MasukGimana reaksi Irina? Spam koment biar author crazy up lagi ya ^^
Bab 48"Irish..."Satu nama itu membuat senyuman manis di wajah Irina perlahan memudar.Tatapannya yang sejak tadi dipenuhi binar kebahagiaan seketika membeku, tertuju pada raut wajah Killian yang masih terlelap tenang di sampingnya. Pria kokoh itu sama sekali tidak menyadari betapa dahsyatnya dampak dari satu kata yang baru saja lolos dari bibirnya.Irina menelan ludahnya yang terasa begitu pahit. Jemari lentiknya yang semula membelai lembut helai rambut Killian terhenti begitu saja di udara, bergetar halus.Irish.Nama saudari kembarnya.“Apa Ian mengenal Irish?” batin Irina bingung, kebingungan yang seketika berubah menjadi rasa ngilu hebat.Irina menundukkan wajahnya, tak sanggup lagi menatap paras tampan pria di hadapannya. Ada sesuatu yang sangat berat dan sesak yang mendadak mengimpit rongga dadanya, membuat pasokan udaranya terasa menipis.Otak Irina mendadak memutar kembali memori percakapannya dengan saudari kembarnya. Memori tentang sosok pria yang pernah diceritakan Irish.
Bab 47"Damn! Move, sweety..." bisik Killian dengan suara yang teramat berat oleh gairah. Ia bisa merasakan dinding kewanitaan Irina meremas dan menjepit batangnya begitu kuat.Irina perlahan mulai menggerakkan pinggulnya naik dan turun. Desahan-desahan halus tak henti-hentinya lolos dari bibirnya. Pelan... makin perlahan... hingga setelah berhasil beradaptasi dengan ukuran Killian, Irina bergerak semakin cepat di bawah arahan jemari kokoh pria itu.“Shit! Dia benar-benar sangat seksi!” geram Killian dalam hati, matanya mengunci pemandangan memabukkan saat Irina bergerak liar di atas tubuhnya dengan rambut yang terurai indah."Yes... Yes...""Ohhh... Ohh! Ini sangat dalam... Enak... Ah! Aku suka, Ian...!" racau Irina tak terkontrol."Yes... Yes... Terus, sayang..."Killian menaikkan sedikit pinggulnya, jemarinya meremas penuh bokong mulus Irina, lalu membantu ikut menumbuk agresif dari arah bawah.Plak! Plak! Plak!"Oh shit! I-ian!" Irina memekik nyaring saat tumbukan kejantanan Killi
Bab 46“Ian… aku benar-benar jatuh cinta padamu.”Irina bergumam pelan dengan senyuman tipis yang mengembang manis. Jemari lentiknya bergerak lembut, membelai garis rahang tegas Killian.Ia memandangi raut wajah tampan pria itu yang tampak begitu sempurna. Namun tiba-tiba, kening Killian berkerut dalam. Bulir-bulir keringat dingin mulai bermunculan membasahi dahi dan pelipis pria kokoh itu.Irina seketika panik. "Apa dia punya anxiety?" gumamnya cemas, namun ia menahan diri untuk tidak langsung membangunkan Killian secara paksa.Dengan telaten, Irina mengusap lembut kening dan punggung telanjang Killian, mengalirkan kehangatan demi menenangkan pria itu. Ia sama sekali tidak menyangka, pria yang terlihat begitu arogan, dominan, dan tangguh bagaikan dinding besi ini ternyata memiliki sisi rapuh yang teramat dalam.Irina menangkup kedua pipi Killian. Ia mendekatkan wajahnya, mendaratkan kecupan lembut di kening pria itu, lalu turun mengabsen kedua kelopak matanya, pipi, hingga ke ujung h
Bab 45Killian memutar tubuh Irina dalam satu gerakan sigap, melebarkan kedua paha mulus wanita cantik itu. Tanpa memberi ampun, ia kembali menenggelamkan wajahnya di celah hangat tersebut, menjilati dan menyesap bersih cairan orgasme Irina yang membanjir.“Oh no! Ian… Please! Akh!” Irina, yang tubuhnya masih diterpa gelombang orgasme bertubi-tubi, kembali menggeliat hebat merasakan sensasi nikmat yang teramat geli di inti tubuhnya."Eungg! Ahk! Iannn... Oh no... no... Yes, there! Shit! Ian... A-aku..."Killian menarik wajahnya yang basah, mendongak mengunci tatapan mata Irina yang sayu oleh gairah. Ia mengambil posisi di atas tubuh Irina, lalu—Jleb!"Oh fuck! Argh!" Killian menggeram hebat saat liang hangat Irina mencengkeram dan menjepit kejantanannya begitu ketat tanpa celah.Irina melenguh pasrah, mendongak saat batang kejantanan itu kembali mengisi liang vaginanya hingga ke batas terdalam."Oh yes... Ian... Ahhh... Faster..."Killian menunduk, menyesap dan mengulum kedua puncak
Bab 44"Oh shit! Ahkk!"Slurrp! Slurrp!Suara jilatan di bawah sana bukti nyata betapa basahnya inti tubuh Irina saat ini. “Oh my… Ian…”Pria di hadapannya tak memberi ampun sedikit pun.“Ahh! Ah!” Irina terus mendesah pasrah, meremas sprei di bawah tubuhnya. Killian melakukannya sungguh berbeda dibandingkan dua malam sebelumnya. Meskipun kini terasa jauh lebih intens dan kuat, pria itu memperlakukannya begitu penuh perasaan.Sentuhan usapan, belaian lembut di kulitnya, hingga remasan perlahan di payudaranya memicu reaksi gila di seluruh syaraf tubuh Irina.“Ian… Ian… Aku keluar…!” jerit Irina tertahan.Irina menaikkan pinggulnya spontan, tubuh cantiknya menegang hebat bersamaan dengan semburan cairannya yang keluar.Slurp!Killian menjilat dan menelan cairan itu tanpa ragu, lalu bergerak naik menyejajarkan tubuhnya untuk kembali melumat bibir merona Irina. Mereka berciuman dengan lembut, saling memagut dan menuntut pasokan udara.Di sela ciuman memabukkan itu, tangan Irina bergerak tu
Bab 43Bruk!Killian terduduk cukup keras di lantai kamar, tubuh tinggi menjulangnya seketika roboh hilang tumpuan tepat setelah pintu suite hotel itu tertutup rapat."Ian!"Mata Irina membelalak kaget. Tanpa memedulikan tas mewahnya yang terlempar asal ke lantai, ia bergegas ikut berlutut di hadapan pria itu. Tangannya bergerak cepat menahan bahu Killian yang bidang."Hey, kamu kenapa, Ian?!" tanya Irina panik, kecemasan merayapi seluruh nadinya.Bruk!Bukannya menjawab, Killian justru melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang Irina, menjatuhkan kepalanya di celah leher wanita itu dan memeluk tubuhnya teramat erat. Irina dapat merasakan dengan jelas helaan napas Killian yang terasa amat berat, memburu, dan bergetar halus."Ian?" bisik Irina pelan, jemarinya refleks terangkat mengelus rambut gelap pria itu."Hmm..."Hanya sebuah gumaman berat dan serak yang lolos dari tenggorokan Killian. Pr







