LOGINWilliam mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, kedua tangannya mengenggam erat setir mobil dengan tatapannya yang tajam. Rahangnya mengetat saat teringat tuduhan demi tuduhan yang Clarissa berikan padanya. Rasa cemburu Clarissa membuat kekasihnya itu semakin kehilangan kendali, entah bagaimana cara menjelaskan pada kekasihnya jika dia sama sekali tak berbohong.
William menghela nafas kasar dari mulutnya, meski dia sering kehilangan kendali terhadap terhadap Nozela namun dia sama
"Selamat sore Nozela, gimana perasaan kamu hari ini?""Sore dok, saya seharian ini agak nggak mood dok." jawab Nozela."Loh, kenapa? Ada sesuatu yang menganggu kamu?"Nozela melemahkan bahunya. "Saya pengen kuliah lagi dok, saya jenuh dan bosen di rumah terus. Saya kangen main sama temen-temen, padahal saya udah baik-baik aja dok saya juga udah bisa bersentuhan lagi sama orang-orang." jelas Nozela.Dokter perempuan yang memiliki name tag bernama Teresa itu tersenyum, dia pun tiba-tiba menyentuh tangan Nozela membuat Nozela menoleh ke arahnya."Bagaimana ketika saya menyentuh kamu tiba-tiba?"Nozela menggelengkan kepalanya. "Saya tidak merasakan apa-apa lagi dok.""Benarkah?" tanya dokter dengan senyum merekah."Iya dok, itu berarti saya sudah sembuh kan dok?"Dokter melepaskan cekalan tangannya dari tangan Nozela, dia merasa senang karena salah satu pasiennya sudah sembuh. Dia pun segera menuliskan resep o
"Menyatakan terdakwa, saudara Drake Alexander dan saudari Naomi Clarissa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pelecehan seksual berencana sebagaimana dalam dakwaan primair."Tok!Tok!Tok!Palu diketuk tiga kali setelah putusan hakim selesai diucapkan, sidang dinyatakan selesai.Cleo, Marisa dan Fahmi segera menghampiri Clarissa yang sedang m
"Hari ini sidang putusan atas kasus Nozela akan dilaksanakan, apa kamu mau datang?" tanya Jimmy pada putranya.William mengelengkan kepalanya pelan. "Tidak, selesai kualiah nanti Liam mau nemenin Ojel terapi, kebetulan hari ini jadwal dia terapi.""Baiklah, nanti biar Robi yang urus semuanya."William menganggukkan kepalanya, alasan dia tak mau hadir disana adalah tak ingin melihat para pelaku yang sudah menyebabkan Nozela trauma. Dia takut kehilangan kendali saat melihat mereka apa lagi ada Clarissa juga disana.Meski Clarissa sudah melakukan kesalahan yang fatal, namun mereka sudah bersama cukup lama hingga tak mudah begitu saja dia melupakan kenangan itu. Masih ada sedikit rasa iba dihati William jika dia melihat Clarissa di persidangan, dan itu bisa membuatnya ragu.Sambil menghabiskan makanannya, Jimmy melihat wajah putaranya yang tampak murung, dia melirik istrinya yang juga saat ini sedang menatap ke arahnya."Mau tambah lagi?"
Nozela meremas tanganya sendiri ketika berada di ruangan yang cukup luas namun terasa menyesakkan dada, dia mendongak menatap lampu yang menerangi ruangan itu dengan tatapan takut. Pandangannya kembali menatap kesembarang arah, dia sendirian di ruangan itu dengan penerangan yang cukup minim.Kriet.Pintu ruangan terbuka, muncul lah dua orang yang langsung duduk dihadapan Nozela dan satu orang berdiri disampingnya. Jantung Nozela semakin berdetak kecang saat dua orang itu menatapnya dengan intens, dia merasaka keringat menetes melewati lehernya. Kedua tangannya sudah basah karena keringat dingin."Selamat siang." ucap polisi.Nozela tersentak dari lamunannya, matanya bergerak gelisah ke kanan kiri."Anda tidak perlu takut nona, kami hanya akan meminta sedikit keterangan dari anda." ucap polwan yang berdiri disamping polisi.Gluk.Nozela menelan ludahnya kasar. "B-Baik.""Baik, bisa kita mulai?"Nozela menganggukkan kepala
Sepatu berwarna hitam melangkah masuk ke dalam sebiah lift, sepasang kaki jenjang itu berdiri dan tubuhnya bersandar pada dinding lift. Jari tangan panjang itu menekan lantai tertinggi pada gedung itu dan lak lama pintu lift tertutup.Dia mengetuk-ngetukkan jarinya pada dinding lift, matanya menatap datar lurus ke depan. Sesekali dia menghela nafas panjang. Dia mengangkat tangannya dan melihat jam yang melingkar pada pergelangan tangannya.Ting.Pintu lift terbuka, pria tampan dengan tinggi 185cm itu keluar dari lift dengan wajah datarnya."Selamat siang tuan muda." ucap seorang sekretaris, dia berdiri dari duduknya sambil membungkukkan badannya."Papa ada?""Tuan Jimmy ada di dalam tuan muda."William mengangukkan keplanya, dia segera berjalan menuju ruangan papanya dan tak lupa mengetuk pintunya terlebih dahulu sebelum masuk."Akhirnya kamu datang.""Maaf Liam telat pah."Jimmi mengangguk. "Tidak papa, ayo
Nozela menghabiskan hari-harinya di rumah sakit selama satu bulan penuh, gadis cantik yang masih terlihat sedikit pucat itu mulai menunjukkan banyak perubahan. Pipinya yang semula tirus kini mulai terlihat berisi kembali, bahkan sekarang Nozela sudah bisa berinteraksi dengan banyak orang. Meski hanya William yang bisa menyentuhnya, sesekali Nozela masih sering kambuh ketika tak sengaja bersentuhan dengan seseorang.Gadis cantik itu sedang berjalan-jalan sendirian di taman rumah sakit, dia melihat kursi didekat pohon kemudian memilih duduk disana. Nozela memejamkan matanya sambil menarik nafasnya pelan, aroma tahan yang baru saja terkena hujan sedikit menenangkan hatinya.Perlahan mata Nozela terbuka, dia mendongakkan kepalanya dia menatap langit yang masih mendung. Perlahan sudut bibirnya terangkat saat bisa kembali menikmati udara sore dan pemandangna yang indah, dia tak menyangka jika saat ini sudah memasuki musim penghujan.Tes.Nozela mengerjapkan mat







