LOGINWilliam menghela nafas pelan, dia menoleh ke arah Nozela yang juga sedang menatapnya dengan tatapan bingung, perlahan kepalanya mengangguk kemudian kembali menatap ke langit-langit kamar Nozela. William menghela nafas lelah, dia tak tahu apakah harus menceritakan semuanya pada Nozla.
Namun disela pikirannya tentang Clarissa, dia teringat pertanyaan Nozela tentang bagaimana sedandainya jika Clarissa selingkuh. Seketika William mulai mengabungkan kejadian tadi malam di apartemen Clarissa
"Siapa nama lo?""Saya Fela kak."Drake menatap Fela dengan senyum menggoda. "Udah lama kerja disini?"Fela mengangguk. "Sekitar hampir satu tahun.""Nggak perlu terlalu formal, santai aja."Drake kembali meminum minumannya, dia sengaja membooking Fela untuk menjadi pelayan khusus untuknya malam ini. Dia menyukai cara pelayanan Fela yang ramah dan tetap tenang. Sesekali Drake menatap jam dipergelangan tangannya, sudah hampir setengah jam dia disini namun orang yang dia tunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.Fela menatap Drake yang terus menatap jam tangannya, dia juga sesekali ikut menatap ke arah pintu masuk. Fela bisa menebak jika Drake sedang menunggu seseorang, dan lebih tepatnya pasti dia menuggu Clarissa. Fela sangat berharap jika Clarissa akan datang agar dia bisa mendapat informasi lebih."Lo nggak minum?"Pertanyaan Drake membuat Fela terkejut, dia segera mengalihkan perhatiannya pada Drake. Fela tersen
Ceklek.Clarissa tekejut saat tiba-tiba William berada di depan pintu apartemennya, dia membelakkan matanya sambil berusaha membenarkan dress yang digunakannya."Liam."William memperhatikan penampilan Clarissa yang terlalu terbuka, dress hitam dengan panjang diatas lututnya memperlihatkan paha mulus nan putih itu. Tatapannya kembali menatap wajah Clarissa yang sedikit gugup."Kamu mau kemana?" tanya William datar."A-Aku mau pergi sama temanku." jawab Clarssa sedikit gugup."Dengan pakaian seperti ini?" tanya William lagi sambil menaikkan sebelah alisnya.Clarissa celingukan sebentar, dia tak berani menatap mata William. Hal ini diluar perkiraannya, dia tak menyangka William akan datang ke apartemennya tanpa meberitahunya terlebih dahulu. Dia seperti maling yang tertangkap basah, apa lagi dengan pakaian seperti dia takut William akan marah padanya.Perasaan Clarissa mulai tak enak, jika William tetap disini maka rencananya unt
"Apa? Clarissa kakak adik sama Clarie? Kok bisa?"Thalia berdecak pinggang sambil membelakan matanya, hari ini masih pagi namun dia sudah mendengar berita yang sangat menejutkan. Thalia menatap Nozela yang sudah lemas dan terlihat seperti tak memiliki tenaga lagi.Dia lekas duduk di sebelah Nozela, Thalia memegangi pudak Nozela yang tampak lemas."Tapi itu bener bokapnya Clarissa kan?" tanya Thalia.Kepala Nozela mengangguk pelan, rencana yang sudah dia susun dengan matang justru tak membuahkan hasil apapun. Dia dan Thalia sudah salah paham terhadap Clarissa dna menganggap bahwa papa Clarissa adalah selingkuannya.Thalia mengelus pundak Nozela pelan, dia juga sama terkejutnya saat mendengar kabar bahwa pria yang mereka pikir selingkuhan Clarissa itu merupakan papa Clarissa."Udah Jel, ternyata kita cuma salah paham aja kok."Nozela menghembuskan nafas panjang lalu mengangguk, namun dia masih memikirkan perkataan William tentang kissma
"Halo, lo dimana sekarang?""Gue di apart, ada apa?""Jangan pergi dulu, gue kesana sekarang."Tut.Nozela segera menekan pedal gas mobilnya dalam setelah mengetahui keberadaan sahabatnya, tatapannya fokus pada jalanan didepanya. Setelah mengetahui faktanya, Nozela gegas pergi malam ini juga untuk menemui dan memberitahu William yang sebenarnya.Dia sudah tak tahan lagi untuk menyimpan fakta ini barang sedetik pun, William harus segera tahu agar bisa membuat keputusan yang terbaik untuk hubungannya dengan Clarissa. Mobil Nozela memasuki kawasan apartemen mewah, dia memarkirkan mobilnya di basement kemudian keluar."Akhirnya kebusukan lo sebentar lagi terbongkar juga Cla." gumam Nozela.Nozela tersenyum miring, dia lekas masuk ke gedung apartemen kemudian menaiki lift menuju unit Willam. Nozela menyandarkan tubuhnya ke dinding lift sambil melihat ponselnya yang menunjukkan foto Clarissa bersama seorang pria. Dia kembali tersen
"Kita jajan dulu yuk sebelum pulang." ajak Thalia.Nozela mengangguk, mereka segera masuk ke dalam mobil Nozela. Hari ini seharusnya ada jadwal kelas tambahan untuk Nozela namun karena dosen tidak hadir maka kelas dibubarkan. Nozela membawa mobilnya menuju sebuah mini market, setelah sampai mereka segera turun lalu masuk ke dalam."Gue mau beli snack dulu Jel, buat temen nonton nanti."Nozela mengangguk, dia pun pergi ke bagian es kirm dan minuman. Thalia mengambil keranjang kemudian mulai mengambil beberapa makanan ringan. Dia melihat-lihat sambil memilih makanan apa yang akan dia ambil.Dia tiba-tiba menghentikan langkahnya saat melihat snack rasa keju, saat hendak mengambilnya tiba-tiba tubuhnya ditabrak dari belakang oleh sesorang hingga keranjang yang dibawanya jatuh dan makanan ringan yang ada didalamnya tercecer kemana-mana.Thalia memejamkan matanya kesal, dia menundukkan kepalanya kemudian menatap snack yang dia beli berhambur ke lantai.
"Liam....kamu dengerin aku nggak sih?"William menghentikan langkah kakinya, dia menoleh ke belakang kemudian menatap kekasihnya dengan tatapan jengah. Clarissa ikut berhenti saat William berhenti tepat dihadapannya, dia mendengus kasar kemudian bersedekap dada, bibirnya mengerucut karena kesal sudah diabaikan oleh kekasihnya."Ada apa lagi sih Cla?" tanya William mencoba lembut."Kamu tau nggak sih kalo hari ini sahabat kamu itu nyebelin banget? Tadi pagi dia ganggu aku dan bikin aku kesel." jawab Clarissa.William hanya bisa menghembuskan nafas pelan. "Terus mau kamu aku harus gimana?""Ya kamu tegur lah Nozela, aku nggak suka dia ganggu aku terus.""Oke, nanti biar aku tegur."Clarissa tersenyum manis, dia lekas mendekati William kemudian merangkul lengannya."Makasih William sayang."Cup.Clarissa mengecup singkat pipi William kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju apartemen Clarissa. Sore ini setelah p
William buru-buru masuk ke dalam rumahnya, kepalanya celingukan mencari mamanya yang menyuruhnya untuk pulang segera. Namun dia tak menjumpai mamanya sama sekali. William masuk ke dapur, hanya ada beberapa asisten rumah tangga yang tengah menyiapkan makan malam dan seorang penjaga yang kebetulan
Tiara dan Andito berlari tergopoh-gopoh masuk ke kantor polisi di tengah malam. Mereka terkejut saat mendapat telepon dari pihak kepolisian jika putri mereka terlibat kecelakaan dan diserahkan ke kantor polisi oleh warga setempat. "Pak, dimana putri saya?" Tanya Andito dengan nada
Ckit. William menghentikan mobilnya di basement apartemen Clarissa, dia mematikan mesin mobilnya lalu melepas sabuk pengamannya. Dia menatap ke samping dimana kekasihnya sedang merajuk sambil bersedekap dada. Dia menghela nafas panjang lalu membantu kekasihnya melepaskan sab
Ckit.William menghentikan mobilnya didepan rumah Archen, dia lekas keluar dari mobil kemudian masuk ke dalam rumah Archen yang kebetulan pintunya tidak tertutup."Pagi den, mau cari den Archen ya?" sapa asisten rumah tangga Archen.William mengangguk. "Iya bik.""Kebe







