LOGINWaduhhh Killian >,< Belum juga jadi pacar udah ngaku-ngaku aja :P Gimana nih gengs?
"Ian? Apa yang kamu lakukan?!"Macbook yang tadinya dipegang Killian kini sudah berpindah ke atas meja. Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Irina lekat-lekat dengan mata yang makin meredup, pekat oleh gairah yang menuntut dibebaskan.Tanpa minta izin, Killian memangkas jarak yang tersisa dan langsung melumat bibir Irina—bibir yang sejak tadi terus bergerak dan tanpa sadar menggodanya.Irina membelalakkan mata seketika. Tubuhnya menegang kaku. "Ian—"Refleks, jemari Irina mengepal dan memukul dada bidang Killian cukup keras, berusaha mendorong pria itu menjauh. Namun ciuman Killian terlalu liar, terlalu mendominasi. Pria itu terus melumat bibirnya dengan kuat, menuntut, bahkan tidak memberi ruang sedikit pun bagi Irina untuk sekadar menarik oksigen."Euhm ..."Suara lenguhan halus itu lolos dari kerongkongan Irina. Sentuhan panas bibir Killian, helaan napasnya yang memburu, serta kehangatan tubuh pria itu yang melekat rapat mendadak memanggil kembali setiap memori panas yan
Di layar Macbook yang terang, sosok wanita di rekaman CCTV itu terlihat mengenakan pakaian dengan style yang sangat sensual, sebuah gaun gelap yang ketat dan berpotongan berani. Rambutnya yang sangat panjang dibiarkan terurai, sementara wajahnya hampir sepenuhnya tertutup oleh kacamata berukuran besar yang ia kenakan.Kombinasi pakaian yang minim, rambut yang menutupi bahu, serta kacamata yang menyembunyikan wajahnya di bawah temaram lampu club membuat sosoknya benar-benar sulit dikenali, meski gerak-geriknya sangat mencolok saat berjalan santai menuju meja klien Irina."Tunggu ... siapa wanita itu?" tunjuk Irina kaget, memajukan tubuhnya makin rapat ke layar. "Kenapa dia mendatangi klienku?"Killian menghentikan rekaman tepat saat wanita misterius itu duduk di sebelah pria klien Irina. Di layar, wanita itu tampak mengurai senyum sensual, menggoda si pria seraya membisikkan sesuatu. Tak lama, jemarinya yang lentik menyerahkan sebuah botol kecil berukuran mungil ke tangan pria terse
"Bisa aku masuk ke dalam?"Irina berpikir sejenak, apa ini hal yang benar? Membiarkan Killian masuk ke dalam kamarnya?"Aku hanya ingin membahas hal ini," sambung Killian menyela ragunya."Sepuluh menit, Ian.""Oke."Irina akhirnya membuka pintu kamarnya, karena tidak mungkin ia dan Killian mengobrol di depan pintu seperti ini.Namun begitu sampai di dalam, Irina menggigit bibir bawahnya saat sadar hanya ada satu sofa dan tempat tidur. Dia memang sengaja tidak mengambil presidential suite karena tidak suka kamar yang terlalu luas dan banyak sekat, apalagi hanya untuk dirinya sendiri.Sial! Kenapa begitu canggung! batinnya menyumpah.Namun raut canggung itu tidak terlihat pada pria di depannya. Killian melangkah santai menuju meja rias, lalu menarik kursinya. "Aku duduk di sini saja.""Hmm, oke," jawab Irina, yang akhirnya bisa bernapas lega dan duduk di atas sofa.Pria itu menarik kursi kecil yang sebenarnya terlihat kekecilan untuk ukuran tubuh besarnya, memajukannya mendeka
"Tentu, menyerahkannya padaku adalah keputusan paling tepat," sahut Killian rendah, memberikan senyum tipis yang begitu meyakinkan di mata Clara."Dah, Irish! Jangan kebanyakan minum lagi ya!" pamit Clara melambaikan tangan, sebelum akhirnya berbalik melangkah menuju meja kawan-kawannya.Begitu sosok Clara menghilang di tengah kerumunan, Irina langsung menghempaskan tangan Killian dari pinggangnya dengan kasar."Lepas, Ian!" bisik Irina tajam, matanya menyalang penuh amarah. "Kamu gila, ya? Kenapa kamu biarin dia mengira aku ini Irish?!"Killian tidak membalas bentakan itu. Tanpa memberi ruang untuk berdebat, ia langsung mencengkeram pergelangan tangan Irina dan menarik wanita itu setengah menyeret keluar dari area club menuju lorong lift khusus penghuni hotel."Ian, lepas! Sakit!" rontak Irina sepanjang koridor yang sepi.Begitu pintu lift terbuka dan mereka masuk ke dalam, Killian langsung memojokkan tubuh Irina ke dinding kaca lift. Pria itu mengurung Irina dengan kedua tanga
"Kapan kamu balik ke Berlin?"Irina menghentikan aktivitasnya dan melirik Sasha. Ia diam sejenak, memikirkan jawabannya. "Mungkin satu atau dua minggu lagi."Sasha mengangguk paham. "Aku pikir kamu bakal stay cukup lama di sini."Irina terkekeh tipis. "Tidak ada alasan untuk stay lebih lama, kan? Kerjaan di Berlin juga udah numpuk banget.""Padahal Kane bisa jadi salah satu alasan?" goda Sasha, menaik-turunkan alisnya.Irina memutar malas bola matanya. "Ck! Tidak, Sasha.""Apa ada hal lain?"Deg!Irina membeku seketika. Entah kenapa, bayangan Killian dan insiden panasnya bersama Killian langsung terlintas begitu saja di kepalanya."Sial!" umpatnya dalam hati, merutuki pikirannya sendiri."Irina?" panggil Sasha heran melihat perubahan raut wajah sahabatnya."Hah? Gak ada kok, Sha."Sasha menatap Irina dalam-dalam, lalu menepuk pelan bahu wanita itu. "Oke! Tapi kalaupun ada masalah yang mengganjal, sebaiknya kamu selesaikan. Agar tidak ada penyesalan nantinya. Dan jangan per
Killian mendorong pintu kamar dengan kakinya, lalu perlahan merebahkan tubuh Irish ke atas kasur. Tanpa membuang waktu, pria itu merayap naik ke atas tubuh Irish, mengunci tatapan kekasihnya yang mulai digenangi kabut gairah."Sayang ... kamu indah banget," bisik Killian serak, memutus jarak untuk melumat bibir Irish dengan menuntut.Tangannya bergerak lihai menyibak pakaian yang melilit tubuh Irish hingga polos tanpa sehelai benang pun. Killian menurunkan ciumannya ke leher, berlanjut menyusuri dada, lalu memberikan gigitan-gigitan kecil di sekitar perut mulus kekasihnya."Euhm ... Killian ..." desah Irish pasrah, jemarinya meremas rambut lebat Killian saat pria itu makin memosisikan tubuhnya di antara kedua paha Irish yang terbuka.Killian menundukkan kepala, memisahkan lipatan lembut di pusat sensitif wanita itu dengan jemarinya, sebelum melancarkan jilatan hangatnya tepat di sana."Ahhh! Ki-Killian!" Irish tersentak kaget, pinggulnya terangkat refleks. Sensasi basah dan hangat







