MasukIan? Siapa yang manggil Killian?
"Bye, Sayang," ujar Killian pelan seraya menutup pintu mobil milik Irish.Irish melambaikan tangannya dari balik kaca jendela yang terbuka separuh, menyunggingkan senyum hangat. "Bye, aku duluan ya, Sayang."Killian berdiri membeku di area drop-off lobi hotel, memperhatikan lampu belakang mobil kekasihnya sampai benar-benar menghilang di balik tikungan jalanan Monschau.Melihat mobil Irish mulai menjauh dan tak lagi terlihat, aura tenang yang dipaksakan Killian runtuh seketika. Ekspresinya mendadak mengeras kaku, berganti menjadi begitu gelap dan dingin. Tangan tegapnya merogoh saku celana, menarik ponsel pintarnya dan langsung menekan satu nomor.Panggilan terhubung dalam hitungan detik."Cari lokasi Kane sekarang, Lucas!" titah Killian dengan suara berat dan menekan, tanpa basa-basi sedikit pun.Di seberang saluran, asisten kepercayaannya sempat terdiam sejenak. "Bukannya Tuan Kane ada di Italia, Tuan?""Dia ada di sini!" bentak Killian kaku, rahangnya mengeras. "Dan pagi ini
"Aku ganti pakaian sebentar, ya," ujar Irina tenang, berusaha mengabaikan bisikan dingin Killian yang masih mengiang di telinganya. Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik menuju area walk-in closet.Di ruang tengah, Irish mendaratkan tubuhnya di sofa utama. Killian menyusul, duduk rapat di sisi kekasihnya. Pria itu mengulurkan lengan, merangkul bahu Irish dengan gestur posesif.Tak lama, Irina kembali. Ia telah berganti pakaian dengan setelan silk loungewear berwarna hitam yang jatuh sempurna di tubuhnya. Alih-alih duduk di sofa panjang bersama mereka, Irina secara sengaja memilih duduk di single armchair berbingkai keemasan yang berhadapan langsung dengan posisi duduk Killian dan Irish. Sebuah batas tak kasat mata yang sengaja ia bentangkan."Galerimu makin memikat, Rin," buka Irish memecah keheningan. "Tadi aku sempat mampir sebelum ke sini. Bagaimana respon dan penjualan hari kedua?"Irina menyandarkan punggungnya anggun, melipat kaki dengan gerakan lambat. "Sangat luar biasa. Bah
Killian melangkah gontai. Rasa bersalah yang membakar dadanya beradu dengan gema bentakan Irina yang masih berdengung jelas di telinganya."Killian??"Suara panggilan lembut yang memantul di lorong itu serta-merta memecah lamunannya. Killian menoleh cepat ke belakang, mengira Irina telah membuka pintu kamarnya kembali."Iri—" Kalimatnya terhenti di udara.Deg!Langkah Killian mendadak terkunci. Jantungnya serasa melompat keluar saat maniknya mendapati sosok wanita yang berdiri tak jauh darinya. Binar matanya yang sempat dipenuhi kepanikan mendadak membeku."Irish?" gumam Killian lirih, napasnya tertahan sejenak. Pria itu baru menyadari bahwa suara yang memanggilnya tadi bukanlah Irina, melainkan kekasihnya sendiri.Irish melangkah mendekati Killian dengan sunggingan senyum hangat di wajah cantiknya. "Kamu di sini?""Hmm..." Killian berdeham singkat, berusaha keras menetralkan raut wajahnya."Ngapain?" tanya Irish penasaran, menatap kekasihnya dari ujung kepala hingga ujung ka
Mendengar pertanyaan sarkas yang dilontarkan Irina, Killian benar-benar terdiam. Lidahnya mendadak kelu, seolah seluruh kata yang sudah ia persiapkan di kepala menguap begitu saja. Cengkramannya pada pergelangan tangan Irina melonggar sejenak, sementara rahang tegasnya mengeras menahan rasa bersalah yang menghantam dadanya.Ia menatap lurus ke dalam manik mata Irina. "Tidak ada yang seperti itu, Irina. Aku sungguh tidak tahu kalau wanita di malam itu adalah kamu. Aku ... aku selama ini berpikir kalau ...""Berpikir kalau yang menemani kamu bercinta malam itu adalah Irish?" potong Irina tajam, tak memberi ruang sedikit pun bagi Killian untuk membela diri. Sebuah senyum sinis menggaris di bibirnya yang gemetar.Deg!Kata-kata itu menghantam tepat di ulu hati Killian. Tatapannya meredup, menyisakan kepedihan yang pekat saat kenyataan brutal itu ditelanjangi di depan wajahnya."Ya," sahut Killian dengan suara serak yang amat pelan. Pengakuan yang rasanya ingin ia tarik kembali.Irina
Irina menyandarkan sikunya di atas konter marmer putih beraksen gold yang mendominasi area depan galerinya. Jam dinding minimalis berbingkai emas di sudut ruangan sudah menunjukkan pukul delapan malam, tetapi kesibukan di butik dan galeri bernuansa soft pink itu sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda meredup."Bagaimana si Kane?" tanya Sasha tiba-tiba, memecah keheningan saat mereka berdua sedang sibuk membongkar dan memilah deretan gaun kustom yang baru saja tiba dari kantor pusat.Irina menghentikan jemarinya yang sedang merapikan lipatan kain silk-satin tebal, lalu menoleh singkat. "Apanya?""Coffee date-nya hari ini...? Hahaha ..." goda Sasha dengan kekehan jenaka yang langsung memantul di antara dinding-dinding putih galerinya.Irina memutar malas bola matanya, helaan napas pasrah lolos dari bibirnya yang dipoles lipstik tipis. "Sasha, tolong ya ... itu bukan coffee date. Dia cuma pelanggan yang kebetulan berbaik hati memborong tiga lukisanku sekaligus."Reaksi defensif Ir
Kane dan Irina memilih berjalan kaki santai menyusuri trotoar kota Monschau yang sejuk. Coffee shop yang hendak mereka tuju memang terletak tak jauh dari area butik dan galeri Irina, hanya berjarak beberapa blok saja."Kamu yakin mau minum kopi di sini saja?" tanya Kane seraya menghentikan langkahnya di depan sebuah coffee shop berkonsep aesthetic-minimalist dengan dinding kaca besar.Irina mengangguk. "Iya. Di sini saja. Tempatnya cukup tenang.""Ok then..." Kane mengulas senyum tipis, lalu melangkah maju untuk memutarkan selot dan membukakan pintu kaca cafe tersebut lebar-lebar, membiarkan Irina masuk lebih dulu.Kring ...Suara berdenting halus menyambut kedatangan mereka, berpadu dengan aroma pekat biji kopi sangrai yang menyeruak lembut di udara. Seorang waitress menghampiri mereka dengan senyum ramah."Selamat siang. Untuk dua orang, Sir?" sapa waitress tersebut sopan."Ya, dua orang," sahut Kane tenang."Mari saya antar ke meja Anda." Waitress itu menuntun mereka menuju







