Mag-log in"Sebenarnya tidak terlalu penting juga Tuan. Saya hanya mau mengatakan akan ada pertemuan klien kita dari Prancis. Mereka mengundang kita untuk datang nanti malam ke hotel Kencana yang ada di Jalan Pattimura. Apakah Anda mau ikut menghadiri pertemuan itu ?" tanya Malik dengan hati-hati.
"Baik, aku akan pergi siapkan semuanya dan oh ya katakan kepada pihak penerbangan untuk tidak menghubungi Rossa. Mereka harus menghubungiku dulu karena aku walinya sekarang dan aku tidak ingin Rossa pergi ke bandara tanpa izin dariku. Kamu mengerti Malik?" tanya Darren yang meminta kepada Malik untuk tidak mengizinkan pihak bandara menghubungi Rossa. Dia mempunyai alasan tersendiri kenapa Rossa tidak boleh diberitahukan tentang peristiwa kecelakaan pesawat terbang yang membuat kedua orang tuanya Rossa meninggal. "Tapi, Tuan. Maaf Nona Rossa salah satu anggota keluarganya. Menurut saya tidak etis kalau kita tidak memberitahukan kepada Nona Rossa. Saya yakin kalau Nona Rossa pasti dibutuhkan untuk sampel DNA jika pihak tim SAR menemukan potongan mayat atau yang lainnya," ucap Malik membuat Darren memandang tajam ke arah Malik. "Siapa yang akan menemukan tulang belulang mereka jika sudah masuk ke dalam laut. Jadi, tidak mungkin bisa ditemukan lagi. Sudahlah, lakukan saja perintahku. Sekarang ini, aku walinya jadi aku yang berhak mengatur apa yang baik untuk dia. Apa kamu mengerti, Malik!" tegas Darren yang dijawab Malik dengan menganggukkan kepala. "Oh, ya Tuan. Satu lagi apakah Nona Rossa ikut kita nanti malam untuk pertemuan dengan klien Anda itu?" tanya Malik lagi. "Tidak. Dia tidak perlu ikut pertemuan apapun. Sekarang kamu mengerti dan jangan bertanya lagi." Darren segera meninggalkan Malik dan masuk ke dalam kamar. Pintu kamar ditutup dengan cukup keras hingga Malik terkejut mendengar suara pintu yang dibanting dengan cukup kuat. "Astaga, Tuan Darren ini aneh sekali, sudah mendapatkan istri yang cantik dan baik masih saja sikapnya tidak berubah. Kalau tidak mau bisa bantah atau menolak ini ngga tetap aja setuju nggak tahu alasannya apa. Kalau alasannya hanya menyenangkan hati Nyonya Pingkan itu salah karena ada yang jadi korban. Yaitu nona Rossa," gumam Malik yang segera pergi untuk menyiapkan keperluan dari Darren untuk bertemu dengan kliennya nanti malam. Sedangkan Rossa dalam tidurnya masih menangis. Dia memeluk kedua kakinya. Tubuhnya menggigil kedinginan. Rossa mengingau dalam tidurnya. "Mama, Papa kenapa Tuhan begitu kejam kepadaku. Dia membuat aku yatim piatu dalam satu hari. Aku tidak punya siapapun di dunia ini selain kalian. Aku tidak tahu bagaimana nanti kehidupanku. Aku benar-benar sangat membencimu Tuhan. Aku membencimu," gumam Rossa yang gelisah. Rossa tidak menginginkan takdir yang dia terima. Jika mungkin dia tahu akan terjadi seperti ini maka dia akan mencegahnya. Tapi, itulah namanya rahasia dari Tuhan. Tidak ada yang tahu dan pesan terakhir kedua orang tuanya membuat Rossa semakin menangis histeris. Cukup lama Rossa tertidur. Menjelang malam Darren yang sudah siap untuk pergi ke pertemuan melihat pintu kamar Rossa yang masih tertutup. Pelayan wanita melewati Darren dan dia menundukkan kepala memberikan hormat kepada majikannya. "Nanti kamu berikan dia makan. Aku tidak ingin disalahkan jika dia sakit atau mati." Ucapan dari Darren membuat pelayan wanita tersebut terkejut karena sebagai suami tidak pantas berkata seperti itu di saat sang istri berduka. Tapi, pelayan wanita tersebut tidak bisa protes dia hanya mengganggukan kepala mengiyakan apa yang dikatakan Darren. Darreb segera turun meninggalkan pelayan yang masih menundukkan kepala. Setelah pergi, barulah pelayan mengangkat kepala dan geleng-geleng 'kan kepalanya. "Benar-benar kejam. Dulu Tuan Darren tidak pernah seperti ini dengan Nona Rissa tapi sekarang Tuan Darren memperlakukan adik dari Nona Rissa dengan cukup kejam. Semoga Nona Rossa kuat dan bertahan," ucap pelayan wanita tersebut yang segera turun untuk mengambil makanan. Si pelayan sebenarnya ingin masuk ke kamar Rossa karena permintaan dari Nyonya Pingkan. Tapi, saat di lantai atas dia bertemu dengan Darren dan majikannya itu malah mengatakan hal itu. "Mayang, ini makanan untuk Nona Rossa berikan langsung kepada Nona Rossa dan ingat jangan lama-lama di kamar Nona Rossa. Kamu tahu bagaimana sikap Tuan Darren 'kan? Jadi setelah berikan makanan ini segera turun mengerti. Dan oh ya tadi Nyonya Pingkan mengatakan jika Nona Rossa tidak mau makan kabari dia. Nyonya pulang sebentar nanti kembali lagi," ucap Pak Yan kepala pelayan yang memberikan nampan berisi makanan dan minuman untuk Rossa. "Baik Pak Yan saya akan kasih makanan ini untuk Nona Rossa dulu. Tapi, Pak Yan saya kasihan dengan Nona Rossa dia sepertinya kurang beruntung menikah dengan Tuan Darren tidak seperti kakak kandungnya yang selalu dilimpahkan kasih sayang dan cinta tapi nona Rossa malah tidak mendapatkannya," ujar Mayang yang membuat Pak Yan melotot dan menatap tajam ke arah Mayang. "Siapa yang memintamu untuk protes seperti itu. Sudah sana pergi. Jika tidak ingin dipecat lakukan kerjamu dan tutup mulutmu mengerti," tegas Pak Yan yang dianggukan oleh Mayang. Mayang naik ke lantai atas, dia akan memberikan makanan yang sudah disiapkan. Dengan hati-hati Mayang mengetuk pintu namun tidak juga di sambut oleh Rossa. Karena panik Mayang perlahan membuka pintu kamar Rossa. Saat pintu terbuka, terlihat kamar Rossa gelap. Walaupun gelap tapi masih ada cahaya dari luar karena gorden tidak ditutup. Mayang terkejut melihat majikannya tertidur di lantai dengan meringkuk. Mayang langsung berlari ke arah majikannya. Dan meletakkan nampan di meja dan segera mendekati majikan. " Nona Rossa ... bangun Nona. Nona Rossa. Ya Tuhan apa yang terjadi dengan Anda Nona. Tolong ... tolong," teriak Mayang dengan cukup kencang. Pak Yan yang berada di lantai dua mendengar suara teriakan Mayang dan langsung berlari ke arah kamar Rossa. Dia ingin tahu apa yang terjadi dengan istri majikannya. Semua pelayan yang berada di lantai yang sama bergegas ke kamar dan mereka terkejut melihat istri majikan mereka yang baru tidak sadarkan diri. "Kenapa?" tanya Pak Yan. "Nggak tahu, ayo cepat bawa ke rumah sakit," jawab Mayang sambil menangis. Tanpa menunggu lama dan berpikir panjang, mereka membawa Rossa ke rumah sakit untuk diobati. Mayang ikut dengan sopir dan Pak Yan untuk membawa Rossa ke rumah sakit. Jarak tempuh 15 menit dan mereka pun sampai di rumah sakit dengan selamat. Pak Yan segera turun dari mobil dan berteriak memanggil suster dan dokter untuk membawa istri majikannya. "Suster .... suster. Tolong bantu saya. Istri majikan saya tidak sadarkan diri. Suster tolong," teriak Pak Yan dengan kencang. Suster yang mendengar teriakan Pak Yan, suster segera mendorong bankar ke arah mobil. Perlahan mereka meletakkan Rossa di atas ranjang. Mayang menangis melihat majikannya itu. Terlihat majikannya sangat rapuh dan badannya juga sangat panas. Mereka mengikuti suster dari belakang yang masuk ke ruang IGD. "Kalian tunggu di sini. Kami akan periksa dulu dan siapa yang bertanggung jawab terhadap pasien ini?" tanya suster kepada Pak Yan dan Mayang. "Saya. Saya yang bertanggung jawab terhadap pasien ini. Tolong obati dulu istri majikan saya nanti saya akan kabari suaminya untuk datang ke sini," ucap Pak Yan yang mengatakan kalau dia yang bertanggung jawab dan akan menghubungi suami Rossa yaitu Darren. Suster menganggukkan kepala dan segera masuk ke dalam ruang IGD. Mayang duduk sambil terus menangis. Pak Yan menghubungi Darren namun tidak digubris oleh Darren malah panggilan telepon dinonaktifkan oleh Darren. Akhirnya Pak Yan menghubungi kedua orang tua dari Darren untuk datang ke rumah sakit. "Halo Nyonya. Syukurlah Anda menjawab telpon saya. Maaf mengganggu, Nona Rossa masuk rumah sakit Harapan Bunda, saya harap Nyonya dan Tuan bisa datang ke rumah sakit segera," ucap Pak Yan memberitahukan kepada Nyonya Pingkan kalau Rossa masuk rumah sakit. Kabar dari Pak Yan tentu saja membuat Nyonya Pingkan terkejut. "baik-baik, saya akan ke sana dengan suami saya. Tolong jaga menantu saya, ya," ucap Nyonya Pingkan yang segera mengakhiri panggilan telepon. "Pa, Pak Yan kasih tahu kalau Rossa masuk rumah sakit. Ayo kita ke sana. Mama takut Rossa kenapa-napa. Jangan lupa kabari Darren," ujar Nyonya Pingkan. "Baik, ayo kita ke sana," jawab Tuan Tommy. Di rumah sakit, Pak Yan duduk di depan IGD menunggu majikannya datang. Pak Yan terus menghubungi Darren namun tetap saja tidak bisa. Akhirnya Pak Yan mencoba menghubungi Malik dia ingin Malik menyampaikan kepada asisten majikannya itu kalau Rossa istri majikan mereka masuk rumah sakit. Malik yang mendapatkan telepon segera menjawab panggilan telepon dari Pak Yan. "Iya Pak Yan. Ada apa?" tanya Malik. "Nona Rossa masuk rumah sakit. Kabari Tuan ya. Kami di rumah sakit Harapan Bunda. Jangan lupa Tuan," jawab Pak Yan. Kabar dari Pak Yan tentu saja membuat Malik terkejut mendengarnya. "Baik saya akan sampaikan dengan Tuan. Tolong jaga Nona Rossa sampai kami datang," ucap Malik yang mengakhiri panggilan telepon. Malik mendekati Darren yang sedang berbincang. "Permisi Tuan. Saya ingin menyampaikan sesuatu penting," ucap Malik membuat wajah Darren tiba-tiba berubah. "Ada apa ? Apa yang membuatmu ingin bicara denganku. Katakan saja," ucap Darren dengan suara yang datar. "Anda yakin di sini?" tanya Malik melirik rekan kerja Darren. Darren menghela napas dan akhirnya menjauh sebelum itu dia permisi dengan kliennya. "Ada apa?" tanya Darren. "Nona Rossa masuk rumah sakit Harapan Bunda dan sekarang dia dijaga oleh Pak Yan. Anda harus ke sana untuk menemui Nona Rossa. Apakah Anda mau ke sana?" tanya Malik menatap ke arah Darren. Malik masih menunggu jawaban dari Darren, dia yakin kalau tuannya ini pasti akan pergi. "untuk apa saya datang ke sana?" tanya Darren yang membuat Malik terkejut mendengar jawaban dari tuannya itu.Verrel berlari mengejar istrinya Bunga. Verrel takut jika Bunga terluka. Dan saat Bunga ada di depannya, Verrel segera memeluk Bunga. "Sayang, kamu baik?" tanya Verrel ke Bunga. "Aku baik. Aku mau hajar Tantri," ucap Bunga ke Verrel. Akan tetapi ditahan oleh Verrel dengan gelengan kepala. "Jangan, biarkan saja. Kita akan selesaikan nanti dia. Kamu tinggal kasih tahu saja dimana dia dan kita akan serang dia balik," ujar Verrel menahan Bunga untuk tidak menyerah Tantri. "Tapi dia sudah menculik aku," jawab Bunga. "Tenang aja, kita akan buat jebakan untuk dia. Kamu tenang aja ya," ucap Verrel ke Bunga. Verrel menganggukkan kepala dan dirinya membawa Bunga pergi. Dari kejauhan terlihat Tantri menatap Bunga bersama pria yang dia ketahui itu suaminya. "Bunga aku akan buat kamu menyesal. Aku akan buat kamu tidak akan pernah bisa melihat matahari esok. Aku akan pastikan itu," geram Tantri yang sudah lebih dulu menjauh karena rekannya sudah meninggal dan dia selamat. Bunga berhasil di
"Tutup mulutmu, Bunga," pekik Tantri yang kesal dengan Bunga. "Jawabannya sudah bisa ditebak Bunga. Cinta sepihak. Menyakitkan sekali kenapa harus cinta sepihak. Yang ada rugi, merendahkan harga diri wanita, bodoh," ejek Cintya membuat Tantri makin murka. Tantri memukul Cintya dengan kencang. Dia melampiaskan amarahnya atas ejekan dari Tantri. Bunga melihat Cintya dipukul tentu saja tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Tantri. Bunga memberontak dia ingin membalas apa yang Tantri lakukan kepada Cintya. Begitu juga dengan Cintya dia ikut memberontak tapi tenaganya kalah dengan dua pria yang bertubuh tegap. "Itu untukmu, wanita sialan!" pekik Tantri dengan napas memburu. "Kamu yang sialan! Wanita tidak punya harga dirinya. Asal kamu tahu si tua bangka itu tidak menyukaimu. Apa kamu pikir dengan menyerahkan tubuhmu itu dia menyukaimu? Tidak, Sayang. Kamu tidak akan mendapatkan cinta dari dia. Sampai mati pun kamu tidak akan bisa, stupid!" Cintya mengeluarkan amarahnya kepada T
Bunga dibawa pergi oleh Tantri begitu saja. Tantri tidak peduli dengan serangan dari Verrel. Karena saat ini anak buah dari Oliver Junior atau tepatnya rekannya sangat banyak hingga membuat Verrel sedikit kesulitan untuk menyelamatkan istrinya itu. Dan situasi di tempat tersebut benar-benar kacau semua pengunjung berhamburan pergi menyelamatkan diri mereka. Karena mereka takut jika mereka menjadi sasaran tembak antara dua kubu. Verrel yang melihat istrinya di bawa pergi hanya berteriak kencang dia tidak bisa berkata-kata dan hanya mengejar tanpa peduli tembakan yang terus terdengar. "Bunga. Bunga! Jangan bawa dia. Jangan bawa dia," teriak Verrel dengan kencang. Akan tetapi teriakan dari Verrel tidak terdengar sedikitpun mobil terus melaju bawa Bunga pergi ke markas milik Oliver Junior. Verrel sudah kehilangan akal dia menembak semua anak buah dari Oliver Junior dengan penuh emosi. "Kakak sudah cukup. Sudah, ayo kita kejar kalau Kakak di sini kita tidak bisa mengejar mereka. Ayo c
"Selama dia belum bereaksi kita tenang saja dulu, Pa. Jangan gegabah kita lihat saja perkembangannya dan kita ikuti dia. Jika dia sampai berbuat sesuatu maka kita akan selesaikan dia," jawab Verrel yang dianggukan oleh Darren. "Sayang, aku ingin ke kamar mandi sebentar saja nanti aku kembali lagi." Bunga meminta izin kepada Verrel untuk ke kamar mandi. "Aku temani ya. Aku tidak ingin kamu sendiri," ucap Verrel khawatir dengan Bunga. "Tenanh aja, tidak apa-apa. Aku dengan Cintya berdua. Dan kalau perlu yang lainnya juga ikut denganku. Kamu tenang saja tidak lama sebentar aja kok," jawab Bunga yang dianggukan oleh Verrel. Sebenarnya dia takut tapi entah kenapa dirinya mengiyakan dan beberapa pengawalnya ikut bersama dengan Bunga. Walaupun Bunga tidak ingin tapi melihat sorot mata Verrel yang tajam akhirnya Bunga setuju dia pun tidak mempermasalahkan pengawal Verrel ikut dengan dirinya. Mereka pun segera pergi ke kamar mandi bersama dengan Cintya, Lala, Lola dan Bella. Bunga bersam
Selesai bermain panas Verrel dan Bunga mandi keduanya tertawa dan bersenda gurau. Bunga yang memang memiliki kejahilan kembali menjahili Verrel. "Bunga, kamu nakal sekali. Kenapa kamu masih jahil hmm?" tanya Verrel. Bunga tertawa melihat Verrel kesal dengan dirinya yang terus mengganggu Verrel. "Aku tidak menjahulimu, Sayang. Sejak kapan aku menjahilihimu. Aku tidak seperti itu. Lagi pula aku ini baik," jawab bunga yang lagi-lagi mencolek perut Verrel. Keduanya memutuskan mandi bersama karena itu keinginan dari Verrel dan Bunga tidak membantahnya. Dia mengikuti apa yang Verrel inginkan. Akan tetapi sampai di kamar mandi bukannya mandi, keduanya lagi-lagi berbagi keringat karena kejahilan dari Bunga. Puas bermain keduanya pun segera menyelesaikan mandi dan berpakaian. "Apa aku bisa bekerja kembali menjadi sekretarismu, Sayang ?" tanya Bunga yang menatap ke arah Verrel meminta persetujuan dari Verrel apakah dirinya masih boleh bekerja di perusahaan milik Verrel atau tidak. "Tentu
Verrel menganggukkan kepala dan dia tersenyum mendengar jawaban dari Bunga. Melihat anggukan dan senyuman dari Verrel tentu saja membuat Bunga ikut tersenyum. "Aku benar-benar sudah jatuh cinta denganmu. Sudah berkali-kali aku katakan kepadamu kalau aku mencintaimu. Dan jangan lagi meragukan cintaku, ya," jawab Verrel menarik tangan istrinya dan menggenggam erat kedua tangan istrinya. Bunga yang diperlakukan sangat manis oleh Verrel merasakan ledakan kupu-kupu yang sangat besar di dalam dirinya. Bunga terharu mendengar apa yang Verrel ucapkan."Aku percaya kepadamu. Maaf kalau aku bertanya seperti itu. Bukannya aku meragukanmu aku ingin memastikan kebenarannya. Apaakah kamu marah ?" tanya Bunga kepada Verrel yang masih mencium tangannya Bunga. Verrel yang mendengar Bunga berkata seperti itu tentu saja ditanggapi oleh Verrel dengan gelenga kepala. Dia tidak marah dengan apa yang Bunga katakan karena wajar jika Bunga bertanya seperti itu."Aku tidak marah sama sekali, wajar kalau ka







