LOGIN"Sial." Alya meninggalkan ruang rapat dengan napas tercekat, bukan karena lelah, tetapi karena marah.
Daniel tidak hanya menolak proyek "Zenith" yang sudah disiapkan, tetapi ia secara eksplisit menunjuk Alya sebagai Manajer yang "terlalu terikat dengan masa lalu" dan memintanya segera menyusun ulang strategi pemasaran total. Alya kembali ke mejanya, wajahnya menahan emosi. Sarah, rekan kerjanya, menghampiri dengan ekspresi khawatir. “Kau baik-baik saja, Alya? Dia benar-benar menguliti Pak Wijaya dan kau di sana,” bisik Sarah. “Aku baik. Hanya perlu bekerja. CEO baru, aturan baru,” jawab Alya datar, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Namun, ketenangan Alya segera terenggut. Beberapa menit kemudian, email dari Daniel mendarat di kotak masuknya. Bukan memo umum, melainkan perintah langsung. > Subjek: RE: Strategi Pemasaran Revolusioner > Manajer Alya Pranata, > Ruang Pemasaran Divisi Senior tidak cukup cepat. Saya ingin tim inti yang dipimpin langsung oleh Anda, bekerja dari ruang khusus di lantai eksekutif, di sebelah kantor saya. > Saya butuh laporan kemajuan, secara real-time. Jam kerja tidak terbatas, sampai kita menemukan visi yang saya inginkan. > Saya menantikan progres Anda. > Daniel Arkana, CEO > Alya membaca email itu tiga kali. Di sebelah kantornya? Jam kerja tidak terbatas? Ini bukan hanya tentang revolusi perusahaan, ini adalah bentuk kendali total. Daniel sengaja menempatkannya di bawah mikroskop. Sore itu, Alya pindah ke lantai eksekutif. Ruangan yang dimaksud Daniel ternyata adalah lounge kecil yang diubah menjadi ruang kerja minimalis, hanya dipisahkan oleh dinding kaca buram dari kantor Daniel yang luas. Alya bisa melihat bayangan Daniel yang sedang bekerja, postur tegapnya yang tak pernah berubah. Malam menjelang larut. Alya dan timnya tenggelam dalam data dan brainstorming. Perutnya terasa lapar dan matanya mulai perih. Tepat pukul 22:30, sebuah ketukan terdengar di pintu kaca. Itu Daniel. Ia memegang dua cangkir kopi hitam dan sekotak kue kering. “Istirahat sebentar, Manajer,” kata Daniel, meletakkan cangkir dan kotak itu di meja Alya. Alya terkejut. Ini adalah sisi Daniel yang belum pernah ia lihat, CEO yang menyajikan kopi. “Terima kasih, Bapak Daniel. Tapi kami harus segera menyelesaikan revisi awal ini,” jawab Alya, menjaga jarak. Daniel bersandar di ambang pintu, melipat tangan di dada. Matanya tidak lagi menunjukkan kemarahan, tetapi semacam kelelahan yang sama yang dirasakan Alya. “Saya tahu kemampuan Anda, Alya. Delapan tahun di sini bukan hanya angka, itu adalah pengabdian yang gila,” ujar Daniel pelan, nadanya lebih manusiawi dari sebelumnya. Alya menatapnya. Ia merasa terombang-ambing oleh pujian tak terduga itu. “Kenapa Anda begitu yakin harus merombak semuanya dengan drastis?” tanya Alya, melepaskan topeng profesionalnya sejenak. Daniel membalas tatapannya, kini pandangan itu berubah, ada lapisan yang lebih personal. “Karena saya melihat jauh ke depan. Dan saya tahu, untuk sampai ke sana, saya harus bergerak cepat. Saya harus membuktikan diri saya layak atas warisan ini.” Daniel berjalan mendekat, mengambil salah satu cangkir kopi yang ia bawa dan memberikannya pada Alya. Jari-jari mereka bersentuhan sesaat. Sentuhan itu ringan, tapi menghasilkan arus listrik yang memabukkan. "Anda satu-satunya orang di perusahaan ini yang bisa mengimbangi saya dalam hal obsesi pada kesempurnaan. Itu sebabnya saya menempatkan Anda di sini," bisik Daniel, suaranya rendah. Alya merasakan pipinya memanas. Kedekatan fisik dan pengakuan yang intens itu terlalu personal. Itu adalah batas profesional yang berbahaya. Daniel menahan tatapannya, seolah ia bisa membaca gejolak di dalam diri Alya. Ia membiarkan keheningan itu meluas, mengisi celah di antara mereka dengan ketegangan yang hanya bisa dipicu oleh gairah yang terpendam. Tiba-tiba, Daniel tersenyum-senyum yang menghancurkan semua pertahanan Alya. “Dulu, Anda adalah orang pertama yang membentak saya di perusahaan ini. Saya masih ingat." bisik Daniel.Helikopter operasional "The Horizon" mendarat dengan guncangan keras di pesisir Pulau Seram yang kini tampak seperti luka terbuka. Daniel Arkana melompat keluar bahkan sebelum baling-baling berhenti berputar. Di belakangnya, Arlo berlari sambil mendekap laptop militernya, matanya terus memantau titik transmisi yang ia temukan."Di sini, Ayah! Sinyal itu berasal dari sini!" Arlo menunjuk ke arah tumpukan kayu yang dulunya merupakan sebuah warung kecil di pinggir pantai.Sinyal "LEODISINI" bukan sekadar teks. Itu adalah kode terenkripsi tingkat tinggi yang disisipkan ke dalam frekuensi radio amatir. Hanya Leo yang bisa memanipulasi gelombang radio sekuno itu untuk mengirimkan pesan digital yang begitu bersih.Daniel mendekat ke arah reruntuhan. Di sana, ia menemukan sesuatu yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak: sebuah radio transistor tua yang telah dimodifikasi. Di dalamnya, rangkaian kabelnya disusun dengan presisi yang tidak mungkin dilakukan oleh orang awam
Erfan menatap laut dengan mata yang terlalu tajam untuk anak seusianya. Di kepalanya, dunia tidak hanya terdiri dari air dan langit. Ia melihat pola. Ia melihat bagaimana angin membentuk riak di permukaan air sebagai variabel tekanan yang bisa dihitung. Namun, saat ia mencoba mengingat mengapa ia tahu semua itu, kepalanya berdenyut hebat, seolah-olah ada dinding baja yang mengunci memorinya."Erfan! Ayo cepat! Ikan-ikannya sudah mulai melompat!" teriak suara cempreng dari kejauhan.Itu adalah Satria, putra bungsu Pak Bakri. Di keluarga ini, Erfan menemukan pelabuhan yang tenang. Bu Aminah memperlakukannya seperti anak kandung, dan Pak Bakri mengajarinya cara membaca arus laut tanpa bantuan alat elektronik.Keseharian di Tanah RempahSelama dua minggu tinggal di desa itu, Erfan menjadi semacam "keajaiban kecil". Ia tidak banyak bicara, tetapi tangannya sangat ajaib. Ia bisa memperbaiki radio tua milik kepala desa yang sudah mati selama sepuluh tahun hanya dengan menggunakan kawat jemur
Tiga minggu sebelum titik terang di pesisir Maluku muncul, Samudra Pasifik Selatan adalah sebuah neraka biru yang tak berujung bagi Daniel Arkana. Di atas kapal riset canggih "The Horizon", mesin-mesin sonar dan pemindai satelit menderu tanpa henti selama dua puluh empat jam sehari.Langit di atas "Segitiga Hitam" tampak seolah-olah sedang berduka. Awan kumulonimbus yang tebal menggantung rendah, sementara ombak setinggi lima meter menghantam lambung kapal dengan ritme yang memekakkan telinga. Namun, kebisingan di luar sana tak sebanding dengan kekosongan yang dirasakan Daniel di dalam dadanya.Pencarian di Jantung Kegelapan"Tidak ada apa-apa, Tuan Daniel. Sonar kita hanya menangkap bangkai paus dan formasi batuan bawah laut," suara Hendri anak buah Daniel terdengar parau. Matanya merah, dikelilingi lingkaran hitam karena kurang tidur selama berhari-hari.Daniel tidak menjawab. Ia berdiri di depan jendela besar dek komando, menatap cakrawala yang kelam. "Leo tidak m
Fajar menyingsing di atas pesisir pantai terpencil di pinggiran Pulau Seram, Maluku. Suara ombak yang tenang menyapu pasir putih, membawa serta sisa-sisa badai elektromagnetik yang terjadi tiga malam lalu. Di antara tumpukan batang pohon tumbang dan sampah laut, sebuah objek logam berbentuk kapsul silinder dengan sisa-sisa luka bakar atmosferik teronggok setengah terkubur di pasir.Bakri, seorang nelayan paruh baya yang sedang mencari kayu apung, menghentikan langkahnya. Matanya menyipit melihat pantulan cahaya dari logam tersebut. Namun, bukan logam itu yang membuatnya menjatuhkan keranjangnya, melainkan sosok kecil yang terbaring beberapa meter dari sana.Seorang anak laki-laki, mungkin berusia sepuluh atau sebelas tahun, mengenakan pakaian ketat berwarna perak kebiruan yang sebagian besar telah koyak dan hangus. Tubuhnya pucat, hampir transparan di bawah sinar matahari pagi."Ya Allah! Aminah! Kemari cepat!" teriak Bakri pada istrinya yang sedang mengumpulkan kerang di kejauhan.Ti
Suasana di pusat komando Arkana Tower mendadak berubah menjadi hening yang mencekam, hanya menyisakan deru kipas dari server raksasa dan detak jantung yang berpacu. Di layar utama, visualisasi orbit bumi menampilkan dua titik cahaya biru—representasi digital Leo dan Arlo—yang sedang merayap mendekati siluet merah "Satelit Hantu" milik Victor Vance. Di bagian bawah layar, terdapat umpan video dari kamera helm Hilda dan Tobi. Mereka tidak berada di menara; mereka berada di garis depan, di sebuah fasilitas stasiun bumi rahasia di pinggiran Jawa Barat yang menjadi jembatan transmisi data ke ruang angkasa. Garis Depan di Bumi "Kontak visual terkonfirmasi," suara Hilda terdengar stabil meski di latar belakang terdengar suara rentetan tembakan. Ia berlindung di balik pilar beton stasiun bumi. "Tim taktis Obsidian tidak main-main. Mereka mengirimkan tentara bayaran profesional untuk memutus uplink kita. Mereka tahu jika stasiun ini hancur, Leo dan Arlo akan terjebak di dalam jaringan tanpa
Sore itu, halaman belakang kediaman Arkana yang luas tidak tampak seperti benteng pertahanan teknologi tinggi, melainkan seperti taman bermain yang penuh tawa. Matahari Jakarta yang mulai meredup memberikan cahaya oranye hangat pada rumput hijau yang tertata rapi.Di tengah lapangan, Tobi—dengan perawakannya yang besar dan ramah—sedang membungkuk rendah, berpura-pura menjadi monster raksasa. "Kalian tidak bisa lari dari Monster Bug!" serunya sambil tertawa bariton.Hilda, yang biasanya tampil dingin dengan setelan taktis hitamnya, kini mengenakan kaos santai dan celana kargo. Ia berlari kecil mengejar Leo dan Arlo yang sedang tertawa terbahak-bahak. Di tangan Hilda terdapat sebuah pistol air canggih hasil modifikasi laboratorium Arkana yang mampu menembakkan gelembung sabun raksasa."Leo, ke kiri! Arlo, berlindung di balik Kevin!" teriak Hilda sambil melepaskan rentetan gelembung.Kevin, sang ahli sistem yang biasanya sibuk dengan kabel dan server, kini justru menjad







