LOGINArkan adalah seorang prajurit elit dengan latar belakang penuh misteri yang mendapatkan misi yang ia anggap sebagai "neraka yang menyamar menjadi surga". Ia ditugaskan untuk melindungi Aura Wijaya, putri tunggal seorang taipan yang memiliki sifat pemberontak dan agresif. Sejak awal, Aura tidak melihat Arkan hanya sebagai pelindung, melainkan sebagai teka-teki menggoda yang harus ditaklukkan sebelum kontrak kerjanya berakhir. Namun, di balik seragam militernya, Arkan menyimpan rahasia besar tentang silsilah darahnya. Melalui pengakuan ibunya, terungkap bahwa Arkan mewarisi bakat Kultivasi kuno dari leluhurnya. Uniknya, kekuatan ini memiliki syarat mutlak: energi Qi dalam diri Arkan hanya akan bangkit dan semakin kuat melalui sentuhan fisik dengan wanita yang memiliki frekuensi energi yang sama, yaitu Aura. Setiap godaan dan sentuhan agresif dari Aura—mulai dari membenarkan kerah baju hingga kontak fisik lainnya—justru memicu gejolak kekuatan supranatural yang dahsyat dalam diri Arkan. Konflik memuncak ketika ayah Aura memaksanya masuk ke dalam perjodohan dengan Vino, seorang pria kejam yang berafiliasi dengan organisasi gelap "Black Lotus". Arkan pun terjebak dalam dilema yang rumit: ● Tugas vs Perasaan: Ia harus memilih antara kesetiaan pada negara dan cintanya pada Aura. ● Kekuatan vs Bahaya: Setiap detak jantungnya untuk Aura bisa membangkitkan kekuatan luar biasa, namun juga berpotensi menghancurkan dunia mereka. Perjalanan mereka membawa keduanya melarikan diri ke pengasingan, di mana Arkan melatih teknik "Napas Naga" dan menyadari bahwa ketulusan cinta Aura adalah kunci kekuatan tempurnya. Dari seorang pengawal yang dingin, Arkan bertransformasi menjadi pelindung dunia bawah tanah yang harus menghadapi pengkhianatan masa lalu, teknologi eksoskeleton, hingga sihir hitam demi melindungi wanita yang dicintainya dan membangun dinasti baru yang menggabungkan bisnis modern dengan kekuatan kuno.
View MoreArkan berdiri mematung di tengah lobi rumah yang lebih mirip istana daripada tempat tinggal manusia.
Pikirannya masih kacau memikirkan ucapan ibunya soal bakat Kultivasi kuno yang terdengar seperti dongeng sebelum tidur. "Sialan, kenapa tugas pertamaku harus begini?" batinnya sambil menyesuaikan jas hitam yang terasa mencekik leher. Dia melirik jam tangan taktisnya, mencoba menghitung berapa detik lagi dia harus bertahan di lingkungan borjuis ini. Menjadi pengawal seorang putri taipan seharusnya adalah pekerjaan mudah bagi mantan prajurit elit sepertinya. Tapi Arkan merasa ada yang salah dengan firasatnya sejak kaki kanannya menginjakkan kaki di lantai marmer ini. Tiba-tiba, suara teriakan melengking dari arah balkon lantai dua memecah kesunyian rumah mewah itu. "Aku mau terbang! Lihat semuanya, aku bisa terbang!" Sesosok gadis dengan gaun pesta yang acak-adakan tampak berdiri limbung di tepi pagar pembatas balkon. Aura Wijaya, putri tunggal sang taipan, tertawa cekikikan sambil memegang botol minuman di tangan kanan. Matanya yang sayu karena mabuk berat menatap ke arah kolam renang jauh di bawah sana. "Aura! Turun dari sana! Kamu bisa mati, Nak!" teriak sang Taipan dengan wajah pucat pasi dari lantai bawah. Arkan tidak menunggu perintah kedua dari majikan barunya itu. Dia berlari secepat kilat, melewati tangga marmer dengan gerakan yang hanya bisa dilakukan oleh prajurit terlatih. 'Duh, baru hari pertama kerja sudah ada drama bunuh diri saja,' keluh Arkan dalam hati sambil melompati anak tangga. Tepat saat kaki Aura terlepas dari lantai balkon, sebuah tangan kekar menyambar pinggangnya dengan kasar. *Brakkkk!* Keduanya jatuh berguling di atas lantai balkon yang dingin dan keras. Arkan mengatur napasnya yang memburu, jantungnya berdegup kencang bukan karena lari, tapi karena aksi gila barusan. "Lepasin! Siapa sih kamu? Berani banget pegang-pegang pinggang orang!" Aura meronta di dalam pelukan Arkan. Arkan tetap diam, berusaha menjaga profesionalitasnya meskipun bau alkohol dari napas gadis itu menusuk hidungnya. "Saya Arkan. Pengawal pribadi baru Anda, Nona Aura," jawabnya dengan suara sedingin es. Aura berhenti meronta seketika, dia mendongak dan menatap wajah Arkan dari jarak yang hanya terpaut beberapa senti. Senyum nakal mulai terukir di bibir merahnya yang basah karena sisa minuman keras. "Oh, jadi kamu mainan baru yang dibeli Papa buat jagain aku?" bisiknya dengan nada menggoda. *Deggg...* Arkan merasakan sesuatu yang aneh saat telapak tangan Aura menyentuh lehernya secara tidak sengaja. 'Apa-apaan ini? Kenapa rasanya ada setruman listrik yang masuk ke tulang belakangku?' batin Arkan mulai panik. Aliran hangat mulai menjalar dari titik sentuhan itu, berputar-putar di dalam dadanya seperti badai yang baru bangun. Aura makin berani, dia malah sengaja merapatkan tubuhnya ke dada bidang Arkan hingga tidak ada celah tersisa. "Wah, pengawalku ternyata ganteng juga ya kalau dilihat sedekat ini. Matamu tajam sekali, Arkan." "Nona, tolong jaga jarak. Anda sedang mabuk berat dan ini sangat tidak sopan," ujar Arkan tegas. "Ta-tapi aku tidak mau lepas. Tubuhmu keras sekali, kayak batu. Terus... kok ada suaranya?" Aura menempelkan telinganya tepat di atas jantung Arkan yang sedang berdegup kencang akibat reaksi Qi. Sentuhan itu membuat energi Qi di dalam tubuh Arkan mendidih seketika, jauh lebih kuat dari sebelumnya. Pandangan mata Arkan mulai sedikit memerah, ada kekuatan dahsyat yang memaksa ingin keluar dari otot-ototnya. 'Sialan! Kenapa teknik Napas Naga ini malah mau aktif sekarang?' Arkan mengumpat dalam hati sambil menahan napas. Dia teringat kata ibunya kalau kekuatannya hanya bisa aktif jika bersentuhan dengan wanita dengan frekuensi energi tertentu. Dan sialnya, wanita "Katalis" itu adalah si pemberontak manja yang sekarang sedang menggesekkan hidungnya ke lehernya. Aura menarik kerah baju Arkan dengan kuat hingga dua kancing teratas terlepas dan memantul di lantai balkon. "A-anu, Nona... tolong berhenti. Sa-saya bisa hilang kendali kalau Anda terus memancing seperti ini," ucap Arkan terbata-bata. "Hilang kendali? Bagus dong! Aku memang mau lihat apa yang bisa dilakukan prajurit elit sepertimu padaku." Aura terus meracau sambil mencoba meraih wajah Arkan untuk mendekat ke arah wajahnya sendiri. Arkan merasakan dorongan liar untuk membalas sentuhan itu, sebuah insting purba yang dipicu oleh bangkitnya kekuatan kuno. Tangannya gemetar hebat, keringat dingin mulai membanjiri pelipisnya karena menahan gejolak supranatural yang gila. 'Hadeuhhh, kalau begini terus, pertahananku bisa jebol dalam hitungan detik!' batin Arkan sambil memejamkan mata. Energi Qi di dalam perut bawahnya mulai berputar membentuk pusaran yang panas, membuat suhu tubuhnya naik drastis. "Nona Aura, cukup! Ini sudah keterlaluan!" Arkan menggunakan sisa-isisa kesadarannya untuk merangkul tubuh mungil itu dan mengangkatnya sekaligus dalam satu gerakan. Dia berjalan cepat menuju kamar utama, mengabaikan tawa mengejek Aura yang terus membisikkan kata-kata nakal. "Kamu wangi banget, Arkan. Bau keringatmu... kayak bau cowok beneran," gumam Aura sambil menjilat daun telinga Arkan. *Deggg...* Arkan hampir saja tersandung kakinya sendiri karena serangan mendadak yang sangat tidak terduga itu. 'Sabar, Arkan. Sabar. Ingat gaji besar. Ingat pesan emak,' dia terus merapalkan mantra kesabaran di dalam otaknya. Sampai di dalam kamar mewah itu, Arkan langsung menjatuhkan Aura ke atas kasur empuk berukuran *king size*. "Eh, kok cuma ditaruh sini? Kamu tidak mau lanjut main denganku?" tanya Aura sambil berguling manja di atas sprei. Dia sengaja menyingkap sedikit gaunnya, memamerkan kaki jenjangnya yang mulus di bawah lampu kristal kamar. Arkan tidak menjawab, dia segera berbalik dan melangkah lebar menuju pintu keluar tanpa menoleh sedikit pun. "Tidur, Nona. Tugas saya hanya melindungi Anda dari bahaya luar, bukan melayani kegilaan Anda di dalam kamar." "Ih, sombong banget! Awas ya, besok bakal aku buat kamu berlutut di depanku!" teriak Aura sambil tertawa puas. Arkan membanting pintu kamar dengan keras hingga menimbulkan suara dentuman yang menggema di seluruh lantai dua. *Brakkkk!* Dia bersandar di balik pintu koridor, napasnya tersengal-sengal seperti orang yang baru saja lolos dari maut. Dia melihat telapak tangannya yang masih bergetar dan mengeluarkan uap tipis berwarna biru pudar yang samar. 'Gila. Cuma disentuh begitu saja kekuatanku hampir meledak tanpa kendali.' 'Kalau setiap hari harus menghadapi godaan katalis seperti dia, nyawaku bisa taruhannya,' batinnya sambil mengusap wajah kasar. Di dalam kamar, Aura masih tertawa terbahak-bahak, merasa menang karena berhasil mengacaukan ketenangan sang pengawal. Namun di kejauhan, dari balik rimbunnya pepohonan taman rumah mewah itu, sepasang mata sedang mengawasi mereka. Sosok pria dengan pakaian serba hitam menekan alat komunikasi di telinganya sambil menyeringai tajam ke arah balkon. "Lapor. Target terkonfirmasi. Pengawal baru itu menunjukkan reaksi energi yang sangat kuat saat bersentuhan dengan subjek Aura." "Bagus. Terus pantau mereka. Jangan sampai rahasia kekuatan keluarga Arkan jatuh ke tangan orang lain sebelum kita," jawab suara berat dari seberang. "Laksanakan. Organisasi Black Lotus akan segera bergerak jika saatnya tiba," bisik pria itu sebelum menghilang ditelan kegelapan malam. Arkan yang masih berada di depan pintu kamar Aura tiba-tiba merasakan firasat buruk yang menusuk tengkuknya. Dia belum tahu kalau tugas "neraka" ini baru saja dimulai, dan musuh yang lebih mengerikan dari godaan Aura sudah mengintai di kegelapan.Vino seketika meledak marah saat merasakan pergelangan tangannya dicengkeram erat oleh Arkan. Dia menatap Arkan dari ujung rambut hingga kaki dengan pandangan merendahkan."Cepat lepaskan tanganmu, pelayan tidak tahu diri!" bentak Vino dengan suara tertahan. Matanya melotot tajam, memancarkan harga diri tinggi seorang pewaris tunggal."Kamu di sini hanya seorang pengawal upahan!" seru Vino lagi dengan nada semakin tinggi. "Sadar sedikit posisimu, berani sekali kamu menyentuh saya seperti ini?!"Arkan tidak bergeming dari posisinya, tubuh tegapnya tetap berdiri sekokoh batu karang di depan Aura. Wajah mantan prajurit elit itu tetap datar, seolah semua bentakan Vino hanyalah angin lalu.Melihat kepongahan Vino yang semakin menjadi-jadi, Aura justru tersenyum licik di balik punggung Arkan. Dia melihat kesempatan emas untuk membalas perlakuan kasar pria itu.Aura langsung memotong kalimat Vino dengan sengaja melangkah maju, lalu bergelayut manja di lengan kiri Arkan.
Arkan masih merasa sangat kesal malam ini. Mantan prajurit elit itu rasanya ingin segera pergi dari ruangan mewah ini setiap kali melirik ke arah Aura. Bagaimana tidak? Anak tunggal taipan kaya itu benar-benar sengaja mencari gara-gara sejak mereka menginjakkan kaki di hotel megah milik ayahnya. Di tengah pesta besar yang dipenuhi oleh para pengusaha papan atas, Aura dengan sengaja memilih gaun malam yang potongannya sangat berani. Gaun malam beludru berwarna merah marun itu mengekspos lekuk bahu dan punggungnya yang indah secara terang-terangan. Arkan mendesah pelan sambil terus berdiri tegak di sudut ruangan, mengawasi setiap pergerakan tamu yang mendekat. "Arkan, bisa ke sini sebentar?" panggil Aura dengan suara setengah berbisik yang terdengar sangat manja. Arkan mengembuskan napas panjang, lalu melangkah mendekat dengan wajah sekaku papan tripleks. "Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya Arkan denga
Suasana di dalam ruang kerja Tuan Wijaya terasa lebih dingin daripada suhu di dalam lemari es.Arkan berdiri tegak di depan meja mahoni besar, sementara sang Taipan mondar-mandir dengan wajah merah padam."Kamu gila, Arkan! Kamu mematahkan tangan Vino di depan semua kolega bisnisku!" teriak Tuan Wijaya sambil menggebrak meja.*Brakkkk!*Arkan tidak bergeming, matanya tetap menatap lurus ke depan dengan sikap sempurna."Tuan, Vino menyerang lebih dulu dan dia menggunakan kekuatan yang tidak wajar," jawab Arkan tenang."Alasan! Aku tidak mau tahu soal kekuatan aneh atau apa pun itu!"Tuan Wijaya menunjuk wajah Arkan dengan jari yang gemetar karena amarah yang memuncak."Minggu depan, Aura tetap akan bertunangan dengan Vino. Itu keputusan mutlak!"Aura yang sejak tadi berdiri di pojok ruangan tiba-tiba berlari menghampiri ayahnya dengan mata berkaca-kaca."Papa tega! Dia itu jahat, Pa! Arkan cuma melindungiku dari pria brengsek itu!" teriak Aura histeris."Diam kamu, Aura! Ini demi masa
Arkan menginjak pedal rem sedalam mungkin hingga ban mobil berdecit membelah keheningan malam.Lampu jauh mobil menyorot tajam ke arah tiga motor besar yang melintang di tengah jalan aspal yang sepi."Nona, tetap di dalam dan kunci semua pintu!" perintah Arkan dengan suara rendah yang mengintimidasi.Aura yang tadi sempat mengantuk langsung terjaga dengan mata membelalak lebar."Arkan... itu siapa? Mereka bawa senjata!" Aura menunjuk pria-pria berbaju hitam yang mulai turun dari motor.Pria-pria itu tidak terlihat seperti preman jalanan biasa yang sering Arkan hadapi di pasar.Mereka mengenakan rompi mekanis dengan kabel-kabel halus yang berpijar merah di balik baju hitam mereka.'Sialan, eksoskeleton tipe ringan? Orang-orang ini niat sekali mau membunuh kami,' batin Arkan sambil mengepalkan tinju.Dia bisa merasakan suhu di dalam mobil mendadak naik, atau mungkin itu hanya energi Qi-nya yang mulai bergejolak.Arkan membuka pintu mobil, melangkah keluar dengan gerakan tenang meski jan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.