pukul sebelas siang?"Delapan pria di meja itu mendadak kaku. Salah satu direktur senior, pria berkepala botak b

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Ampun

    Arthur menarik tubuh Ivy agar mendekat, membiarkan kepala wanita itu bersandar di dadanya yang bidang. Ivy bisa mendengar detak jantung Arthur yang stabil, ritme yang selalu membuatnya merasa bahwa dunia sedang berada dalam genggamannya. Lampu di sana menembus kaca dan menciptakan garis-garis cahaya di atas permukaan marmer yang dingin.Arthur meraih ponsel di meja nakas, menggeser layarnya sebentar, lalu menunjukkannya pada Ivy. "Lihat ini."Ivy menyipitkan mata. Itu adalah notifikasi transfer bank skala internasional. Angka nol yang berderet di sana membuatnya sedikit pusing. "Itu uang Liam?""Itu adalah semua yang dia curi, ditambah denda 'ketidaksopanan' yang kuambil dari rekening rahasia ayahnya di Cayman. Semuanya masuk ke akunmu pagi ini. Kau sekarang secara teknis sepuluh kali lebih kaya daripada saat kau masih bertunangan dengan bajingan itu."Ivy tertawa pendek yang terdengar dingin, tapi penuh kepuasan. Ia merebut ponsel itu, menatap angka-angka tersebut seolah itu adalah t

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Berbeda

    "Kau terlihat sangat berbeda malam ini," bisik Arthur tepat di depan bibir Ivy. "Ada kegelapan di matamu yang membuatku ingin menelanmu bulat-bulat.""Lakukan saja," balas Ivy jahil. "Jangan hanya bicara, Arthur. Aku muak dengan kata-kata."Arthur menarik napas dalam, seolah sedang menghirup keberanian dan amarah Ivy sekaligus. Ia merengkuh pinggang Ivy, mengangkat wanita itu ke atas meja bar yang dingin. Ivy melingkarkan kakinya di pinggang Arthur, menarik pria itu semakin mendekat hingga tidak ada lagi udara yang tersisa di antara mereka.Ciuman itu datang seperti ledakan. Kasar dan penuh dengan rasa haus yang sudah lama dipendam. Arthur mencium Ivy seolah ia ingin menandai setiap inci dari bibir wanita itu, sementara Ivy membalasnya tanpa paksaan. Jemari Ivy menyusup ke rambut hitam Arthur, menariknya agar ciuman itu semakin dalam, semakin menyiksa.Arthur melepaskan tautan bibir mereka sejenak, napasnya memburu kencang di ceruk leher Ivy. "Kau milikku, Ivy Sterling. Kau mengerti?

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Aman

    Ivy menatap Liam yang meratap di bawah kakinya. Sudah tidak ada lagi rasa kasihan yang tersisa, tergantikan rasa hampa yang perlahan terisi oleh kepuasan yang aneh. Ia menyadari jika membalas dendam tidak membuatnya merasa seperti pahlawan, justru itu membuatnya merasa bebas."Kau punya dua pilihan, Liam." Ivy berbicara sambil merapikan sarung tangannya. "Keluar lewat pintu belakang dan hadapi orang-orang yang mencarimu itu, atau aku akan menelepon polisi sekarang dan kau akan menghabiskan dua puluh tahun ke depan di penjara federal atas penggelapan dana. Mana yang menurutmu lebih baik?"Liam terisak, napasnya tersengal-sengal. "Penjara, panggil polisi, tolong, panggil mereka."Ivy menoleh ke arah Arthur. Arthur memberikan isyarat pada tim keamanannya yang sudah menunggu di luar. Dalam sekejap, sirene polisi terdengar mendekat. Arthur sudah mengatur semuanya, laporan, bukti-bukti, hingga koordinasi dengan pihak berwenang agar Liam tidak punya celah untuk membela diri.Saat petugas kep

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status