ログイン"Nozela, lo bikin gue nggak sabar buat mencicipi tubuh lo yang seksi ini." gumam Drake sambil terus menciumi kaki Nozlea.Drake menegakkan tubuhnya, dia menatap Nozela yang semakin bergerak gelisah, bahkan gadis itu sudah menarik-narik bajunya sendiri."Akh, gue kenapa sih?" racau Nozela setengah sadar.Nozela membuka matanya, dia memukul-mukul kepalanya agar tetap waras. Namun perasaan aneh dalam tubuhnya semakin membuatnya gelisah, ada sesuatu yang perlu dia lepaskan namun dia tak tahu apa itu. Tubuhnya panas dan haus akan sentuhan, namun dia tak boleh melakukan itu jika tidak dia akan menyesal.Disela kesadrannya, dia melihat Drake yang tiba-tiba berdiri didepannya. Dia mencoba bangkit dari tidurnya namun tubuhnya terlalu lemas."Drake? Itu kamu kan?" tanya Nozela dengan suara serak.Drake tersenyum, dia lekas membungkukkan tubuhnya ke hadapan Nozela. Satu tangannya dia jadikan tumpunan sedangkan tangan kirinya dia gunakan untuk mengelus
William berjalan dengan pandangan lurus ke depan, tatapan matanya tajam dengan langkah yang pasti. Dia mulai menaiki anak tangga satu persatu, tangan kanannya terkepal erat. Sampai di lantai dua, dia menatap beberApa bodyguard yang berjaga didepan pintu. William yakin bahwa disana lokasi berlangsungnya acara itu.William mendekat ke arah empat bodyguard yang berjaga disana, dia mengeluarkan kartu undangannya kemudian diterima dengan baik."Tunggu." cegah salah satu bodyguard.Bodyguard itu mengeluarkan ponselnya kemudian membuka aplikasi pesan, dia mencocokkan wajah wajah dari pria didepannya dengan pria yang ada diponselnya."Ini orangnya." ucapnya.William mengerutkan keningnya ketika bodyguard itu menahannya."Anda tidak boleh masuk, pemilik acara tidak memperbolehkan anda masuk meski anda memiliki kartu undangan."William mengepalkan kedua tangannya, dia menatap keemapat bodyguard itu dengan tajam dan rahang yang mengetat.
Thalia berjalan mondar-mandir didepan kamar kostnya, berkali-kali dia menatap jam diponselnya yang hampir menujukan pukul sebelas malam. Sudah dua jam sejak William mengabarinya jika hampir tiba di Jakarta namun William tak kunjung sampai ke kostnya.Thalia sangat khawatir dengan Nozela sekarang, ditambah lagi sekarang Fela juga tak bisa dihubungi. Pikiran Thalia sama sekali tak tenang, berkali-kali dia menatap ke arah jalanan berharap ada mobil William yang datang."Duh Liam, lo kenapa lama sih?""Lo bikin gue tambah khawatir aja."Entah sudah yang keberapa Thalia menghembuskan nafas kasar, dia belum bisa tenang sebelum William sampai di kostnya."Jel, semoga lo nggak papa."Tak henti-hentinya Thalia berdoa pada sang pencipta agar selalu melindungi Nozela. Dia tak tahu apa yang akan dia lakukan jika terjadi sesuatu pada sahabatnya."Drake.""Apa dia yang sebaik itu sama Ojel bakal ngelakuin sesuatu yang buruk ke Ojel?"
Drake kembali ke tempatnya, dia membelakan mata saat tak lagi mendapati Nozela disana. Kepalanya celingukan namun sama sekali tak mendapati Nozela dimana pun, Drake menyugar rambutnya ke belakang dengan kasar."Sial, apa Nozela udah balik?" batinnya kesal.Drake menatap beberapa pengawal. "Kemana Nozela?""Dia ada di meja bartender tuan."Drake menatap ke arah meja bartender, dan tak lama dia melihat siluet tubuh Nozela dari belakang. Dia pun lekas menghampiri Nozela yang sedang duduk sendirian."Zel, aku cariin kamu dimana-mana ternyata disini."Nozela menoleh kemudian tersenyum. "Aku lagi nyari kak Fela tapi dia nggak ada."Drake menganggukkan kepalanya, dia menatap gelas ditangan Nozela yang sudah kosong. Dia meraih gelas itu kemudian menyodorkannya pada bartender."Buatkan yang rendah alkohol."Bartender itu mengangguk. "Baik tuan."Drake mengamati Nozela yang terlihat bosan, tatapannya menatap ke seluruh penj
William mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, seberntar lagi dia akan sampai di Jakarta. Dia sudah tak sabar mendengarkan apa yang akan Thalia bicarakan dengannya."Semoga Ojel baik-baik aja."Kriet.Clarissa keluar dari bilik toilet, dia pergi ke washtafel kemudian mencuci kedua tanganya. Tatapannya menatap pantulan wajahnya dicermin."Sial, gue terpaksa lakuin ini."Selesai mencuci kedua tangannya, Calrissa memakai kembali maskernya kemudian keluar dari toilet. Dia berjalan ke sebuah lorong gelap namun dia tak kembali ke acara Drake melainkan masuk ke sebuah kamar. Clarissa duduk di tepi ranjang yang berukuran sedang, dia melepaskan tasnya lalu mengambil ponselnya."Apa Liam udah sampai di Jakarta?"Clarissa memeriksa ponselnya, dia menatap chat yang dia kirimkan ke William yang masih belum di baca."Tck, William kebiasaan."Ceklek.Pintu kamar itu terbuka, Drake berjalan masuk sambil memasukkan kedua ta
"Drake." ucap Nozela lirih.Drake tersenyum manis, dia menyodorkan sepotong kue ke hadapan Nozela. Semua orang yang datang ke sana sontak bersorak pada keberanian Drake, hal itu membuat Nozela semakin malu namun juga merasa senang.Nozela tersenyum, tangannya terangkat kemudian menerima kue pemberian Drake. Sorak sorai dan tepuk tangan kembali terdengar, setelahnya musik DJ kembali menggema keras tanda acara dimulai."Mau kemana kamu?"Clarie menoleh ke samping dimana Leon sama sekali tak bergerak saat dia tarik lengannya."Aku mau nyamperin Drake dan ngasih selamat buat dia." jawab Clarie."Kamu nggak bisa terus-terusan begini Leon, ada aku sekarang yang sebentar lagi jadi tunangan kamu." lirih Clarie sambil menatap Leon datar."Lupain Nozela." sambung Clarie datar.Clarie melepaskan cekalan tangannya pada Leon, dia pun segera pegi menghampiri Drake dan Nozela yang sedang duduk bersama."Drake." sapa Clarie.Drak
Blam.William menutup pintu mobilnya dengan kencang, dia lekas memasang sabuk pengamannya kemudian melajukan mobilnya meninggalkan basement apartemen Clarissa. Dengan kecepatan tinggi William membawa mobilnya membelah jalanan yang sedikit padat.Dia terus menyalip mobil yang menghalangi jalannya, di
"Arrgghh brengsek."Brak!Sebuah kursi kayu patah pada salah satu kakinya saat terlempar dengan kuat ke lantai marmer, serpihan kayunya tercecer kemana-mana bahkan kursi rusak itu sampai menabrak ujung ranjang. Leon, dengan mata memerah dan kedua tangan terkepal erat menatap kusri k
"Selamat pagi den Liam, ada yang bisa saya bantu?"William menatap dapur mansionnya yang luas, ada beberapa pekerja rumah tangga yang sibuk membersihkan beberapa tempat. Didepannya ada seorang asisten rumah tangga yang sedang menyiapkan beberapa bahan makanan, kabarnya siang nanti Mona dan
Ceklek."Hoam..."Nozela menguap sambil mneutup mulutnya dengan tangan kiri, di berjalan masuk ke dalam kamarnya lalu kembali merebahkan tubuhnya ke ranjang. Matanya masih terasa lengket meskipun sudah cuci muka di rumah William tadi, hari sudah petang, jika dia tak memiliki janji u







