แชร์

Bab 57

ผู้เขียน: irisamayeontan
last update วันที่เผยแพร่: 2025-09-14 22:02:07

Sejak pagi buta, kediaman keluarga Adelaide dipenuhi hiruk-pikuk tak berkesudahan. Ruang tamu besar berubah menjadi pasar kecil yang penuh dengan meja kaca, kotak kayu berhias, kain berkilauan, dan tumpukan perhiasan. Pedagang-pedagang perhiasan berdatangan, menenteng peti-peti yang berisi kalung, gelang, dan mahkota permata. Suara riuh pelayan yang mondar-mandir membuat kepala Alice berdenyut.

Di tengah semua itu, Alice duduk di kursi ukiran tinggi, mengenakan gaun tipis berwarna gading. Wajah
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 72 Alice mengetahui semua

    Jari-jari Alice mulai gemetar. Cahaya putih yang keluar dari telapak tangannya terus mengalir memasuki tubuh Adhelard, namun luka di dada lelaki itu masih mengeluarkan darah hangat yang membasahi pahanya.“Bangun Adhelard…” bisiknya lirih. “Jangan bercanda sekarang…”Angin dingin hutan utara berhembus pelan. Bau darah bercampur tanah basah memenuhi udara. Rambut Alice berantakan tertiup angin, gaun putihnya ikut ternoda merah karena darah Adhelard yang terus mengalir tanpa henti.Maxime berdiri beberapa langkah dari mereka. Lelaki itu terlihat benar-benar kehilangan ketenangan.“Lady Alice…” suaranya berat. “Kereta medis sudah hampir sampai.”Alice tidak menjawab.Tangannya masih menempel di luka dada Adhelard. Cahaya suci yang ia curi dari Teon terus dipaksakan keluar. Sedikit demi sedikit warna pucat di wajah Adhelard mulai berubah, namun napas lelaki itu tetap lemah.Lalu…Batuk kecil keluar dari bibir Adhelard.Darah segar kembali mengalir dari sudut bibirnya.Mata Alice membelala

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 71 Kematian

    Alice melambaikan tangan dari balik jendela kereta.Ayah dan kakaknya berdiri di depan kediaman Adelaide sambil memperhatikannya pergi.Daniel masih terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.Sedangkan ayahnya hanya menghela napas pasrah melihat putrinya tetap keras kepala.Alice tersenyum kecil.Namun matanya sempat mencari satu sosok.Ibunya.Dan benar saja—Wanita itu tidak datang.Alice tidak terlalu terkejut.Memang sejak dulu ibunya tidak pernah terlalu menyukainya.Kereta mulai bergerak menjauh.Suara roda memenuhi jalan batu.Alice akhirnya bersandar santai di kursinya.Tak lama kemudian—Louis masuk ke dalam kereta.Ia langsung menghela napas panjang.Alice meliriknya lalu tersenyum kecil.“Sepertinya ada yang ingin kau tanyakan.”Louis tidak berputar-putar kali ini.“Apa yang diberikan Ibu Teon padamu?”Tatapan Alice langsung turun pada liontin di lehernya.Ia tersenyum tipis.“Akhirnya kau bertanya juga.”Louis diam memperhatikannya.Dan untuk pertama kalinya—Alice mulai m

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 70 Hidup bersama atau mati bersama?

    Adhelard membuka matanya perlahan.Udara dingin dini hari memenuhi tenda tahanan itu.Dari celah kain tenda, cahaya gelap kebiruan mulai terlihat.Malam akan segera berakhir.Tatapan Adhelard turun pada rantai yang membelenggu kedua tangannya.Lalu—Dengan tenang ia menggerakkan pergelangan tangannya perlahan.Suara besi kecil terdengar samar.Klik.Rantai itu langsung terlepas begitu saja.Seolah benda itu tidak pernah mampu menahannya.Adhelard menggerakkan sedikit pergelangan tangannya yang memerah lalu berdiri.Tatapannya jatuh pada pedangnya yang disandarkan di dekat meja.Mereka benar-benar terlalu meremehkannya.Adhelard mengambil pedang itu lalu menariknya perlahan dari sarung.Sret.Tatapan matanya langsung berubah tajam.Saat keluar dari tenda—Dua penjaga langsung menoleh kaget.Namun mereka bahkan tidak sempat membuka mulut.Slash!Pedang Adhelard bergerak cepat membelah udara.Tubuh kedua penjaga langsung jatuh bersamaan.Darah mengalir di tanah dingin.Adhelard berjalan

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 69 Tawanan Berbahaya

    Adhelard berdiri lemah di dalam tenda tahanan. Kedua tangannya terikat rantai besi.Suara api unggun dan langkah para penjaga terdengar samar dari luar.Sehari lalu—Ia ditukar dengan Arthur di depan gerbang benteng Eterdal.Arthur dalam keadaan setengah sadar saat dibawa kembali.Tubuh pria itu penuh luka.Darah bahkan masih terus menetes dari lengannya.Namun saat itu Adhelard tetap berdiri tenang.Ia hanya memberi perintah singkat pada Maxime.“Bawa dia masuk.”Dan setelah itu—Pasukan suku Belian langsung mundur membawa Adhelard menuju perkemahan mereka.Kini ia berada di sini.Sebagai tawanan.Pintu tenda terbuka.Putri Relia masuk bersama beberapa pengawal.Tatapan tajam wanita itu langsung jatuh pada Adhelard.Namun beberapa detik kemudian Relia memberi isyarat.“Kalian keluar.”Para pengawal langsung menunduk dan meninggalkan tenda.Kini hanya mereka berdua.Adhelard menatap wanita itu datar tanpa mengatakan apa pun.Relia berjalan pelan mendekat.Ia melirik nampan makanan di

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 68 Senja di Balio

    Langit berwarna jingga tua.Matahari turun perlahan di balik pegunungan utara, menyisakan cahaya redup yang memantul di ujung pedang dan baju zirah para prajurit.Debu beterbangan.Suara benturan logam tidak pernah berhenti.Adhelard masih di garis depan.Kudanya bergerak cepat, menembus barisan musuh. Pedangnya terangkat, lalu turun dengan tegas. Tidak ragu.Di sampingnya, Arthur tidak pernah jauh darinya.“Yang Mulia, kita mulai terdesak di sisi kiri!” teriak Arthur di tengah riuh pertempuran.Adhelard melirik sekilas.Benar.Pasukan mereka mulai kewalahan.Jumlah suku Belian terlalu banyak, dan mereka bergerak liar, tidak beraturan—namun justru itu yang membuat mereka sulit ditebak.“Kita tahan sampai senja,” jawab Adhelard singkat.Napasnya berat.Namun matanya tetap tajam.Pasukan Kabut Putih yang dipimpin Maxime… belum juga datang.Badai di perjalanan jelas memperlambat mereka.Dan di medan seperti ini—Setiap detik terasa terlalu lama.Angin mulai berubah.Dingin.Kabut tipis m

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 67 Keberangkatan Adhelard

    Gelap.Lalu perlahan… cahaya terlihat.Adhelard membuka matanya.Pandangan kabur itu perlahan menajam, memperlihatkan langit-langit kamarnya sendiri. Napasnya terasa berat, dadanya seperti ditekan dari dalam.Ia mencoba bergerak.Namun tubuhnya lemah.“Yang Mulia…”Suara Arthur terdengar di sampingnya.Adhelard menoleh sedikit.Arthur segera membantu menopangnya, mengangkat tubuhnya agar bersandar.Wajah Adhelard pucat.Bahkan lebih pucat dari sebelumnya.“Tenang,” gumam Arthur pelan, jelas menahan kekhawatiran. “Anda sudah kembali ke kamar.”Adhelard belum sempat menjawab—Langkah kaki lain terdengar.Tenang.Teratur.Teon.Ia masuk tanpa banyak kata.Di tangannya, sebuah obat—bulat, cukup besar, berwarna gelap.Teon berdiri di hadapan Adhelard.“Telan ini,” katanya singkat.Nada suaranya datar.Tidak memohon.Tidak memaksa.Adhelard menatap obat itu beberapa detik.Lalu—tanpa komentar—ia mengambilnya.Menelannya.Pahit langsung menyebar di tenggorokannya.Teon mengangkat tangannya.

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 55 Rahasia Kekuatan Teon

    Alice menopang tubuhnya dengan pedang. Darah mengalir dari lehernya, menetes ke lantai dan mengenai liontin batu pada kalung yang ia kenakan. Begitu darah itu menyentuh permukaan batu, cahaya terpancar. Batu itu berkilau, menyala seakan merespons darah yang melumuri permukaan batu.Maxime dan Louis

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 54 Bukti dan Keputusan

    Suasana kamar Carolie masih diliputi aroma dupa yang sengaja disiapkan untuk menenangkan rasa cemasnya. Tapi tubuhnya tampak menegang menatap Teon yang berdiri di hadapannya. Setelah Teon melepas cengkraman kasar di wajahnya, jantungnya berdetak kencang tak terkendali. Rasa sakit menjalar dari pipi

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 53 Dalang dibalik tragedi

    Louis tidak menjawab pertanyaan Alice. Rahangnya mengeras, seakan ada kata-kata yang tertahan di ujung lidahnya, namun ia memilih bungkam. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah cepat keluar dari ruangan.Alice hanya bisa menatap punggung sahabatnya itu menghilang di balik pintu, dadanya

  • Gairah Sang Penyihir Menawan   Bab 49

    Alice tak sempat bereaksi ketika Pangeran Adhelard menarik pergelangan tangannya, membawanya menaiki tangga butik dengan langkah besar. Nafas Alice tercekat, gaunnya sedikit terangkat karena langkah cepat mereka. Begitu tiba di lantai dua, Adhelard hanya menoleh sekilas pada Meriana yang berdiri te

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status