Beranda / Romansa / Gairah Sang CEO Muda / kedatangan sang pewaris muda

Share

Gairah Sang CEO Muda
Gairah Sang CEO Muda
Penulis: Vianita

kedatangan sang pewaris muda

Penulis: Vianita
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-01 22:44:33

Udara Jakarta malam itu terasa dingin, namun suhu di ruang rapat lantai teratas gedung Arkana Corp justru memanas.

Alya Pranata mengatupkan rahangnya, jemarinya mengetuk pelan meja mahoni di hadapannya.

Pukul delapan malam, dan ini sudah rapat ketiga hari ini.

Sebagai Manajer Senior Divisi Pemasaran, Alya terbiasa dengan ritme kerja yang gila, namun malam ini, ada aura ketegangan yang berbeda.

"Jadi, kita sudah putuskan, proyek 'Zenith' akan kita genjot lebih agresif di kuartal ketiga," suara lantang Bapak Wijaya, Direktur Operasional, memecah keheningan.

"Alya, pastikan timmu siap. Ini proyek besar." Alya mengangguk, mencatat beberapa poin penting di iPad-nya.

Usianya yang menginjak tiga puluh tahun memberinya ketenangan dan pengalaman yang cukup untuk menghadapi tekanan semacam ini.

Ia telah menghabiskan hampir delapan tahun hidupnya di Arkana Corp, menyaksikan pasang surut perusahaan, dan merasa ikut memiliki setiap inci kemajuan yang diraih.

Rapat akhirnya bubar dua puluh menit kemudian. Satu per satu direksi dan manajer beranjak, menyisakan Alya yang masih membereskan dokumennya.

Pandangannya menerawang ke luar jendela kaca, menatap kerlap-kerlip lampu kota yang tak pernah tidur.

"Akhirnya hari ini selesai juga, proyek ini pasti bisa kami jalankan dengan baik." gumam Alya setelah semua dokumen ia rapikan,lalu.

Pikirannya melayang pada rumor yang sudah seminggu terakhir berembus kencang di kantor: kedatangan pewaris tunggal Arkana, putra almarhum CEO, yang akan mengambil alih kemudi perusahaan.

"Daniel Arkana. Baru dua puluh tahun," bisik rekan kerjanya, Sarah, tadi pagi saat mereka minum kopi. "Bisa kau bayangkan? Anak kemarin sore jadi CEO kita?"

Alya hanya mengangkat bahu.

Baginya, kinerja adalah segalanya. Usia hanyalah angka. Namun, jauh di dalam hatinya, ada sedikit kegelisahan. Arkana Corp adalah hidupnya.

Apakah anak muda itu akan membawa perubahan drastis yang tak terduga, Alya segera menangani kegelisahan temannya agar terlihat lebih tenang.

"Kita lihat saja nanti besok, apakah ia bisa lebih baik dari ayahnya CEO terdahulu." tanggap Alya sembari menepuk pundak temannya.

"Iya kau benar Alya, ayo kita pulang!" ajak Sarah.

***

Keesokan harinya, kegelisahan itu menemukan wujudnya. Pagi itu, seluruh karyawan dikumpulkan di grand ballroom untuk sebuah pengumuman penting.

Podium di panggung dihiasi dengan logo perusahaan dan karangan bunga duka cita untuk CEO sebelumnya.

Ketika seorang pria muda melangkah ke atas panggung, Alya merasakan gelombang kejutan melanda seisi ruangan.

Dia tinggi, dengan postur tegap yang elegan, dibalut setelan jas mahal berwarna gelap. Wajahnya yang rupawan memancarkan aura serius, namun di balik itu, Alya bisa menangkap kilatan mata yang tajam dan penuh ambisi.

Rambut hitamnya tertata rapi, dan garis rahangnya tegas, menunjukkan kematangan yang tak sesuai dengan usianya.

"Selamat pagi," ucapnya, suaranya tenang namun berwibawa, bergema di seluruh ruangan. "Nama saya Daniel Arkana. Dan mulai hari ini, saya adalah Chief Executive Officer Arkana Corp."

"Selamat datang pak Daniel, semoga kita semua bisa bekerja sama dengan baik." sambut pak Wijaya Direktur operasional dan mentor Alya yang sudah lama bekerja di Arkana corp.

"Hhmmm." Daniel hanya mendehm, Seulas senyum tipis terukir di bibirnya, namun mata Daniel menyapu seluruh kerumunan dengan pandangan yang tak terbantahkan.

Ketika pandangannya berhenti sejenak pada barisan depan, tepat di mana Alya duduk, wajah itu,wajah yang Daniel kenal namun samar,ia tampak sama meski sudah lama tidak melihatnya.

Alya, dalam pikiran Daniel.

Ada sesuatu yang membuat Alya menahan napas. Kilatan singkat, seolah Daniel telah mengukirnya dalam benaknya.

Alya menelan ludah. Ia tahu, mulai hari ini, Arkana Corp tidak akan pernah sama lagi. Dan mungkin, hidupnya juga.

"Bawa proyek baru yang sedang kalian kerjakan." perintah Daniel.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gairah Sang CEO Muda   Terlambat Satu Langkah

    Helikopter operasional "The Horizon" mendarat dengan guncangan keras di pesisir Pulau Seram yang kini tampak seperti luka terbuka. Daniel Arkana melompat keluar bahkan sebelum baling-baling berhenti berputar. Di belakangnya, Arlo berlari sambil mendekap laptop militernya, matanya terus memantau titik transmisi yang ia temukan."Di sini, Ayah! Sinyal itu berasal dari sini!" Arlo menunjuk ke arah tumpukan kayu yang dulunya merupakan sebuah warung kecil di pinggir pantai.Sinyal "LEODISINI" bukan sekadar teks. Itu adalah kode terenkripsi tingkat tinggi yang disisipkan ke dalam frekuensi radio amatir. Hanya Leo yang bisa memanipulasi gelombang radio sekuno itu untuk mengirimkan pesan digital yang begitu bersih.Daniel mendekat ke arah reruntuhan. Di sana, ia menemukan sesuatu yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak: sebuah radio transistor tua yang telah dimodifikasi. Di dalamnya, rangkaian kabelnya disusun dengan presisi yang tidak mungkin dilakukan oleh orang awam

  • Gairah Sang CEO Muda   Cahaya dari Cakrawala Seram

    Erfan menatap laut dengan mata yang terlalu tajam untuk anak seusianya. Di kepalanya, dunia tidak hanya terdiri dari air dan langit. Ia melihat pola. Ia melihat bagaimana angin membentuk riak di permukaan air sebagai variabel tekanan yang bisa dihitung. Namun, saat ia mencoba mengingat mengapa ia tahu semua itu, kepalanya berdenyut hebat, seolah-olah ada dinding baja yang mengunci memorinya."Erfan! Ayo cepat! Ikan-ikannya sudah mulai melompat!" teriak suara cempreng dari kejauhan.Itu adalah Satria, putra bungsu Pak Bakri. Di keluarga ini, Erfan menemukan pelabuhan yang tenang. Bu Aminah memperlakukannya seperti anak kandung, dan Pak Bakri mengajarinya cara membaca arus laut tanpa bantuan alat elektronik.Keseharian di Tanah RempahSelama dua minggu tinggal di desa itu, Erfan menjadi semacam "keajaiban kecil". Ia tidak banyak bicara, tetapi tangannya sangat ajaib. Ia bisa memperbaiki radio tua milik kepala desa yang sudah mati selama sepuluh tahun hanya dengan menggunakan kawat jemur

  • Gairah Sang CEO Muda   Pencarian Leo

    Tiga minggu sebelum titik terang di pesisir Maluku muncul, Samudra Pasifik Selatan adalah sebuah neraka biru yang tak berujung bagi Daniel Arkana. Di atas kapal riset canggih "The Horizon", mesin-mesin sonar dan pemindai satelit menderu tanpa henti selama dua puluh empat jam sehari.Langit di atas "Segitiga Hitam" tampak seolah-olah sedang berduka. Awan kumulonimbus yang tebal menggantung rendah, sementara ombak setinggi lima meter menghantam lambung kapal dengan ritme yang memekakkan telinga. Namun, kebisingan di luar sana tak sebanding dengan kekosongan yang dirasakan Daniel di dalam dadanya.Pencarian di Jantung Kegelapan"Tidak ada apa-apa, Tuan Daniel. Sonar kita hanya menangkap bangkai paus dan formasi batuan bawah laut," suara Hendri anak buah Daniel terdengar parau. Matanya merah, dikelilingi lingkaran hitam karena kurang tidur selama berhari-hari.Daniel tidak menjawab. Ia berdiri di depan jendela besar dek komando, menatap cakrawala yang kelam. "Leo tidak m

  • Gairah Sang CEO Muda   Namamu Erfan

    Fajar menyingsing di atas pesisir pantai terpencil di pinggiran Pulau Seram, Maluku. Suara ombak yang tenang menyapu pasir putih, membawa serta sisa-sisa badai elektromagnetik yang terjadi tiga malam lalu. Di antara tumpukan batang pohon tumbang dan sampah laut, sebuah objek logam berbentuk kapsul silinder dengan sisa-sisa luka bakar atmosferik teronggok setengah terkubur di pasir.Bakri, seorang nelayan paruh baya yang sedang mencari kayu apung, menghentikan langkahnya. Matanya menyipit melihat pantulan cahaya dari logam tersebut. Namun, bukan logam itu yang membuatnya menjatuhkan keranjangnya, melainkan sosok kecil yang terbaring beberapa meter dari sana.Seorang anak laki-laki, mungkin berusia sepuluh atau sebelas tahun, mengenakan pakaian ketat berwarna perak kebiruan yang sebagian besar telah koyak dan hangus. Tubuhnya pucat, hampir transparan di bawah sinar matahari pagi."Ya Allah! Aminah! Kemari cepat!" teriak Bakri pada istrinya yang sedang mengumpulkan kerang di kejauhan.Ti

  • Gairah Sang CEO Muda   Leo Hilang

    Suasana di pusat komando Arkana Tower mendadak berubah menjadi hening yang mencekam, hanya menyisakan deru kipas dari server raksasa dan detak jantung yang berpacu. Di layar utama, visualisasi orbit bumi menampilkan dua titik cahaya biru—representasi digital Leo dan Arlo—yang sedang merayap mendekati siluet merah "Satelit Hantu" milik Victor Vance. Di bagian bawah layar, terdapat umpan video dari kamera helm Hilda dan Tobi. Mereka tidak berada di menara; mereka berada di garis depan, di sebuah fasilitas stasiun bumi rahasia di pinggiran Jawa Barat yang menjadi jembatan transmisi data ke ruang angkasa. Garis Depan di Bumi "Kontak visual terkonfirmasi," suara Hilda terdengar stabil meski di latar belakang terdengar suara rentetan tembakan. Ia berlindung di balik pilar beton stasiun bumi. "Tim taktis Obsidian tidak main-main. Mereka mengirimkan tentara bayaran profesional untuk memutus uplink kita. Mereka tahu jika stasiun ini hancur, Leo dan Arlo akan terjebak di dalam jaringan tanpa

  • Gairah Sang CEO Muda   Misi Baru

    Sore itu, halaman belakang kediaman Arkana yang luas tidak tampak seperti benteng pertahanan teknologi tinggi, melainkan seperti taman bermain yang penuh tawa. Matahari Jakarta yang mulai meredup memberikan cahaya oranye hangat pada rumput hijau yang tertata rapi.Di tengah lapangan, Tobi—dengan perawakannya yang besar dan ramah—sedang membungkuk rendah, berpura-pura menjadi monster raksasa. "Kalian tidak bisa lari dari Monster Bug!" serunya sambil tertawa bariton.Hilda, yang biasanya tampil dingin dengan setelan taktis hitamnya, kini mengenakan kaos santai dan celana kargo. Ia berlari kecil mengejar Leo dan Arlo yang sedang tertawa terbahak-bahak. Di tangan Hilda terdapat sebuah pistol air canggih hasil modifikasi laboratorium Arkana yang mampu menembakkan gelembung sabun raksasa."Leo, ke kiri! Arlo, berlindung di balik Kevin!" teriak Hilda sambil melepaskan rentetan gelembung.Kevin, sang ahli sistem yang biasanya sibuk dengan kabel dan server, kini justru menjad

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status