LOGIN"Ingat, kita punya waktu kurang dari lima belas menit di dalam ruang brankas," ujar Daniel sambil merapikan jas wolnya. Ia memeriksa jam tangannya. "Leo, kau tetap di van. Monitor semua frekuensi radio polisi dan The Vulture. Jika kau melihat satu saja anomali di umpan kamera kota, kau beri kode 'Hujan'."Leo mengangguk, jari-jarinya sudah menari di atas keyboard laptop. "Aku sudah meretas akses masuk tamu untuk kalian. Papa dan Mama masuk sebagai 'Mr. and Mrs. Sterling' dari firma hukum di London. Biometrik Papa sudah disinkronkan dengan data kakek, tapi sistem mereka akan melakukan pemindaian retina ganda."Alya menghela napas panjang. Ia mengenakan kacamata hitam besar dan syal sutra, tampak seperti sosialita Eropa pada umumnya. "Ayo, Daniel. Mari kita lihat apa yang ayahmu sembunyikan selama ini."Lantai marmer bank itu mengkilap sempurna, memantulkan bayangan lampu gantung kristal yang megah. Seorang pria dengan setelan jas seharga ribuan dolar menyambut mereka deng
Mesin turboprop ganda dari pesawat kargo Beechcraft King Air yang telah dimodifikasi menderu rendah, membelah awan kelabu di atas perairan internasional. Di dalam kabin yang sempit dan berbau pelumas mesin serta kopi instan, Daniel, Alya, dan Leo duduk bersandar pada tumpukan peti kayu yang ditutupi jaring kargo.Ini adalah fase transisi yang paling berbahaya: menjadi "hantu" di radar penerbangan sipil."Kenzo bilang kita akan mendarat di pangkalan udara kecil di dekat Lyon sebelum menempuh jalur darat ke Zurich," Daniel memecah keheningan. Ia sedang membersihkan sisa jelaga di bawah kuku jarinya dengan pisau lipat kecil. "Itu rute yang memutar, tapi paling aman dari pengawasan satelit The Vulture."Leo, yang duduk memeluk lututnya di atas tas taktis, menatap ke luar jendela kecil yang bergetar. "Pa, kalau mereka bisa melacak kita sampai ke pulau terpencil di tengah laut, apa bedanya dengan Zurich? Kota itu punya kamera di setiap sudut jalan."Alya, yang sedang memeriksa tablet transp
Asap hitam membubung tinggi dari reruntuhan helikopter yang jatuh di lereng gunung bawah laut, mengaburkan pemandangan hutan hujan mini yang kini porak-poranda. Daniel menyeka darah yang mulai mengering di pelipisnya, matanya tajam menyapu perimeter. Protokol Phoenix memang sudah aktif, tetapi itu tidak berarti ancaman fisik telah berakhir. The Vulture bukanlah organisasi yang menerima kekalahan dengan lapang dada; jika mereka tidak bisa memiliki data itu, mereka akan memastikan tidak ada yang keluar dari pulau ini hidup-hidup."Alya, berapa sisa amunisi?" Daniel bertanya sambil memeriksa magasin senapan serbunya."Dua magasin penuh untukku, satu untukmu. Leo hanya punya pistol kejut dan drone Mosquito-nya," jawab Alya cepat. Ia sedang sibuk memasukkan beberapa drive keras cadangan ke dalam tas taktis Leo. "Kita harus sampai ke dermaga dalam lima menit, atau sistem penghancur diri otomatis pulau ini akan mengunci kita di dalam bersama para tentara itu.""Penghancur diri?" Leo terpekik
Terowongan air itu tampak seperti tenggorokan raksasa yang terbuat dari baja dan beton pratekan. Saat The Ghost Ray meluncur perlahan masuk ke dalamnya, air di belakang mereka tiba-tiba tersedot keluar oleh sistem pompa masif, digantikan oleh udara bertekanan tinggi yang menyembur dari ventilasi langit-langit. Kapal selam itu perlahan turun hingga mendarat dengan dentuman pelan di atas landasan mekanis yang basah.Daniel melepaskan tuas kendali. Tangannya sedikit gemetar akibat adrenalin yang mulai surut, namun matanya tetap waspada. Di sekeliling mereka, lampu-lampu neon putih mulai menyala secara berurutan, menyingkap sebuah hanggar bawah tanah yang luasnya setara dengan lapangan sepak bola."Selamat datang di 'The Hive'," gumam Alya, suaranya bergema saat palka kapal terbuka. Ia melangkah keluar terlebih dahulu, senapan taktisnya sudah dalam posisi siaga.Udara di dalam hanggar itu terasa dingin dan berbau ozon serta minyak mesin tua. Di dinding-dinding hanggar, terdapat deretan po
"Orang itu masih Mengamati kita, sebaiknya kita kembali ke rumah." ajak Daniel. ""Kau benar Daniel, biarkan Raka yang mengatasinya, kita harus bersiap untuk perjalanan kita. ini juga menjadi perjalanan pertama untuk Leo. " Leo melemparkan senyum pada anaknya, "Testi saja ma, aku sudah siap." balas Leo dengan wajah polosnya. Mobil SUV hitam antipeluru itu meluncur stabil membelah jalanan tol bandara yang mulai lengang. Di kursi belakang, Leo tampak sibuk dengan tabletnya, sementara Alya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, mencoba mengatur napas setelah momen emosional perpisahan dengan ibunya. Daniel, yang duduk di samping kemudi, terus memantau arus data di dasbor mobil. "Tiga jam, Al," ujar Daniel pelan tanpa mengalihkan pandangan. "Begitu kita sampai di rumah, kita hanya punya waktu singkat untuk pengecekan terakhir sebelum bergerak ke dermaga Marina." Alya mengangguk. "Aku sudah menyiapkan mirror server. Jika terjadi sesuatu pada kita di tengah laut, seluruh data di
flashback on Setelah sarapan yang penuh kejutan itu usai, suasana di kediaman Arkana berubah drastis menjadi markas operasi taktis. Kenzo, dengan antusiasme seorang ilmuwan gila, menggiring Daniel dan Leo menuju ruang bawah tanah yang telah disulap menjadi laboratorium teknologi tinggi. Di tengah ruangan, sebuah kapsul futuristik berwarna hitam legam terpasang pada lengan hidrolik raksasa. Inilah simulator The Ghost Ray. Ruangan itu dipenuhi layar holografik yang menampilkan grafik arus bawah laut dan titik-titik koordinat pulau misterius tersebut. "Oke, Leo. Ingat, ini bukan permainan video konsolmu," ujar Kenzo sambil membantu Leo naik ke kursi navigator khusus. "Kapal ini dikendalikan dengan sinkronisasi saraf ringan dan sensor gerak. Jika kau terlalu gugup, sistem kemudinya akan menjadi kaku." Daniel duduk di kursi pilot di depan Leo. Ia menoleh ke belakang, memberikan jempol pada putranya. "Siap, Jagoan?" "Siap, Pa! Inisialisasi sistem dalam 3... 2... 1... Ignition!" seru







