ログイン"Saya harap ini menjadi terakhir kalinya terjadi perkelahian diarea kampus." ucap rektor kampus.
"Baik pak." jawab Leon dan William bersamaan.
"Kali ini kalian hanya saya beri peringatan, jika sampai hal seperti ini terjadi lagi maka saya akan mengeluarkan surat peringatan dan memangil wali kalian. Paham?"
"Paham pak."
"Paham."
"Sebagai hukuman, kalian harus membersihkan seluruh toilet fakultas masing-masing. Jangan harap ada yang bisa kabur dari hukuman ini
Tiara terbangun dari tidurnya, dia menatap ranjang sebelahnya yang kosong tak ada suaminya disana. Tiara lekas bangkit dari tidurnya, dia menyibak selimutnya kemudian turun dari ranjang."Papa kemana?" gumamnya.Tiara keluar dari kamar dan tak lama dia melihat suaminya sedang berdiri diujung lorong rumahnya sambil menatap ke luar. Tiara tersenyum kemudian mendekati suaminya, dia menyentuh lengan Andito membuat Andito menoleh ke belakang."Mah, kenapa bangun?" tanya Andito."Papa kenapa msaih disini dan belum tidur?"Andito menghela nafas panjang, tatapannya kembali menatap keluar jendela."Papa nunggun Ojel mah, sampai sekarang dia belum pulang. Papa khawatir."Tiara tersenyum, dia memeluk tubuh suaminya dari samping."Nozela buka sekali dua kali pah pulang malam, nanti dia juga pulang kok.""Tapi papa khawatir mah."Tiara tersenyum kemudian mengangguk. "Iya pah, gimana kalo mama suruh Liam buat susulin Ojel
Bugh!"Akh!!"Nafas William terengah-engah setelah berhasil menumbangkan dua bodyguard sekaligus, tubuhnya basah karena keringat mengalir deras. Dia menatap kedua sahabatnya yang terluka namun berhasil mengalahkan kedua bodyguard yang lain.Dugh!William menendang perut bodyguard yang sudah tak sadarkan diri, dia mendekati kedua sahabatnya namun tak melihat keberadaan Thalia."Thalia mana?" tanya William.Lego dan Archen saling tatap, mereka juga tak tahu dimana keberadaan Thalia karena mereka sibuk melawan kedua bodyguard itu."Kita nggak tahu." jawab Lego.William menatap pintu ruangan yang tak tertutup rapat, dia segera berlari ke arah pintu dan masuk ke dalam acara pesta ulang tahun Drake."Ikutin Liam." Ajka Archen.Lego mengangguk, mereka segera masuk ke dalam lalu ikut mencari keberadaan Thalia. Archen menghampiri William yang celingukan mencari seseorang."Sekarang kita nggak tahu kemana Thalia perg
"Nozela, lo bikin gue nggak sabar buat mencicipi tubuh lo yang seksi ini." gumam Drake sambil terus menciumi kaki Nozlea.Drake menegakkan tubuhnya, dia menatap Nozela yang semakin bergerak gelisah, bahkan gadis itu sudah menarik-narik bajunya sendiri."Akh, gue kenapa sih?" racau Nozela setengah sadar.Nozela membuka matanya, dia memukul-mukul kepalanya agar tetap waras. Namun perasaan aneh dalam tubuhnya semakin membuatnya gelisah, ada sesuatu yang perlu dia lepaskan namun dia tak tahu apa itu. Tubuhnya panas dan haus akan sentuhan, namun dia tak boleh melakukan itu jika tidak dia akan menyesal.Disela kesadrannya, dia melihat Drake yang tiba-tiba berdiri didepannya. Dia mencoba bangkit dari tidurnya namun tubuhnya terlalu lemas."Drake? Itu kamu kan?" tanya Nozela dengan suara serak.Drake tersenyum, dia lekas membungkukkan tubuhnya ke hadapan Nozela. Satu tangannya dia jadikan tumpunan sedangkan tangan kirinya dia gunakan untuk mengelus
William berjalan dengan pandangan lurus ke depan, tatapan matanya tajam dengan langkah yang pasti. Dia mulai menaiki anak tangga satu persatu, tangan kanannya terkepal erat. Sampai di lantai dua, dia menatap beberApa bodyguard yang berjaga didepan pintu. William yakin bahwa disana lokasi berlangsungnya acara itu.William mendekat ke arah empat bodyguard yang berjaga disana, dia mengeluarkan kartu undangannya kemudian diterima dengan baik."Tunggu." cegah salah satu bodyguard.Bodyguard itu mengeluarkan ponselnya kemudian membuka aplikasi pesan, dia mencocokkan wajah wajah dari pria didepannya dengan pria yang ada diponselnya."Ini orangnya." ucapnya.William mengerutkan keningnya ketika bodyguard itu menahannya."Anda tidak boleh masuk, pemilik acara tidak memperbolehkan anda masuk meski anda memiliki kartu undangan."William mengepalkan kedua tangannya, dia menatap keemapat bodyguard itu dengan tajam dan rahang yang mengetat.
Thalia berjalan mondar-mandir didepan kamar kostnya, berkali-kali dia menatap jam diponselnya yang hampir menujukan pukul sebelas malam. Sudah dua jam sejak William mengabarinya jika hampir tiba di Jakarta namun William tak kunjung sampai ke kostnya.Thalia sangat khawatir dengan Nozela sekarang, ditambah lagi sekarang Fela juga tak bisa dihubungi. Pikiran Thalia sama sekali tak tenang, berkali-kali dia menatap ke arah jalanan berharap ada mobil William yang datang."Duh Liam, lo kenapa lama sih?""Lo bikin gue tambah khawatir aja."Entah sudah yang keberapa Thalia menghembuskan nafas kasar, dia belum bisa tenang sebelum William sampai di kostnya."Jel, semoga lo nggak papa."Tak henti-hentinya Thalia berdoa pada sang pencipta agar selalu melindungi Nozela. Dia tak tahu apa yang akan dia lakukan jika terjadi sesuatu pada sahabatnya."Drake.""Apa dia yang sebaik itu sama Ojel bakal ngelakuin sesuatu yang buruk ke Ojel?"
Drake kembali ke tempatnya, dia membelakan mata saat tak lagi mendapati Nozela disana. Kepalanya celingukan namun sama sekali tak mendapati Nozela dimana pun, Drake menyugar rambutnya ke belakang dengan kasar."Sial, apa Nozela udah balik?" batinnya kesal.Drake menatap beberapa pengawal. "Kemana Nozela?""Dia ada di meja bartender tuan."Drake menatap ke arah meja bartender, dan tak lama dia melihat siluet tubuh Nozela dari belakang. Dia pun lekas menghampiri Nozela yang sedang duduk sendirian."Zel, aku cariin kamu dimana-mana ternyata disini."Nozela menoleh kemudian tersenyum. "Aku lagi nyari kak Fela tapi dia nggak ada."Drake menganggukkan kepalanya, dia menatap gelas ditangan Nozela yang sudah kosong. Dia meraih gelas itu kemudian menyodorkannya pada bartender."Buatkan yang rendah alkohol."Bartender itu mengangguk. "Baik tuan."Drake mengamati Nozela yang terlihat bosan, tatapannya menatap ke seluruh penj
"Gimana, diangkat nggak?" tanya Lego.Archen menghela nafas pelan, dia menjauhkan teleponnya dari telinga lalu menggeleng pelan. Lego ikut menghela nafas kasar, mereka sudah beberapa kali mencba menghubungi sahabatnya namun William tak mengangkat panggilan mereka.Archen menyimpan p
"Liam capek, gue pengen rebahan." Ucap Nozela sambil mendongak menatap wajah William. William menghentikan elusannya pada perut Nozela, dia kemudian membantu Nozela untuk merebahkan tubuhnya ke ranjang. "Elusin lagi." William mengangguk, dia sedikit me
Nozela melambaikan tangannya sebelum keluar dari kelas. Mereka berjalan bersama di koridor kampus yang cukup ramai. "Sayang, kamu nggak papa kan?" Tanya Leon. "Aku nggak papa Le. Emang aku kenapa?" Leon menatap kekasihnya dengan lembut. "Soal di kantin
Plak! "Aduhh." William menggaduh saat wajahnya di pukul Nozela. "Beneran nggak waras lo." Seru Nozela. "Tapi lo suka kan?" Tanya William, lagi-lagi dia memperlihatkan wajah tengilnya. Wajah Nozela memanas saat kembali teringat mirror sel







