Share

Kunjungan

Author: Purplexyiii
last update publish date: 2026-09-24 16:25:44

Ivy membalasnya dengan gairah yang sama, jemarinya menyusup ke dalam rambut tebal Arthur, lalu menarik pria itu agar makin merapat.

Gaun merah marun milik Ivy dirobek tanpa ampun di bagian bahu, memperlihatkan tali dalaman hitamnya. Ivy tidak peduli pada gaun mahalnya yang rusak, ia justru membantu Arthur melepas kemeja putih pria itu, sehingga membiarkan dadanya yang tegap dan berotot terpampang bebas.

"Kau semakin berani," gumam Arthur di antara napas mereka yang makin memburu. Tangannya mera
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Keberanian

    Ivy merengkuh leher Arthur dan menarik pria itu agar benar-benar menyatu dengannya. Ciuman mereka terasa asin karena percikan air laut, tapi juga manis karena kemenangan yang baru saja mereka raih. Ketegangan yang sejak pagi tadi ia tahan di ruang rapat kini meledak menjadi gairah yang menuntut pelepasan. Ia tidak lagi peduli pada etika atau batasan. Di atas dek kapal ini hanya ada mereka berdua dan kegelapan yang menjadi saksi.Arthur mengangkat tubuh Ivy dengan mudah, mendudukkannya di atas tepian pagar yang dilapisi bahan sintetis halus. Ia tidak melepaskan tautan bibir mereka meski Ivy sempat memekik pelan karena terkejut. Tangan Arthur yang besar merayap ke balik jas kantor Ivy, merobek kancing kemeja sutranya tanpa sedikit pun penyesalan."Jas ini sangat mengganggu," geram Arthur di sela-sela napasnya yang mulai memburu."Bakar saja kalau kau mau," tantang Ivy dengan nada lembut karena gairah yang mulai menguasai sistem sarafnya. Ia membiarkan jas mahalnya merosot ke lantai dek,

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Jauh

    Seorang koki pribadi berbaju hitam muncul dari area dapur minimalis, menyajikan hidangan pembuka berupa seared scallops dengan truffle butter. Mereka makan dalam keheningan yang nyaman dengan diiringi suara deburan air dan sesekali denting alat makan yang bersentuhan. Ivy merasa beban di pundaknya perlahan menguap. Ia menatap pantulan dirinya di dinding kaca. Wanita di sana terlihat tenang. Matanya masih tajam, tapi tidak lagi dipenuhi oleh paranoia. "Kau melakukan sesuatu pada Chloe lagi?" tanya Ivy tiba-tiba di tengah hidangan utama. Arthur meletakkan pisau dan garpunya. Ia menyesap anggur merahnya sebentar. "Dia sedang menikmati fasilitas detoks yang paling ketat. Aku sudah menutup akses komunikasinya sepenuhnya. Dia hanya akan bicara dengan dokter sampai dia sadar betapa mahalnya harga sebuah pengkhianatan." "Kadang aku merasa kau terlalu jauh, Arthur." "Jauh adalah satu-satunya cara agar mereka tidak kembali lagi, Ivy. Aku tidak ingin kau menoleh ke belakang hanya untuk meli

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Kapal

    Setelah semua dokumen terkumpul, Ivy berdiri. "Kalian punya waktu sepuluh menit untuk mengemasi barang-barang kalian. Setelah itu, keamanan akan menyeret kalian keluar dari sini seolah kalian adalah pencuri. Karena memang begitulah kenyataannya."Tanpa menunggu balasan, Ivy keluar dari ruangan itu. Di koridor, ia berhenti sebentar, menyandarkan punggungnya ke dinding kaca yang memperlihatkan kesibukan kota di bawah sana. Jantungnya berdegup kencang. Ia merasa sangat kuat, tapi di saat yang sama, ada rasa lelah yang luar biasa menyergapnya.Arthur mendekat, melingkarkan lengannya di pinggang Ivy dari belakang. Ia membenamkan wajahnya di leher Ivy, menghirup aroma wanita itu yang memabukkan. "Kau melakukannya dengan sempurna, Sayang. Kau menghancurkan mereka tanpa perlu mengotori tanganmu dengan darah.""Ini baru permulaan. Masih banyak yang harus aku perbaiki," bisik Ivy, ia memutar tubuhnya dalam pelukan Arthur, menatap mata pria itu yang penuh dengan obsesi dan kekaguman."Aku akan m

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Jangkauan

    Ivy tertawa geli, jemarinya menyusup ke rambut Arthur dan menarik kepala pria itu agar menatapnya. "Ini kantormu. Kau punya reputasi yang harus dijaga.""Reputasiku adalah memiliki apapun yang aku inginkan. Saat ini, aku hanya menginginkanmu," cetus Arthur kasar. Ia mendaratkan ciuman di bibir Ivy, ciuman yang penuh gairah yang sudah tidak bisa ditahan lagi.Ivy membalasnya dengan gairah yang sama. Ia membiarkan tangan Arthur bergerak liar di balik gaunnya dan merasakan sentuhan kulit pria itu yang panas di tengah terpaan angin malam."Katakan kau milikku," tuntut Arthur di sela-sela ciumannya."Selamanya, aku milikmu," bisik Ivy, seolah suaranya hilang ditelan angin, tapi Arthur mendengarnya dengan jelas.Satu jam kemudian, mereka berada di dalam lift privat menuju penthouse. Begitu pintu terbuka, tidak ada lagi basa-basi. Pakaian mereka berserakan di lantai marmer ruang tengah. Arthur mengangkat tubuh Ivy, menggendongnya menuju kamar tidur utama yang menghadap langsung ke arah Empir

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Terlambat

    "Kau pikir aku akan datang membawakanmu pengacara atau sebungkus rokok?"Ivy memotong teriakan Liam yang tertahan oleh kaca tebal di antara mereka. Ia duduk tenang, menyilangkan kakinya yang terbungkus celana bahan berwarna arang yang jatuh sempurna di atas sepatu tumit tinggi runcingnya. Di ruangan kunjungan yang pengap ini, bau disinfektan murah dan keputusasaan merayap di setiap sudut, tapi Ivy tampak seperti entitas dari dunia lain yang tersesat di sana.Liam mencengkeram gagang telepon plastik dengan buku jari yang memutih. Wajahnya yang dulu ia banggakan, wajah yang dulu membuat Ivy merasa dicintai, sekarang hanya menyisakan kulit pucat dan kantung mata hitam yang tebal."Kau menghancurkanku, Ivy! Kau bekerja sama dengan monster itu untuk menendangku ke tempat ini!" Liam berteriak pecah melalui speaker kecil.Ivy hanya memiringkan kepala. Ia menatap pantulan dirinya di kaca, lalu beralih pada Liam. "Aku tidak merampas apapun, Liam. Aku cuma mengambil kembali milik ayahku. Lalu s

  • Gairah Obsesi Bos Kejamku   Menyesali

    Chloe mendadak berdiri, seketika mencoba meraih tangan Ivy, tapi Arthur langsung melangkah maju sedikit, membuat Chloe ketakutan dan mundur beberapa langkah hingga hampir tersandung kursinya sendiri."Ivy, tolong keluarkan aku dari sini!" jerit Chloe histeris, air mata mulai membasahi wajahnya yang kotor. "Ini semua ide Liam! Dia yang menyuruhku mendekatimu! Dia yang memberiku obat-obat ini! Aku tidak bersalah, Ivy!"Ivy mengamati kekacauan wanita itu dengan dingin. "Kau menikmati uang hasil curian itu bersamanya selama dua tahun, Chloe. Kau memakai perhiasan ibuku di acara amal tahun lalu. Kau pikir aku lupa?""Aku terpaksa!" tangis Chloe pecah, ia berlutut di atas rumput dingin, sambil memegangi kakinya sendiri. "Dia mengancamku! Ivy, kita teman sejak kecil, tolong aku."Ivy berlutut sedikit, menyamakan tingginya dengan Chloe yang menangis tersedu-sedu. Ia meraih dagu Chloe untuk memaksa wanita itu menatap wajahnya."Teman tidak tidur dengan tunangan temannya sendiri, Chloe," bisik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status