Beranda / Romansa / Gairah Sang CEO Muda / Warisan yang Dingin

Share

Warisan yang Dingin

Penulis: Vianita
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-01 22:56:23

Daniel datang dengan wibawanya seakan dia menunjukkan usianya bukan takaran kemampuannya dalam memimpin perusahaan.

"Bawa proyek yang sedang kalian kerjakan."perintah Daniel tegas, "Baik pak." sahut pak Wijaya segera bersama Alya membawa beberapa dokumen.

***

Pagi setelah pengumuman itu terasa seperti badai yang tertahan. Kantor yang biasanya riuh dengan desas-desus kini diselimuti oleh bisikan tertahan.

Semua mata tertuju pada lift eksekutif, menanti kemunculan sosok yang baru saja memimpin Arkana Corp—Daniel Arkana.

Alya, seperti biasa, sudah duduk di mejanya sebelum pukul tujuh pagi. Ia menolak bergabung dengan rekan-rekan kerjanya yang masih larut dalam spekulasi mengenai usia dan rencana CEO baru.

Ia fokus pada tumpukan laporan, namun otaknya terus memutar ulang detik-detik saat tatapan Daniel berhenti padanya kemarin.

Bukan tatapan seorang atasan yang menyambut, melainkan tatapan yang terlalu meneliti, terlalu mengenal.

Pukul sembilan tepat, asisten eksekutif mengumumkan rapat darurat Divisi Senior. Ruang rapat lantai teratas terasa lebih mencekam dari biasanya.

Meja marmer hitam panjang yang tadi malam masih didominasi oleh Direksi lama, kini memiliki aura kepemilikan yang berbeda. Alya duduk di kursinya, memasang topeng profesionalisme.

Daniel masuk.

Tidak ada basa-basi, tidak ada senyum. Ia mengenakan double-breasted suit berwarna abu-abu gelap, posturnya yang tinggi dan tegap memenuhi ruang. Daniel langsung duduk di kursi kepala, memancarkan dominasi yang luar biasa untuk usianya.

“Selamat pagi. Saya tidak suka membuang waktu. Saya sudah meninjau laporan keuangan kuartal terakhir,” Daniel memulai, suaranya tenang namun memiliki resonansi yang memaksa semua orang diam.

“Proyek ‘Zenith’ yang Bapak Wijaya sebutkan tadi malam... itu tidak agresif, itu hanya rutinitas mahal.”

Bapak Wijaya tersentak. Seluruh ruangan menahan napas. Daniel menoleh langsung ke arah Alya.

“Manajer Alya, Anda adalah kepala Pemasaran yang paling lama bertahan. Delapan tahun, jika data saya benar,” ucap Daniel, matanya menatap Alya lurus, intens. “Apakah delapan tahun itu membuat Anda yakin bahwa strategi low-risk adalah satu-satunya cara untuk menang?”

Alya menegakkan punggungnya. Ini adalah tantangan yang ia tunggu.

“Dengan segala hormat, Bapak Daniel,” balas Alya, suaranya dingin dan terkontrol, “Strategi low-risk adalah yang menjaga profit kita stabil selama delapan kuartal, bahkan saat pasar global fluktuatif. Agresivitas, apalagi tanpa pemahaman mendalam tentang market lokal, adalah taruhan bunuh diri.”

Senyum tipis dan dingin terukir di sudut kanan bibir Daniel. Senyum yang persis sama yang terukir di bandara kemarin ketika dia memasuki jakarta.

"Taruhan bunuh diri," ulang Daniel, mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Saya tidak melihatnya sebagai taruhan, Manajer. Saya melihatnya sebagai revolusi. Dan saya butuh tim yang revolusioner."

Daniel memindai wajah Alya selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Pandangan itu begitu tajam dan penuh perhitungan, namun Alya merasakan ada sesuatu yang lebih, sesuatu yang familiar—seperti musik lama yang diputar dengan ritme baru.

Di tengah ketegangan profesional mereka, Alya tiba-tiba menangkap kilasan memori yang samar. Bukan tentang Daniel, melainkan tentang kantor ini.

Delapan tahun lalu. Ia ingat pernah melihat seorang anak laki-laki kurus, sekitar usia 12 tahun, berlari di lorong eksekutif, memegang action figure mobil sport.

Anak itu menabraknya. Alya muda, yang baru bekerja dua tahun, membentaknya dan menyuruhnya berhati-hati.

Apakah—? Tidak. Tidak mungkin.

Alya menggelengkan kepalanya sedikit, membuang ingatan yang konyol itu. Daniel Arkana adalah CEO-nya, bukan anak kecil yang pernah ia marahi.

Daniel, yang memperhatikan gerakan itu, tidak mengubah ekspresi wajahnya. Tetapi jauh di lubuk hatinya, ia tersenyum puas. Ia tahu Alya tidak ingat, atau tidak ingin ingat.

"Delapan tahun aku menunggu untuk kembali ke ruang ini, Alya." pikir Daniel.

"Aku kembali bukan hanya untuk perusahaan, tapi untuk membuktikan bahwa aku bukan lagi anak 12 tahun yang kau marahi. Aku kembali untuk meruntuhkan benteng pertahananmu, satu per satu."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gairah Sang CEO Muda   Happy Ending

    Malam itu, saat mereka kembali ke rumah di pinggir danau, Mumu memutar musik klasik yang lembut di teras. Leo dan Almira duduk bersandar, menatap permukaan air yang memantulkan cahaya bulan. Dunia sudah tenang. Mesin-mesin di luar sana bekerja dalam diam, tanpa asap, tanpa derita. "Protokol selanjutnya, Tuan Scientist?" bisik Almira sambil menyandarkan kepala di bahu Leo. Leo tersenyum, menutup matanya sejenak menikmati angin malam. "Protokol untuk hari esok, Al. Tidur nyenyak tanpa gangguan notifikasi, dan bangun di dunia yang masih tetap indah." Mumu mematikan lampu teras secara otomatis, meninggalkan mereka dalam pelukan remang malam yang hangat—sebuah akhir dari sebuah perjuangan, dan awal dari sebuah cerita panjang yang baru saja dimulai.Malam pun semakin larut di tepi danau, namun kegelapan tak lagi terasa mengancam. Di kejauhan, cakrawala kota berpendar dengan warna biru fajar yang lembut—bukan karena polusi, melainkan refleksi dari tek

  • Gairah Sang CEO Muda   Lara Arkana

    Sepuluh tahun kemudian, dunia tidak lagi mengenali kegelapan yang sama. Kota-kota besar yang dulunya bising dengan deru mesin pembakaran kini bertransformasi menjadi ekosistem yang bernapas. Di Jakarta, New York, hingga Nairobi, gedung-gedung tinggi bukan lagi sekadar beton mati, melainkan organisme yang memanen energi dari rintik hujan dan panas matahari yang tersimpan di dinding-dindingnya.Di pusat The Heuristic Foundation, Leo berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke taman kota yang rimbun. Rambutnya mulai dihiasi sedikit uban di pelipis, namun matanya tetap setajam saat ia meretas peladen Arkana Corp belasan tahun lalu.Seorang gadis kecil berusia delapan tahun, Lara, berlari masuk ke ruangan dengan robot Mumu yang terseok-seok mengejarnya. Di tangan Lara, sebuah prototipe kecil berbentuk capung mekanis mengepakkan sayap transparannya."Papa! Aku mengubah sudut kemiringan sayapnya dua derajat," seru Lara bangga. "Sekarang dia bisa terbang hanya dengan energi

  • Gairah Sang CEO Muda   Flashback Pernikahan

    Leo dan Daniel tertawa bersama. Di luar sana, dunia terus berputar, jauh lebih terang dan jauh lebih adil daripada yang pernah mereka bayangkan sebelumnya. Leo pun teringat akan pernikahannya dengan istrinya Almira, yang menjadi awal kehadiran putri kecil mereka Lara, dan sebuah awal dari keluarga kecil mereka yang kembali ke kediaman Arkana, kekalahan sang ayah dan juga kemenangan untuknya. flashback on Pesta pernikahan itu tidak digelar di ballroom hotel berbintang lima atau aula mewah Arkana Corp. Sebaliknya, halaman luas rumah tua di pinggir danau menjadi saksi bisu bersatunya dua jiwa yang telah melewati badai algoritma dan intrik dunia. Malam itu, langit bersih dari polusi, menampilkan hamparan bintang yang selama puluhan tahun tertutup kabut industri. Tidak ada lampu gantung kristal yang megah; sebagai gantinya, ratusan lampu LED mungil bertenaga sel surya menggantung di dahan-dahan pohon ek, berpendar lembut seperti kunang-kunang yang

  • Gairah Sang CEO Muda   Warisan yang Sebenarnya

    Lima tahun telah berlalu sejak peristiwa "The Great Decoupling". Gedung Arkana Corp yang dulunya merupakan simbol arogansi korporasi dan monopoli energi, kini telah bersalin rupa. Fasad kaca gelap yang kaku telah diganti dengan panel fotovoltaik transparan berbasis teknologi L-Heuristic yang mampu menyerap spektrum cahaya terkecil sekalipun untuk menghidupi seluruh distrik di sekitarnya.Daniel Arkana kini lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah tepi danau, merawat taman dan sesekali memberikan kuliah tamu via hologram. Ia telah sepenuhnya menyerahkan kendali kepada Leo, bukan sebagai CEO tradisional, melainkan sebagai Arsitek Utama Keselarasan Global.Transformasi Arkana: Dari Laba Menuju KemajuanDi bawah kepemimpinan Leo, Arkana Corp tidak lagi mengejar laporan laba kuartalan yang mencekik. Leo merombak struktur perusahaan menjadi sebuah entitas terbuka yang luas. Ia memperkenalkan sistem berbagi energi, di mana setiap rumah yang menggunakan reaktor mini Arkana dapat menyalurka

  • Gairah Sang CEO Muda   Era Baru

    Almira tersenyum, sebuah binar jenaka terpancar dari matanya yang lelah namun bahagia. Ia tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan menyandarkan bobot tubuhnya sepenuhnya pada Leo, membiarkan keheningan gudang tua itu menjadi melodi yang jauh lebih indah daripada riuh rendah pemberitaan di luar sana.Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik sebelum sebuah bunyi ping yang nyaring memecah suasana. Bukan dari monitor utama, melainkan dari konsol usang di sudut ruangan—komputer pertama yang Leo rakit saat ia baru berusia sepuluh tahun.Leo menghela napas panjang, pura-pura kesal. "Mumu, bukankah aku sudah bilang jangan ada notifikasi selama satu jam ke depan?"Mumu berhenti berputar. Lampu sensornya berubah menjadi kuning redup, dan robot itu mengeluarkan suara mekanis yang terdengar seperti permintaan maaf. "Input terdeteksi dari jalur pribadi 'Alpha-01', Leo. Pengirim: Alya Arkana."Leo tertegun. Ia meraih tabletnya dan membuka pesan singkat itu. Isinya hanya sebuah k

  • Gairah Sang CEO Muda   Leo Arkana

    Leo terdiam sejenak. Ia memandang cincin karbon di jari Almira, lalu kembali ke ibunya. "Katakan padanya, Ma. Aku tidak akan kembali ke Arkana Corp. Tapi aku tidak akan membiarkan kota ini mati karena kesalahan teknologinya. Aku akan merilis protokol stabilisasi secara cuma-cuma minggu depan. Bukan untuk dia, tapi untuk orang-orang yang hampir dia celakakan."Leo menggenggam tangan Alya. "Mama boleh datang kapan saja ke sini. Tapi sebagai ibuku, bukan sebagai perwakilan Daniel Arkana."***Satu minggu kemudian, dunia teknologi tidak hanya terguncang—ia mengalami pergeseran tektonik. Keputusan Leo untuk merilis protokol stabilisasi Sub-Atomic secara cuma-cuma, yang kemudian dijuluki media sebagai "The Prometheus Protocol", meruntuhkan tembok monopoli energi dalam semalam. Berikut adalah gambaran bagaimana dunia merespons tindakan "pemberontakan" Sang Jenius: Gudang tua yang dulunya sunyi kini dikepung oleh drone kamera dan truk satelit, namun Leo tetap mengunci pintu rapat-rapat. Ia

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status